Latest Entries »

SEJARAH BALI

Bali pada jaman dahulu kala dikenal sebagai Pulau Dewata. Sebelum kedatangan Majapahit, terdapat sebuah kerajaan yang muncul pertama kali di Bali yaitu sekitar 914 Masehi. Ini diketahui dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur. Prasasti itu berangka tahun 836 saka yang menyebutkan nama rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala.

Khesari Warmadewa adalah Ugrasena pada tahun 915 M – 942 Masehi. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu. Ugrasena lalu digantikan oleh Jayasingha Warmadewa (960 M – 975 M). Dalam masa pemerintahannya, raja Jayasingha membangun dua pemandian di Desa Manukaya, yang letaknya sekarang di dekat istana negara Tapak Siring.

Raja Jayasingha Warmadewa digantikan oleh Raja Jayasadhu Warmadewa (975 M – 983 M). Setelah wafat beliau digantikan oleh seorang Ratu yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi (983 M – 989 M). Sesudahnya digantikan oleh Dharmodayana (989 M – 1011 M) yang disebut juga Raja Udayana.

Raja Udayana menikah dengan Gunapriayadharmapatni alias Mahendradatta dari kerajaan Medang Kemulan Jawa Timur. Dari perkawinannya menghasilkan 3 orang anak yaitu : Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Kemudian Airlangga menikah dengan putri Raja Dharmawangsa (raja Jawa Timur).

Raja Marakata menggantikan Raja Udayana sebab Airlangga berada di Jawa Timur. Raja Udayana wafat dan abu jenazahnya dicandikan di Banu Wka. Marakata diberi gelar Dharmawangsa Wardana Marakatta Pangkajasthana Uttunggadewa yang memerintah di Bali dari 1011 – 1022. Beliau Kemudian digantikan oleh Anak Wungsu (1049 – 1077) yang memerintah selama 28 tahun. Selama pemerintahannya, keadaan negara aman tenteram. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan dan meninggal tahun 1077 dan didharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring Gianyar Bali.

Setelah Anak Wungsu meninggal, Kerajaan di Bali tetap mengadakan hubungan dengan raja-raja di Jawa. Dan ada dikisahkan seorang raja Bali yang saat itu bernama Raja Bedahulu atau yang kenal dengan nama Mayadenawa, yang memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Ki Kebo Iwa.

Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit kemudian datang ke Bali untuk menaklukan Bali di bawah kekuasaan Majapahit. Namun upaya ini tidak berjalan mulus karena Patih Gajah Mada tidak mampu mengalahkan Patih Kebo Iwa.

Gajah Mada kemudian mengajak Ki Kebo Iwa ke Jawa. Di sana Kebo Iwa diperdaya dan akhirnya Kebo Iwa dikubur hidup-hidup di dalam sumur dengan tanah dan batu. Namun dalam lontar Bali Ki Kebo Iwa tidak dapat dibunuh dengan cara yang mudah seperti itu. Tanah dan batu yang dilemparkan ke sumur balik dilemparkan ke atas. Pada akhirnya Patih Kebo Iwa menyerahkan diri sampai ia merelakan dirinya untuk dibunuh.

Setelah kematian Ki Kebo Iwa, barulah Bali dapat ditaklukan oleh Gajah Mada pada tahun 1343. Setelah Bali ditaklukan oleh kerajaan Majapahit, sebagian penduduk Bali Kuno melarikan diri ke daerah pegunungan yang kemudian disebut penduduk “Bali Aga”.

Saat ini keberadaan mereka dapat dijumpai di beberapa daerah di Bali seperti di desa Tenganan Karangasem, desa Pedawa di Buleleng, desa Trunyan di Bangli, dan beberapa desa Bali Aga yang lainnya. Mereka memiliki pakaian adat sendiri yang khas dimana bahan dan bentuknya sedikit berbeda dengan pakaian adat Bali pada umumnya.

Advertisements

Barong

Barong adalah karakter dalam mitologi Bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banas Pati Raja adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Raja dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tarian tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering diperlihatkan sebagai atraksi wisata. Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong.

Jatayu

Jatayu adalah tokoh protagonis dari wiracarita Ramayana, putera dari Sang Aruna dan keponakan dari Sang Garuda. Ia merupakan saudara Sempati. Ia adalah seekor burung yang melihat bagaimana Dewi Sita diculik oleh Rahwana. Ia berusaha melawan tetapi kalah bertarung dan akhirnya mati. Tetapi ketika belum mati dan masih sekarat masih bisa melaporkan kepada Sri Rama bahwa Dewi Sita istrinya diculik.

Airawata

Dalam mitologi Hindu, Airawata adalah nama seekor gajah putih, wahana Dewa Indra. Airawata merupakan putera dari Irawati, salah satu puteri Daksa. Dalam mitologi Hindu sering digambarkan bahwa Airawata ditunggangi oleh Indra yang membawa senjata Bajra, sambil membasmi makhluk jahat. Menurut mitologi Hindu, Airawata merupakan salah satu gajah penjaga alam semesta. Ia dianggap sebagai pemimpin para gajah.

Asura

Asura dalam ajaran agama Hindu adalah bangsa Daitya, kadangkala disamakan dengan rakshasa atau makhluk yang jahat. Mereka memiliki sifat negatif, yakni memusuhi para Dewa. Meskipun demikian, beberapa Asura merupakan Dewa.

Detya

Dalam bahasa Sanskerta, kata Detya secara harfiah berarti “keturunan Diti.” Dalam mitologi Hindu, Detya adalah sejenis makhluk jahat sebangsa raksasa, keturunan Diti dan Bhagawan Kasyapa. Para Detya sering bertikai dengan para Aditya, atau para dewa, meskipun mereka merupakan saudara seayah. Detya yang terkenal adalah Hiranyaksa, Hiranyakasipu, dan Mahabali. Kadangkala, mereka juga disebut Asura.

Kinnara

Kinnara adalah makhluk surgawi berwujud setengah manusia setengah burung. Mereka pandai memainkan alat-alat musik, seperti Vina atau Kecapi. Kinnara wanita disebut Kinnaris. Kinnara berwujud wanita cantik dari kepala sampai pinggang, namun bagian tubuh ke bawah berwujud angsa. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari.

Makara

Makara dalam mitologi Hindu, adalah makhluk yang berwujud ikan berkepala gajah, seperti yang sering dilukiskan dan dipahatkan dalam candi-candi di Indonesia, khususnya di Bali dan Jawa. Orang Bali menyebutnya gajahmina, yang secara harfiah berarti “ikan gajah”. Kadangkala Makara dilukiskan sebagai makhluk berwujud separuh kambing dan separuh ikan seperti simbol Kaprikornus dalam zodiak.

Karura

Karura adalah seekor makhluk besar yang memiliki nafas panas dan merupakan bagian dari mitologi Hindu-Buddha Jepang. Makhluk ini memiliki tubuh manusia dan kepala seekor elang. Makhluk ini dibawa ke Jepang dengan penyebaran agama Buddha. Nama Karura juga merupakan pelafazan bahasa Jepang dari kata Sansekerta garuda. Namun nampaknya bentuk Jepang ini diambil dari bahasa Pali garula.

Buto Ijo

Buto Ijo adalah mahluk seperti jin yang berwarna hijau dan bertubuh besar dengan taringnya yang tajam. Ia suka sekali menculik anak-anak balita untuk dijadikan tumbal dan mainan atau dijadikan budak belian yang mesti memijati sang Buto Ijo, atau kemudian dimakan setelah bosan dijadikan mainan anak-anaknya. konon untuk menangkal datangnya buto ijo menggunakan bambu kuning yang dibuat seperti kalung.

Antaboga

Antaboga adalah seekor ular raksasa dalam mitologi Bali. Ia diceritakan pada awal mitologi, pada penciptaan dunia. Pada suatu saat Antaboga bermeditasi dan kemudian menjadi seekor penyu bernama Bedawang. Dalam pewayangan Jawa, Antaboga adalah raja ular yang hidup di dasar bumi yang mengasuh Wisanggeni. Perwujudannya adalah naga dengan mahkota memakai badhong berambut dan memakai baju serta mengenakan kalung emas.

Basuki

Basuki adalah seekor ular raksasa di dalam mitologi Bali. Ular ini tinggal di dunia bawah tanah, dan merupakan hewan peliharaan dewa Batara Kala dan dewi Setesuyara. Batara Gura adalah seorang tokoh dalam mitologi Bali. Ia adalah seorang dewa yang menimbuni lautan dengan tanah untuk menciptakan pulau-pulau dan daratan. Dengan usahanya itu, ia justru membuat Naga Padoha marah. Ini adalah seekor ular raksasa yang lebih menyukai air. Akhirnya timbullah peperangan antara keduanya, yang dimenangkan oleh Batara Gura.

Batara Kala

Dalam ajaran agama Hindu, Kala adalah putera Dewa Siwa yang bergelar sebagai dewa penguasa waktu. Dewa Kala sering disimbolkan sebagai raksasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya.

Bedawang

Bedawang atau Bedawang Nala adalah seekor penyu raksasa dalam mitologi Bali yang membawa seluruh dunia di punggungnya. Dalam mitologi kreasi dunia, ia merupakan perubahan dari Antaboga. Ia bersama dua ular naga mendukung dunia manusia. Jikalau ia bergerak, maka akan terjadilah gempa dan letusan gunung berapi di atas bumi.

Kala Rau

Kala Rau adalah setan dalam mitologi Bali. Setan ini hanya terbentuk dari sebuah kepala tanpa badan. Pada suatu ketika ia hendak minum air dari Tirta Amertha, walau sesungguhnya air ini hanya diperuntukkan bagi para dewa-dewi. Dewi Ratih yang mengetahui hal itu memberitahukannya kepada dewa Wisnu, yang kemudian melemparkan cakranya dan memenggal kepala setan itu. Tetapi pada waktu itu juga kepala itu hingga di bagian leher telah menyentuh Tirta Amertha, sehingga dapat hidup abadi. Kepala itu kemudian hendak membalas dendam kepada dewi Ratih dan mengejarnya di kahyangan. Terkadang dewi Ratih tertangkap dan menurut mitos ini terjadilah gerhana bulan.

Setesuyara

Setesuyara adalah seorang dewi dalam mitologi Bali. Ia dikatakan tinggal dan menguasai dunia bawah tanah bersama dengan Batara Kala.

Dewi Sri

Dewi Sri atau Dewi Shri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam di pulau Jawa.

Taksaka

Dalam mitologi Hindu, Taksaka adalah salah satu naga, putera dari Dewi Kadru dan Kashyapa. Ia tinggal di Nagaloka bersama saudara-saudaranya yang lain, yaitu Basuki, Antaboga, dan lain-lain. Dalam Mahabharata, Naga Taksaka adalah naga yang membunuh Raja Parikesit. Naga Taksaka juga muncul dalam mitologi Bali, selayaknya pengaruh mitologi Hindu dari India. dalam mitologi Bali, Taksaka adalah ular yang tinggal di khayangan.

  • Agni (Dewa api)

Dalam ajaran agama Hindu, Agni adalah dewa yang bergelar sebagai pemimpin upacara, dewa api, dan duta para Dewa. Kata Agni itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta (अग्नि) yang berarti ‘api’. Konon Dewa Agni adalah putra Dewa Dyaus dan Pertiwi.

  • Aswin kembar (Dewa pengobatan, putera Dewa Surya)

Dalam ajaran agama Hindu, Aswin (Sanskerta: अश्विन, Latinaśvin, dibaca: As-win) adalah Dewa kembar yang bergelar sebagai ‘dokter para Dewa‘. Mereka merupakan putera Dewa Surya danDewi Saranya.

Mereka dewa yang sering disebut sebagai dewanya pengobatan dalam Ayurweda. Mereka adalah dua bersaudara yang ramah, suka menolong. Mereka dilukiskan sebagai penunggang kuda yang membawa kemakmuran pada manusia serta menyembuhkan segala penyakit dan kemalangan.

Mereka disamakan dengan si kembar Castor dan Pollux dalam Mitologi Yunani.

Mereka juga Dewa yang disebut-sebut dalam Rg-Weda, dengan 57 syair di dalamnya yang memuji-muji mereka. Mereka juga disebut Nāsatya (na+asatya, artinya “bukan kebohongan” atau sama dengan “kebenaran”).

  • Brahma (Dewa pencipta, Dewa pengetahuan, dan kebijaksanaan)

Menurut ajaran agama Hindu, Brahma (Dewanagari: ब्रह्मा; IAST: Brahmā) adalah Dewa pencipta. Dalam filsafat Adwaita, ia dipandang sebagai salah satu manifestasi dari Brahman (sebutan Tuhan dalam konsep Hinduisme) yang bergelar sebagai Dewa pencipta. Dewa Brahma sering disebut-sebut dalam kitab Upanishad dan Bhagawadgita

  • Candhra (Dewa bulan)

Dalam agama Hindu, Candra adalah dewa bulan, sekaligus seorang Graha. Candra juga disamakan dengan Soma, dewa bulan dalam Weda-Weda. Kata Soma merujuk kepada minuman manis dari tanaman, sehingga Candra menjadi penguasa tanaman dan tumbuhan. Candra digambarkan sebagai dewa yang berparas muda dan tampan, berlengan dua dan memegang gada dan teratai. Konon setiap malam ia mengendarai keretanya untuk melintasi langit. Keretanya ditarik oleh sepuluh kuda putih, atau kadangkala ditarik antilop. Meski antilop adalah hewan yang biasa dilukiskan bersamanya dalam simbol-simbol, kelinci juga dikeramatkan olehnya dan seluruh kelinci berada dalam perlindungannya. Candra dikaitkan dengan embun, dan ia juga salah satu dewa kesuburan. Candra sebagai Soma, mengetuai Somawara atau hari Senin.

Candra merupakan ayah Budha. Ia merupakan suami bagi Rohini, Anurada dan Bharani, yang merupakan 27 Naksatra (rasi bintang), puteri-puteriDaksa.

  • Durgha (Dewi pelebur, istri Dewa Siva)

Menurut kepercayaan umat Hindu, Durga (Dewanagari: दुर्गा) adalah istri Siwa. Dalam agama Hindu, Dewi Durga (atau Betari Durga) adalah ibu dari Dewa Ganesa dan Dewa Kumara (Kartikeya). Ia kadangkala disebut Uma atau Parwati. Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu.

Di Nusantara, Dewi ini cukup dikenal pula. Candi Prambanan di Jawa Tengah, misalkan juga dipersembahkan kepada Dewi ini.

  • Ganesha (Dewa pengetahuan, Dewa kebijaksanaan, putera Dewa Siva)

Ganesa (Sanskerta गणेश ; ganeṣa  dengarkan (bantuan·info)) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan.Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk NepalTibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama GanapatiWinayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa memedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat JainaBuddha, dan di luar India.[1]

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai “Pengusir segala rintangan” dan lebih umum dikenal sebagai “Dewa saat memulai pekerjaan” dan “Dewa segala rintangan” (Wignesa,Wigneswara), “Pelindung seni dan ilmu pengetahuan”, dan “Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan”. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.

Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda.[3] Ketenarannya naik dengan cepat, dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya, (Sanskerta:गाणपत्य;gāṇapatya), yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama, muncul selama periode itu.[4] Kitab utama yang didedikasikan untuk Ganesa adalah GanesapuranaMudgalapurana, dan Ganapati Atharwashirsa.

  • Indra (Dewa hujan, Dewa perang, raja surga)

Dalam ajaran agama Hindu, Indra (Sanskerta: इन्द्र atau इंद्र, Indra) adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Beliau adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.

Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa(wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.

Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.

Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.

  • Kuwera / Kubera (Dewa kekayaan)

Dalam agama Hindu, Kuwera (Dewanagari: कुबेर; IASTKuvera) adalah dewa pemimpin golongan bangsa Yaksa atau Raksasa. Meskipun demikian, ia lebih istimewa dan yang utama di antara kaumnya. Ia bergelar “bendahara para Dewa”, sehingga ia disebut juga Dewa Kekayaan. Kuwera merupakan putera dari seorang resi sakti bernama Wisrawa. Ia satu ayah dengan Rahwana, namun lain ibu. Ia menjadi raja di Alengka, menggantikan Malyawan, namun di kemudian hari kekuasaannya direbut oleh Rahwana. Karena merasa tidak sanggup mengalahkan Rahwana, Kuwera pun dengan berat hati menyerahkan tahta.

  • Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan, istri Dewa Visnu)

Dalam agama Hindu, Laksmi (Dewanagari: लक्ष्मी; IASTLakshmī) adalah dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan.

Dalam kitab-kitab Purana, Dewi Laksmi adalah Ibu dari alam semesta, sakti dari Dewa Wisnu. Dewi Laksmi memiliki ikatan yang sangat erat dengan Dewa Wisnu. Dalam beberapa inkarnasi Wisnu (Awatara) Dewi Laksmi ikut serta menjelma sebagai Sita (ketika Wisnu menjelma sebagai Rama), Rukmini (ketika Wisnu menjelma sebagai Kresna), dan Alamelu (ketika Wisnu menjelma sebagai Wenkateswara).

Merak dalam penggambaran Dewi laksmi, yang mana adalah simbol dari kebenaran mutlak penciptaan hitam dan putih. sebab merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya sebagai lambang keindahan yang abadi dan lambang pernikahan.

Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia juga disebut “Widya”, yang berarti pengetahuan, karena Beliau juga Dewi pengetahuan keagamaan. Ia juga dihubungkan dengan setiap kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan, anak-anak, kekayaan, dan kesehatan yang menjadikannya Dewi yang sangat terkenal di kalangan umat Hindu.

  • Saraswati (Dewi pengetahuan, istri Dewa Brahmā)

Saraswati (Dewanagari: सरस्वती; IASTSarasvatī) adalah salah satu dari tiga dewi utama dalam agama Hindu, dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti (istri) dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar kata sr yang berarti mengalir. Dalam Regweda V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai, disamping GanggaYamunaSusoma dan yang lainnya.

  • Shiwa (Dewa pelebur)

Siwa (Dewanagari: शिव; IASTŚiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahmadan Wisnu. Dalam ajaran agama HinduDewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.

  • Sri (Dewi pangan)

Dewi Sri atau Dewi Shri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam di pulau Jawa

  • Surya (Dewa matahari)

Surya (Sanskerta: सूर्य; Surya) adalah nama dewa matahari menurut kepercayaan umat Hindu. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya atau matahari, dan diberi gelar “Batara”. Menurut kepercayaan Hindu, Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh 7 kuda. Ia memeiliki kusir bernama Aruna, saudara Garuda, putra Dewi Winata.

  • Waruna (Dewa air, Dewa laut dan samudra)

Dalam ajaran agama Hindu, Baruna atau Waruna (Devanagari: वरुण; LatinVaruna) adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai dewa air, penguasa lautan dan samudra. Kata Baruna (Varuna) berasal dari kata var (bahasa Sanskerta) yang berarti membentang, atau menutup. Kata “var” tersebut kemudian dihubungkan dengan laut, sebab lautan membentang luas dan menutupi sebagian besar wilayah bumi.

Menurut kepercayaan umat Hindu, Baruna menguasai hukum alam yang disebut Reta. Ia mengandarai makhluk yang disebut makara, setengah buaya setengah kambing (kadangkala makara disamakan dengan buaya, atau dapat pula digambarkan sebagai makhluk separuh kambing separuh ikan). Istri Beliau bernama Baruni, yang tinggal di istana mutiara. Oleh orang bijaksana, Dewa Baruna juga disebut sebagai Dewa langit, Dewa Hujan, dan dewa yang menguasai hukum.


• Wayu / Bayu (Dewa angin)

Bayu (Sanskerta: वायुदाब वायु ; Vāyu, baca: Bayu, disebut juga Waata (वात: Vāta) atau Pawana (पवन : Pavana) atau Prāna) dalam agama Hinduadalah Dewa utama, bergelar sebagai Dewa angin. Udara (Vāyu) atau angin (Pāvana) merupakan salah satu unsur dalam Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar dalam ajaran agama Hindu.

Dewa dalam agama Hindu ini diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa penguasa angin yang bertempat tinggal di Khayangan Panglawung. Batara bayu ditugaskan untuk mengatur dan menguasai angin. Pada zaman Treta Yuga, Batara Bayu menjadi guru Hanoman agar kera tersebut menjadi sakti. Pada zaman Dwapara Yuga, Batara Bayu menurunkan Werkudara (Bima). Ciri dari murid ataupun keturunan dewa ini adalah mempunyai “Kuku Pancanaka“.

  • Wisnu (Dewa pemelihara, Dewa air)

Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Dewanagari: विष्णु ; Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagaishtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat denganBrahman.

  • Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati)

Batara Yama adalah nama dewa penjaga neraka dalam agama Hindu dan Buddha. Namanya sudah disebut dalam kitab Weda.

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Yama merupakan manifestasi dari Brahman yang bergelar sebagai Dewa akhirat, Hakim Agung yang mengadili roh orang mati, untuk mempertimbangkan apakah suatu roh layak mendapat surga atau sebaliknya, mendapat neraka.

Dewa Yama dilukiskan sebagai seorang tua yang berkuasa di singasana neraka, memiliki dua wajah yang tidak terlihat sekaligus. Wajah yang sangar dan menyeramkan terlihat oleh roh orang-orang yang hidupnya penuh dengan perbuatan salah, sedangkan wajah yang lembut dan berwibawa terlihat oleh roh-roh yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik.

 

“Haywa mamukti sang sujana kasta picita tilaren. Kasmalaning carira ripu wahya ri dalem aparek, Lwirnika kasta mangsa musika cregala wiyung ula Krimi kawat makadinika papara hilangaken”.(Niti Sastra sloka 12)

Artinya:

Orang baik-baik tidak boleh makan daging yang tidak suci. Ia harus menjauhi segala yang mengotorkan badan dan segala yang mendekatkan seteru lahir batin kepadanya. Adapun yang termasuk daging yang tidak baik yaitu: Daging Tikus, Anjing, Katak, Ular, Ulat dan Cacing. Semua itu makanan terlarang, sebab itu elakkan.

Peraturan tentang makanan bagi pemeluk Hindu, selain ada dalam Niti Sastra, juga ada di Manawa Dharmasastra Buku kelima (Atha Pancamo Dhyayah). Pada garis besarnya pemeluk Hindu tidak dibolehkan makan makanan yang terlarang, karena akan berakibat tidak suci dan berumur pendek.

1. Asu bang bungkem adalah anjing dengan bulu tubuh berwarna krem dan moncongnya berwarna hitam. Digunakan dalam upacara pecaruan bagi pemeluk Hindu di Bali. Segala jenis caru bertujuan antara lain untuk “nyomia bhuta” yaitu menghilangkan hal-hal negatif terutama yang bertentangan dengan tri hita karana, menuju ke hal-hal positif. Sesajen untuk bhuta seharusnya tidak dimakan karena manusia adalah mahluk yang berderajat paling tinggi dalam pandangan ke-Tuhanan Hindu. Disamping itu, daging anjing adalah jenis yang dilarang dimakan sesuai Manawa Dharmasastra tersebut diatas karena anjing makanannya kotor.

2. Kucing adalah binatang yang makanannya kotor, misalnya ketika melahirkan ia menjilat dan memakan plasenta. Daging kera juga tidak boleh dimakan karena Kera adalah binatang yang berjari lima. Memakan binatang kodok/katak dan tikus dilarang dalam Parasara Dharmasastra XI.12.

3. Maka jika anda ingin menjaga kesucian dan berumur panjang, hati-hatilah memakan sesuatu karena jenis makanan sangat menentukan perilaku, pikiran, kesehatan lahir-bathin. Kutipan dari Atharva Veda XV.14.24 :

“Brahmana annadena annam atti”

Artinya : Dia pilih makanannya dengan hati-hati dan kemudian dia memakannya.

Bila terlanjur memakan sesuatu yang dilarang, pemeluk Hindu harus melakukan puasa yang disebut Kricchara selama sehari semalam setiap bulan purnama.

Dalam kepercayaan Hindu, Yama adalah dewa kematian.

Tidak hanya di kalangan tradisi Hindu, Yama juga mempengaruhi mitologi dari kebudayaan lain.

Misalnya, dalam mitologi Jepang, Yama sering disebut sebagai Enma Dai-O, sedangkan dalam mitos China dia disebut sebagai Yan.

Yama biasanya digambarkan sebagai seorang pria berkulit biru, mengendarai kerbau hitam raksasa, dan memegang gada serta jerat.

Yama juga dikatakan muncul dalam wujud berbeda saat menghampiri orang baik dan orang jahat menjelang kematiannya.

Untuk orang jahat, Yama akan terlihat memiliki kaki yang sangat besar, dengan bibir tipis membara, mata sedalam ruang hampa, dan rambut yang terbakar api.

Untuk orang baik, dia dikatakan tampil sebagai sosok yang indah, mirip dalam bentuk Wisnu, dengan empat lengan dan mata menyenangkan.

Yama memiliki dua anjing, masing-masing dengan empat mata. Anjing ini merupakan pemandu saat sedang berada di dunia bawah serta merupakan keturunan anjing perkasa yang menjaga kawanan ternak dewa Indra.

Yama dan saudari kembarnya Yami adalah anak-anak fana dari dewa matahari Surya.

Yama dikatakan menjadi manusia pertama yang mati dan menemukan jalan ke dunia bawah.

Karena menjadi orang pertama yang tiba di sana, Yama diberi kekuasaan atas dunia bawah dan berkuasa atas kematian.

Dalam perannya sebagai dewa kematian, dia terkait dengan aspek perusak Siwa.

Dunia bawah dalam kepercayaan Hindu disebut Naraka. Seperti di banyak konsep agama besar, Naraka bukan hanya tempat orang yang sudah mati, melainkan juga sebagai tempat penyiksaan.

Yama akan mengatur hukuman yang sesuai untuk orang yang sudah mati, tergantung pada dosa-dosa yang sudah mereka lakukan.

Siksaan Naraka amat banyak dan mengerikan, termasuk dibakar di lautan minyak mendidih dan dicambuk tanpa henti dengan cambuk berduri.

Setelah seseorang yang berdosa dihukum di Naraka, jiwa yang sudah dibersihkan bisa dikirim kembali ke dunia untuk kelahiran kembali atau dikirim untuk memasuki surga.

Yama memiliki asisten bernama Chitragupta yang bertugas mencatat kebaikan dan keburukan manusia.

Saat seseorang meninggal, Chitragupta akan mengatakan kepada Yama apakah orang tersebut harus dihukum atau masuk surga.

Meskipun menjadi dewa kematian dan penghukum di Naraka, Yama tetap dipandang sebagai sosok yang baik dan diperlukan.

Yama adalah wasit utama keadilan, memastikan orang jahat dihukum karena perbuatan mereka dan orang baik mendapatkan imbalan yang sesuai.

Setelah permulaan zaman kaliyuga dan wafatnya krisnha, Yudistira dan keempat adiknya mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat keterikatan untuk melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi bharatawarsha lalu menuju puncak himalaya. Di kaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjadi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki puncak, satu per satu mulai dari dropadiSadewaNakulaArjuna, dan Bima meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan anjingnya yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.

Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput Yudistira untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira menolak masuk swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan Dropadi tanpa mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya.

Kesetiaan Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa Dharma, Ayahnya. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta Indra. Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada justru Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil menguasai diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada bergembira di sorga namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa sekali lagi Yudistira lulus ujian, karena waktunya yang sebentar di Neraka adalah sebagai penebus dosa ketidakjujuran Yudistira terhadap Drona soal kematian Aswatama. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Surga, sementara para korawa akan menjalani siksaan yang kekal di neraka.

 

Panca sradha berasal dari kata panca dan sradha. Panca berarti lima dan sradha berarti keyakinan. Jadi panca sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu. Yaitu :

1. Percaya terhadap adanya Brahman
2. Percaya terhadap adanya atman
3. Percaya terhadap adanya karmaphala
4. Percaya terhadap adanya punarbhawa
5. Percaya terhadap adanya moksa

Petikan Yajur Weda :

“Çraddhaya satyam apnoti, çradham satye prajapatih”

artinya : dengan sradha orang akan mencapai Tuhan, Beliau menetapkan, dengan sradha menuju satya. (Yajur Veda XIX.30)

Penjelasan bagian – bagian Panca Sradha

1. Percaya dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa

Tuhan adalah sumber dari segala yang ada dan akhir dari segala yang tercipta.

“Ekam eva advityam Brahman”

yang berarti Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

“Eko narayana na dwityo’sti kascit”

yang berarti hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

Dengan melihat kedua sloka diatas dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu esa/satu tidak ada duanya.

Kita mengenal adanya Tri Purusa yaitu :

Paramasiwa : Tuhan yang tidak bisa dipikirkan, tak terbayangkan, murni, nirguna Brahman.

Sadasiwa : Tuhan yang saguna Brahman disinilah Tuhan memiliki sifat seperti Cadhu sakti, asta aiswarya.

Siwatman : Tuhan yang ada didalam makluk hidup.

sifat Tuhan :

Cadhu sakti 

Wibhu sakti artinya Tuhan bersifat maha ada

Prabhu sakti artinya Tuhan bersifat maha kuasa

Jnana sakti artinya Tuhan bersifat maha tahu

Kriya sakti artinya Tuhan bersifat maha karya

Astaiswarya 

Anima berarti kecil sekecil-kecilnya, lebih kecil dari atom

Laghima berarti ringan seringan ringannya, lebih ringan dari kapas

Mahima berarti maha besar besar sebesar besarnya, memenuhi ruangan

Prapti berarti serba sukses, dapat mencapai segala sesuatu yang dikehendaki

Prakamya berarti segala keinginan dapat tercapai

Isittwa berarti maharaja atau raja diraja

Wasitwa berarti maha kuasa dan mengatasi segala-galanya

Yatrakamawasayitwa berarti segala kehendaknya tak ada dapat menentang

2. Percaya dengan Atman

Atman adalah sinar suci / bagian terkecil dari Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Atman berasal dari kata AN yang berarti bernafas. Setiap yang bernafas mempunyai atman, sehingga mereka dapat hidup. Atman adalah hidupnya semua makluk ( manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya ). Kitab suci Bhagawad gita menyebutkan sebagai berikut :

aham atma gudakesa, sarwabhutasaya-sthitah, aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca”

artinya :

O, Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati semua makluk, aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir daripada semua makluk.( Bhagawadgita X.20 )

Sifat – sifat atman meliputi :

a) acchedya berarti tak terlukai senjata

b) adahya berarti tak terbakar oleh api

c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin

d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air

e) nitya berarti abadi

f) sarwagatah berarti ada di mana-mana

g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah

h) acala berarti tidak bergerak

i) awyakta berarti tidak dilahirkan

j) achintya berarti tak terpikirkan

k) awikara berarti tidak berubah

l) sanatana berarti selalu sama

3. Percaya dengan Karmaphala

Secara etimologi karmaphala berasal dari kata karma yang berarti perbuatan dan phala yang berarti hasil. Jadi karmaphala berarti hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Hindu mengenal adanya hukum karmaphala yaitu hukum sebab akibat, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapakan hasilnya.

Berdasarkan waktu diterimanya phala dari suatu karma dibedakan menjadi tiga yaitu :

a.Sancita Karma Phala adalah perbuatan dimasa lampau/kehidupan dimasa lalu pada kehidupan sekarang kita terima hasilnya.

b.Prarabda Karma Phala adalah perbuatan sekarang, sekarang juga kita terima hasilnya

c.Kryamana Karma Phala adalah perbuatan pada kehidupan sekarang belum habis diterima hasilnya maka akan kita terima dapa kehidupan yang akan datang.

4. Percaya dengan Punarbhawa

Punarbhawa berasal dari kata punar yang berarti kembali dan bhawa yang berarti menjelma / lahir. Jadi punarbhawa adalah kelahiran kembali. Punarbhawa juga sering disebut dengan Reinkarnasi.

“bahuni me vyatitani janmani tava carjuna, tany aham veda sarvani na tvam vettha parantapa”.

artinya Banyak kelahiran-Ku dimasa lalu, demikian pula kelahiranmu, Arjuna semuanya ini Aku mengetahuinya, tetapi engkau sendiri tidak, wahai Arjuna.( Bhagawadgita IV.5 )

5. Percaya dengan Moksa

Moksa berasal dari kata “muc” yang berarti bebas. Bebas dari segala ikatan karma, ikatan duniawi ( suka dan duka ) ikatan hidup, ikatan cinta kasih dll.

Tingkatan moksa :

1.SAMIPYA adalah Moksa dapat dicapai oleh para maha Rsi/yogi dengan kematangan tapa membuka intuisinya sehingga dapat menerima wahyu dan memahami hakekat hidup sejati.

2.SARUPYA/ SADARMYA adalah Moksa yang dicapai oleh kesadaran sejati ketika atman dapat mengatasi segalanya . Hal ini dapat dicapai oleh Awatara. Beliau bisa mengatasi segalanya dan dapat menentukan sendiri kapan akan meninggalkian dunia ini.

3.SALOKYA adalah Moksa yang dicapai oleh atman yang telah mampu mencapai tingkat Tuhan. Misalnya leluhur yang telah diaben.

4.SAYUJYA adalah Moksa dengan tingkat kebebasan yang paling tinggi dimana atman telah bersatu dengan Brahman.

“Brahman Atman Aikyam”

Brahman dan Atman tunggal.

Piala Dunia berikutnya di Rusia baru akan bergulir pada 2018 mendatang. Artinya para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia masih harus menunggu selama satu tahun lagi untuk menikmati suguhan pertandingan berkualitas di turnamen antarnegara itu. Kendati demikian, gaung perhelatan Piala Dunia 2018 sudah terasa sejak satu tahun sebelum kejuaran tersebut diselenggarakan. Sebab pada pertengahan Juni 2017 ini akan digelar turnamen antarnegara bertajuk Piala Konfederasi.

Sama halnya dengan Piala Dunia 2018, Piala Konfederasi 2017 juga akan diselenggarakan di Rusia, dengan kota-kota penyelenggara yang juga akan digunakan di Piala Dunia 2018 nanti. Hal tersebut dikarenakan Piala Konfederasi merupakan ajang untuk melihat sejauh mana kesiapan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018. Atau bisa dibilang juga sebagai ajang pemanasan sebelum bergulirnya Piala Dunia.

Meski saling berkorelasi, namun Piala Konfederasi dan Piala Dunia memiliki perbedaan baik dari segi konsep kejuaraan. Piala Dunia merupakan ajang yang bisa diikuti oleh semua negara anggota FIFA, dengan catatan mampu lolos dari babak kualifikasi sebelum tampil di putaran final.

Sementara Piala Konfederasi, sesuai dengan namanya peserta dari ajang tersebut dikhususkan bagi para juara dari seluruh konfederasi FIFA yang antara lain adala UEFA (Eropa), CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Kepulauan Karibia), CAF (Afrika), AFC (Asia), dan OFC (Oseania), plus tim tuan rumah, serta juara Piala Dunia sebelumnya.

Menarik melihat konsep turnamen Piala Konfederasi yang mepertemukan para juara dari berbagai belahan dunia dalam satu ajang. Merunut sejarahnya, Piala Konfederasi mulai bergulir pada tahun 1992 silam. Meski begitu, inspirasi dari terselenggaranya Piala Konfederasi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980, saat Kejuaraan Mundialito di Uruguay digelar.

Hal yang membuat Mundialito dianggap sebagai inspirasi dari terselenggaranya Piala Konfederasi, karena kejuaran tersebut memiliki konsep mempertemukan para juara dalam satu turnamen. Bedanya, turnamen yang disebut sebagai “Piala Dunia mini” itu mewadahi tim-tim yang pernah menjadi juara Piala Dunia pada lima edisi sebelumnya. Sementara Piala Konfederasi memiliki konsep untuk mempertemukan para juara dari seluruh konfederasi FIFA.

Piala Raja Fahd yang Menjadi Embrio Terselenggaranya Piala Konfederasi

Embrio dari terselenggaranya Piala Konfederasi baru muncul pada tahun 1992. Tepatnya di Arab Saudi melalui turnamen bertajuk Piala Raja Fahd (King Fahd Cup). Meski begitu kejuaraan tersebut hanya mengundang para juara dari konfederasi AFC, CONMEBOL, CONCACAF, dan CAF. Saat itu Argentina keluar sebagai juara usai menundukkan tuan rumah Arab Saudi 3-1.

Pada penyelenggaraan kedua, yaitu pada tahun 1995, Piala Raja Fahd mulai mengundang wakil dari konfederasi UEFA untuk ikut ambil bagian. Saat itu UEFA diwakili oleh Denmark sebagai juara Piala Eropa tahun 1992. Berstatus sebagai debutan tak membuat Denmark ciut nyali, buktinya mereka sukses menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 2-0 di partai final.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, tepatnya pada tahun 1997, perubahan mulai dilakukan, setelah FIFA mengambil alih pengelolaan kejuaraan tersebut. Tajuk Piala Raja Fahd kemudian diganti menjadi Piala Konfederasi, peserta pun bertambah dari Konfederasi OFC yang diwakili oleh Australia.

Meski begitu penyelenggaraan tetap berlangsung di Arab Saudi dengan tempat utama di Stadion Raja Fahd. Saat itu Brasil keluar sebagi juara setelah menundukkan Australia enam gol tanpa balas di partai final.

Pada tahun 1999, Piala Konfederasi kemudian beralih dari Arab Saudi ke Meksiko. Pada penyelenggaraan tersebut untuk menyemarakkan turnamen, FIFA menambah kuota peserta hingga genap menjadi delapan kesebelasan. Kuota tersebut diberikan kepada juara Piala Dunia tahun sebelumnya, saat itu Prancis berhak ikut ambil bagian karena mereka adalah juara Piala Dunia 1998.

Sayang, Prancis menolak untuk ikut serta, dengan alasan kondisi fisik pemain yang tak memungkinkan bertarung di ajang tersebut. Posisi Prancis kemudian digantikan Brasil sebagai runner-up Piala Dunia 1998. Namun karena pada saat itu Brasil juga berstatus sebagai juara Copa America, maka Bolivia yang merupakan runner-up Copa America kemudian ditunjuk sebagai wakil CONMEBOL. Dalam gelaran tersebut, gelar juara menjadi milik Meksiko yang sukses menumbangkan Brasil dengan skor 4-3 di partai puncak.

Korelasi yang Baru Tercipta Pada Tahun 2001

Korelasi antara Piala Konfederasi dengan Piala Dunia baru tercipta pada tahun 2001. Saat itu FIFA menjadikan Piala Konfederasi sebagai ajang untuk melihat kesiapan tuan rumah Piala Dunia, yang akan digelar setahun kemudian.

Otomatis penyelenggaraan dilangsungkan di Korea Selatan dan Jepang sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002. Saat itu Prancis yang mewakili Konfedarsi UEFA menjadi juara usai mengalahkan Jepang dengan skor 1-0 di laga pamungkas.

Meski sejak tahun 2001 FIFA telah menjadikan Piala Konfederasi sebagai ajang untuk melihat kesiapan tuan rumah Piala Dunia, tetap saja penunjukkan tuan rumah Piala Konfederasi belum sepenuhnya dilakukan secara otomatis mengikuti penunjukkan tuan rumah Piala Dunia. Hal tersebut dikarenakan Piala Konfederasi masih diselenggarakan dua tahun sekali.

Pada tahun 2003 misalnya, FIFA menunjuk Prancis sebagai tuan rumah, padahal Piala Dunia selanjutnya (2006) akan digelar di Jerman. Pada saat itu Jerman memilih menolak berpartisipasi karena menganggap penyelenggaraan yang dianggap terlalu mepet dengan waktu pemulihan kondisi fisik pemain.

Apalagi setahun sebelumnya mereka baru tampil di Piala Dunia 2002, dan setahun kemudian bermain lagi di Piala Eropa. Mundurnya Jerman dari Piala Konfederasi 2003 menjadi yang kedua setelah sebelumnya mereka juga memilih mundur dari kejuaraan yang sama karena asalan yang juga sama, pada tahun 1997. Saat itu posisi Jerman yang berstatus sebagai juara Piala Eropa 1996 pun digantikan oleh Republik Ceko yang dikalahkan Jerman di final Piala Eropa 1996.

Akibat protes tersebut, FIFA kemudian mengatur kembali waktu penyelenggaraan Piala Konfederasi. Setelah penyelenggaraan tahun 2005 di Jerman, Piala Konfederasi kemudian rutin diselenggarakan selama empat tahun sekali.

Kepergian Foe yang Membuat Final 2003 Menjadi Paling Dramatis

Selain mundurnya Jerman, perhelatan Piala Konfederasi 2003 menjadi penyelenggaraan paling getir. Sebab pada saat itu, Kamerun harus kehilangan salah satu penggawanya, Marc-Vivien Foe, yang meninggal karena serangan jantung. Foe sebelumnya kolaps di lapangan saat partai semi-final melawan Kolombia.

Mantan pemain Olympique Lyon itu sebenarnya sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut, sayang ia akhirnya mengumbuskan nafas terakhirnya juga. Hal tersebut kemudian membuat para pemain Kamerun sangat terpukul meski mereka berhasil menembus partai final.

Duka mendalam nyatanya dirasakan pula oleh para penggawa Prancis yang menjadi lawan mereka di partai puncak. Laga pamungkas itu pun berlangsung dengan keharuan yang menelimuti kedua kesebelasan. Prancis, akhirnya keluar sebagai juara setelah memenangkan pertandingan dengan skor 1-0.

Saat seremoni juara, para pemain Prancis turut mengajak para pemain Kamerun untuk berdiri bersama di atas podium. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas mereka kepada para pemain Kamerun yang baru saja kehilangan rekan satu timnya.

Kutukan yang Menghantui Para Juara

Pada tahun 2017 ini, Piala Konfederasi telah memasuki penyelenggaraan ke-10. Delapan tim ikut ambil bagian yang di antaranya adalah Rusia sebagai tuan rumah, Jerman selaku juara Piala Dunia 2014, Portugal Juara Piala Eropa 2016, Chile Juara Copa America 2015, Meksiko Juara Piala CONCACAF 2015, Selandia Baru Juara Piala Oseania 2016, Kamerun Juara Piala Afrika 2017, dan Australia juara Piala Asia 2015.

Dari delapan kontestan itu, tercatat tiga timnas yakni Portugal, Chile, dan Rusia merupakan debutan di Piala Konfederasi. Meski begitu, peluang ketiganya menjadi juara sangat terbuka, karena di ajang tersebut tidak ada mitos yang memberatkan para debutan untuk bisa mengangkat trofi Piala Konfederasi.

Hanya saja, mitos yang lebih berat akan membayangi mereka, andai bisa juara di Piala Konfederasi, dan lolos ke putaran final Piala Dunia. Sebab, ada fakta mengerikan yang menghantui pemegang gelar juara Piala Konfederasi dalam perjalanannya di Piala Dunia. Sejak tahun 1997, atau sejak Piala Raja Fahd berganti nama menjadi “Piala Konfederasi”, kesebelasan yang menjuarai turnamen tersebut selalu gagal di Piala Dunia berikutnya.

Brasil dan Prancis adalah dua tim yang benar-benar merasakan kutukan tersebut. Sebagai pemegang gelar terbanyak di Piala Konfederasi dengan empat gelar (1997, 2005, 2009, dan 2013) Brasil juga pernah empat kali gagal merengkuh trofi Piala Dunia tahun 1998, 2006, 2010, dan 2014. Sementara Prancis, setelah menjuarai Piala Konfederasi tahun 2001, mereka gagal total di Piala Dunia 2002.

Catatan menarik lainnya menghiasi Australia. Socceroos sebenarnya sudah tiga kali mengikuti Piala Konfederasi, tapi Piala Konfederasi 2017 ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk mewakili Asia (AFC) karena sebelumnya mereka mewakili Oseania.

Dengan Australia yang mewakili Asia ini, padahal secara geografis Australia adalah negara di Benua Australia, bukan Benua Asia, maka untuk pertama kalinya juga Piala Konfederasi tidak memiliki wakil yang “benar-benar dari Asia”.

Duel Liverpool vs MU di musim 1992/1993 (Foto: Getty Images)
Pada 15 Agustus 1992, untuk kali pertama digelar pertandingan Premier League. Kini, 25 tahun kemudian, Premier League menjelma menjadi kompetisi domestik terbesar di Eropa.

Premier League muncul dan berdiri setelah klub yang berlaga di First Division (level teratas Liga Inggris ketika itu) memutuskan untuk melepaskan diri dari struktur kompetisi yang ada. Ekonomi (uang hak siar) menjadi salah satu alasan utama klub-klub di First Division membuat liga baru.

Liga yang baru tersebut memiliki kemandirian dalam melakukan kesepakatan komersial, terlepas dari FA dan otoritas liga. Termasuk menegosiasikan sendiri hak siar dan kesepakatan sponsorship lainnya.

Di musim pertama Premier League pada 1992/1993, ada 22 klub yang berpartisipasi. Manchester United secara mengejutkan keluar sebagai juara ketika itu. Keberhasilan yang nantinya akan menandai dominasi mereka di kompetisi tersebut.

Premier League, 25 Tahun Kemudian

Format 22 klub bertahan selama tiga musim. Mulai musim 1995/1996 jumlah kontestan dikurangi menjadi hanya 20. Hal tersebut bertahan sampai musim 2017/2018 yang akan segera dimulai.

Karena perubahan jumlah tim tersebut, sempat terjadi anomali pada musim 1994/1995. Jika biasanya cuma tiga tim yang terdegradasi di akhir musim, ketika itu ada empat klub yang terdegradasi namun cuma dua yang promosi.

Total sudah ada 47 klub yang merasakan berpartisipasi di Premier League. Angkanya bertambah menjadi 49 di musim 2017/2018 dengan kedatangan Brighton & Hove Albion dan Huddersfield Town. Cuma ada enam klub yang bisa terus bertahan tanpa terdegradasi, mereka adalah Arsenal, Chelsea, Everton, Liverpool, MU, dan Tottenham Hotspur.

Premier League, 25 Tahun Kemudian

Terkait penamaan kompetisi, kecuali di musim pembuka, Premier League selalu punya titel sponsor. Dari 1993 sampai 2001 menggunakan titel FA Carling Premiership, lalu berganti menjadi Barclaycard dari 2001 hingga 2004. Nama FA Barclays Premiership lantas digunakan pada periode selanjutnya sampai 2007/2008. Musim 2015/2016 menjadi akhir penamaan kompetisi menggunakan titel sponsor karena setelah itu nama yang dipakai hanya Premier League.

MU menjadi penguasan Premier League sejauh ini dengan 13 titel diraih. Di belakangnya ada Chelsea (5), Arsenal (3), Manchester City (2) dan Blackburn Rovers serta Leicester City (1).

Dengan 632 laga, Ryan Giggs jadi pemain yang paling banyak tampil di Premier League. Dia juga selalu bermain di seluruh kesempatan The Red Devils menjadi juara. Sedangkan untuk urusan mencetak gol, Alan Shearer (Newcastle United, Blackburn Rovers and Southampton forward ) masih berada di posisi paling atas dengan 260 gol.

Daftar Juara Premier League
Manchester United (13): 1992–93, 1993–94, 1995–96, 1996–97, 1998–99, 1999–2000, 2000–01, 2002–03, 2006–07, 2007–08, 2008–09, 2010–11, 2012–13
Chelsea (5): 2004–05, 2005–06, 2009–10, 2014–15, 2016–17
Arsenal (3): 1997–98, 2001–02, 2003–04
Manchester City (2): 2011–12, 2013–14
Blackburn Rovers (1): 1994–95
Leicester City (1): 2015–16

Topskorer Premier League Sepanjang Masa
1. Alan Shearer 260
2. England Wayne Rooney 198
3. England Andrew Cole 187
4. England Frank Lampard 177
5. France Thierry Henry 175

Penampil Terbanyak
1. Wales Ryan Giggs 632
2. Gareth Barry 628
3. England Frank Lampard 609
4. England David James 572
5. Wales Gary Speed 535

Foto: Graham Chadwick /Allsport
Apa yang dilakukan oleh Richard Moller Nielsen, pelatih Denmark yang sukses mengantarkan tim Dinamit menjuarai Piala Eropa 1992, adalah buah dari kerja keras dan ikatan yang kuat dalam sebuah tim. Walau begitu, jasa Nielsen ini terhitung terlambat untuk diingat.

Untuk menjadi sosok yang diingat oleh banyak orang, maka kita harus menjadi sosok yang mampu melakukan sesuatu yang luar biasa bagi banyak orang.

Siapapun orangnya, tak peduli dari manapun asal serta status sosial orang tersebut, seseorang bisa menjadi sosok yang diingat ketika ia mampu melakukan sesuatu di luar nalar orang kebanyakan. Lebih hebat lagi, sesuatu yang ia lakukan itu menjadi hal yang berguna bagi khayalak luas.

Namun terkadang, jasa dari seseorang tidak diingat oleh orang banyak ketika ia masih hidup. Jasanya malah baru diingat ketika ia sudah meninggal dunia, dan ada orang lain yang baik hati yang berusaha membuat orang lain mengingat jasa dari seseorang tersebut, sebagai usaha dari memelihara dan menjaga ingatan yang mungkin terlupakan.

Selain kisah legendaris Vincent van Gogh yang lukisannya baru dianggap bagus dan laku terjual justru ketika ia telah meninggal dunia, ada sebuah kisah lain dari Denmark tentang seorang pelatih bernama Richard Moller Nielsen.

Diragukan Sejak Awal

Sebelum dilatih oleh Richard Moller Nielsen, timnas Denmark dilatih oleh sosok dari Jerman bernama Sepp Piontek. Piontek adalah sosok pelatih legendaris yang memimpin tim Denmark penuh talenta pada Piala Dunia 1986.

Pada ajang tersebut, Denmark sempat tampil memukau ketika mengalahkan Uruguay dengan skor 6-1 pada fase grup, sebelum akhirnya dikalahkan Spanyol pada babak 16 besar dengan skor 1-5.

Piontek memutuskan untuk mengundurkan diri pada 1990, sehingga menyisakan posisi kosong di kursi pelatih timnas Denmark. Nielsen, yang menjadi asisten pelatih Piontek pada Piala Dunia 1986, berharap dapat mengisi posisi tersebut. Tapi pihak DBU (Federasi Sepakbola Denmark) meragukan kapasitas dari Nielsen.

Dalam buku ‘Europamestrene’ yang ditulis oleh Flemming Toft, dijabarkan bahwa DBU tidak punya rencana sama sekali untuk mengangkat Nielsen menjadi pelatih timnas. Mereka lebih menginginkan sosok Horst Wohlers, pelatih Bayer Uerdingen, untuk menggantikan posisi Piontek.

“Nenekku dapat mencatatkan hasil yang lebih baik daripada Riichard Moller (Nielsen),” ujar Hans Bjerg-Pedersen, Presiden DBU kala itu.

Selain diragukan oleh DBU, Moller Nielsen pun diragukan oleh para pemain timnas Denmark yang kala itu sedang bertaburan talenta-talenta hebat. Jan Molby, yang kala itu menjadi bintang di Liverpool, menyebut bahwa posisi Nielsen yang sebelumnya hanya asisten Piontek membuat ia sulit mendapatkan rasa hormat dari para pemain.

Apalagi ia juga bukan pribadi yang bisa bicara empat mata dengan para pemain.

Meski pada akhirnya ia berhasil menjadi pelatih timnas Denmark (ini disebabkan calon-calon lain menolak tawaran DBU), keraguan ini membuat ia sulit menangani timnas Denmark. Ia lebih banyak bersinggungan pendapat dengan para pemain, seperti dengan Laudrup bersaudara (Brian dan Michael), Molby, Preben Elkjaer, serta Peter Schmeichel.

Hasil ini pun sempat membuat Denmark tertatih dalam babak kualifikasi Piala Eropa 1992, sehingga harus puas mengakhiri posisi di peringkat kedua babak kualifikasi di bawah Yugoslavia.

Semakin berat ketika para pemain bintang Denmark perlahan-lahan mulai mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi membela timnas Denmark selama Nielsen masih melatih. Namun dari sinilah, awal kisah Nielsen dimulai bersama timnas Denmark.

Nielsen, Si Pemimpi dengan Etos Kerja yang Baik

Tinggal di Denmark, membuat Nielsen paham betul dengan budaya sepakbola di Denmark saat itu. Liganya yang belum bisa disebut profesional, serta kurangnya talenta-talenta hebat membuat negara ini sulit bersaing di kancah internasional bersama dengan negara lain, baik itu di tingkat Eropa maupun dunia.

Dengan segala kesulitan yang dihadapi Denmark kala itu di bidang sepakbola, hal ini pun membuat para warganya tidak memiliki mimpi yang kelewat besar. Mereka bangga dengan kekerdilan mereka, sehingga ketika mereka melihat penampilan timnas Denmark yang begitu menghibur walaupun kalah dalam Piala Dunia 1986, mereka bahagia.

Mereka bahagia dengan rasa malu yang mereka derita dalam ajang tersebut (dihancurkan Spanyol 1-5). Mereka juga bangga mendapat sematan best losers in the world.

Hal inilah yang ditentang oleh Nielsen. Nielsen berpendapat bahwa Denmark bisa berprestasi dengan baik di kancah dunia, tapi mereka harus bekerja keras dan melepaskan diri dari kekangan pemikiran masyarakatnya yang kerap merasa kerdil di mata dunia.

Ia yakin bahwa dengan etos kerja yang baik, Denmark bisa berbicara di turnamen internasional walau tidak memiliki talenta hebat di negaranya.

Ketika diangkat menjadi pelatih timnas, ia pun langsung mempraktekkan pemikirannya ini. Gaya permainan Denmark yang sebelumnya begitu penuh kebebasan di bawah Pionteek, ia ubah menjadi sedikit lebih keras dan penuh dengan kerja defensif. Walau hal ini sempat membuatnya berselisih dengan para pemain bintang timnas Denmark, ia tak peduli.

“Kita harus melawan ekspektasi masyarakat yang rendah ini. Kita harus mengubah taktik kita dan bermain dengan bola-bola panjang,” ujar Nielsen ketika itu.

Dengan sedikit pertolongan dari tangan tak terlihat, Denmark pun tampil di putaran final Piala Eropa 1992 di Swedia, setelah Yugoslavia mengundurkan diri akibat perang saudara yang berkecamuk di negeri mereka.

Dengan persiapan yang bisa dibilang mepet, Nielsen justru berhasil menyiapkan tim untuk Piala Eropa 1992 dengan baik.

Denmark mengalahkan Jerman di final Piala Eropa 1992.

Tim yang Nielsen latih ini berisikan para pemain yang pernah ia latih di timnas U-21 silam, dengan berpusat pada Brian Laudrup yang memilih untuk menarik perkataannya dan kembali membela timnas Denmark, serta Peter Schmeichel, penjaga gawang kharismatik yang kelak meraih sukses yang gemilang juga bersama Manchester United.

Akhirnya, walau tak diperkuat generasi emasnya di Piala Dunia 1986, Denmark justru meraih titel juara Eropa 1992 usai mengandaskan perlawanan Jerman di babak final dengan skor 2-0.

Berkat etos kerja yang baik, serta kemauan Nielsen untuk berubah (ia menjadi sosok yang lebih hangat seiring dengan berjalannya Piala Eropa 1992), Denmark akhirnya bisa meraih gelar juara Eropa.

Gelar ini pun menjadi gelar pertama dan terakhir dari tim yang sampai sekarang masih menyandang nama sebagai tim Dinamit ini. Nielsen, dengan mimpinya dan juga semangatnya yang tak pernah merasa inferior dari negara lain, berhasil membawa Denmark menaklukkan Eropa.

**
Sayangnya, apa yang dilakukan Nielsen ini tak serta merta mendapatkan pengakuan dari masyarakat Denmark. Selain kegagalannya menyabet gelar sebagai Pelatih Terbaik Denmark pada 1992 silam, masyarakat Denmark pada saat itu justru lebih senang membicarakan kiprah Denmark yang begitu menghibur, tapi gagal, pada medio 80an kala dilatih Piontek.

Kesadaran mereka akan jasa Nielsen ini justru baru terbentuk pada 2015 silam, saat film berjudul The Summer of ’92 (bahasa Denmarknya, Sommeren ’92) diputar secara serentak di Denmark.

Masyarakat pun mulai menyadari bahwa Nielsen adalah sosok yang berjasa bagi negara, karena hanya dialah yang sampai sekarang, mampu mengantar Denmark ke tangga juara.

Kegigihannya dalam merawat mimpi serta kepercayaannya bahwa Denmark tidaklah inferior di mata dunia, adalah pangkal dari segala keberhasilan yang diraih Denmark saat itu. Ditambah lagi dengan etos kerja keras yang ia terapkan di dalam tim, membuatnya menjadi sosok yang tercatat di dalam tinta sejarah.

Richard Moller Nielsen, sosok yang membuat musim panas 1992 di Denmark menjadi lebih berwarna dengan segala kerja kerasnya bagi timnas yang begitu ia cintai, yaitu Tim Nasional Denmark.