Latest Entries »

Bagawad Gita membagi kepribadian Manusia menjadi empat Tipologi, yaitu : tipe Kepribadian Brahmana, tipe Kepribadian Ksatrya, tipe Kepribadian Wesya dan tipe Kepribadian Sudra. Ke Empat Tipe Kepribadian tersebut terbentuk oleh interaksi dinamis antara: Satwam, Rajas, Tamas yang merupakan tiga stuktur kepribadian bawaan prakirti serta Karma/perilaku/perbuatan sehari hari yang dapat diamati
Satwam, Rajas dan Tamas sebagai tiga struktur kepribadian disebut jugaTriguna, masing-masing sebagai berikut :
Satwam dengan ciri-ciri sebagai berikut :
      Nirmalawat=sifat yang tidak tercela.
      Prakasakam = bercahaya
       Anamayam = tidak mengenal sedih/menderita
      Sukhasangena = selalu memberi rasa senang
      Jnanasangena = memberikan ilmu pengetahuan
      Anagha = tidak tercela

Rajas dengan ciri-ciri sebagai berikut :


Raga=nafsu,
Atmakam=sendiri,
Trsna=nafsu birahi,
Sanga=terikat,
Karmasangena=terikat oleh karma.
Dahinam=Jasad Rohani.

Tamas ciri-cirinya adalah :

Ajnanam= tidak berpengetahuan,
Mohanam=
kebingungan,
Pramada=
tidak peduli/hirau/masa bodo.
Lasya=
malas,
Nibrabhis=
ketiduran/malas ,
Nidra=
tidur,

Satwam menghubungkan seseorang kedalam kebahagiaan, Rajas menghubungkan orang dalam perbuatan/karma, sedangkan Tamas menutup pengetahuan sehingga menjadi kurang waspada.(BG.XIV.9)

Bagawad Gita XIV. 11-13 juga menyebutkan bahwa :

Apabila seseorang mempunyai ciri-ciri Satwam yang menonjol maka :

Ilmu pengetahuannya menembus didalam badan melalui semua pintu;

Apabila ciri-ciri Rajas yang menonjol maka akan tampak sebagai berikut :

Lobham= Loba dan giat dalam usaha,

       Prawrttir= Kegiatan kerja duniawi.
       Arambah= Giat berusaha.
       Sprha= Kemauan kuat,
Sedangkan apabila Tamas yang mendominasi ciri kepribadiannya maka akan tampak sebagai berikut :
       Aprakaso= kekurangan cerah/tdk bersinar,
       Aprawrtti= malas,
       Pramada= tidak peduli /teledor,
       Moha= bingung,
       Nidralasya= suka tidur,
       Mohanam atmanam = Kesesatan jiwa
Interaksi dinamis triguna ( Satwam, Rajas, Tamas )dan karma membentuk pola-pola : perilaku Brahmana,  pola perilaku Ksatrya,  pola perilaku Wesya dan pola perilaku Sudra.

Pola perilaku yang secara terus menerus dapat diamati, atau yang secara terus menerus ditunjukkan oleh seseorang disebut Kepribadian (Personality).

Ke empat tipe kepribadian tersebut oleh kitab Weda disebut Catur Warna yaitu :

1. Tipe Kepribadian Brahmana (BG.XVIII.42) yaitu :

Berpenampilan khusuk/tenang, menguasai panca indra, mampu mengendalikan diri, mampu mengendalikan nafsu, suci, luhur budinya, damai/tenang, berpengetahuan, bijaksana/berpengalaman dan religius.

2. Tipe Kepribadian Ksatrya (BG.XVIII.43) yaitu :

Heroisme/pemberani. lincah. teguh . pandai menyelesaikan tugas, siap bertempur. tidak pengecut, dermawan, bersifat memimpin/ berwibawa.

3. Tipe Kepribadian Wesya (BG.XVIII.44) yaitu :

Mengusahakan pertanian. memelihara lembu/berternak,berdagang, giat dalam usaha/perdagangan.


4. Tipe Kepribadian Sudra (BG.XVIII.44) yaitu :

Suka melayani, yaitu lebih suka mengerjakan pekerjaan fisik.

Itulah pendapat beberapa ahli yang meskipun tidak semua pendapat ahli termuat di sini, tetapi paling tidak tulisan ini dapat mengetahui bagaimana tipe kepribadian kita. Semoga bermanfaat…!!

Setiap orang memiliki kepribadian. Kepribadian setiap orang tidaklah sama, dan masing masing memiliki tipe kepribadian tersendiri. Ada banyak tipe kepribadian, seperti diungkapkan oleh para ahli, diantaranya adalah Hiprocates, Gelanus, Eduard Spranger, C.G. Jung dan Heymans. Masing masing ahli ini memandang dan memberikan pendapat tentang tipe kepribadian dari sudut pandang yang berbeda. Seperti apakah tipe tipe kepribadian menurut mereka?? Mari kita Pelajari satu persatu!.
 
Tipe Kepribadian Menurut Hiprocates dan Gelanus
Hiprocates dan Gelanus membagi tipe tipe kepribadian berdasarkan zat cair yang ada dalam tubuh seseorang. Menurut Hipocrates dan Gelanus tipe kribadian ada empat. Yaitu:
Melancholicus ( Melankolisi). Yaitu tipe kepribadian seseorang yang memiliki banyak empedu hitam di dadalam tubuhnya. Sehingga orang ini memiliki sifat sifat kepribadian seperti bersikap murung, psimistis dan selalu menaruh rasa cruriga.
Sanguinicus (Sanguinisi). Yaitu tipe yang dimiliki seseorang yang memiliki banyak darah dalam tubuhnya. Orang yang memiliki sifat wajah yang berseri seri, periang, dan selalu bersikap optimistis.
Flagmaticus (Flegmatisi). Yaitu tipe kepribadian yang dimiliki oleh orang orang yang memiliki banyak lendir dalam tubuhnya. Orang yang memiliki tipe kpribadian ini meiliki sifat sifat seperti lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, psimis, pembawaannya tenang, dan memiliki pendirian yang teguh.
Cholericus (kolerisi). Tipe kepribadian yang dimiliki seseorang yang memiliki banyak empedu kuning dalam tubuhnya. Sifat yang dimiliki oleh seseorang dengan kepribadian ini adalah memiliki tubuh besar dan kuat, garang dan agrasif.
Tipe Kepribadian Menurut Eduard Spranger
Eduard Spranger membagi tipe tipe kepribadian seseorang berdasarkan sikap manusia terhadap yang hidup di dalam masyarakat. Dan inilah tipe tipe kepribadian yang dimaksud oleh Eduard Spranger:
Manusia Politik. Seseorang yang memiliki kepribadian seperti ini cendrung mempunyai sifat ingin menguasai orang lain, dan setiap langkanya selalu berbau hal politik.
Manusia Ekonomi. Kalau kita ingin mengetahui orang orang bertipe kepribaidan ekonomi kita bisa melihat pada ras china yang hidup di negara kita ini. Kebanyakan para etnik china ini selalu mencari hal hal baik dan berpotensi bisnis. Pada intinya orang orang yang memiliki tipe kepribadian seperti ini segala sesuatunya dipertimbangkan dengan hitung hitungan bisnis.
Manusia Sosial. Anda tau orang yang supel atau mudah bergaul? inilah orang yang mempunyai kepribadian sosial. Karena orang berkepribadian sosial biasanya mudah dan suka bergaul, suka menolong, dan rela berkorban untuk orang lain.
Manusia Seni. Untuk melihat orang yang memiliki kepribadian seni bagi kita tidak sulit. Kita bisa melihat para musisi, penyanyi, pelukis dan lain sebagainya, atau kita bisa melihat orang orang yang dalam kesehariannya menghabiskan waktunya untuk keindahan. Karena pada intinya orang yang memiliki kepribadian seni ialah orang yang jiwanya dipengaruhi oleh nilai-nilai keindahan.
. Manusia Agama. Inilah kepribadian yang dimiliki oleh para ulama,pendeta,pastur dan pemuka atau tokoh tokoh agama lainnya. Bagi orang yang memiliki kepribadian Agama yang terpenting bagi mereka adalah menhambakan diri danm menghabiskan hidupnya demi tuhan yang maha kuasa.
.Manusia Teori,  Ciri-ciri dari orang yang memiliki kepribadian teori antara lain ia adalah seorang pemikir,suka membaca, dan mengabdi pada Ilmu.
Tipe Tipe Kepribadian Menurut C.G Jung
Carl Gustav Jung adalah seorang ahli penyakit jiwa yang berasal dari negara swis.C.G.Jung membagi kepribadian kedalam dua tipe, Yaitu ekstovert dan Introvert.
1. Tipe Kepribadian Ekstrovert adalah orang yang perhatiannya diarahkan ke luar dari dirinya. Ciri ciri atau sifat yang dimiliki oleh orang ekstrovert adalah ia lancar dalam berbicara, mudah bergaul, tidak malu mudah menyesuaikan diri, ramah dan suka berteman.
2. Tipe Kepribadian Introvert merupakan kebalikan dari kepribadian ekstrovert. Perhatiannya lebih mengarah pada dirinya. Sifat yang dimiliki oleh orang yang berkepribadian seperti ini adalah cendrung diliputi kekhawatiran, mudah malu dan canggung, lebih senang bekerja sendiri, sulit menyesuiakan diri dan jiwanya agak tertutup.

Tipe Kepribadian Menurut Gerart Heymans
Gerart Heymans mengolongkan tipe kepribadian berdasarkan kuat dan lemahnya seseorang. Tipe tipe kepribadian yang ia maksud adalah:
Gapasioneerden (orang hebat). Ciri dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini aka terlihat sifat antara lain selalu bersikap keras, ambisius, egois, dan emosional. Selain itu sifat yang terlihat dari orang yang mempunyai kepribadian ini antara lain memiliki rasa kekeluargaan yang baik, dan suka menolong yang lemah.
Cholerici ( orang garang). Sifat yang terlihat dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini antara lain orangnya agresif, giat bekerja, pemberani, optimistis, dan suka pada hal hal yang bersifat nyata. Selain itu ciri lainnya adalah bahwa orang ini mempunyai sifat boros dan suka bertindak ceroboh.
Sentimentil (orang perayu) Ciri cirinya adalah emosional, pintar berbicara, senang dengan kehidupan alam, dan tidak suka keramaian.
Nerveuzen ( Gugup), Sifat yang terlihat dari kepribadian semacam ini adalah mudah naik darah, suka memprotes, tidak mau berfikir panjang, dan tidak pendendam.
Flegmaciti (orang tenang) Sifat yang terlihat pada orang yang memiliki kepribadian ini adalah antara lain selalu bersikap tenang dan sabar, tekun bekerja, memiliki pemikiran yang luas, rajin dan cekatan.
Sanguinici ( Kekanak kanakan) Jika kita melihat seseorang memiliki sifat seperti anak anak, itulah orang yang berkepribadian sanguinici. Sifat yang terlihat antara lain sukar atau plinlan dalam mengambil keputusan, ragu ragu dalam bertindak dan suka menyendiri.
Amorfem (orang tak berbentuk) sifat yang terlihat dari tipe kepribadian ini adalah intelektualnya kurang, picik, tidak praktis, tidak punya jati diri dan terombang ambing.
Faktor Keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu.
Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.
Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut.
Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
Faktor Lingkungan
Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier
Logo Tengkorak kebanggaan St Pauli (Foto: MALTE CHRISTIANS/DPA/AFP)
Selama satu tahun ke belakang ini, salah satu lagu Black T-Shirt berjudul “Di Sini Saja” akrab didengar telinga saya. Black T-Shirt merupakan band punk asal Bandung yang sudah ada sejak medio 1990-an. Lagu berjudul “Di Sini Saja” merepresentasikan anti-kemapanan di dalam ranah kaum punk itu sendiri. Coba simak saja liriknya seperti ini:

“Tumpuk uangmu, setinggi gunung itu, jadi terkaya sedunia.

Aku di sini saja… aku di sini saja… aku di sini saja… aku di sini saja…

Semoga kamu terkenal, semoga banyak penggemar, jadi idola sedunia.

Aku di sini saja… aku di sini saja… aku di sini saja… aku di sini saja…”

Lirik yang singkat, padat, dan jelas untuk merepresentasikan anti-kemapanan para penganut ideologi punk. Dan lagu itu rasanya cocok bagi St. Pauli sebagai fenomena kesebelasan sepakbola punk rock yang jarang terjadi di dunia ini. Lagu “Di Sini Saja” cocok untuk menjadi lagu selamat ulang tahun di Indonesia bagi St. Pauli yang hari ini, 15 Mei, menginjak 107 tahun. St. Pauli merupakan salah satu kesebelasan yang berkarier di 2. Bundesliga, divisi kedua Liga Jerman.

Kendati berkiprah di 2. Bundesliga, St. Pauli merupakan kesebelasan yang eksentrik walau belum promosi kembali ke Bundesliga (divisi pertama Liga Jerman) sejak 2009/2010. Sejak berdiri pada 15 Mei 1910, St. Pauli pun tidak meraih prestasi yang benar-benar mentereng. Raihan terbaiknya mungkin hanya mencapai semifinal kejuaraan nasional Jerman setelah perang dunia ke II pada 1947/1948. Prestasi sepakbola terakhir yang diraih St. Pauli pun hanya menjadi runner-up 2. Bundesliga 2009/2010 yang membawa promosi ke Bundesliga 2010/2011. Ketika promosi ke Bundesliga pun cuma bertahan satu musim karena harus kembali degradasi ke 2. Bundesliga 2011/2012.

Tapi sejatinya bahwa keberadaan St. Pauli di divisi Liga Jerman manapun, bukanlah masalah bagi klub maupun pendukungnya. Dan klubnya pun tidak pernah dituntut pendukungnya agar bisa berprestasi mentereng atau sekaya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Borussia Moenchenglabdach yang sudah meraih gelar Bundesliga lebih dari lima kali. Atau bisa seperti kesebelasan-kesebelasan lainnya yang pernah berbicara di Eropa semacam SV Wender Bremen, VfB Stuttgart, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, bahkan Hamburger SV, sebagai rival satu kotanya sekali pun.

Bagi pendukung St. Pauli, pergerakan sosial lebih penting ketimbang menjadi kesebelasan yang bergelimang uang dan prestasi. Pernjualan atribut St. Pauli oleh pihak klub maupun pendukungnya pun lebih banyak diperuntukan penggalangan dana sosial. Hasil uang tersebut disumbangkan untuk daerah-daerah kekurangan air bersih, korban perang saudara, maupun isu-isu sosial lainnya. Bahkan para pendukung St. Pauli pernah menjual atributnya untuk menolong kesebelasannya itu dari kebangkrutan pada 2003/2004 lalu.

Sisanya, para pendukung St. Pauli hanya ingin berkumpul, meminum bir, bernyanyi, dan menonton pertandingan kesebelasannya tanpa memedulikan hasil akhir. Pernah suatu ketika St Pauli di ambang degradasi ke divisi tiga pada pada 2. Bundesliga 2014/2015, tapi para suporter di belakang gawang tetap berteriak “Forza St. Pauli!” sambil mengibarkan logo tengkorak yang mereka banggakan.

Aksi-aksi dari dalam maupun luar lapangan, St. Pauli memang lebih menarik daripada jejak rekam prestasi kesebelasannya sendiri. Adanya kereta sosis dan bir di tribun stadion serta dua sarang lebah yang dipelihara di stadion untuk menyoroti populasi lebah madu di seluruh dunia pun sudah menjadi wacana menarik bagi kesebelasan ini. Selebihnya, hal yang lebih menarik adalah terdapat kepentingan berkomunal di St. Pauli itu sendiri. Klub ini telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern.

St. Pauli pun dijadikan kekuatan untuk menyebarkan fakta bahwa dakwah sosialis itu lebih penting ketimbang prestasi. Jika ditinjau dari logo tengkorak bajak laut St. Pauli pun sudah bisa menjelaskan sebuah tren pemberontakan untuk menangkal kelompok pendukung sayap kanan fasisme. Para pendukung St. Pauli memang selalu lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia, dan fasisme, yang di mana bahwa faham-faham itu justru menjadi kultus di sebagian besar sepakbola Jerman penganut fasisme dan dianggap para pendukung St. Pauli sebagai ancaman sepakbola dunia.

St. Pauli, Cinta Sejati dari Kota Hamburg

Dan St. Pauli beserta suporternya merupakan kesebelasan pertama di Jerman yang melarang aliran sayap kanan. Pada 2006 silam, Washington Post dibuat kagum oleh para pendukung kesebelasan dari Hamburg ini. Washington Post seolah tidak percaya jika di tribun Stadion Millerntor, kandang St. Pauli, dipenuhi orang-orang yang bisa dibilang ‘buangan’ di Jerman, seperti punk, kelas pekerja, tunawisma, waria, dan lainnya.

Mungkin itulah yang menjadikan St. Pauli sebagai satu-satunya kesebelasan 2. Bundesliga yang selalu mendekati 100% target penonton pertandingan kandang. Bahkan St. Pauli merupakan pemilik tiket musiman lebih banyak daripada kebanyakan kesebelasan Bundesliga. Dengan sekitar 11 juta penggemar di jerman dan lebih dari 500 kelompok resmi di seluruh dunia, St Pauli bisa dibilang salah satu klub terbesar di jerman.

“Saya menantikan pekerjaan di St. Pauli dan bermain di depan kerumunan yang sangat besar. Saya terus memperhatikan berbagai pertandingan St Pauli dan pendukungnya selalu berada di belakang tim,” jawab Marvin Ducksch ketika ditanya rela pindah dari Borussia Dortmund ke St. Pauli pada bursa transfer musim panas lalu.

Situasi St. Pauli yang merupakan kesebelasan sosialis bukan tanpa kritik. Thomas Meggle yang merupakan mantan pemain dan pelatih St Pauli, menyayangkan bahwa kesebelasannya itu tidak memiliki sistem panduan sepakbola yang berkelanjutan, salah satunya fokus kepada bisnis. “Para pendukung yang terhormat, klub ini berdiri untuk sesuatu. Tapi sayangnya, kami juga harus profesional,” imbuh Meggle.

Keluhan Meggle sudah terbukti ketika St. Pauli sempat hampir bangkrut karena kurangnya prestasi klub untuk mendongkrak keuangan, begitu juga sebaliknya. “Ini merupakan hasil dari proses yang lambat. Klub ini terlalu terjebak dalam zona nyaman,” ungkap Meggle.

Bukan berarti St. Pauli tidak pernah menatap ke arah lebih profesional soal bisnis. Ketika klub itu promosi ke Bundesliga pada pun pernah mecoba melangkah ke arah sana. Promosinya St. Pauli ke Bundesliga membuat banyaknya aturan baru, seperti adanya beberapa pertandingan yang melarang pendukung St. Pauli mendukung langsung di kandang lawan. Aturan itu pun diprotes para pendukungnnya karena dianggap mengekang kebebasan ekspresi dan dukungan kepada St. Pauli.

Para pendukung St. Pauli juga pernah memaksa iklan-iklan di stadion Millerntor untuk disingkirkan. Kritik utama ditujukan kepada iklan majalah Maxim yang dinilai terlalu menyinggung urusan seksisme. Promosinya St. Pauli pun membuat harga tiket dinaikan dan mendapatkan protes dari para pendukungnya. Tapi yang jelas para pendukung St. Pauli itu tidak ingin kehilangan akar sepakbola. Mereka merasa lebih baik bertahan di divisi bawah ketimbang nilai-nilai sosial di tribun harus ditukar dengan komersialisme. Lebih baik di tempat mereka berada sekarang, seperti representasi lagu Di Sini Saja.

Presiden St. Pauli Oke Gottlich pun tetap bersikeras jika St. Pauli akan tetap menjadi klub kepedulian sosial. Ia juga menganggap kesebelasan berjuluk Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga) itu mampu lebih besar tanpa sokongan dana melimpah. “Kami akan selalu mengambil sikap melawan rasisme dan homophobia. Selalu memerhatikan kaum lemah dan miskin, karena itu penting bagi kami,” tegas Gottlich.

Ya, St. Pauli mungkin akan tetap selamanya seperti ini. Keriangan mereka lebih baik seperti biasanya seperti ketika lagu “Hells Bells” dari AC/DC menggema di Stadion Millerntor. Dengan situasi seperti ini, pendukung St. Pauli tetap bisa dibilang pendukung terbaik di dunia. Di sana semua ras dan orientasi seksual bisa sama-sama menyambut semua orang untuk mendukung St. Pauli. Ketika pertandingan, mereka akan tetap kembali menyanyikan lagu “Song 2” dari Blur. Para pendukung St. Pauli pun menolak labelisasi hooligan. Tapi mereka lebih suka jika motto dukungan mereka kepada St. Pauli adalah “Echte Liebe” yang artinya cinta sejati.

Andai datang ke Vietnam, ada dua hal terbesit di benak Anda: beras dan sepakbola. Negara agraris ini memang memang mempunyai gairah luar biasa pada sepakbola.

Saat akan mendarat di bandara internasional Noi Bai, Hanoi, ada dua pemandangan akan gampang ditemui. Hamparan sawah dan masih luas dan stadion sepakbola.

Dalam pantauan detikSport dari udara, sedikitnya ada tiga stadion dengan kapasitas sedang, kira-kira seperti Gelora Bangkalan, yang merupakan kandang dari Madura United. Selain itu, lahan pertanian yang luas juga masih banyak di sekitar bandara.

Dengan sawah-sawah yang begitu banyak itu, maka tak heran kalau Vietnam menjadi salah satu pengekspor beras terbesar di dunia. Indonesia termasuk dalam daftar pembeli beras Vietnam.
Kembali membahas sepakbola, minat tinggi gampang terlihat di Hanoi. Lapangan-lapangan sepakbola mudah ditemui, di sekitar My Dinh National Stadium juga banyak ditemui pelajar-pelajar yang asyik melakukan jugling bola di sekitar stadion. Suasananya mirip dengan ring luar Stadion Gelora Bung Karno, yang digunakan sebagai sarana jogging di saat sore hari.

Sementara itu, liga sepakbola mereka, V.League 1 juga mempunyai rata-rata penonton di stadion yang cukup tinggi. Sebanyak 10 ribu orang menyaksikan pertandingan laga-laga kasta tertinggi dalam kompetisi antarklub Vietnam.

Untuk musim ini, klub asal Hanoi, Ha Noi T&T merupakan juaranya. Trofi itu merupakan raihan ketiga mereka di sepanjang sejarah Liga Vietnam.

Begitu populernya sepakbola di Vietnam juga amat terasa di ajang Suzuki AFF Cup tahun ini. Orang-orang di bandara juga sudah membahas ajang dua tahunan negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini, utamanya laga antara Vietnam melawan Indonesia yang akan dihelat di My Dinh National Stadium.

Salah satu petugas imigrasi yang memeriksa dokumen detikSport langsung menebak kedatangan para warga negara Indonesia ke Hanoi untuk menonton laga leg 2 semifinal AFF Suzuki Cup antara Indonesia melawan Vietnam.

“Pasti datang buat menyaksikan AFF Suzuki Cup ‘kan? Saya juga akan menonton besok,” ujarnya sembari melakukan pemerikasaan dokumen.

Sama halnya dengan sopir taksi yang saya tumpang dari bandara menuju hotel, Dao Tanh Quang. Pria keturunan Malaysia itu juga langsung mengajak membahas mengenai sepakbola.

Hal ini semacam ini yang tak ditemui saat fase grup kala Indonesia melakoni laga-laga di Filipina. Memang, di sana sepakbola kalah populer dibandingkan basket.

Pembicaraan mengenai kans Vietnam untuk lolos dan sulitnya untuk mencari tiket menjadi topik bahasan di sepanjang perjalanan.

“Indonesia memang menang 2-1 di laga leg pertama. Tapi, saya yakin Vietnam akan menang 1-0 hingga mampu membuat Indonesia pulang dengan wajah murung,” katanya yakin.

“Kalian sudah punya tiket? Kalau belum, jangan berharap bisa mendapatkan tiket pertandingan. Di sini susah sekali mendapatkan tiket, harganya sangat mahal. Mungkin saya tidak akan datang langsung ke stadion. Saya akan melihat dari televisi saja,” imbuh Tanh Quang.

Apa yang dikatakan oleh Tanh Quang itu memang benar. Tiket laga Vietnam melawan Indonesia memang sudah ludes terjual. Penjualan di Vietnam tak ada yang melalui sistem online. Para pemburu tiket harus datang langsung ke loket di stadion.

Banyaknya pemburu tiket itu dimanfaatkan oleh para calo, yang mudah ditemui di sekitar stadion. Tapi, siap-siap saja membeli dengan harga selangit kalau ingin mendapatkan tiket dari calo yang sebagian besar perempuan paruh baya itu.

Apakah City layak disebut suram musim ini? Bukannya mereka masih berpeluang besar finis empat besar di Premier League dan lolos ke Liga Champions? Lumayan kan untuk debut Pep Guardiola di Inggris?

Mempertimbangkan apa yang sudah diinvestasikan oleh Sheikh Mansour sejak 2008 lalu, City tentu pantas disebut suram — jika tak boleh disebut gagal total. Maaf-maaf saja nih, City sekarang tak seperti satu klub rival yang sudah gembira asalkan bisa mempertahankan tradisi lolos ke Liga Champions tiap musimnya.

City akan menyudahi musim ini tanpa satu pun trofi di tangan. The Citizens tak mampu mengimbangi Chelsea yang berlari kencang bersama Antonio Conte, tak bisa bicara banyak di Piala Liga Inggris, dihentikan Arsenal di semifinal Piala FA, dan harus mengakui keunggulan AS Monaco di babak 16 besar Liga Champions.

Padahal, City sudah mempersiapkan diri dengan baik menjelang dimulainya musim ini. Guardiola yang bergelimang trofi di Barcelona dan Bayern Munich diboyong ke Etihad Stadium dan awalnya diharapkan bisa memperlihatkan sihirnya. Pemain-pemain bagus macam John Stones, Ilkay Guendogan, Leroy Sane, Claudio Bravo, Nolito, hingga Gabriel Jesus juga sudah didatangkan demi membentuk skuat yang supertangguh.

Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City

Akan tetapi, City ternyata harus melalui musim yang terjal. City-nya Guardiola belum sekuat yang diharapkan. Alhasil, klub yang bermarkas di Etihad Stadium itu mungkin hanya akan finis di posisi keempat atau paling pol di posisi ketiga klasemen akhir. Nyaris tak ada perbaikan prestasi yang signifikan dibandingkan musim lalu.

Musim ini bahkan bisa dibilang sebagai sebuah penurunan karena musim lalu City masih sanggup menyabet gelar Piala Liga Inggris bersama Manuel Pellegrini. Ya, Manuel Pellegrini, orang yang sudah tersakiti oleh obsesi City terhadap Guardiola.

This Charming Man menjadi julukan yang diberikan oleh suporter City kepada Pellegrini. Pria asal Chile itu memang sukses merebut hati para suporter selama tiga musim bekerja di Etihad. Pembawaannya kalem. Dia tak seperti Roberto Mancini yang meledak-ledak. Dia juga tak suka menyulut kontroversi seperti Jose Mourinho. Tapi, kehebatannya sebagai manajer terbukti lewat hasil di lapangan.

Pellegrini sejatinya bukanlah pilihan pertama City. Setelah memecat Mancini pada 2013 lalu, City sebenarnya menginginkan Guardiola, yang sudah mereka incar sejak 2012. Akan tetapi, ketika itu Guardiola sudah diikat oleh Bayern Munich. Pellegrini pun dipilih untuk mengisi kursi manajer sembari City menunggu Guardiola puas bertualang di Jerman.

Sebagai sebuah “rencana B”, penunjukan Pellegrini oleh City adalah sebuah langkah jitu. Pellegrini mampu memenuhi janjinya untuk menerapkan sepakbola indah. City pun menjadi salah satu tim dengan permainan paling atraktif di Inggris. Selain atraktif, City-nya Pellegrini juga sangat produktif dan selalu mencetak lebih dari 100 gol tiap musimnya. Bahkan, catatan 156 gol yang dibuat City pada musim pertama Pellegrini masih menjadi rekor klub hingga sekarang.

Tak banyak manajer asing yang langsung meraih gelar ganda pada musim pertamanya di Inggris. Tapi, Pellegrini mampu melakukannya dengan mempersembahkan trofi Premier League dan Piala Liga Inggris pada musim 2013/2014. Padahal, saat itu skuat City tak semewah yang dimiliki Guardiola sekarang.

Musim kedua memang sebuah penurunan. Penurunan yang ditandai merosotnya performa hampir semua pemain pilar, kecuali Sergio Aguero yang jadi top skorer. City melalui satu musim penuh tanpa satu pun gelar di tangan. Akan tetapi, finis kedua di Premier League tidak terlalu buruk, bukan? Paling tidak, City masih finis di atas tim tetangga.

Pellegrini juga menjadi orang yang meloloskan City dari fase grup Liga Champions untuk pertama kalinya. Namun, City bernasib sial karena dipertemukan dengan Barcelona di babak 16 besar dalam dua musim secara beruntun dan akhirnya tersisih.

Akan tetapi, Pellegrini juga mengukir sejarah dengan mengantarkan City menembus semifinal Liga Champions pada musim lalu. Itu adalah pencapaian tertinggi City di Liga Champions. Bandingkan dengan prestasi City di Liga Champions musim ini, di mana Guardiola hanya mampu membawa timnya hingga babak 16 besar.

Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City

Selain itu, Pellegrini patut diapresiasi karena beberapa rekrutannya menjadi pemain pilar City dan terus terpakai hingga era Guardiola. Dialah yang mendatangkan Fernandinho, Kevin De Bruyne, Nicolas Otamendi, dan Raheem Sterling. Bahkan, Willy Caballero yang sempat jadi kiper andalan Guardiola saat Bravo angin-anginan juga merupakan pemain rekrutan Pellegrini.

Mungkin benar yang dikatakan Agnes Monica dalam lagu ‘Tak Ada Logika’. Cinta itu memang buta.

City tahu Guardiola bukanlah tipikal pelatih yang betah bertahan di satu klub selama puluhan musim dan selalu ingin mencari tantangan baru. Akan tetapi, karena sudah terlanjur jatuh cinta kepada Guardiola, mereka pun terus berusaha mendapatkannya. Meski sudah punya Pellegrini yang terbukti mendatangkan trofi, mereka tak lantas melupakan perburuannya terhadap Guardiola.

Ketika Guardiola memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya dengan Bayern, City langsung bergerak cepat. Singkat kata, City berhasil meyakinkan Guardiola untuk bergabung dengan mereka mulai musim ini. City pun kemudian mengumumkan rencana kedatangan Guardiola pada awal tahun lalu. Padahal, ketika itu City masih berpeluang meraih quadruple.

Pellegrini sejak awal tahu hati City untuk Guardiola. Dia pun sudah diberi tahu untuk siap-siap angkat kaki jika Guardiola bersedia melatih City. Akan tetapi, pengumuman kedatangan Guardiola ternyata mengganggu fokus City pada musim lalu. Terbukti, dari empat gelar yang bisa diraih City ketika berita itu muncul, cuma satu yang benar-benar jadi milik City.

Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City

Pellegrini pun akhirnya harus meninggalkan City pada akhir musim lalu. Dia memberi kado manis berupa tiket Liga Champions setelah City memenangi persaingan dengan tim tetangga. Dia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan manis di hati para suporter.

Kemudian datanglah Guardiola. Dengan reputasinya yang sangat mentereng, pemilik klub tak hanya menginginkan kesuksesan di level domestik. City diharapkan bisa menguasai Eropa, bukan cuma Premier League.

Namun, seperti yang sudah ditulis di atas, Guardiola belum bisa memenuhi ekspektasi tersebut meski sempat menjanjikan pada pekan-pekan awal. Dia sendiri mengakui belum bisa membahagiakan bos-bos City.

Jika ingin mencari, akan ada banyak alasan di balik suramnya City musim ini. Mulai dari cederanya Guendogan, Kompany, dan Gabriel Jesus, belum mulusnya adaptasi Guardiola dengan sepakbola Inggris, para penyerang yang terlalu hobi buang-buang peluang, bek-bek tengah yang rapuh, bek-bek sayap yang menua, keputusan wasit yang seringkali ngawur dan merugikan tim, hingga permainan ultradefensif yang menyebalkan yang diperagakan oleh nyaris semua tim lawan termasuk pada laga derby kemarin.

Akan tetapi, Guardiola tak punya ruang untuk mencari-cari alasan di balik nihilnya gelar City musim ini. Yang harus segera dia lakukan adalah membenahi tim agar tak gagal lagi pada musim depan.

Tahun 1882, kolonialis Belanda mendirikan Raad Van Kerta, mahkamah adat Bali, dengan alasan politik etis.  Hakim-hakim pada Raad Van Kerta diisi oleh para Pedande (bukan Sri Empu, Bujangga Wisnawa maupun Rsi), meskipun tidak jarang mereka tidak mengerti masalah hukum, dan tidak mengerti  teks-teks hukum keagamaan seperti Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama yang ditulis dalam bahasa jawa kuno.

Belanda membantu pegangan para hakim Raad Van Kerta dengan menterjemahkan teks-teks tersebut kedalam Bahasa Melayu dan bahasa Bali untuk digunakan sebagai acuan hukum oleh anggota Raad Van Kerta.

Terjemahan teks-teks dari bahasa Jawa kuno kedalam bahasa Melayu dan bahasa Bali disesuaikan dengan selera dan kepentingan kolonialisme dan misionarisme. Hal ini sama dan sebangun dengan upaya Max Muller beserta kawan-kawannya  dalam menter-jemahkan kitab Weda yang disesatkan untuk diterapkan pada masyarakat Hindu di India. Geoffrey Robinson mengomentari hal ini sebagai rekayasa tradisi Bali yang paling mencengangkan oleh Kolonial Belanda.

(Geoffrey Robinson; Sisi Gelap Pulau Dewata, 2005 hal. 51).

Kitab Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama, sewaktu diterapkan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa, tidak pernah menerap-kan kasta-kasta, karena  tidak ada satu kata pun dalam kitab Hukum Hindu maupun kitab Weda yang berisi kata kasta.

Kasta  tidak dikenal dan merupakan kata asing bagi umat Hindu, apalagi menjadikan para pesakitannya sebagai Budak.  Kasta dan Budak adalah akal-akalan kolonialis semata, sebagai cerminan tradisi kitab Injil dan Al Quran yang diberlakukan di Arab dan Eropa.

Pada tahun 1910 kolonialis Belanda meng ikuti jejak rekan Eropanya di India yaitu kolonialis Inggris,  mendukung penetapan konsep kasta sebagai fondasi prinsipil masyarakat Bali. Dengan demikian koloni-alis Belanda,  melegalkan dan meneguhkan hierarki kasta beserta seperangkat aturan menyangkut hubungan antar kasta dan hak-hak istimewa kasta, yang sebelum-nya tidak pernah ada dalam praktek di Bali.  Dalam kata-kata V.E. Korn, orang Belanda, pakar Bali dan kontrolir Badung 1925  :     ” Bukan saja triwangsa diberi tempat yang terlalu penting, tetapi juga dilindungi melalui sederet pasal-pasal yang sangat jauh melampaui para raja dan teks-teks hukum tempo dulu”.Pendeknya, apa yang diartikan sebagai usaha Belanda untuk bergiat dalam “tradisi” Bali sebagai politik etis, sebetulnya adalah penciptaan tatanan hierarki baru yang pasti, di mana kekuasaan golongan kasta tinggi lebih besar daripada sebelumnya, dan terlebih lagi di sahkan oleh struktur legal, ideologis dan koesif negara kolonial. (Geoffrey Robinson,Sisi Gelap Pulau Dewata,2005 halaman 51).

Di Indonesia Kastaisme mulai menyebar setelah Runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit tahun 1478 M, hampir berdekatan waktunya dengan jatuhnya kerajaan Goa di India oleh Portugis tahun 1511, serta  Era penyebaran konsep-konsep agama Kristen (Kristenisasi) ke-seluruh dunia yang ditandai dengan Kolonialisasi dan perbudakan.

Pada akhir masa Majapahit terutama awal abad ke 15 ,  kastaisme  mulai menyebar. Banyak Ksatrya, Cendekiawan maupun Brahmana Hindu mulai terpengaruh propaganda misionaris Kristen dan kaum Adharma lainnya. Mereka melupakan swa-dharmanya sebagai ksatrya dan brahmana tergoda oleh Harta Kuasa dan Wanita.

Raja Majapahit Kertabumi ( 1456-1478 ) yang sudah tua renta tergoda wanita hadiah para Wali. Wanita yang tidak jelas asal-usulnya selalu membujuk Kertabumi untuk meninggalkan agama Hindu agama leluhur Majapahit dan ikut agama Istrinya.

Di Jawa Barat, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi terbujuk rayuan Nyai Subang Larang,  yang kemudian bersama  keturunan-nya menentangnya, sehingga Sang Prabu harus melarikan diri dari Istananya dan hidup terlunta-lunta menyamar sebagai  Anak Angon (gembala)  hidup di hutan.

Para Brahmana dan cendekiawan tersesatkan oleh pemikiran-pemikiran baru dari Eropa dan Arab, mereka mengadopsi konsep-konsep kasta dan perbudakan tanpa dinilai secara kritis. Parahnya lagi, para Brahmana lebih banyak berkumpul disekitar keraton, guna melegitimasi kebijakan raja  menjadi Bhagawanta Kerajaan.  Akhirnya rakyat tertinggal dibidang tattwa keagamaan nya, sehingga dengan mudah di Konversi dan jadi jajahan asing. Majapahit-pun runtuh tahun 1478, diikuti oleh Pajajaran, dan pusat pemerintahan dilanjutkan oleh Demak Bintoro.

Pada masa pemerintahan Demak dan Mataram Islam,  Kasta makin tumbuh subur di tanah Jawa. Gelar tokoh agama di Jawa/ Indonesia  seperti ; KH,Habib,Abu, Syekh dll. Dan Bangsawan Jawa makin beraneka ragam,  seperti :  R. RA. GPA. GPAA. KRT. GKR, GPH. GB, GPB dll. Masyarakat Jawa terkotak-kotak menjadi kelompok Kiyai, kelompok Habib, kelompok  Saudagar, Priyayi dan Wong Cilik.

Sebelumnya Gelar Bangsawan di Jawa/  Indonesia cukup dipanggil Raden, sedang raja dipanggil Sri, seperti Raden Wijaya, Sri Wijaya, Sri Dharmawangsa dan tokoh Agama dipanggil Mpu, seperti Mpu Sendok, Mpu Sedah, Mpu Beradah, Mpu Tantular dll.

 

  1. Mpu Sendok, seorang Brahmana, anak-anaknya menjadi Ksatrya di  Medang Kemulan
  2. Ken Arok, seorang penyamundi hutan-hutan Jawa Timur, dari keluarga yang bukan ksatrya ataupun brahmana. Bisa menjadi Raja (ksatrya) di Singosari.
  3. Mahapatih Gadjah Mada, Perdana menteri Majapahit, lahir dari keluarga yang tidak diketahui ( bukan dari keluarga atau keturunan Ksatrya maupunBrahmana), Kemudian menjadi Ksatrya terkemuka Indonesia sepanjang sejarah Indonesia
  4. Damar Wulan, Seorang pengangon kuda ( tukang arit rumput ), kemudian bisa menjadi Raja (Ksatrya) di Majapahit dan berganti nama menjadi Brawijaya.
  5. Kebo Iwa, tukang gali tanah dan tukang membuat sumur, berkat keperkasaannya bisa menjadi Patih (Ksatrya) di Bali pada masa Raja Ratna Bumi Banten.
  6. Ketut Kresna Kepakisan, anak seorang Brahmana dari Jawa Timur, menjadi Adipati (Ksatrya) di Samprangan Bali dengan gelar Sri Kresna Kepakisan.
  7. Patih Ulung,  ayahnya seorang Mpu/Brahmana, warga pasek sanak pitu,  bisa menjadi Patih/Ksatrya.
  8. Arya Tatar-  pejabat kerajaan Singosari, keponakan Kendedes. Ayah nya seorang Mpu/Brahmana – warga Pasek Sanak Pitu, bisa menjadi Ksatrya membantu bibi dan pamannya.: Ken Arok-Ken Dedes.  Arya Tatar di Bali  menurunkan Pasek Pidpid dan Pasek Bale Agung Buleleng yang menurunkan Ir. Soekarno
  9. I Gusti Agung Pasek Gelgel, katurunan seorang Mpu/Brahmana, bisa menjadi Ksatrya yaitu menjadi Raja Bali (1345-1352 M), sebelum Kresna Kepakisan diangkatsebagai raja Bali.

Apa kasta seorang Perampok/ Bromocorah? Apa Kasta seorang Pengangon Kuda? Apa Kasta seorang tukang gali Sumur?  Ken Arok, Gadjah Mada,  Damar Wulan maupun Kebo Iwa jelas bukan berasal dari kasta Brahmana, bukan Ksatrya, bukan pula Wesya. Tetapi bisa menjadi Ksatrya berkat proses belajar dan keterampilan yang dimilikinya. Bukan karena keturunan.

Menurut Lontar Siwagama, sepatutnya di setiap rumah umat Hindu di Bali seyogianya dibangun tempat pemujaan yang disebut  Kamulan Taksu sebagai ”Huluning Karang Paumahan”. Pelinggih Kamulan Taksu itu sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Bharata Hyang Guru. Menurut Lontar Purwa Bhumi Kamulan, setelah Upacara Atma Wedana seperti Nyekah atau Memukur kalau  dalam tingkatan yang besar disebut Maligia. Setelah Atma Wedana itu Atman disebut Dewa Pitara selanjutnya distanakan di  Kamulan Taksu sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam Lontara Purwa Bhumi Kamulan.

Letak Sanggah/Merajan Kamulan di utama mandala, sedangkan bangunan seperti Sakutus/Sakaulu, Bale Gede, Mundak, Sakanem, Pawon, dan lain-lain  di bangun  di madya mandala. Sementara itu untuk  di nista mandala umumnya teba, tempat berbagai tumbuhan perindang sebagai paru-parunya rumah tinggal.

Rumah Umat Hindu di  Bali umumnya ditembok keliling. Pada tembok keliling itu  setiap sudut ada yang disebut “Padu Raksa.” Menurut Lontar Hasta Kosala Kosali ada dinyatakan sebagai berikut: Aywa nora padu raksa  bilang jungut, yan tan mangkana,hala sang maumah mabwat. Artinya:  Jangan tidak dibangun “padu raksa” di setiap sudut pekarangan rumah, kalau tidak dibangun akan tertimpa sial orang yang punya rumah itu. Saat Upacara Melaspas rumah itu, maka di sudut-sudut atau disebut Jungut itu distanakan Padu Raksa. Di sudut timur laut Padu Raksa disebut Sang Raksa sebagai manifestasi Bhatari Sri. Di sudut tenggara Padu Raksa disebut Sang Adi Raksa sebagai penjelmaan Bhatara Guru. Padu Raksa di barat daya berstana Sang Rudra Raksa sebagai penjelmaan Bhatara Rudra. Di barat laut  (Wayabya) Padu Raksa dijaga oleh Sang Kala Raksa manifestasi Bhatari Uma. Saat Melaspas itu juga di natar rumah ditanam Banten Resi Gana. Ritual ini dilatarbelakangi oleh Tattwa yang sangat dalam maknanya. Dari segi arti kata atau etimologi, kata Kala Raksa berasal dari bahasa Sansekerta dari kata kala dan raksa. Kala artinya  waktu dan energi. Raksa artinya menjaga, melindungi atau waspada. Mengenai kala atau waktu dan energi wajib kita pahami dengan benar, baik dan tepat. Kala jangan diartikan iblis, jin, setan yang tidak berasal dari budaya Hindu.
Canakya Nitisasttra IV.18 yang menyebutkan, melakukan sesuatu itu hendaknya diperhitungkan waktu yang tepat. Canakya Nitisastra III.11 menyatakan: Naasti jagarata bhayam, maksudnya, orang yang selalu waspada dan berhati-hati sangat kecil kemungkinannya tetimpa bahaya.
Istilah raksa atau sadar (terjaga) secara rokhani itulah yang harus dijadikan dasar mengelola waktu dan berbagai energi dalam hidup ini. Kaja Kauh sinah wenten Palinggih Tugu sane kewastanin Plinggih Panunggun Karang Tentang Pelinggih Penunggun Karang di Barat Laut atau Wayabya itu dalam Lontar Hasta Kosala Kosali ada dinyatakan: Wayabya natar ika ,iku Panunggun Karang paumahan.  Artinya: Di arah Barat Laut (Wayabya) dari natar perumahan itu tempat pemujaan Penunggun Karang.

Selain itu, dalam Lontar Sapuh Leger dalam salah satu versinya ada yang menceritakan orang bernama  Sang Sudha yang lahir pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wayang yang disebut Tumpek Wayang. Seperti Bhisama Bhatara Siwa orang yang lahir Tumpek Wayang boleh jadi tadahan Bhatara Kala. Sang  Sudha merasa lahir pada Tumpek Wayang itu sangat ketakutan dan memang Bhatara Kala mengejarnya. Sang Sudha berlari dan berlindung di rumpun bambu yang sangat lebat. Sang Sudha punya adik bernama Diah Adnyawati. Sebagai adik tentunya sangat khawatir pada keselamatan kakaknya. Diah Adnyawati minta tolong pada Sang Prabhu Mayaspati yang bernama Sang Arjuna Sastrabahu. Sebagai Raja tentunya berkewajiban melindungi rakyatnya. Demi rakyatnya, Raja Sang Arjuna Sastrabahu memerangi Bhatara Kala. Dalam perang tanding itu Bhatara kalah melawan Raaja Sang Arjuna Sastrabahu. Karena kalah Bhatara Kala menyerah dan Raaja Sang Arjuna Sastrabahu menugaskan Bhatara Kala dengan Pewarah-warah sebagai berikut: Duh Bhatara Kala mangke ring wayabya ungguhanta, wus kita angrebeda ring rat. Artinya: Hai Bhatara Kala sekarang  di Barat Laut (Wayabya) letak tugas menjaga anda jangan lagi mengganggu kehidupan manusia. Sejak  itu Bhatara Kala yang berstana di Pelinggih Penunggun Karang disebut Sang Kala Raksa yang memimpin Sang Raksa, Adi Raksa dan Rudra Raksa.

Sajian tulisan di Lontar itu memang sedikit mitologis. Tetapi mari maknai hal itu secara filosofi untuk diaktualkan dalam tataran kehidupam individual dan sosial. Manusia hidup bersama  ruang dan waktu. Dalam istilah Sansekerta disebut Bhutakala. Kata bhuta secara denotatif artinya ruang dan kala artinya waktu. Dalam waktu itu ada energi atau kekuatan. Swami  Satya Narayana pernah menyatakan pagi sekitar pukul 4.00 s/d 8.00 waktu membawa energi Satvika. Sekitar pukul 8.00 s/d 16 sore waktu membawa energi Rajasika. Dari pukul 16.00 s/d pkl 20.00 kembali waktu itu membawa energi Satvika. Dari pukul 20.00 s/d pkl 4.00 pagi membawa energi Thamasika. Karena itu manusia yang mengharapkan kehidupan bahagia wajib menyelaraskan perilakunya dengan ruang dan tiga waktu.

Upacara menyelaraskan perilaku inilah dalam wujud ritual sakral disebut “Mecaru” Kata “Caru” dalam bahasa Sansekerta artinya selaras atau harmonis, manis dan dalam pustaka Samhita Suara kata “Caru” artinya cantik.Ini artinya ritual sakral Mecaru itu dalam kehidupan sehari-hari harus diaktualkan dengan cerdas dan bijak, agar senantiasa selaras dengan keadaan ruang yang kita miliki dan waktu yang terus berproses dari hari ke hari. Tujuan Mecaru bukan untuk mengusir jin setan iblis. Dalam ajaran Hindu istilah itu memang tidak dikenal dalam Sastra-Sastra suci Hindu.

Adanya Banten Resi Gana yg ditanam di natar pekarangan rumah bermakna untuk mengingatkan umat penghuni rumah tersebut agar dalam membina dan membangun rumah tangga mengedepankan perhitungan dan pemikiran yang cerdas dan  bijak. Pemikiran yang cerdas dan bijak itu diperkuat oleh ilmu pengetahuan. Kata ”Gana” dalam bahasa Sansekerta artinya berpikiran, berhitung. Karena itu Dewa Gana manifestasi Tuhan itu memiliki tiga fungsi sebagai Wigna-gna Dewa,Dewa Winayaka dan Dewa Wigneswra.

Agar hidup ini terhindar dari berbagai halangan gunakan pikiran dengan cerdas dan bijak sebagai dasar berhitung dalam menggunakan Indria. Apa lagi Manawa Dharmasasttra II.92 menyatakan bahwa pikiran itu adalah Indria yang kesebelas atau Ekadasendria Manah Jnyanam. Pikiran yang bijaksana atau Manah Jnyanam itu disebut juga Rajendria atau Rajanya Indria. Karena itulah dimana-mana umat Hindu memuja Tuhan sebagai Dewa Gana. Sebagai Wighna-wighna Dewa atau menghilangkan halangan dalam hidup. Kedepankanlah pikiran yang bijak atau Manah Jnyanam dalam mengendalikan Indria untuk menjalankan hidup.

Memuja Ganesa sebagai Dewa Wianayaka agar benar-benar hidup ini diselengarakan dengan bijaksana.Orang bijaksana adalah orang yang senantiasa menggunakan Manah Jnyanam sebagai dasar membangun kebijaksanaan. Demikian juga setiap orang adalah sesungguhnya pemimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri. Untuk itu pujalah Ganesa sebagai  Wighneswara agar kita bisa jadi pemimpin  yang bijak.

Demikianlah rumah umat Hindu di Bali pancaran spiritual dipancarkan dari Sanggah Kamulan yang diyakini mendatangkan kekuatan untuk menggunakan waktu dan energi yang dikendalikan oleh pikiran yang cerdas dan bijak. Itulah  makna dari Sanggah Kamulan sebagai Huluning Karang Paumahan, Banten Resi Gana dan Padu Raksa yang dipimpin oleh Sang  Kala Raksa di Peliggih Penunggun Karang di Barat Laut atau Wayabiya.