Latest Entries »

Salam Kerja.

Kerja kerja kerja.

Mari kerja nyata terangi negeri.

Para sahabat yang berbahagia saya sangat senang dapat membagikan pengetahuan, informasi dan pengalaman yang saya dapatkan sejak bergabung di PT PLN (Persero) melalui tulisan ini. Sampai saat ini sudah banyak hal yang saya dapatkan dari PLN. Di PLN saya belajar apa itu kerja nyata terangi negeri. Saya belajar tentang adat, budaya, lingkungan, dan aneka macam karakter pegawai. Kalau istilah gaulnya sisi nonteknis. Begitu juga sisi teknisnya saya dapatkan, pelajari, dan praktekkan. Semua hal tersebut saya bagikan di sini dengan topik pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Keahlian khusus ini saya dapatkan saat masih bertugas di PLTD. Tidak sembarang orang bisa menguasainya, tidak sembarang tempat bisa dipelajari dan tidak sembarang waktu bisa dilakukan. Menurut saya hal ini menarik bahkan sangat menarik sebab keahlian ini sederhana tapi berdampak besar. Saya belum menemukan rumus empiris tentang keahlian khusus ini. Mereka saling ketergantungan memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan. Bagaikan hutan dengan binatang yang ada di dalamnya. Begitu juga keahlian ini, faktor apakah yang dominan apakah orang, tempat, waktu, metode atau yang lain? Yang jelas pekerjaan ini memerlukan keahlian khusus, yang sangat bermanfaat dalam upaya PT PLN (Persero) melakukan kerja nyata terangi negeri.

Saya akan ceritakan keahlian khusus ini mulai dari kesan pertama bergabung di PT PLN (Persero). Saya masuk perusahaan elit ini dengan mengikuti tes penerimaan pegawai untuk penempatan di seluruh wilayah Indonesia. Kalau para senior menyebutnya penerimaan pegawai pusat. Saat diklat prajabatan sudah terasa bahwa kerja di PLN itu harus cepat, tepat, dan akurat. Hebat deh pokoknya. Harus disiplin dalam segala hal karena bermain dengan makhluk yang tidak kelihatan (arus listrik). Salah raba bisa kena setrum, salah pegang bisa kebakar, salah pasang bisa meledak, salah ukur bisa merusak alat itu sendiri. Tugas kerja nyata terangi negeri pertama saya adalah di pembangkit. Sesuai dengan bidang ilmu saya  yaitu teknik mesin dan bidang yang saya lamar engineer pembangkit (EP). Setelah melapor ke unit induk keesokan harinya saya langsung ke PLTD. Karena sudah tidak sabar melakukan kerja nyata terangi negeri. Walau jauh dari kampung halaman, walau menempuh perjalanan jauh tapi saya tetap semangat. Penasaran PLTD apa? PLTD ini ada di Nusa Tenggara Barat tepatnya di ujung timur pulau Lombok. Masuk jenis PLTD besar dengan daya terpasang 27.972 kW. Unit pembangkit ini beroperasi sesuai Standar Operational Procedur (SOP), berdasarkan kondisi mesin dan sesuai kebutuhan listrik dari masyarakat. Kalau orang-orang teknik memberi istilah interkoneksi yang secara umum bisa diartikan tenaga listrik yang dihasilkan dari beberapa unit pembangkit seperti PLTD, PLTU, dan PLTMH digabungkan dalam frekuensi yang sama untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Agar mesin pembangkit bisa kontinyu menerangi negeri yang mana mesin ini seperti manusia yang memerlukan pemeriksaan dan asupan zat gizi serta vitamin maka mesin ini harus memasuki tahap medical check up. Kayak istilah medis ya. Medical check up disini adalah pemeliharaan rutin berdasarkan jam kerja atau lamanya mesin itu beroperasi diantaranya ada pemeliharaan harian, mingguan, bulanan, top overhaul, semi overhaul, dan mayor overhaul.

Gambar contoh mesin pembangkit diesel

Semua jenis pemeliharaan tersebut diatas dilakukan rutin tiap hari, minggu, dan bulan. Yang berbeda adalah mayor overhaul, kenapa berbeda? Karena downtimenya lama berkisar 45 hari. Mayor overhaul adalah pembongkaran total. Dilakukan saat mesin sudah beroperasi selama 18.000 jam. Semua komponen mesin dibongkar untuk dilakukan perbaikan secara menyeluruh. Jangan sampai terjadi kerusakan fatal yang mengakibatkan mesin tidak bisa beroperasi dalam waktu lama yang dapat berakibat macetnya suplai listrik ke masyarakat. Pembongkaran ini dilakukan dengan hati-hati agar material tidak rusak. Dan tentu saja dilakukan oleh orang yang mengerti tentang dunia mesin. Mengapa demikian? Karena material yang dibongkar adalah material utama dari mesin yang sangat vital dan berat. Pembongkarannya tidak sembarangan, harus mengikuti prosedur yang berurutan. Ada tanda-tanda khusus dari komponen mesin yang tidak boleh tertukar. Setelah semua komponen terbongkar pemindahannya juga harus hati-hati. Materialnya sangat berat, berat cylinder head mesin saja 132 Kg kebayang gak beratnya? Beda banget dengan cylinder head sepeda motor atau mobil teman-teman kan? Kira-kira menurut anda cara memindahkannya seperti apa? Ayo, seperti apa ya? Disini perlu keahlian dan alat khusus. Memindahkan material yang berat harus dilakukan dengan alat bantu yang dinamakan crane. Crane ada banyak, untuk sebuah PLTD crane dengan daya angkat dan angkut 20 TON cukup.  Pengoperasian crane tidak boleh sembarangan. Di PLN ada sertifikasi operator crane. Biasanya yang memiliki sertifikat ini para teknisi lapangan. Mereka memindahkan material mesin sesuai SOP dan standar keselamatan kerja yang berlaku. Pemindahan material dengan crane memang terlihat mudah, tapi kalau teman-teman belum terbiasa apalagi tidak memiliki SIM crane akan sulit sekali. Material yang kalian angkat dan angkut akan membentur material lain sana sini. Sebab perintah yang diberikan pada crane harus tepat, tidak boleh terlalu pelan atau terlalu cepat. Inilah salah satu kemampuan pegawai PLN dalam kerja nyata terangi negeri yaitu berkomunikasi dan menyamakan frekuensi dengan crane. Dari pembongkaran saja harus teliti, apalagi yang lain. Disinilah keahlian itu mulai ditunjukkan yaitu bukan sembarang orang bisa melakukannya. Setelah semua komponen terbongkar dan ditempatkan di area khusus overhaul, selanjutnya material tersebut dibersihkan sampai mengkilap.

Setelah pembersihan selesai, kerja nyata terangi negeri selanjutnya masuk ke tahap pengukuran parts atau komponen. Semua komponen diukur seperti bushing, valve, push rod, tappet, ring piston, piston, cylinder head, cylinder liner, connecting rod, cam shaft, crank shaft, dan lain sebagainya (ijin sharing istilah mesin gan). Cukup segitu aja ya, kalau disebutkan semua nanti satu lembar folio gak muat. Semua pengukuran parts ini memerlukan ketelitian dan keahlian. Yang memerlukan keahlian khusus adalah pengukuran ovality pin journal dari crank shaft. Proses pengukuran ini terbilang unik dan kadang diluar dugaan tapi kalau dilogikakan masuk. Proses ini harus dilakukan oleh orang yang berkompeten. Keahlian ini merupakan kombinasi pemahaman teori, praktek langsung dan pengalaman kerja dilapangan dengan alat yang terstandarisasi. Itulah mengapa pekerjaan ini memerlukan kemampuan khusus. Kelihatannya sederhana hanya pegang alat ukur lalu dipasang pada benda yang diukur kemudian baca hasil pengukuran. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Salah memutar gear alat ukur hasil pembacaan berbeda, bahkan bisa merusak alat ukur itu sendiri. Salah melakukan kalibrasi alat ukur hasil pengukuran juga berbeda. Berikut saya sharing tata cara pengukuran keovalan crank pin dengan menggunakan micrometer, caranya adalah :

  1. Pastikan lingkungan kerja aman dan selalu memakai peralatan safety.
  2. Bersihkan permukaan crank pin dari debu, oli dan kerak bekas oli.
  3. Posisikan crank pin pada posisi TDC atau BDC dengan memutar turning gear.
  4. Ambil micrometer sesuai dengan ukuran pin yang akan diukur, lalu bersihkan dengan kain bersih.
  5. Lakukan kalibrasi micrometer dengan alat kalibrasi sesuaikan dengan ukuran crank pin yang akan diukur. Kalibrasi ini penting untuk memastikan alat ukur berada pada posisi nol (0).
  6. Lakukan pengukuran crank pin dengan cara memegang micrometer boleh tangan kanan/kiri umumnya dipakai tangan kanan, jangan menutupi skala pada posisi pengukuran agar hasil pengukuran jelas terlihat. Kemudian tahan bingkai micrometer dengan telapak tangan, selanjutnya putar selubung pengukur dan juga gigi geser dengan telunjuk dan ibu jari.
  7. Putar gigi geser sampai terdengar suara klik. Lalu kunci micrometer dengan key lock nya agar skalanya tidak berubah.
  8. Baca skala utama apakah menunjukkan satuan atau tengah satuan.
  9. Baca skala nonius yang tepat segaris dengan skala utama. Kemudian lakukan pembacaan hasil pengukuran.
  10. Cara mengetahui hasil pengukuran yaitu dengan cara menjumlahkan skala nonius dengan skala utama, lalu jumlahkan kembali atau kurangi dengan ketelitian micrometer.
  11. Lakukan pengukuran di 4 posisi masing-masing pada derajat 0°, 45°, 90° dan 135°.
  12. Bila pengukuran sudah selasai, bersihkan kembali micrometer dan simpan pada kotaknya.
  13. Bersihkan kembali bahan dan area kerja.

Gambar contoh micrometer

Selanjutnya untuk mendapatkan ovality, hitung dan bandingkan data hasil pengukuran. Bandingkan juga dengan standar ukuran pada buku manual dari pabrikan. Untuk melakukannya kira-kira apakah teman-teman bisa? Ragu? Atau bingung? Itulah salah satu keahlian khusus yang jarang terendus dalam kerja nyata terangi negeri. Kalau dibaca cara pengukuran di atas pasti semua merasa dan berkata bisa. Tapi di lapangan tidaklah demikian.  Sebab “bisa” karena melihat dengan “bisa” karena membaca dan “bisa” karena mengerjakan adalah berbeda. Pekerjaan ini membutuhkan intelegensi dan skill. Pekerjaan ini sangat penting karena menentukan keovalan crank pin yang mempengaruhi kinerja dan umur part dari mesin pembangkit. Bila salah dalam pengukuran, perhitungan data hasil pengukuran akan salah. Maka ovality dari crank pin menjadi salah. Pada saat assembly tidak didapatkan clearance bearing yang sesuai petunjuk buku manual mesin. Putaran shaft tidak lembut yang mempengaruhi defleksi shaft tersebut. Saat mesin beroperasi oil film diluar nilai ketentuan dari pabrikan mesin. Sehingga menyebabkan kerusakan bearing dan crank pin itu sendiri. Bisa dibayangkan bukannya kondisi mesin menjadi baik dan beroperasi optimal tetapi sebaliknya yaitu kerusakan fatal yang menyebabkan downtime lama. Biaya perbaikan bertambah yang ujung-ujungnya kerugian bagi PLN dan masyarakat.

Bukan sembarang orang bisa menguasainya, yaitu tidak semua orang bisa melakukannya dengan benar dan mendapatkan hasil akurat. Latihan dan pendidikan sangat membantu dalam menguasai keahlian khusus ini dalam kerja nyata terangi negeri. Keahlian khusus ini adalah cerminan dari tingkat intelegensi, konsentrasi, bakat, pengetahuan, pengalaman kerja dan kondisi psikologis. Kondisi emosionalnya harus seimbang. Kalau emosinya lagi tinggi mungkin ada masalah pribadi, keluarga atau kantor maka pekerjaan pengukuran yang dilakukan biasanya terburu-buru. Sehingga beberapa langkah pengukuran akan terlewatkan. Pada saat pengukuran gigi geser alat ukur akan diputar dengan tergesa-gesa bahkan diputar kencang sehingga hasil pengukuran tidak akurat. Sebaliknya saat emosinya rendah, kurang semangat dalam pengukuran maka konsentrasinya tidak bagus, sudut ukur bisa salah, dampaknya juga sama yaitu hasil pengukuran tidak akurat.

Pengukuran tidak dilakukan di sembarang tempat. Pengukuran ini dilakukan di mesin itu sendiri.Crank shaft dalam kondisi terpasang pada dudukannya di engine frame. Bisa dibayangkan salah posisi duduk atau berdiri dalam pengukuran, salah memegang alat, miring memasang alat, salah derajat putar bidang crank pin yang akan diukur menyebabkan hasil pengukuran yang didapatkan salah.

Gambar contoh crank shaft

Kemudian tidak sembarang waktu bisa dilakukan. Ini hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu! Ingat kita membahas keahlian dalam pengukuran ovality ya, bukan hal-hal mistis yang mencari waktu tertentu seperti malam jumat kliwon, malam satu suro atau yang lainnya. Pengukuran ini hanya dilakukan pada saat mayor overhaul atau saat terjadi gangguan crank pin. Waktu khusus disini maksudnya pengukuran dilakukan saat si pengukur merasa nyaman. Bisa pagi siang atau sore yang jelas saat jam kerja. Bukan hari libur atau bukan pula malam hari. Sebab kalau malam waktunya istirahat. Kenyamanan dalam melakukan pekerjaan ini sangat penting. Bila melakukannya pada saat lapar, pengukuran yang dilakukan tidak sebaik saat perut terisi. Bila melakukannya saat perut kepenuhan selepas makan siang bisa-bisa mengantuk, angka 7 bisa dilihat angka 1 bahkan garis skala nonius tidak terbaca. Maka tidak tepat lagi hasil pengukurannya. Jadi pengukuran ini dilakukan pada saat si pengukur dalam kondisi psikis dan fisik yang fit dan nyaman. Kalau diluar sana disebut enjoy. Enjoy dalam kerja nyata terangi negeri!

Setelah proses pengukuran selesai didapatlah angka yang akan berbicara menentukan proses selanjutnya. Seperti threatment apa yang akan dilakukan pada crank pin tersebut, apakah perlu polishing atau tidak, perlu cek hardness atau tidak. Kemudian menentukan parts yang diganti diluar paket part mayor overhaul. Serta sebagai bank data dari historis mesin pembangkit. Bila semua itu sudah selesai selanjutnya dilakukan pemasangan kembali, penyetelan ulang, dan kalibrasi untuk memastikan kondisi mesin pembangkit ready to start. Siap beroperasi memproduksi listrik menerangi nusantara. Mempermudah aktifitas masyarakat, menggairahkan perekonomian, yang pada akhirnya memajukan bangsa Indonesia. Oleh PT PLN (Persero) diistilahkan dengan Kerja Nyata Terangi Negeri.

Singkatnya, menurut saya keahlian khusus penentuan ovality crank pin dalam kerja nyata terangi negeri adalah kombinasi dari hard dan soft skill yang tidak terlihat tapi berdampak besar. Diantaranya adalah kemampuan teknis dalam bidang pembangkit yaitu paham dunia teknik, pengukuran dan mesin karena didalamnya ada standar-standar teknis seperti ISO, JIS, SNI dan standar keselamatan kerja. Kemampuan memanfaatkan sumber daya melalui kerjasama, mengorganisasi teman, bahan dan alat kerja. Manajemen stres karena bekerja di tempat panas, bising, berdebu dan berteman dengan bau khas pelumas dan bahan bakar. Kemudian kemampuan mengkonsep teknis pengukuran yang disertai pengambilan keputusan. Dan yang terakhir kemampuan mengatur waktu karena target penyelesaian pekerjaan tersebut

Demikianlah keahlian khusus yang jarang terendus dalam kerja nyata terangi negeri pada bidang pembangkitan di PT PLN (Persero). Keahlian yang tidak akan hilang, walaupun  ada hambatan dan tekanan dalam bekerja serta tuntutan dari luar. Kemampuan, kemauan, semangat, dan tekad kerja nyata terangi negeri akan tetap berkobar. Selamat Hari Listrik Nasional ke 71. Jayalah PLN Jayalah Indonesia.

↓⇓

http://www.kompasiana.com/ekawimerta/keahlian-khusus-yang-jarang-terendus-dalam-kerja-nyata-terangi-negeri_5807feea2523bd52088b4568

Makna jam bangun tidur

 

Terbangun antara pukul 11 dan 1 malam

Pengobatan tradisional Cina berpendapat bahwa jangka waktu ini terkait dengan empedu. Jika Anda terbangun pada periode waktu ini, bisa menjadi indikasi Anda mengalami kekecewaan emosional.

Anda perlu fokus pada perasaan mencintai dan menghargai diri sendiri, dan ingat untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah Anda buat.

Terbangun antara pukul 1 dan 3 pagi

Periode waktu ini terhubung ke organ hati Anda. Jika Anda terbangun pada jam ini, itu pertanda bahwa Anda menyimpan perasaan marah, dan memiliki terlalu banyak energiyang atau energi negatif.

Minumlah segelas tinggi air dingin dan coba berdamai dengan kemarahan Anda; mencari tahu apa yang mengganggu Anda, sehingga Anda dapat beristirahat.

Terbangun antara pukul 3 dan 5 pagi

Terbangun pada jam ini terkait dengan paru-paru Anda dan merupakan tanda kesedihan. Untuk kembali bisa beristirahat dengan tenang, coba berlatih latihan pernapasan saat Anda memfokuskan pikiran Anda dan mengekspresikan iman. Hal ini akan membantu Anda.

Selain itu, terbangun antara jam tersebut dapat menjadi tanda bahwa lubuk hati Anda sedang ingin memberitahukan sesuatu. Ketika mereka mengirimkan pesan, adalah bijaksana bagi Anda untuk memperhatikan. Lubuk hati Anda sedang mencoba untuk membawa Anda ke dalam keselarasan hidup yang lebih baik dengan tujuan akhir Anda.

Terbangun antara pukul 5 dan 7 pagi

Selama ini, sebagian besar energi manusia yang berkaitan dengan keberanian berhubungan dengan usus besar. Jika Anda terbangun pada jam tersebut, Anda mungkin memiliki penyumbatan emosional. Setelah Anda terbangun, coba untuk tetap berbaring dan meregangkan tubuh, atau pergilah ke kamar mandi untuk buang air untuk menenangkan tubuh Anda.

 

Francesco Totti

Ada yang bilang ‘life begins at 40’. Kepala empat, usia di mana seseorang seharusnya menikmati hidupnya dan bebas dari pekerjaan. Itu pula yang banyak terjadi pada pesepakbola kebanyakan.

Bagi pesepakbola, usia kepala tiga saja kadang sudah dibilang uzur. Banyak yang sudah gantung sepatu saat usia mereka menginjak angka 30an. Apalagi kepala empat.

Tapi itu tidak terlihat pada Francesco Totti. Setidaknya untuk saat ini, belum.

Hari ini, 27 September 2016, Totti genap berusia 40 tahun. Di saat teman-teman seangkatannya sudah banyak yang gantung sepatu, beberapa juga sudah jadi pelatih atau jadi aktor di balik layar sebuah klub, Totti masih asyik berlari-lari di atas lapangan.

“Pangeran” yang satu ini memang masih menikmati perannya sebagai pemain. Tapi ia bukan sekadar pemain yang menjadi simbol tim. Totti membuktikan bahwa dirinya masih bisa memberi kontribusi penting untuk Roma.

Musim lalu, karier Totti di Roma satu-satunya klub yang ia bela selama 24 tahun ini seperti akan mencapai garis finisnya. Kontraknya kala itu memasuki tahun terakhir dan waktu bermainnya mulai tereduksi. Totti mulai lebih akrab dengan bangku cadangan.

Tapi Totti tetaplah Totti. Ia selalu ada ketika Roma membutuhkannya. Meski cuma jadi pemain pengganti, Totti adalah supersub.

Musim ini Totti memang masih belum jauh dari bangku cadangan. Tapi, lagi-lagi ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa berkontribusi untuk Roma. Dua gol dan dua assist sudah dia sumbangkan untuk Roma dari empat kali penampilan, tiga di antaranya sebagai pemain pengganti.

Akhir pekan kemarin, misalnya, dalam pertandingan melawan Torino, Totti mencatatkan sebuah milestone. Ia membukukan golnya yang ke-250 di Serie A usai menaklukkan Joe Hart lewat titik putih. Sayangnya, itu tak cukup untuk menyelamatkan Roma dari kekalahan. Tapi Totti kini tercatat sebagai pemain kedua yang mengoleksi 250 gol di Serie A setelah Silvio Piola (274 gol).

Totti memang masih sangat enjoy bersenang-senang dengan bola di atas lapangan. Ia masih belum kehilangan sentuhan-sentuhan khas serta visinya meski fisik termakan usia.

Tengok saja dua assist yang ia berikan untuk Dzeko di pertandingan melawan Sampdoria dan Crotone. Dengan satu kali sentuhan, Totti melepaskan umpan lambung terukur melewati barisan pertahanan lawan untuk kemudian dituntaskan oleh Dzeko menjadi gol. Totti membuktikan bahwa genius tidak mengenal usia.

Barangkali dengan cara itu pula Totti menyiasati fisiknya yang tidak muda lagi. Dengan umpan-umpan satu kali sentuhan yang akurat, Totti tak perlu berlari. Umpan-umpan semacam itu juga akan membuat Totti sulit diterka lawan.

“Totti hidup satu menit di depan yang lainnya,” puji pelatih Crotone, Davide Nicola. “Jika saja saya bisa memasang jam pemain-pemain saya lebih cepat satu menit.. intuisinya fenomenal.”

“Masih menentukan di usia ke-40 berarti ia masih punya mesin dan kemampuan untuk memberi begitu banyak emosi kepada orang-orang, dan gairah yang melampaui batas apapun,” lanjutnya.

Tak bisa disangkal, apa yang ditawarkan Totti saat ini memang sulit ditandingi oleh pemain Roma lainnya. Keberadaannya kerap kali menyuntikkan antusiasme ke lapangan maupun penonton. Bukan berarti Roma lesu tanpa Totti, namun ia punya sesuatu yang unik yang tak dimiliki pemain lain. Romanisti juga masih belum siap melepas pangeran pujaannya itu. Setiap kali Totti melakukan pemanasan atau masuk ke lapangan, tepuk tangan riuh akan terdengar memenuhi stadion.

Lalu, haruskah Totti berhenti bermain?

Foto: Getty Images Sport/Paolo Bruno

“Saya merasa rileks. Pola pikir saya tepat, saya bahagia, menjalaninya dari hari ke hari. Kenapa harus berhenti kalau saya merasa seperti itu? Jika tubuh saya bertahan, pikiran saya bisa membantu saya melakukan apapun,” ucap Totti usai membantu Roma membalikkan keadaan atas Sampdoria.

Masa bakti Totti sebagai pemain di Roma memang hanya akan sampai akhir musim ini. Tapi, untuk saat ini, masih terlalu dini untuk bicara soal kontrak.

Mari bicara saja soal kado untuk ulang tahun Totti. Jika bisa berandai-andai, mesin waktu atau ramuan awet muda pasti menjadi dua barang yang ada di daftar teratas hadiah untuk Totti. Bukan cuma suporter, beberapa koleganya juga masih ingin melihat Totti mengolah bola di atas lapangan lebih lama lagi.

Allenatore Roma, Luciano Spalletti, bilang ingin menghadiahi Totti mesin waktu DeLorean dari kisah ‘Back to the Future’. Sementara pelatih yang memenangi Scudetto bersama Totti di tahun 2001, Fabio Capello, ingin mantan anak didiknya itu dapat kesempatan untuk menjadi lebih muda agar bisa selalu menyaksikan permainannya yang tak kalah tampan dari wajahnya.

“Dia adalah Peter Pan kami, ia menolak untuk tumbuh dewasa dalam hal sepakbola dan kami senang. Ia amat berkelas dan saya harap ia bisa terus merasa seperti anak-anak ketika dia masuk ke lapangan,” ujar General Manager Roma, Mauro Baldissoni.

Ya, seperti Peter Pan yang menolak untuk tumbuh dewasa, Totti juga tak mau dimakan usia. Untuk saat ini, kita nikmati saja dulu Totti selagi masih bisa. Kesampingkan dulu isu-isu yang meliputi hubungannya dengan Spalletti yang terus saja dikabarkan renggang. Atau perdebatan soal kehebatannya hanya karena jumlah trofi yang bisa dihitung dengan jari. Seorang Francesco Totti sepatutnya dirayakan.

Happy forty, Francesco Totti!

DE KANTI PAID BANGKUNG

Sebuah Innova melesat mulus menyalip mobil saya di tikungan Gitgit dalam perjalanan ke Denpasar dari Singaraja. Sopir saya mendecak tanda geram, karena cara mendahului seperti itu melangar peraturan lalu lintas.

Sambil menggerutu ia bertanya: “Ratu, yen kekenten napi dados tangkep pulisi?” (Bapak, kalau begitu apa boleh ditangkap polisi?).

“Yen di Jawa, mingkine di Madiun, ditu pulisine galak-galak, lamun sube ngenjekin goete putih ene, jog semprite suba, kene tilang” (Kalau di Jawa, apalagi di daerah Madiun, di situ polisinya galak/ tegas, kalau sudah melanggar garis putih seperti ini, langsung kena sempritan, di tilang) jawab saya.

“Di Bali pulisine polos-polos, buine tusing ade ane mejaga di bengang-bengange kekene” (Di Bali polisinya jujur/ kalem, dan lagi tak ada yang jaga di tempat sepi seperti ini).

“Kewala Bhagawan sing kerambang baan tulisan di Innova-ne ento, ape ye artinne Bahasa Inggris-e adi tawah gati, tusing taen nepukin keketo” (Tetapi Bhagawan tidak mengerti pada tulisan di Innova, apa artinya Bahasa Inggris itu, kok aneh sekali, belum pernah menemukannya) saya bertanya pada I Kadek, sopir saya sambil menunjuk pada tulisan di kaca belakang Innova: “The canthy paid bankung”.

“Ooo nike, nenten tulisan bahasa Inggris, yakti atugel-atugel cara bahasa Inggris, sakewanten jatinne bahasa Bali-Beleleng” (Oh itu, bukan tulisan bahasa Inggris, benar sepotong-sepotong seperti bahasa Inggris, tetapi sebenarnya bahasa Bali – Buleleng). “Kenken nto Dek?” (Bagaimana itu Dek?) .

“Indayang wacen punika, sekadi bahasa Beleleng: de kanti paid bangkung” (Coba baca itu, seperti bahasa Buleleng: jangan sampai diseret bangkung = induk babi). “Beh, mare Bhagawan ngerti, dong adi duweg-duweg gati cerik-cerike jani ngeragrag keketo” (Wah, baru Bhagawan mengerti, kok pintar-pintarnya anak muda sekarang mengarang seperti itu).

Paid bangkung, memang kata-kata sindiran di kalangan perjaka Buleleng, setengah nasihat, kalau mencari calon istri, jangan sampai nanti dalam rumah tangga si istri yang “berkuasa” dalam artian mengendalikan suaminya semisal mengambil alih kendali rumah tangga, bahkan tak jarang terjadi karena si istri berasal dari keluarga kaya, sedang si suami dari keluarga miskin, maka si istri merasa dirinya super lalu memandang rendah suaminya.

Tetapi saya agak merinding kalau kaum wanita di-cap sebagai “bangkung” atau induknya babi. Itu kata-kata yang kasar dan kurang baik.

Namun begitulah istilah populer di masyarakat Buleleng, bagi wanita yang mempunyai sifat-sifat lobha, sok kuasa, galak, egois, sombong, dan lain-lain, sementara si suami pendiam, pemalu, penakut, tak bisa memimpin rumah tangga, atau bahasanya di Badung (Denpasar) disebut “koh ngomong” (enggan berbicara).

“Sujatinne kene Dek” (Sebenarnya begini Dek), saya mulai menasihati sopir saya yang masih bujangan ini: Slogan itu, walaupun agak kasar, tetapi benar juga, dan penting untuk diperhatikan agar rumah tangga perkawinan berjalan dengan harmonis.

Kedua pihak, baik istri maupun suami agar mengetahui apa kewajiban masing-masing dalam rumah tangga. Tradisi beragama Hindu di Bali menyatakan bahwa pihak wanita disebut sebagai pradana, sedangkan pihak lelaki disebut sebagai purusha.

Lebih jauh, sang pradana diibaratkan sebagai tangan kanan atau penengen/ dharma, sedangkan sang purusha diibaratkan sebagai tangan kiri atau pengiwa/ shakti.

Kombinasi antara dharma dan shakti mewujudkan kreativitas kehidupan yang aktif menuju kebahagiaan rumah tangga.

Contoh-contoh dharma bagi seorang wanita misalnya tugas kewajiban seorang istri: melayani suami, memelihara anak sejak bayi sampai dewasa, mengurus mertua, menyiapkan sesajen sehari-hari, menjaga hubungan sosial atau bermasyarakat, mengatur belanja sehari-hari, dan lain-lain.

Contoh-contoh shakti bagi seorang lelaki misalnya tugas kewajiban seorang suami yang secara singkat dapat dikatakan: menggunakan kemampuan otak/ pikiran dan tenaga fisik untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Sebenarnya istri mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupan rumah tangga. Di Bali, masyarakat sangat menghargai dan menghormati wanita, oleh karena itu sering disebut sebagai “Ibu”.

Ini sebagai wujud ketaatan pada ajaran yang dituangkan dalam Kitab Manawa Dharmasastra Tritiyo dhyayah (Buku ke-tiga) pasal 55:

PTRBHIR BHRATRBHIS, CAITAH PATIBHIR DEWARAISTATHA, PUJYA BHUSAYITA WYASCA, BAHU KALYANMIPSUBHIH

(Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suami dan iparnya, yang menghendaki kesejahteraan bagi dirinya).

Selanjutnya pasal 56:

YATRA NARYASTU PUJYANTE, RAMANTE TATRA DEWATAH, YATRAITASTU NA PUJYANTE SARWASTATRAPHALAH KRIYAH

(Di mana wanita dihormati, di sanalah para Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala).

Selama mendengarkan, sopir saya I Kadek manggut-manggut mengerti, namun tiba-tiba dia nyeletuk: “Yen wenten anak muani gemes teken kurnan ipune, sapunapi nike, wenten pisagan titiange ojog sesai ngelempagin kurnan dogen gaenne?” (Kalau ada suami yang ganas sama istrinya, bagaimana itu, ada tetangga saya kok setiap hari memukuli istri saja kerjanya).

Pertanyaan sopir yang polos ini perlu direnungkan, kenapa ada kasus seperti itu. Istri yang mestinya dihormati dan disayangi, kok malah dipukul atau diperlakukan kasar.

Tentu sumber masalah bisa datang dari salah satu atau kedua pihak. Kalau tidak karena si suami yang mempunyai perilaku yang memang buruk, bisa jadi karena si istri juga melalaikan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Meresapkan kalimat-kalimat di Manawa Dharmasastra seperti di atas, hendaknya disadari, bahwa jika sang istri ingin mendapat kehormatan dan kasih sayang, maka ia harus menunjukkan perilaku yang mulia, agar menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan lingkungannya.

Jangan malah sebaliknya berbuat sesuka hati karena didorong oleh keinginan-keinginan amoral.

“Nike sampun mawinan titiang keweh ngerereh kurnan, arang wenten luh-luh sane becik sekadi penikan I Ratu” (Itu sebabnya maka saya sulit mencari pasangan/ istri, karena jarang ada wanita yang baik seperti nasihat Bapak) sopir saya menjawab sambil menarik nafas panjang.

“Sing je keto Dek, jatinne liu ade luh-luh ane melah, kewale ban Kadek konden nepukin. (Tidak begitu Dek, sebenarnya banyak gadis yang baik, tetapi Kadek belum menemukannya).

Saya mengakhiri percakapan itu: “Kadek sing perlu takut teken unduke ento, yen Bhagawan cara pejalanne jani mare takut pesan” (Kadek tak perlu takut pada masalah itu, kalau Bhagawan seperti perjalanan sekarang ini, baru benar-benar merasa takut).

“Dados kenten Ratu?” (Kenapa begitu Bapak?), tanya I Kadek keheranan.

“Anak uling ipidan Bhagawan takut mejalan uli Beleleng ke Badung, kije kone ambahin, men yen liwat kauh, Bhagawan takut me-cekik, yen liwat kaje, takut me-gigit, yen liwat kangin takut me-culik, yen liwat Kintamani, ojog resem gati dingeh kernet motore: baangli, baangli, peh adenan suba ngoyong dogen di Geria”

(Dari dahulu Bhagawan takut dalam perjalanan dari Buleleng ke Denpasar, ke manakah jalannya, karena kalau lewat barat, Bhagawan takut di-Cekik, kalau lewat selatan takut di-Gitgit, kalau lewat timur takut di-Culik, kalau lewat Kintamani, kok rusuh sekali terdengar teriakan kernet-kernet angkot: Bangli, Bangli, wah lebih baik tinggal saja di rumah).

I Kadek mulanya tak mengerti dengan “joke” gaya Buleleng itu, tetapi beberapa saat kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal, “I Ratu wenten kemanten” (Bapak ada-ada saja). Hahaha …

Sejak bom-Bali pertama harapan anak-anak muda pedesaan yang putus sekolah untuk mencari kerja di Denpasar sudah pupus. Banyak karyawan hotel dan pekerja sektor pariwisata terpaksa di-PHK-kan karena pasaran lesu, turis sedikit karena takut datang ke Bali.

Bom-Bali kedua menambah situasi ekonomi Bali lebih morat-marit, pengangguran makin menjadi-jadi, lalu banyak muda-mudi terpaksa gigit jari pulang kembali ke kampungnya, tak tahan lagi hidup di Denpasar dengan biaya tinggi.

“Uli pidan suba orain, jumah ngoyong, tulungin Bapa metekap; cai ane bengkung tusing nuutang munyin nak tua” (dari dahulu sudah dikasi tahu, tinggal saja di rumah menolong Bapak kerja di sawah; kamu yang bandel tidak menuruti nasihat orang tua). Demikian kata-kata Pan Kardi kepada anak lelakinya yang tertua bernama I Wayan Kardi di suatu pagi yang cerah.

Sejak beberapa hari sepulang dari Denpasar Wayan Kardi terbiasa bangun pagi-pagi buta seperti kebiasaan ayahnya menyiapkan diri ke sawah. Ia jarang keluar rumah untuk keperluan lain karena merasa tidak enak pada teman-teman se Desa yang selalu bertanya: “ O jani suud di Badung megae, men ngengken Wayan jumah?” (O sekarang tidak kerja di Denpasar lagi, lalu apa kegiatanmu di rumah?).

Di mana saja pertanyaan serupa tetap berulang, ya di pasar, di sungai, di Bale Banjar, bahkan di Pura. Nada pertanyaannya ada yang memang tulus hanya ingin tahu, tetapi tidak sedikit yang nadanya mengejek. Dulu ketika masih menjadi room-boy di Hotel berbintang lima, setiap libur pulang kampung Wayan Kardi menjadi buah bibir penduduk Desa, karena penampilannya cukup “wah” menurut ukuran di Desa.

Mengemudi mobil Kijang, pakaian mode terakhir, bau parfum yang merangsang, dan penyumbang terbesar di Desa dalam kegiatan amal. Istrinya tak kalah hebat. Sebelum kawin dengan Wayan, ia hanya buruh pemetik buah anggur, tetapi setelah beberapa tahun menetap di Denpasar, penampilannya sudah beda.

Rias wajah yang memikat, pakaian seksi, hiasan gelang emas yang tak pernah lepas dari tangannya yang halus mulus. Mereka juga sudah mempunyai rumah BTN, kecil mungil tempat keluarga anak-beranak itu tinggal, yang letaknya dekat tempat kerja Wayan Kardi.

Semua itu kini hanya tinggal kenangan. Mala petaka telah menimpa keluarga itu dengan datangnya hantu PHK (pemutusan hubungan kerja) ketika kontrak kerja yang jatuh tempo bulan Desember tidak lagi diperpanjang oleh General Manager.

“Sorry Wayan, kami terpaksa harus mengambil langkah ini, karena seperti kamu lihat, sejak dua tahun lalu hotel kita sudah tidak bisa bertahan dengan tingkat akupasi hanya 20%, saya sendiri juga pasti akan terkena PHK kalau keadaan ini tidak membaik beberapa bulan ke depan” kata GM yang mencoba menghibur Wayan Kardi.

Dia mendapat pesangon gaji tiga bulan dan sebuah surat ucapan terima kasih atas pengabdiannya di hotel itu selama lima tahun. Pulang ke rumah Kardi merasa matahari semakin terik, bumi bergoyang dan kepalanya pusing. Istrinya menyambut dengan wajah pucat. Kardi tidak berkata panjang, karena beberapa hari sebelumnya sudah tersiar berita akan ada PHK dan kemungkinan dia akan terkena.

Sekarang kenyataan sudah tiba. Kardi langsung menuju kamar tidur, rebah dan merasa tak sanggup berdiri karena lututnya goyah dan debaran jantungnya semakin kencang. Istrinya menyusul ke kamar, mengerti tentang krisis yang menimpa keluarganya.

Dengan sabar ia membuka sepatu suaminya dan duduk di sebelah pembaringan. “Gaenang tiang teh nggih Beli” (kubuatkan teh ya kak), tanpa menunggu jawaban ia segera ke dapur membuatkan teh suaminya.

Sambil menuju kamar tidur diliriknya si anak yang baru berusia dua tahun sedang tidur pulas di kamar sebelah. Ia menaruh teh di meja dekat tempat tidur, lalu ikut rebah di sebelah suaminya yang sedang menutup mata dan meletakkan tangan di atas dahi.

Kardi mulai bicara perlahan: “Jani kenkenang mayah hutang, umah nu nyicil, motor tonden lunas, dija alihang pipis” (sekarang bagaimana caranya membayar hutang-hutang, rumah masih mencicil, mobil belum lunas, di mana kita mencari uang).

Kardi membuka mata dan memindahkan lengan kanan ke bawah kepala istrinya sebagai bantal. Posisi seperti ini selalu dilakukan bila dia ingin menyatakan cintanya dan sekaligus ingin mendapat simpati. Istrinya mengerti pada kebiasaan Kardi, lalu ia mengimbangi dengan memiringkan badan sambil mengusap-usap dada suaminya.

“Sampunang nika anggene sebet kayun, beli!” (Jangan itu terlalu disedihkan, kak ) , yen patut tetimbangan tiange, ngiring budal ke Beleleng, umah lan motore serahang kemanten. (kalau benar pendapat saya, mari kita pulang ke Buleleng, rumah dan mobil diserahkan saja).

Kata-kata istrinya bagaikan embun pegunungan, menyejukkan dan menambah semangat. “Tiang nenten lek malih dadi buruh ngalap anggur, asal iraga ngidaang idup lan I Gede ngidaang masekolah” (saya tidak malu kembali menjadi buruh pemetik anggur, asal kita bisa hidup dan I Gede anak kita bisa bersekolah).

Mendengar kata-kata istrinya, Kardi tak tahan membendung air mata karena tidak membayangkan malapetaka seperti ini akan menimpa keluarganya. Namun di balik itu ia mulai bersemangat karena didorong oleh cinta dan kesetiaan istrinya.

“Beneh nto Dek, asanange iraga nu masi ngelah bekel. Yen umah lan motore serahang, barang-barange lenan adep, tur Beli maan pesangon, mekejang sawetara ada molas juta” (benar itu dik, kira-kira kita masih punya uang. Kalau rumah dan mobil diserahkan, barang-barang lainnya dijual, dan kakak juga mendapat pesangon, jadi jumlahnya semua sekitar Rp.15 juta).

“Sing je nganti Kadek maburuh anggur buin, jalan cobak dadi pedagang anggur, pipise ento anggon modal” (tak sampailah Kadek menjadi buruh pemetik anggur lagi, mari coba menjadi pedagang anggur, uang itu gunakan sebagai modal).

Suami- istri itu berpelukan, gembira karena mendapat jalan keluar dari pemikiran bersama. Esoknya keluarga kecil itu sibuk berbenah, dan dalam waktu seminggu mereka sudah boyongan pulang kampung, ke Buleleng.

Hari-hari pertama niat Kardi untuk menjadi pedagang anggur ditangguhkan karena dia bersama istrinya masih perlu mempelajari seluk beluk perdagangan anggur.

Dari pengamatannya, para pedagang selalu membeli buah anggur ketika masih hijau, menunggu satu sampai dua bulan sebelum panen. Bahkan ada yang sudah memberikan persekot ketika pohon anggur baru memunculkan tunas baru setelah pengguntingan dahan.

Jadi selain harga buah, para pedagang juga harus menanggung biaya pupuk, obat-obatan dan biaya panen atau upah petik. Jika jarak waktu antara pertumbuhan tunas sampai panen sekitar empat bulan, maka Kardi harus pandai menghitung harga pokok penjualan dan tafsiran harga pasar/ penjualan yang akan datang.

Ia harus berhati-hati agar modalnya yang lima belas juta bisa berkembang, karena itulah satu-satunya milik mereka setelah di phk.

Pan Kardi menyambut baik rencana anaknya menjadi pedagang anggur. Tetapi dia mengusulkan pengembangan dengan basis yang lebih kuat. “Petani anggure jani suba dueg-dueg, dikengkene pedagang anggure bisa kalahange” (para petani anggur sekarang sudah pintar-pintar, kadang-kadang para pedagang anggur sampai kalah atau merugi) penegasan ayahnya membuat Kardi bingung.

“Ngraris sapunapi pikayunan bapane mangkin, tiang during uning” (lalu bagaimana pendapat ayah sekarang, saya kok bingung), Kardi mohon petunjuk ayahnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan diputuskanlah agar Kardi selain berdagang anggur, juga menanam sendiri kebun anggur di tanah sawah ayahnya ditambah beberapa are tanah dari menyewa.

Keluarga itu sekarang benar-benar menjadi petani anggur dan langsung memasarkan sendiri hasil panennya. Sistim ini menghasilkan buah anggur yang berkualitas tinggi, butirnya besar, warnanya hitam pekat dan manis, karena dipelihara dengan baik dan dipetik pada waktu yang tepat, yaitu menunggu buah anggur matang sempurna di pohon.

Pemasaran mereka tidak hanya di kota Singaraja, tetapi lebih banyak ke Denpasar, Surabaya dan Jakarta, di hotel-hotel dan restoran-restoran terkenal. Packing buah anggur mereka dengan peti yang halus dan ada lebel indah dan tercetak rapi: “The real harvest of Kardi”

Kiprah Kardi telah mendorong semangat anak-anak muda menekuni sektor agraris. Ada yang memelihara itik dengan tekhnologi modern, mulai dari penetasan sampai penggemukan.

Coba-coba makan di restoran cina Surabaya, pesan bebek panggang ala Peking, gurih, empuk dan dagingnya tebal. Itu hasil para petani peternak kita. Makan salak gula pasir, manggis, durian, wani, mangga, rambutan, siapa pula yang memproduksi? ya para petani kita.

Dalam Reg Veda profesi petani sangat diagungkan. Simaklah Mandala I, Bab ke-5, Sukta 187. 5:

TAVA TYE PITO DADATAS, TAVA SVADISTHA TE PITO, PRA SVADMANO RASANAM, TUVIGRIVA IVERATE.

Artinya: Wahai makanan yang lezat pemberi kehidupan, mereka yang mulia tidak hanya menikmatimu, tetapi juga memproduksi dan membagikannya kepada orang lain; sebaliknya mereka yang hanya menikmati cita rasa makanan saja, adalah orang-orang yang sombong.

Keluarga Kardi seolah-olah mendapat perintah Hyang Widhi untuk kembali menekuni pertanian. Bom Bali memang membawa petaka, tetapi ada juga hikmahnya, seperti nasib Kardi sekeluarga sekarang. Ia memacul (menjadi petani), tetapi petani yang kaya raya, inovatif, dan taat beragama serta suka medana punia.

Gede Madia bekerja serabutan, artinya mau dan mampu bekerja apa saja. Tentu bagi rakyat kecil seperti dia, kalimat bekerja apa saja artinya terbatas pada jenis pekerjaan kasar.

Lebih lugas lagi, jenis pekerjaan yang mengandalkan tenaga dan bukan mengandalkan kepintaran otak. Maklum saja, karena dia hanya sempat menikmati pendidikan formal sampai SD kelas 4 di desa.

Ketika menginjak usia 13 tahun dia menjadi buruh bangunan pengayah (pembantu) tukang batu. Badannya yang kurus ceking dipaksakan menenteng ember adonan semen, memikul batu, sambil ditimpa terik matahari. Menginjak usia remaja ‘karir’-nya meningkat menjadi tukang batu. Tentu saja upah harian naik 100%.

Pekerjaan ini lama ditekuni sampai tiba masanya dia tertarik pada lawan jenis yang dilanjutkan dengan pernikahan di usia muda, yakni ketika berusia 22 tahun. ‘Profesi’ kekasihnya yang bernama Ketut Manis tak jauh beda dari pekerjaan Gede Madia, yakni berjualan pelecing (sejenis sayuran) di sekitar tempat buruh bangunan bekerja.

Penghasilannya cukup bila ada proyek besar mempekerjakan banyak buruh yang berbelanja. Cukup berarti bisa membeli beras keperluan satu hari untuk sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua adik.

Berjualan pelecing mula-mula disarankan oleh ibunya yang tahu bahwa para buruh bangunan membawa bekal dari rumah hanya berupa sebungkus nasi dengan lauk seadanya, kebanyakan tidak dilengkapi sayuran.

Begitulah kisah cinta antara Gede Madia dengan Ketut Manis mulai bersemi karena setiap hari di jam-jam istirahat Gede Madia selalu nongkrong di tempat Ketut Manis berjualan, di bawah pohon flamboyan.

Ketika merasa saat menyampaikan isi hati sudah tiba, dengan nada gemetar Gede Madia membuka mulut: “Tut, gelahe demen ken nyai, madak apang nyai keto masi” (Ketut, aku cinta kepadamu, semoga kamu demikian pula).

Ketut Manis tersipu dengan wajah memerah, tak menjawab dengan kata-kata. Hanya berupa anggukan kecil seraya menunduk menghindari pandangan Gede Madia. Namun itu sudah berarti “ya” dan hati Gede Madia berbunga-bunga.

Agar tuntas, tawaran berikut segera menyusul: “Kayang bayaranne buin acepok, nyai kar idih” (pada hari bayaran/ gajian mendatang kamu kan kulamar jadi istriku). Tersentak kaget, Ketut Manis mendongak dengan mata membeliak. “Adi enggal-enggal beli?” (kok cepat-cepat kak?) .

“Men ape buin antiang, gelahe suba mekelo nabung di BRI, asanange sedeng pipise anggon nganten” (lalu apalagi yang ditunggu, aku sudah lama menabung di BRI, kira-kira jumlah uangnya sudah cukup untuk upacara perkawinan). “Lan di Gerian-ne Ida Bhagawan laku, kone abedik nganggon bea” (ayo di Geria-nya Ida Bhagawan saja berupacara, katanya sedikit memakai biaya).

Kata-kata Gede Madia meluncur bagaikan peluru senapan mesin yang tak mampu dihindari. Ketut Manis pasrah: “Yen keto tiang meserah manten ken beli” (kalau begitu saya serahkan saja pada kakak).

Perkawinanpun jadi sebulan kemudian. Upacara sederhana namun meriah di Geria Tamansari berlangsung hanya dengan biaya Rp500.000,– sudah termasuk snack.

Setelah menikah, Ketut Manis berhenti berjualan pelecing, karena harus merawat mertuanya yang sakit-sakitan. Gede Madia makin semangat bekerja dan hidup hemat. Hari berganti bulan, ketika anak pertama lahir, tabungannya di BRI Singaraja sudah mencapai jumlah yang cukup untuk membayar uang muka (down-payment) sebuah kendaraan truk engkel Mitsubushi.

Pagi-pagi benar Gede Madia datang ke Geria meminta truk barunya “di-plaspas”. “Ratu, ampura titiang nunas pamelaspas motor titiange sane anyar puniki” (Bapak, minta maaf saya mohon upacara pamelaspas untuk truk saya yang baru ini). “Beh, angayu bagia nak, ne nanak maduwe motore?” (wah, berbahagialah nak, ini memang kamu yang punya?).

“Inggih tu, wawu dibi titiang ngambil ring dealer-e” (ya Bapak, baru kemarin saya mengambil di dealer). “Suweca pisan Sanghyang Parama Kawi ngelimbakang kerta nugraha ring ragan nanak” (Sangat kasih Sanghyang Widhi melimpahkan karunia kepadamu).

Saya berjalan mengelilingi truk itu yang dicat warna krem. Di dinding belakang ada tulisan besar: ‘SING DOT’ (tidak ingin). “Ape artin tulisanne ento nak?” (apa arti tulisan itu nak?)

Gede Madia sambil tersenyum menjawab bahwa tulisan itu bermakna menasihati dirinya sendiri agar mengendalikan keinginan-keinginan konsumtif yang berlebihan, tidak boros, rajin menabung bagi keperluan yang produktif, terutama untuk mencicil angsuran harga truk setiap bulan.

“Luwung gati ento nak, ne perlu limbakang teken sisianne lenan” (Bagus sekali itu nak, ini perlu disebarkan kepada umat kita yang lain).

Nasihat: ‘SING DOT’ itu memang perlu. Paling tidak untuk diresapkan agar tidak mudah tergoda oleh keinginan atau nafsu untuk memiliki sesuatu, lebih-lebih bila kemampuan tidak memadai.

Dalam pemenuhan materi kebanyakan dari kita sudah terlalu jauh hidup dan berpikir dengan pola konsumtif. Lihatlah di sekeliling, demikian banyak barang-barang baru, entah berupa motor, mobil, rumah, TV, Handphone, dll yang telah ‘mengurung’ kita dalam kehidupan sehari-hari.

Para penjual ramai-ramai menawarkan pembelian dengan angsuran, sehingga barang-barang konsumtif itu dengan mudah diperoleh. Dengan DP satu jutaan sudah bisa ber-Mio-ria; dengan duit setengah juta sudah ber-HP-ria; barang apapun bisa diperoleh dengan uang muka yang murah, tetapi pada akhirnya total angsuran lebih berlipat dari harga kontan.

Iklan-iklan di TV Nasional memikat penonton untuk menjadikannya consumers yang selalu haus dengan barang-barang bagus buatan luar negeri. Boleh dikata hanya satu diantara seribu orang yang masih berpikir produktif seperti Gede Madia.

“Yadiastu titiang mangkin sampun wusan dados buruh, sampun ngadol bias, dedaaran titiange kari sekadi dumun dawege melarat. TV manten titiang ten maduwe, kanggeang mebalih di Bale Banjare” (walaupun sekarang saya sudah tidak bekerja memburuh, beralih berjualan pasir, makanan saya masih seperti dahulu ketika melarat. TV saja tidak punya, cukup menonton di Balai Banjar).

Sebenarnya para pemimpin baik di pemerintahan maupun di swasta perlu menghayati ‘filosofi’: Sing Dot itu. Kalau saja nafsu dan loba atau dalam ajaran Hindu di Bali disebut sebagai kama dan lobha yakni bagian dari sad-ripu (enam musuh dalam diri sendiri), bisa dikendalikan maka kasus-kasus korupsi akan dapat dikurangi.

Kembali pada kisah Gede Madia dan Ketut Manis, kini mereka sudah hidup mapan, namun tetap sederhana. Setiap hari lima buah truknya mondar-mandir Singaraja – Karangasem mengangkut pasir yang dijual kepada para pemborong bangunan. Semuanya bertulisan: “SING DOT”

Entah kenapa pula, binatang menjijikkan yang biasa hidup di selokan kotor itu mendapat nama terhormat sebagai “Jero Ketut”. “Ape madan Jelo Ketut, kaki?” (Apa yang bernama Jero Ketut, kakek?) Tanya si cucu kepada kakeknya, Nengah Diarta, di suatu pagi, ketika si kakek sedang asik menghirup kopi hangat ditemani ketela rebus.

“Bikul!” (Tikus!) jawab si kakek ketus dengan nada kesal mengarah benci.

Bukan kepada cucunya yang baru belajar ngomong ini, tetapi kepada tikus-tikus yang serakah, memakan apa saja, dari hasil panen sampai kabel listrik, bahkan sepatu cucunya tak lepas dari perhatian si tikus.

“Jani bikule gede-gede, bisa gedenan teken meong” (Sekarang tikus besar-besar, bisa lebih besar dari kucing) sambung si kakek.

“Ooo, ngon masi bane, ape ye tidike teken bikule adi bisa keto, ulesne milu ngamah rabuk” (Iyaa, heran juga, apa kiranya yang dimakan si tikus kok bisa besar segitu, mungkin turut makan rabuk/ vertilizer) sambung dadong (nenek) Wayan, istri Nengah Diarta.

“Sangkala ade dagang bakso nganggon be bikul” (Makanya, ada dagang bakso keliling yang membuat bakso dari daging tikus), Nengah Diarta menimpali sembari memasukkan potongan ketela rebus ke mulutnya.

“Beh, adi beler gati dagange nto, saja keto beli?” (Wah kok jahat sekali dagang bakso itu, benar demikian kak?) dadong Wayan mengerenyitkan alisnya tanda heran.

“Yeh, sing maca koran?, taen ketara dagang baksone sedeng nampah bikul” (Lho tidak baca koran? pernah ketahuan seorang dagang bakso sedang membunuh tikus untuk diambil dagingnya).

“Be, suud meli-meli bakso cu, len suba misi formalin, buine be bikul anggone!” (Wah, jangan beli bakso lagi cucu, mana sudah berisi formalin, lagian daging tikus yang dipakai bakso!) sergah dadong Wayan sambil meraih cucunya kepangkuannya, tanda melindungi cucunya tersayang.

“Yen galak-galak bikule, melaan kaukin meonge nganggon gendingan: meong-meong alih je bikule, bikul gede-gede buin mokoh-mokoh, kereng pisan ngerusuhin” (Kalau tikusnya galak, sebaiknya panggil kucing dengan nyanyian: kucing-kucing tangkaplah si tikus, tikus yang besar-besar dan gemuk, yang sering merusak), dadong Wayan melantunkan lagu kepada si cucu sambil menimang-nimangnya.

Percakapan di pagi hari pada keluarga kecil yang hidup sederhana itu bagaikan kias keadaan kita di Indonesia.

Negara yang terkenal sebagai negara terkorup nomor enam di dunia, memang banyak mempunyai tikus-tikus yang besar dan gemuk, yaitu para koruptor yang hidup mewah melampaui batas penghasilan sebagai pegawai negeri.

Kalau diperhatikan dengan seksama, pejabat tertentu yang diperkirakan bergaji lima juta rupiah sebulan, kok bisa hidup mewah, dengan rumah indah, mobil lebih dari dua, dan anak-anak dewasa semua menggunakan handphone.

Hitung saja biaya rumah tangganya sebulan; tidak kurang dari dua puluh juta sebulan. Nah dari mana tambahan pendapatan sebesar lima belas juta itu? Kalau ada yang bertanya biasa mendapat jawabannya: 1. Istrinya ada bisnis sesuatu. 2. Ada warisan orang tua berupa sawah dan kebun di kampung.

Entah benar entah tidak, tetapi nyatanya ‘budaya’ korupsi sudah berurat-berakar pada kebanyakan pejabat negara, tak pandang bulu apakah pejabat tinggi atau pejabat rendah. Orang tua-tua di pedesan sudah maklum pada ‘tradisi’ sogok atau suap dalam melamar pekerjaan di pemerintahan.

Mereka sudah memperhitungkan anggaran, selain biaya sekolah, kuliah dan fasilitas belajar, juga harus mempersiapkan dana sekurangnya lima puluh juta rupiah untuk nyogok atau nyuap di waktu melamar pekerjaan.

Lebih besar sogokan atau suapan itu lebih bagus, karena bisa memilih posisi yang lebih empuk. “Ne anggon modal, buin pidan lakar ulihange teken panake yen ye suba megae” (Ini sebagai modal, kelak akan dikembalikan oleh anakmu, jika sudah bekerja), itu kalimat penjelasan dari suami kepada istri, dalam berbincang tentang biaya besar untuk menjadikan anaknya pegawai negeri.

Para ‘kucing’ juga takut pada tikus-tikus. Karena tikusnya lebih besar dan lebih galak, atau kucing tidak ada selera memakan tikus. Kiasan bagi para pengawas, apapun nama jabatannya, dari yang sederhana seperti polisi, jaksa, hakim, sampai yang memakai nama keren-keren: “Satuan Pengawas Intern (SPI)”, “Direktur Kepatuhan”, dan lain-lain.

Kalau ada yang berani dan ingin bertindak jujur, kadang harus mengalami risiko fatal, dipindahtugaskan, bahkan ada yang tertembak mati! Kasihan anak-istrinya.

Teringat kembali pada lagu anak-anak: Meong-Meong, alih je bikule… , sepertinya para leluhur orang Bali tempo dulu sudah meramalkan bahwa di suatu saat tatkala zaman Kali atau zaman edan mencapai puncaknya, akan terjadi pembalikan fakta, misalnya kalau dahulu tikus takut pada kucing, sekarang kucing takut pada tikus atau paling tidak, kucing segan bahkan bersahabat dengan tikus.

Mungkin pula pengaruh film-film kartun yang menggambarkan kucing selalu dibodohi oleh tikus, entahlah, tetapi bagaimana pun juga tikus sejak dahulu di Bali diberi sebutan yang keren dan berwibawa: “Jero Ketut” kenapa pula tidak nama yang lain misalnya “Jero Wayan” atau “Jero Nyoman”, dll.

Tak ada yang bisa menjawab. Memang begitu! Hanya bisa menebak-nebak, bahwa Ketut adalah nama depan anak terkecil dalam satu keluarga, sedangkan Jero adalah predikat orang terhormat. Jadi kira-kira Jero Ketut artinya anak terkecil yang terhormat.

Bisa juga menjadi kias bagi seorang pejabat dengan atribut gelar kesarjanaan, pangkat yang keren, penampilan yang meyakinkan, tetapi tetap saja bermental rendah seperti tikus, dalam artian memakan segalanya tanpa pikir panjang, namun tetap kelihatan terhormat sebagai seorang Jero.

Dan, hati-hati berhadapan dengan Jero Ketut, “beliau” harus diperlakukan lain dari yang lain, karena salah perlakuan dapat berbahaya.

Misalnya kalau ingin menyogok atau menyuap, kita harus tahu dengan pasti terlebih dahulu, berapa jumlah sogokan atau suap itu, kapan waktunya yang tepat, dan bagaimana gaya bahasa kita menyampaikan sogokan itu. Kalau salah, bisa saja kita yang menyogok dituduh berbuat kriminal dan tentu saja tujuan menyogok tidak tercapai.

Demikian pula si tikus dalam julukan Jero Ketut, dari zaman dahulu di Bali tikus diperlakukan terhormat. Kalau ingin menghilangkan hama tikus, dibuatlah upacara “nangluk merana” biasanya pada bulan tilem sasih ka-enam (bulan gelap ke-enam).

Di beberapa daerah seperti di Tabanan, pernah diadakan upacara pelebon bagi Jero Ketut alias pembakaran mayat tikus. Tikus ramai-ramai diuber dan dibunuh, kemudian bangkainya dirawat dengan baik dalam upacara ngaben, lengkap dengan sarana banten dan tirta pengentas. Persis seperti upacara bagi manusia. Entah apa pedoman Lontarnya, namun tujuannya tetap menghormati Jero Ketut.

Implementasi yang nyata dewasa ini menjadi pertanyaan: sejalan dengan upacara nangluk merana, apakah para koruptor itu perlu dihormati dan diistimewakan walaupun telah terbukti bersalah dan dihukum penjara?

Jawabannya ternyata benar. Para koruptor yang ada di penjara tetap mendapat perlakuan yang lebih istimewa daripada pencuri ayam. Mereka bisa menempati kamar yang bersih, pakai kasur empuk, pakai AC, ada kulkas, TV, dan koran setiap pagi.

Makanan pun yang lezat-lezat, bisa dibawa dari rumah atau pesan di restoran melalui sipir. Di hari-hari istimewa boleh “cuti” dari penjara untuk melepas rindu pada keluarga, bersilaturahmi, atau ingin iseng ke hotel-hotel berbintang ditemani pacar dadakan.

Ya, “budaya” kita harus selalu menghomati tikus. Makanya tak salah, di Bali tikus dinamakan “Jero Ketut”.

Nyepi di Bali dirayakan dengan berbagai cara yang mentradisi di masing-masing Desa sehingga membuatnya menjadi semarak dan menarik perhatian wistawan.

Di Desa Banjar, 15 kilometer arah barat kota Singaraja, Buleleng ada tradisi dalam rangkaian hari raya Nyepi yang dinamakan “Nyakan Diwang”.

Nyakan artinya memasak makanan, dan Diwang artinya di luar. Jadi Nyakan Diwang artinya memasak makanan di luar rumah, tepatnya di pinggir jalan raya. Tradisi berabad-abad itu dilakukan pada hari Ngembak Gni yakni sehari setelah Nyepi.

“Ndiang sembene!” (Nyalakan lampunya) perintah Men Sopi kepada anak gadis satu-satunya bernama Kadek Anggreni. Anggreni yang masih bergelut dengan selimut mendadak bangun oleh bentakan ibunya seraya melihat jam beker di sebelah tempat tidur. “Mare jam pat, me!” (Baru jam empat pagi bu!) .

“Yeeeeeeh, anak nyakan diwang jani, yen tengainan lek atine suryakine ken pisagane” (Waaaaah, sekarang nyakan diwang, kalau kesiangan malu disoraki tetangga).

“Men, Ida Bhagawan ibi ngenikaang di radione ngembak gni-ne mulai jam nem semengan, artinne jani mare jam pat, sing konden ngembak gni, sing dadi malu kije-kije, ape buin ngendiang sembe”, (Kan, Ida Bhagawan kemarin berkata di radio bahwa ngembak gni dimulai jam enam pagi, artinya sekarang baru jam empat, belum ngembak gni, tidak boleh ke mana-mana, apalagi menyalakan lampu), sergah Anggreni tak kalah sengit pada Ibunya.

Men Sopi yang merasa perintahnya dilawan, segera menuju saklar menghidupkan lampu sambil menuding anak gadisnya: “Nyai de meduegin anak tua, anak mule kene bakat, yen tusing nyakan diwang kena dande selae tali, ape tawang nyai!” (Kamu jangan sok mengajari orang tua, memang sudah begini tradisi kita, kalau tidak nyakan diwang, kena denda Rp25.000,- kamu tahu nggak!)

Gede Arjana, ayah Anggreni terbangun oleh ribut-ribut di kamar tidur anaknya. Bangun terhuyung-huyung oleh kantuk ia berjalan menuju sumber keributan. “Ade ape ne, das lemahe uyut cara peken?” (Ada apa ini, kok pagi-pagi buta ribut seperti pasar?) .

“Ne panak beline, males bangun, konden ngembak geni kone, sing dadi pesu, sing dadi ngendiang sembe, beh megenep cerik-cerike jani ngelah reragragan!” (Ini anakmu kak, malas bangun, belum ngembak gni – lah, tidak boleh keluar, tidak boleh nyalakan lampu, wah banyak anak-anak sekarang punya alasan!) .

Gede Arjana sambil mengusap-usap matanya menimpali: “Sujatinne beneh omong panake nto, kewale de jani uyutange, nyanan di sangkep banjar adate, ajake omongang ditu” (Sesungguhnya benar apa kata anak kita, tetapi jangan sekarang diributkan, nanti pada rapat di banjar-adat, coba dibicarakan).

Maka bersiaplah mereka nyakan diwang. Anggreni berlari kecil ke kamar mandi, membersihkan diri sekedarnya, lalu bergegas bersama ayahnya mengusung meja besar keluar rumah, dipinggir jalan.

Men Sopi mengambil alat-alat masak lainnya seperti dandang, beras, sayuran, daging ayam dari kulkas, kopi, the, gula, dan lain-lain yang sudah disiapkan sejak kemarin.

Gede Arjana membuat paon yaitu batu-bata yang ditumpuk untuk tempat memasak nasi dan menggoreng sesuatu. Paon digunakan karena awig-awig adat tidak membolehkan masak memakai kompor, tetapi memakai cara lama, yaitu kayu bakar.

Anggreni mengambil beberapa kursi makan dan bangku panjang, dijajarkan di depan meja besar yang sudah berisi berbagai hidangan, seperti kue, kacang kapri, lauk-pauk, buah-buahan, minuman ringan, dan sebagainya.

Peralatan makan juga sudah disiapkan seperti piring, sendok, gelas, dan cangkir. Ayahnya sudah dari tadi memasang lampu dan lilin di atas meja.

Jam lima pagi semua masakan sudah siap dan dihidangkan di atas meja. Keluarga kecil itu duduk-duduk di kursi sambil menyapa para tetangga di kiri-kanannya. Jalan raya yang menghubungkan Desa Banjar dengan Desa lainnya sudah penuh sesak dengan meja-meja hidangan para warga.

Satu sama lain saling mengunjungi, mampir, dan duduk di depan meja krama lainnya. Mereka diterima dengan ramah, disuguhi hidangan yang ada, sambil bercengkrama, dan saling memaafkan.

Berkunjung biasanya tak lebih dari 5 menit, karena perlu ke meja lain mengusahakan sebanyak-banyaknya dan merata. Karena terlalu banyak, ada yang hanya mampir sambil berdiri saja, lalu mengambil kue atau makanan kecil seadanya. Jarang yang benar-benar makan pagi seperti biasa, kecuali kalau yang berkunjung itu ada keinginan khusus.

Begitulah dengan meja Anggreni di pagi hari itu, penuh pengunjung, sampai kehabisan kursi dan bangku. Yang datang pemuda-pemuda, tidak hanya yang berasal dari Desa Banjar, tetapi juga dari Desa lain seperti Kalianget, Tampekan, Dencarik, Joanyar, Tangguwisia, bahkan dari Tigawasa dan Cempaga.

Yang tidak mengerti heran, kenapa meja Anggreni yang paling banyak pengunjungnya. Tapi bagi yang jeli, segera tahu jawabannya. Anggreni itu cantik!, pandai bergaul, tutur katanya memikat, dan senyumnya tak pernah hilang, membuat lesung pipitnya mempesona.

Dengan rambut tebal panjang sampai ke pinggang dan kulit halus putih langsat, serta tubuh seksi tinggi semampai, lengkaplah kecantikan Anggreni yang tersohor ke seluruh Kecamatan Banjar.

Gede Arjana, si ayah, tak mau jalan-jalan ke tetangga, dia tetap duduk merokok di pojok meja, diam, mengawasi “keselamatan” anak gadisnya dengan tatapan penuh curiga kepada teman-teman putrinya. Anggreni sudah 22 tahun, pantas punya pacar, tapi Anggreni masih memilih-milih siapa yang cocok.

Ayahnya akan setuju pada pilihan anaknya, tetapi justru karena diberi kepercayaan besar, Anggreni sangat berhati-hati. “Kemo jani beli ngelindeng, depin tiang nimpalin panake” (Sana, sekarang kakak yang jalan-jalan, biar saya yang menemani anak kita), Men Sopi menyuruh suaminya berkunjung ke meja tetangga.

“Mai De, singah malu!” (Ke sini Gede, mampir dulu!) sapaan dari sahabatnya mengajak mampir. Gede Arjana mengambil tempat duduk dan segera mendapat hidangan kopi panas dan pisang goreng.

“Luwung gati tradisin iragane ene, nyakan diwang mekade irage raket menyame, irage saling ngidih pelih, buine ojog saja-sajaan merase mebesikan” (Bagus sekali tradisi kita ini, nyakan diwang membuat kita bersaudara, kita saling memaafkan, dan rasanya benar-benar kita bersatu-padu). Kata Nyoman Tinggen, sahabat Gede Arjana sejak kecil.

“Men ngidayang beli meberata penyepian?” (Lalu bisakah kakak melaksanakan “berata penyepian”?). Sambungan pertanyaan Nyoman Tinggen membuat Gede Arjana tercenung. “Yen beli, dong ngidaang, kewale pisagane uyut meceki” (Kalau kakak sih bisa, tapi tetanggaku ribut berjudi “ceki”).

“Ooo I Suta?, anak uli pidan suba korain, suud meceki, ape buin jani ade undang-undang judi, nyanan tangkepe ken pulisine” (Ooo I Suta?, sudah dari dulu saya nasihati, berhenti main judi ceki, apalagi sekarang ada undang-undang judi, bisa ditangkap polisi).

“Beli masi suba ngorain keto, jog luwung pesautne: “Nyepi sing ade pulisi, pulisine milu masi nyepi!” (Kakak juga sudah memberi tahu begitu, tetapi bagus jawabannya: “Nyepi tidak ada polisi, polisi juga ikut Nyepi!”).

“Men ade pecalang, keng-ken nto!” (Lalu ada pecalang, bagaimana itu!) sembur Nyoman Tinggen bernafsu. “Pecalang tusing ngelah wewenang hukum pidana, ape buin klian pecalange ponakan I Suta, dije bani ngelapurang reramanne!” (Pecalang tidak punya wewenang dalam hukum pidana, apalagi ketua pecalang itu kemenakan I Suta mana berani melaporkan pamannya).

“Sujatinne irage sing perlu takut teken pulisi, teken pecalang, ane beneh takutin tuah Sanghyang Widhi dogen, yen bani mesolah jele, jele lakar bakat, mesolah luwung, luwung bakat, keto hukum karma-phalane!” (Sebenarnya kita tidak perlu takut pada polisi, pecalang, yang patut ditakuti hanya Sanghyang Widhi saja, kalau berani berbuat jelek, keburukan yang akan diterima, berbuat baik, kebaikan akan didapat, begitulah hukum “karma-phala”, lanjut Gede Arjana menutup pembicaraan pagi itu.

Matahari muncul di timur, sinarnya yang cemerlang kemerahan menguak keremangan menuju langkah awal di Tahun Baru Saka 1928. Rahajeng, dirgahayu, semoga tahun ini membawa kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan umat Hindu.

Sekitar jam tujuh pagi nyakan diwang selesai dan satu-persatu krama banjar mengusung meja, pulang ke rumah.

Kasak-kusuk pemilihan Kepala Desa (kades) makin hari semakin ramai. Ada tiga kandidat yang mengajukan diri. Ketiganya mempunyai track record yang hampir sama. Berpendidikan formal S1, berwawasan luas, bukan PNS, berdedikasi tinggi pada kemajuan Desa, kaya, berusia sekitar 40-45 tahun.

Tak heran maka penduduk bingung mau memilih yang mana. Walaupun demikian dalam pandangan kebanyakan penduduk calon Made Suartana kelihatannya lebih banyak mendapat simpati dan dukungan. Dapat diduga sebabnya, karena ia salah seorang anggota Dadia (paguyuban keluarga) yang besar.

Lebih dari setengah penduduk Desa itu adalah keluarga Dadia Pak Kadek, demikian mereka menyebut nama populernya. Ternyata paguyuban keluarga atau soroh dapat pula dimanfaatkan untuk mendapat dukungan suara dalam pemilihan kepala desa atau yang lumrah disebut pilkades.

Strategi ini kemudian ditiru oleh kandidat-kandidat pimpinan yang lebih tinggi, misalnya kandidat-kandidat Bupati di Bali yang berusaha memantapkan dukungan dari paguyuban-paguyuban keluarga seperti itu untuk memenangkan pilkada (pemilihan kepala daerah).

Untuk sementara waktu kondisi persatuan dan kesatuan di Desa seperti terpecah dalam kelompok-kelompok pendukung kandidat kades. Yang satu selalu mengunggulkan idolanya dan yang lain berusaha mencari kelemahan-kelemahan.

Isu-isu mendekati fitnah tak jarang beredar bagaikan hantu di malam hari, terutama ramai oleh celotehan pemuda-pemuda. “Eh, cai nawang Pak Kadek nto paak gati ajak Bupatine” (Hai, kamu tahu nggak bahwa Pak Kadek itu akrab sekali dengan Bupati).

“Yen irage milih Pak Kadek tur ngidaang Pak Kadek dadi Kades, ape idihe ke Bupatine, ojog baange. Ne rurunge pecerongkak sing nganti abulan jog mulus, nagih penerangan jalan, ojog maan; nagih Puskesmas aluh!” (Kalau kita memilih Pak Kadek dan bisa dia menjadi Kades, apa yang diminta ke Bupati, pasti dikasi. Jalan berlubang ini, tidak sampai sebulan akan mulus, minta listrik penerangan jalan, pasti dapat; mau Puskesmas, gampang!).

Demikian kampanye tak resmi dari Wayan Kantra, yang di desa lebih populer dengan nama julukan I Kebut. Entah kenapa diberi julukan begitu. Ada yang bilang karena Kantra suka ngebut naik motor; tetapi Ibunya mengatakan lain. Ketika anak-anak, ubun-ubun I Kantra kelihatan berdenyut-denyut keras atau dalam bahasa Bali: kebut-kebut .

“Nyen ngoraang keto?” (Siapa yang bilang begitu?) sela Komang Artini yang juga dijuluki Ar-dakocan (dagang kopi cantik). “Yeeeeeh, ake nawang pedidi!” (Wah, aku tahu sendiri!). “Taen ngatoang Pak Kadek ke Kantor Bupati, ia ngidih pipis. Pesunne jog a bendel ngabe pis ratusan ribu” (Pernah mengantar Pak Kadek ke Kantor Bupati, dia minta uang.

Keluar dari ruangan Bupati tak dikira, membawa uang satu bendel lembaran Rp100.000,–) sergah I Kebut. “Ooooo, mula metimpal iye ajak Bupatine?” (Ooo, memang berteman dia dengan Bupati?) keheranan Ar-dakocan tak tertahankan sampai matanya membeliak dan mulutnya menganga.

Ketut Sutawan alias Boncel yang sedari tadi mendengar tutur I Kebut berpikir keras sambil menyedot rokoknya dalam-dalam. Setelah menghirup kopi dia ikut nimbrung: “Ape ye mekade Bupatine boh gati teken Pak Kadek” (Apa yang menyebabkan Bupati kok akrab sekali dengan pak Kadek).

“Ake ningeh orte, dugase pemilihan Bupati, Pak Kadek sube ane dadi Patih Agung, peteng-lemah ngintil kemo-mai” (Aku dengar khabar, ketika pemilihan Bupati, Pak Kadek-lah yang jadi tangan kanannya, siang – malam mengikuti ke sana-kemari), sahut I Butuan yang nama aslinya Ketut Sumerta.

“O pantes keto, jani sing Bupatine ngelah kewajiban mendukung Pak Kadek” (O ya pantas begitu, sekarang kan Bupati yang punya kewajiban mendukung Pak Kadek) sahut Boncel. “Neh pelih ake ngomong, cai de bingung, jog memeteng sube pilih Pak Kadek. Buine ye ngelah program-program membangun desan gelahe” (Nah, apa kubilang, kamu tak perlu bingung, langsung tutup mata pilih Pak Kadek. Lagian dia punya program-program memajukan desa kita) sahut I Kebut.

“Keto malu” (Begitulah dulu) sindir Ar-dakocan sambil mencuci cangkir kopi di pojok warung. “Suba dogen dadi Kades, ape sing ade” (Nanti kalau benar menjadi kepala desa, tidak ada apa-apa), Artini tidak percaya pada janji-janji Pak Kadek karena sering janji-janji seperti itu yang diobral saat kampanye, tidak pernah dilaksanakan oleh para pejabat ketika sudah terpilih.

Janji tinggal janji karena kepentingan pribadi menjadi nomor satu sedang kepentingan rakyat entah nomor berapa urutannya. “De nyampuak-nyampuak, nyai awak dakocan, selegang meseh ken medagang dogen!” (Jangan ikut-ikutan ngomong, kamu dakocan urus soal berhias dan berdagang saja!) cerocos dari mulut I Kebut, membuat suasana malam itu tegang.

“Japin icang luh, otek icange anak nu tegteg, sing cara cai, asal ade ngemaang pipis jog kedat matan caine” (Biar aku perempuan tetapi otak-ku masih waras, tidak seperti kamu asal ada yang nyogok, matamu jadi berbinar) sahut Ar-dakocan bagaikan singa betina luka.

Disemprot tak terduga seperti itu I Kebut diam memendam marah, sembari heran pada keberanian Artini menyerangnya begitu sengit. Melihat I Kebut diam, Ar-dakocan makin berani: “Bayah malu utang caine, pekatik jaran dogen ngidang mayah utang” (Bayar dulu hutangmu padaku, pemelihara kuda saja bisa membayar hutang).

I Kebut semakin loyo ketika Artini membeberkan rahasianya setiap ngopi selalu ngebon. I Butuan melerai “perang” itu: “De ketoange timpale, sakewale saje buka munyin I Ar, jaman jani keweh ngalih pemimpin jujur. Ngalih ane dueg dong liu ade, ngalih ane jujur tonden karoan maan. Jelemane jani liunan memua alu” (Jangan digituin temanmu, tetapi memang benar seperti kata Artini, jaman sekarang sulit mencari pemimpin yang jujur. Mencari yang pintar ada banyak, tetapi mencari yang jujur belum tentu dapat. Manusia sekarang kebanyakan bermuka biawak) .

“Ape artinne mua-alu?” (Apa artinya bermuka biawak?) Tanya I Boncel ingin penjelasan. “Sing taen nepukin alu? Coba telektekang, iye ngae-ngae medem, matanne kicer-kicer, yen ade amah-amahan ulung di sampingne, jog nyagrep! (Tidak pernah melihat biawak? Coba perhatikan, dia pura-pura tidur, matanya merem-melek, tetapi jika ada makanan jatuh di sampingnya, langsung disergap).

“Beh yen keto ake orange me mua-alu ituni” (Wah jika begitu aku dibilang bermuka biawak tadi) sembur I Kebut kepada Artini. “Tusing, icang nak ngoraang keto-malu, sing keto mualu” (tidak, aku hanya bilang “keto-malu” bukannya “keto-mua-alu”).

Jawaban Ar-dakocan membuat warung itu penuh tawa ria. Tak terasa malam semakin larut, anak-anak muda satu-persatu meninggalkan warung dakocan. Artini menutup warungnya tepat jam 21.00 Wita.

Dingin di bulan Juli membuat I Kacir malas bangun pagi. Baru saja dia menutup seluruh badan dengan selimut, ibunya menggedor pintu kamar sambil berteriak: “Bangun tut, sube das lemah, tulungin meme ngajang dagangan!” (bangun Ketut, sudah hampir pagi, tolong ibu mengangkuti barang dagangan!).

I Ketut Kacir ngerepak (tergesa-gesa) bangun melempar selimut, dan mendekati ibunya yang sedang menjunjung penarak (bakul besar). “Mekemuh malu, abe men oot pesake ane di beten gelebege” (berkumur dulu, lalu ambilkan sekam yang ada di bawah lumbung).

Men Kacir tiba lebih dahulu di warung kecil depan rumahnya, tempat ia menjual jaje (kue) lak-lak. Menyusul I Kacir menggendong karung berisi sekam.

“Tulukang oote, nyjitin, tungguang pengelaklakan; meme nu nyemak yeh anget!” (masukkan dan bakar sekam di dalam anglo, kemudian jerang tempat membuat lak-lak; ibu akan mengambil air panas!) Perintah beruntun ibunya sudah dihafal karena setiap pagi pekerjaan rutin itu berlangsung terus.

Seingat I Kacir, ibunya berjualan lak-lak sejak dia berusia 3 tahun, hingga kini di usianya yang 12 tahun masih juga seperti itu. “Beh, jemet gati cai, semengan suba bisa nulungin I meme” (wah, rajin sekali kamu, pagi-pagi buta sudah bisa menolong ibumu), sapa I Gedegot, sopir bemo.

“Dije memene, icang ngidih kopi malu” (mana ibumu, aku mau minta kopi). “Nu ngae yeh anget, ne lak-lake malu daar” (masih memasak air, ini kue lak-laknya dimakan dulu). I Kacir segera menuangkan cairan tepung beras ke dalam pengelak-lakan. Tempat itu terbuat dari bahan tanah liat, dibakar, dan berbentuk enam bulatan kecil-kecil dalam satu lempengan.

Ke dalam bulatan kecil itulah cairan tepung beras dituangkan. Dalam beberapa detik, kue lak-lak sudah matang, lalu dicungkil, ditaruh di atas lepekan, ditaburi parutan kelapa, dan disirami cairan gula merah/ gula aren. Mudah membuatnya, dan tangan I Kacir cekatan sekali melakukan.

Lepekan berisi kue lak-lak itu disorongkan kepada I Gedegot, yang segera melahapnya. “Me, enggalin ngaba yeh, ne suba ade anak mebelanja” (bu, segera bawa airnya, ini sudah ada yang berbelanja). “Ne sube peragat! (ini sudah selesai!) sahut ibunya tergopoh-gopoh memasuki warung.

Karena asyik makan, I Gedegot tidak melihat I Kerug datang: “Ndas keleng, malunan polonne dini” (wah, ternyata lebih dahulu dia di sini), sapaan akrab gaya Buleleng dari I Kerug disertai tepukan bahu membuat I Gedegot tersedak. “Cai ngae mekesyab dogen, mai paakang negak, ade kar tuturang!” (kamu membuat aku terkejut, sini duduk yang dekat, ada yang aku mau ceritrakan).

“Cir, gaenang beli jaje apulangan!” (Cir, bikinkan kakak kue lak-lak enam buah), perintah I Kerug kepada I Kacir. “Satua ape nto, cai ngae serem dogen (ceritra apa itu, kamu bikin seram saja), Tanya I Kerug kepada I Gedegot.

“Kene, ibi petenge ake alihe teken keliane, tundene ake sing luas jani, tulungin kone Pak Mudana ngelah gae nelu bulanin panakne” (begini, semalam aku didatangi kepala desa-adat, diminta tidak kerja hari ini, membantu Pak Mudana mengupacarai tiga bulanan anaknya).

“Yeee, adi tawah pejalane ento, benehne Pak Mudana ane ngundang cai langsung (looo, kok aneh caranya begitu, seharusnya Pak Mudana yang mengundang kamu langsung), tanya I Kerug sambil mengrenyitkan alisnya. “Men cai maan undangan?” (lalu kamu dapat undangan?) Tanya balik I Gedegot.

“Tusing, ake nak sing a banjar, buine ake sing kenal ajak iye (tidak, aku tidak sekampung, lagian aku tak kenal dengannya). “Oo dini bapanne I Kacir undange masi, kuale lakar sing teke, oon atine, Pak Mudana aeng demitne; ipidan taen ukane nyilih pipis, mimih pucingine gati, bin baange munyi kasar (o bapaknya I Kacir juga diundang, tapi tak akan datang, malas aku, Pak Mudana sangat kikir, dulu pernah aku mau pinjam uang, tidak dikasi, bahkan dikata-katai kasar), sahut Men Kacir sambil menuangkan dua cangkir kopi hangat.

“Keto suba yen anak sugih, sombong, sing medalem anak tiwas (begitulah kalau orang kaya dan sombong, tidak kasihan pada orang miskin), sahut I Gedegot.

“Sangkala, jemetang ibane megae, Kacir, saget buin pidan cai mepangkat jenderal, de sapine memene ken beli-beline ene (mangkanya, rajin-rajin kamu bekerja, Kacir, siapa tahu kemudian hari kamu bisa jadi jenderal, jangan lupakan ibu dan kakak-kakakmu ini).

I Kacir senyum bersemangat. Kalau kerajinan, rasanya sudah cukup. Di samping itu di sekolah dia tak pernah ketinggalan dapat rangking, selalu berkisar antara rangking satu dan dua. Guru-gurunya juga bangga dan senang pada prestasi I Kacir. Walaupun dia miskin, tetapi kepandaiannya di sekolah sangat memuaskan.

“Tiang taen oraine teken Pak Guru-ne, irage sing dadi mucingin anak ngidih-idih, yen ngidaang apang medana punia teken anak tiwas, anak sing ngelah meme-bapa, anak ane man kekewehan, saja keto me? (saya pernah dinasihati Pak Guru, kita tidak boleh menolak orang minta-minta, kalau bisa supaya me-dana-punia kepada orang miskin, anak yang tidak punya ibu-bapak, orang yang ditimpa kesusahan, betul begitu bu?).

“Saja ento cening, wiyadin meme tiwas kekene, yen ade anak ngidih-ngidih, sing taen meme demit; ape je ade kebaang, jawat pipis, nasi, baju, tur ane len-lenan; pedalem iye, yen sing ulian tiwas, sing nyak ape ye natakang lima” (betul itu nak, walaupun ibu miskin seperti ini, kalau ada orang minta-minta, belum pernah aku menolak; apa yang ada kukasihkan, walaupun berupa uang, nasi, baju bekas, atau yang lain-lain; kasihan dia, kalau tidak karena sangat miskin, tidak maulah dia meminta-minta).

“Kuwale ade masi anak ngidih-ngidih beler, nyaru-nyaru dadi pemulung, yen suung umahe, jemuane anggete” (tetapi ada juga pengemis nakal, pura-pura jadi pemulung, tetapi bila rumah kosong, pakaian di jemuran dicuri) sahut I Gedegot sengit.

“Mula jani liu malinge, sing buungan pretimane di Pura masi palinge, buine nyame Bali ane memaling” (memang sekarang banyak pencuri, tidak tanggung-tanggung arca di Pura juga dicuri, lagian orang Bali yang mencuri) sahut I Kerug. “Ooo sajaan belerne ento, madak je apang tulah kepastu teken Ide Bhatara” (Ia, benar-benar jahat itu, semoga dikutuk oleh Tuhan) I Gedegot menimpali.

Kasus pencurian pretima (patung sakral di Pura) bulan terakhir semakin marak di Bali. Polisi berhasil membekuk pencurinya, ternyata orang Bali beragama Hindu. Ada tiga orang asal Buleleng. Memalukan memang! Para pemimpin/ rohaniawan Hindu bagaikan tertampar mukanya lantaran malu melihat kenyataan kok berani dan teganya orang Bali mencuri patung sakral di Pura-Pura.

“Ake maan tangkil ke Gerianne Ida Bhagawan di Lingga. Ugase nto sedek rame nyamane ditu, ade uli Gerokgak, uli Petemon, uli Penuktukan. Ida Bhagawan masi sedih ngayunang unduke ento” (aku dapat berkunjung ke rumahnya Ida Bhagawan di Lingga.

Waktu itu sedang ramai saudara-saudara kita disitu, ada yang dari Gerokgak, Petemon, dan Penuktukan. Ida Bhagawan juga sedih memikirkan masalah itu) sahut I Kerug.

Kene penikan Idane: “Yen kekene, merase sing mapikolih kenyel Pandita-ne medharma wacana kemo-mai, nto oka-okane sing mirengang tur ngeresepang sastra-sastra agama” (kata beliau: Kalau begini, rasanya percuma payahku me-dharma wacana kesana-kemari, itu anak-anak tidak mau mendengar dan meresapkan ajaran Veda).

“Sakewale Ida sing je lakar rered ngemargiang kedharmaan, ake pekelinge teken gendinge imaluan: …geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luu, ilang luu ebuk katah… (namun beliau tidak akan mundur menegakkan dharma, aku diingatkan pada lagu lama: …pekerjaan bagaikan menyapu, setiap hari ada sampah, hilang sampah masih ada banyak debu…).

“Kengken nto artinne?” (apa itu artinya?), Tanya Men Kacir. Artinya jangan berputus asa menegakkan kebenaran, teruslah bekerja bagaikan menyapu, tiada hentinya, selama dunia berputar.

“Beh, wayah omong caine keketo” (wah hebat omonganmu begitu) sahut I Gedegot. “Yeee, ake nak liu maan pepalajahan di Geria, yen inguh kenehe ojog kemo dogen suba pelalianne, nyanan ajake suba mekekedekan, maisi tutur dharma, sing asen ojog sube tengah lemeng (lho, aku banyak dapat pelajaran di Geria, kalau pikiran kalut, ke sana saja mainnya, nanti diajak ngobrol yang lucu tetapi berisi nasihat-nasihat kedharmaan, tak terasa sampai tengah malam).

“Oo icang masi pepes kemo, taen icang nikaine kene: “dedaarane sanget masih mekerane irage dharma, yen demen naar ane sepek-lalah, enggal irage gedeg, yen naar be celeng bes liu, irage males dadinne cara celeng, yen irage demen naar be siap, demen megerengan dadinne” (iya, aku juga sering ke Geria, pernah aku dinasihati: makanan juga sangat mempengaruhi kita akan menjadi dharma atau tidak, kalau suka makan yang pedas dan berbumbu banyak, cepat kita menjadi marah, kalau suka makan daging babi terlalu banyak, kita malas jadinya seperti babi, kalau kita suka makan daging ayam akibatnya suka berkelahi).

“Men yen bilang semengan ngamah lak-lak?”, (lalu kalau setiap pagi makan kue lak-lak?) … “betek basange” (kenyang perutnya), jawaban spontan I Kerug kepada I Gedegot, disahuti oleh I Kacir …”Kuale ingetang mayah!” (tetapi ingat bayar!).

“Beh to to to to sindirine ake ken I Kacir, ne bayah konten, yadiastu konden maan nambang” (beh, itulah, aku disindir oleh I Kacir, ini kubayar kontan, walaupun belum dapat muatan bemo) Jawab I Gedegot, disahuti gelak tawa pengunjung warung kecil itu.

Hari semakin terang, warung itu menjadi sepi karena pengunjungnya sibuk berjuang menghadapi kehidupan hari itu: sopir bemo, tukang ojek, dagang sayur, kuli tukang pikul, berbaur di pasar Banyuasri. Rakyat kecil yang tak punya keinginan muluk-muluk; hanya satu: bagaimana agar sekeluarga bisa makan hari itu. Urusan besok, cari besok!