Ada yang bilang ‘life begins at 40’. Kepala empat, usia di mana seseorang seharusnya menikmati hidupnya dan bebas dari pekerjaan. Itu pula yang banyak terjadi pada pesepakbola kebanyakan.

Bagi pesepakbola, usia kepala tiga saja kadang sudah dibilang uzur. Banyak yang sudah gantung sepatu saat usia mereka menginjak angka 30an. Apalagi kepala empat.

Tapi itu tidak terlihat pada Francesco Totti. Setidaknya untuk saat ini, belum.

Hari ini, 27 September 2016, Totti genap berusia 40 tahun. Di saat teman-teman seangkatannya sudah banyak yang gantung sepatu, beberapa juga sudah jadi pelatih atau jadi aktor di balik layar sebuah klub, Totti masih asyik berlari-lari di atas lapangan.

“Pangeran” yang satu ini memang masih menikmati perannya sebagai pemain. Tapi ia bukan sekadar pemain yang menjadi simbol tim. Totti membuktikan bahwa dirinya masih bisa memberi kontribusi penting untuk Roma.

Musim lalu, karier Totti di Roma satu-satunya klub yang ia bela selama 24 tahun ini seperti akan mencapai garis finisnya. Kontraknya kala itu memasuki tahun terakhir dan waktu bermainnya mulai tereduksi. Totti mulai lebih akrab dengan bangku cadangan.

Tapi Totti tetaplah Totti. Ia selalu ada ketika Roma membutuhkannya. Meski cuma jadi pemain pengganti, Totti adalah supersub.

Musim ini Totti memang masih belum jauh dari bangku cadangan. Tapi, lagi-lagi ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa berkontribusi untuk Roma. Dua gol dan dua assist sudah dia sumbangkan untuk Roma dari empat kali penampilan, tiga di antaranya sebagai pemain pengganti.

Akhir pekan kemarin, misalnya, dalam pertandingan melawan Torino, Totti mencatatkan sebuah milestone. Ia membukukan golnya yang ke-250 di Serie A usai menaklukkan Joe Hart lewat titik putih. Sayangnya, itu tak cukup untuk menyelamatkan Roma dari kekalahan. Tapi Totti kini tercatat sebagai pemain kedua yang mengoleksi 250 gol di Serie A setelah Silvio Piola (274 gol).

Totti memang masih sangat enjoy bersenang-senang dengan bola di atas lapangan. Ia masih belum kehilangan sentuhan-sentuhan khas serta visinya meski fisik termakan usia.

Tengok saja dua assist yang ia berikan untuk Dzeko di pertandingan melawan Sampdoria dan Crotone. Dengan satu kali sentuhan, Totti melepaskan umpan lambung terukur melewati barisan pertahanan lawan untuk kemudian dituntaskan oleh Dzeko menjadi gol. Totti membuktikan bahwa genius tidak mengenal usia.

Barangkali dengan cara itu pula Totti menyiasati fisiknya yang tidak muda lagi. Dengan umpan-umpan satu kali sentuhan yang akurat, Totti tak perlu berlari. Umpan-umpan semacam itu juga akan membuat Totti sulit diterka lawan.

“Totti hidup satu menit di depan yang lainnya,” puji pelatih Crotone, Davide Nicola. “Jika saja saya bisa memasang jam pemain-pemain saya lebih cepat satu menit.. intuisinya fenomenal.”

“Masih menentukan di usia ke-40 berarti ia masih punya mesin dan kemampuan untuk memberi begitu banyak emosi kepada orang-orang, dan gairah yang melampaui batas apapun,” lanjutnya.

Tak bisa disangkal, apa yang ditawarkan Totti saat ini memang sulit ditandingi oleh pemain Roma lainnya. Keberadaannya kerap kali menyuntikkan antusiasme ke lapangan maupun penonton. Bukan berarti Roma lesu tanpa Totti, namun ia punya sesuatu yang unik yang tak dimiliki pemain lain. Romanisti juga masih belum siap melepas pangeran pujaannya itu. Setiap kali Totti melakukan pemanasan atau masuk ke lapangan, tepuk tangan riuh akan terdengar memenuhi stadion.

Lalu, haruskah Totti berhenti bermain?

Foto: Getty Images Sport/Paolo Bruno

“Saya merasa rileks. Pola pikir saya tepat, saya bahagia, menjalaninya dari hari ke hari. Kenapa harus berhenti kalau saya merasa seperti itu? Jika tubuh saya bertahan, pikiran saya bisa membantu saya melakukan apapun,” ucap Totti usai membantu Roma membalikkan keadaan atas Sampdoria.

Masa bakti Totti sebagai pemain di Roma memang hanya akan sampai akhir musim ini. Tapi, untuk saat ini, masih terlalu dini untuk bicara soal kontrak.

Mari bicara saja soal kado untuk ulang tahun Totti. Jika bisa berandai-andai, mesin waktu atau ramuan awet muda pasti menjadi dua barang yang ada di daftar teratas hadiah untuk Totti. Bukan cuma suporter, beberapa koleganya juga masih ingin melihat Totti mengolah bola di atas lapangan lebih lama lagi.

Allenatore Roma, Luciano Spalletti, bilang ingin menghadiahi Totti mesin waktu DeLorean dari kisah ‘Back to the Future’. Sementara pelatih yang memenangi Scudetto bersama Totti di tahun 2001, Fabio Capello, ingin mantan anak didiknya itu dapat kesempatan untuk menjadi lebih muda agar bisa selalu menyaksikan permainannya yang tak kalah tampan dari wajahnya.

“Dia adalah Peter Pan kami, ia menolak untuk tumbuh dewasa dalam hal sepakbola dan kami senang. Ia amat berkelas dan saya harap ia bisa terus merasa seperti anak-anak ketika dia masuk ke lapangan,” ujar General Manager Roma, Mauro Baldissoni.

Ya, seperti Peter Pan yang menolak untuk tumbuh dewasa, Totti juga tak mau dimakan usia. Untuk saat ini, kita nikmati saja dulu Totti selagi masih bisa. Kesampingkan dulu isu-isu yang meliputi hubungannya dengan Spalletti yang terus saja dikabarkan renggang. Atau perdebatan soal kehebatannya hanya karena jumlah trofi yang bisa dihitung dengan jari. Seorang Francesco Totti sepatutnya dirayakan.

Happy forty, Francesco Totti!

Advertisements