Nyepi di Bali dirayakan dengan berbagai cara yang mentradisi di masing-masing Desa sehingga membuatnya menjadi semarak dan menarik perhatian wistawan.

Di Desa Banjar, 15 kilometer arah barat kota Singaraja, Buleleng ada tradisi dalam rangkaian hari raya Nyepi yang dinamakan “Nyakan Diwang”.

Nyakan artinya memasak makanan, dan Diwang artinya di luar. Jadi Nyakan Diwang artinya memasak makanan di luar rumah, tepatnya di pinggir jalan raya. Tradisi berabad-abad itu dilakukan pada hari Ngembak Gni yakni sehari setelah Nyepi.

“Ndiang sembene!” (Nyalakan lampunya) perintah Men Sopi kepada anak gadis satu-satunya bernama Kadek Anggreni. Anggreni yang masih bergelut dengan selimut mendadak bangun oleh bentakan ibunya seraya melihat jam beker di sebelah tempat tidur. “Mare jam pat, me!” (Baru jam empat pagi bu!) .

“Yeeeeeeh, anak nyakan diwang jani, yen tengainan lek atine suryakine ken pisagane” (Waaaaah, sekarang nyakan diwang, kalau kesiangan malu disoraki tetangga).

“Men, Ida Bhagawan ibi ngenikaang di radione ngembak gni-ne mulai jam nem semengan, artinne jani mare jam pat, sing konden ngembak gni, sing dadi malu kije-kije, ape buin ngendiang sembe”, (Kan, Ida Bhagawan kemarin berkata di radio bahwa ngembak gni dimulai jam enam pagi, artinya sekarang baru jam empat, belum ngembak gni, tidak boleh ke mana-mana, apalagi menyalakan lampu), sergah Anggreni tak kalah sengit pada Ibunya.

Men Sopi yang merasa perintahnya dilawan, segera menuju saklar menghidupkan lampu sambil menuding anak gadisnya: “Nyai de meduegin anak tua, anak mule kene bakat, yen tusing nyakan diwang kena dande selae tali, ape tawang nyai!” (Kamu jangan sok mengajari orang tua, memang sudah begini tradisi kita, kalau tidak nyakan diwang, kena denda Rp25.000,- kamu tahu nggak!)

Gede Arjana, ayah Anggreni terbangun oleh ribut-ribut di kamar tidur anaknya. Bangun terhuyung-huyung oleh kantuk ia berjalan menuju sumber keributan. “Ade ape ne, das lemahe uyut cara peken?” (Ada apa ini, kok pagi-pagi buta ribut seperti pasar?) .

“Ne panak beline, males bangun, konden ngembak geni kone, sing dadi pesu, sing dadi ngendiang sembe, beh megenep cerik-cerike jani ngelah reragragan!” (Ini anakmu kak, malas bangun, belum ngembak gni – lah, tidak boleh keluar, tidak boleh nyalakan lampu, wah banyak anak-anak sekarang punya alasan!) .

Gede Arjana sambil mengusap-usap matanya menimpali: “Sujatinne beneh omong panake nto, kewale de jani uyutange, nyanan di sangkep banjar adate, ajake omongang ditu” (Sesungguhnya benar apa kata anak kita, tetapi jangan sekarang diributkan, nanti pada rapat di banjar-adat, coba dibicarakan).

Maka bersiaplah mereka nyakan diwang. Anggreni berlari kecil ke kamar mandi, membersihkan diri sekedarnya, lalu bergegas bersama ayahnya mengusung meja besar keluar rumah, dipinggir jalan.

Men Sopi mengambil alat-alat masak lainnya seperti dandang, beras, sayuran, daging ayam dari kulkas, kopi, the, gula, dan lain-lain yang sudah disiapkan sejak kemarin.

Gede Arjana membuat paon yaitu batu-bata yang ditumpuk untuk tempat memasak nasi dan menggoreng sesuatu. Paon digunakan karena awig-awig adat tidak membolehkan masak memakai kompor, tetapi memakai cara lama, yaitu kayu bakar.

Anggreni mengambil beberapa kursi makan dan bangku panjang, dijajarkan di depan meja besar yang sudah berisi berbagai hidangan, seperti kue, kacang kapri, lauk-pauk, buah-buahan, minuman ringan, dan sebagainya.

Peralatan makan juga sudah disiapkan seperti piring, sendok, gelas, dan cangkir. Ayahnya sudah dari tadi memasang lampu dan lilin di atas meja.

Jam lima pagi semua masakan sudah siap dan dihidangkan di atas meja. Keluarga kecil itu duduk-duduk di kursi sambil menyapa para tetangga di kiri-kanannya. Jalan raya yang menghubungkan Desa Banjar dengan Desa lainnya sudah penuh sesak dengan meja-meja hidangan para warga.

Satu sama lain saling mengunjungi, mampir, dan duduk di depan meja krama lainnya. Mereka diterima dengan ramah, disuguhi hidangan yang ada, sambil bercengkrama, dan saling memaafkan.

Berkunjung biasanya tak lebih dari 5 menit, karena perlu ke meja lain mengusahakan sebanyak-banyaknya dan merata. Karena terlalu banyak, ada yang hanya mampir sambil berdiri saja, lalu mengambil kue atau makanan kecil seadanya. Jarang yang benar-benar makan pagi seperti biasa, kecuali kalau yang berkunjung itu ada keinginan khusus.

Begitulah dengan meja Anggreni di pagi hari itu, penuh pengunjung, sampai kehabisan kursi dan bangku. Yang datang pemuda-pemuda, tidak hanya yang berasal dari Desa Banjar, tetapi juga dari Desa lain seperti Kalianget, Tampekan, Dencarik, Joanyar, Tangguwisia, bahkan dari Tigawasa dan Cempaga.

Yang tidak mengerti heran, kenapa meja Anggreni yang paling banyak pengunjungnya. Tapi bagi yang jeli, segera tahu jawabannya. Anggreni itu cantik!, pandai bergaul, tutur katanya memikat, dan senyumnya tak pernah hilang, membuat lesung pipitnya mempesona.

Dengan rambut tebal panjang sampai ke pinggang dan kulit halus putih langsat, serta tubuh seksi tinggi semampai, lengkaplah kecantikan Anggreni yang tersohor ke seluruh Kecamatan Banjar.

Gede Arjana, si ayah, tak mau jalan-jalan ke tetangga, dia tetap duduk merokok di pojok meja, diam, mengawasi “keselamatan” anak gadisnya dengan tatapan penuh curiga kepada teman-teman putrinya. Anggreni sudah 22 tahun, pantas punya pacar, tapi Anggreni masih memilih-milih siapa yang cocok.

Ayahnya akan setuju pada pilihan anaknya, tetapi justru karena diberi kepercayaan besar, Anggreni sangat berhati-hati. “Kemo jani beli ngelindeng, depin tiang nimpalin panake” (Sana, sekarang kakak yang jalan-jalan, biar saya yang menemani anak kita), Men Sopi menyuruh suaminya berkunjung ke meja tetangga.

“Mai De, singah malu!” (Ke sini Gede, mampir dulu!) sapaan dari sahabatnya mengajak mampir. Gede Arjana mengambil tempat duduk dan segera mendapat hidangan kopi panas dan pisang goreng.

“Luwung gati tradisin iragane ene, nyakan diwang mekade irage raket menyame, irage saling ngidih pelih, buine ojog saja-sajaan merase mebesikan” (Bagus sekali tradisi kita ini, nyakan diwang membuat kita bersaudara, kita saling memaafkan, dan rasanya benar-benar kita bersatu-padu). Kata Nyoman Tinggen, sahabat Gede Arjana sejak kecil.

“Men ngidayang beli meberata penyepian?” (Lalu bisakah kakak melaksanakan “berata penyepian”?). Sambungan pertanyaan Nyoman Tinggen membuat Gede Arjana tercenung. “Yen beli, dong ngidaang, kewale pisagane uyut meceki” (Kalau kakak sih bisa, tapi tetanggaku ribut berjudi “ceki”).

“Ooo I Suta?, anak uli pidan suba korain, suud meceki, ape buin jani ade undang-undang judi, nyanan tangkepe ken pulisine” (Ooo I Suta?, sudah dari dulu saya nasihati, berhenti main judi ceki, apalagi sekarang ada undang-undang judi, bisa ditangkap polisi).

“Beli masi suba ngorain keto, jog luwung pesautne: “Nyepi sing ade pulisi, pulisine milu masi nyepi!” (Kakak juga sudah memberi tahu begitu, tetapi bagus jawabannya: “Nyepi tidak ada polisi, polisi juga ikut Nyepi!”).

“Men ade pecalang, keng-ken nto!” (Lalu ada pecalang, bagaimana itu!) sembur Nyoman Tinggen bernafsu. “Pecalang tusing ngelah wewenang hukum pidana, ape buin klian pecalange ponakan I Suta, dije bani ngelapurang reramanne!” (Pecalang tidak punya wewenang dalam hukum pidana, apalagi ketua pecalang itu kemenakan I Suta mana berani melaporkan pamannya).

“Sujatinne irage sing perlu takut teken pulisi, teken pecalang, ane beneh takutin tuah Sanghyang Widhi dogen, yen bani mesolah jele, jele lakar bakat, mesolah luwung, luwung bakat, keto hukum karma-phalane!” (Sebenarnya kita tidak perlu takut pada polisi, pecalang, yang patut ditakuti hanya Sanghyang Widhi saja, kalau berani berbuat jelek, keburukan yang akan diterima, berbuat baik, kebaikan akan didapat, begitulah hukum “karma-phala”, lanjut Gede Arjana menutup pembicaraan pagi itu.

Matahari muncul di timur, sinarnya yang cemerlang kemerahan menguak keremangan menuju langkah awal di Tahun Baru Saka 1928. Rahajeng, dirgahayu, semoga tahun ini membawa kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan umat Hindu.

Sekitar jam tujuh pagi nyakan diwang selesai dan satu-persatu krama banjar mengusung meja, pulang ke rumah.