Gede Madia bekerja serabutan, artinya mau dan mampu bekerja apa saja. Tentu bagi rakyat kecil seperti dia, kalimat bekerja apa saja artinya terbatas pada jenis pekerjaan kasar.

Lebih lugas lagi, jenis pekerjaan yang mengandalkan tenaga dan bukan mengandalkan kepintaran otak. Maklum saja, karena dia hanya sempat menikmati pendidikan formal sampai SD kelas 4 di desa.

Ketika menginjak usia 13 tahun dia menjadi buruh bangunan pengayah (pembantu) tukang batu. Badannya yang kurus ceking dipaksakan menenteng ember adonan semen, memikul batu, sambil ditimpa terik matahari. Menginjak usia remaja ‘karir’-nya meningkat menjadi tukang batu. Tentu saja upah harian naik 100%.

Pekerjaan ini lama ditekuni sampai tiba masanya dia tertarik pada lawan jenis yang dilanjutkan dengan pernikahan di usia muda, yakni ketika berusia 22 tahun. ‘Profesi’ kekasihnya yang bernama Ketut Manis tak jauh beda dari pekerjaan Gede Madia, yakni berjualan pelecing (sejenis sayuran) di sekitar tempat buruh bangunan bekerja.

Penghasilannya cukup bila ada proyek besar mempekerjakan banyak buruh yang berbelanja. Cukup berarti bisa membeli beras keperluan satu hari untuk sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua adik.

Berjualan pelecing mula-mula disarankan oleh ibunya yang tahu bahwa para buruh bangunan membawa bekal dari rumah hanya berupa sebungkus nasi dengan lauk seadanya, kebanyakan tidak dilengkapi sayuran.

Begitulah kisah cinta antara Gede Madia dengan Ketut Manis mulai bersemi karena setiap hari di jam-jam istirahat Gede Madia selalu nongkrong di tempat Ketut Manis berjualan, di bawah pohon flamboyan.

Ketika merasa saat menyampaikan isi hati sudah tiba, dengan nada gemetar Gede Madia membuka mulut: “Tut, gelahe demen ken nyai, madak apang nyai keto masi” (Ketut, aku cinta kepadamu, semoga kamu demikian pula).

Ketut Manis tersipu dengan wajah memerah, tak menjawab dengan kata-kata. Hanya berupa anggukan kecil seraya menunduk menghindari pandangan Gede Madia. Namun itu sudah berarti “ya” dan hati Gede Madia berbunga-bunga.

Agar tuntas, tawaran berikut segera menyusul: “Kayang bayaranne buin acepok, nyai kar idih” (pada hari bayaran/ gajian mendatang kamu kan kulamar jadi istriku). Tersentak kaget, Ketut Manis mendongak dengan mata membeliak. “Adi enggal-enggal beli?” (kok cepat-cepat kak?) .

“Men ape buin antiang, gelahe suba mekelo nabung di BRI, asanange sedeng pipise anggon nganten” (lalu apalagi yang ditunggu, aku sudah lama menabung di BRI, kira-kira jumlah uangnya sudah cukup untuk upacara perkawinan). “Lan di Gerian-ne Ida Bhagawan laku, kone abedik nganggon bea” (ayo di Geria-nya Ida Bhagawan saja berupacara, katanya sedikit memakai biaya).

Kata-kata Gede Madia meluncur bagaikan peluru senapan mesin yang tak mampu dihindari. Ketut Manis pasrah: “Yen keto tiang meserah manten ken beli” (kalau begitu saya serahkan saja pada kakak).

Perkawinanpun jadi sebulan kemudian. Upacara sederhana namun meriah di Geria Tamansari berlangsung hanya dengan biaya Rp500.000,– sudah termasuk snack.

Setelah menikah, Ketut Manis berhenti berjualan pelecing, karena harus merawat mertuanya yang sakit-sakitan. Gede Madia makin semangat bekerja dan hidup hemat. Hari berganti bulan, ketika anak pertama lahir, tabungannya di BRI Singaraja sudah mencapai jumlah yang cukup untuk membayar uang muka (down-payment) sebuah kendaraan truk engkel Mitsubushi.

Pagi-pagi benar Gede Madia datang ke Geria meminta truk barunya “di-plaspas”. “Ratu, ampura titiang nunas pamelaspas motor titiange sane anyar puniki” (Bapak, minta maaf saya mohon upacara pamelaspas untuk truk saya yang baru ini). “Beh, angayu bagia nak, ne nanak maduwe motore?” (wah, berbahagialah nak, ini memang kamu yang punya?).

“Inggih tu, wawu dibi titiang ngambil ring dealer-e” (ya Bapak, baru kemarin saya mengambil di dealer). “Suweca pisan Sanghyang Parama Kawi ngelimbakang kerta nugraha ring ragan nanak” (Sangat kasih Sanghyang Widhi melimpahkan karunia kepadamu).

Saya berjalan mengelilingi truk itu yang dicat warna krem. Di dinding belakang ada tulisan besar: ‘SING DOT’ (tidak ingin). “Ape artin tulisanne ento nak?” (apa arti tulisan itu nak?)

Gede Madia sambil tersenyum menjawab bahwa tulisan itu bermakna menasihati dirinya sendiri agar mengendalikan keinginan-keinginan konsumtif yang berlebihan, tidak boros, rajin menabung bagi keperluan yang produktif, terutama untuk mencicil angsuran harga truk setiap bulan.

“Luwung gati ento nak, ne perlu limbakang teken sisianne lenan” (Bagus sekali itu nak, ini perlu disebarkan kepada umat kita yang lain).

Nasihat: ‘SING DOT’ itu memang perlu. Paling tidak untuk diresapkan agar tidak mudah tergoda oleh keinginan atau nafsu untuk memiliki sesuatu, lebih-lebih bila kemampuan tidak memadai.

Dalam pemenuhan materi kebanyakan dari kita sudah terlalu jauh hidup dan berpikir dengan pola konsumtif. Lihatlah di sekeliling, demikian banyak barang-barang baru, entah berupa motor, mobil, rumah, TV, Handphone, dll yang telah ‘mengurung’ kita dalam kehidupan sehari-hari.

Para penjual ramai-ramai menawarkan pembelian dengan angsuran, sehingga barang-barang konsumtif itu dengan mudah diperoleh. Dengan DP satu jutaan sudah bisa ber-Mio-ria; dengan duit setengah juta sudah ber-HP-ria; barang apapun bisa diperoleh dengan uang muka yang murah, tetapi pada akhirnya total angsuran lebih berlipat dari harga kontan.

Iklan-iklan di TV Nasional memikat penonton untuk menjadikannya consumers yang selalu haus dengan barang-barang bagus buatan luar negeri. Boleh dikata hanya satu diantara seribu orang yang masih berpikir produktif seperti Gede Madia.

“Yadiastu titiang mangkin sampun wusan dados buruh, sampun ngadol bias, dedaaran titiange kari sekadi dumun dawege melarat. TV manten titiang ten maduwe, kanggeang mebalih di Bale Banjare” (walaupun sekarang saya sudah tidak bekerja memburuh, beralih berjualan pasir, makanan saya masih seperti dahulu ketika melarat. TV saja tidak punya, cukup menonton di Balai Banjar).

Sebenarnya para pemimpin baik di pemerintahan maupun di swasta perlu menghayati ‘filosofi’: Sing Dot itu. Kalau saja nafsu dan loba atau dalam ajaran Hindu di Bali disebut sebagai kama dan lobha yakni bagian dari sad-ripu (enam musuh dalam diri sendiri), bisa dikendalikan maka kasus-kasus korupsi akan dapat dikurangi.

Kembali pada kisah Gede Madia dan Ketut Manis, kini mereka sudah hidup mapan, namun tetap sederhana. Setiap hari lima buah truknya mondar-mandir Singaraja – Karangasem mengangkut pasir yang dijual kepada para pemborong bangunan. Semuanya bertulisan: “SING DOT”

Advertisements