Kasak-kusuk pemilihan Kepala Desa (kades) makin hari semakin ramai. Ada tiga kandidat yang mengajukan diri. Ketiganya mempunyai track record yang hampir sama. Berpendidikan formal S1, berwawasan luas, bukan PNS, berdedikasi tinggi pada kemajuan Desa, kaya, berusia sekitar 40-45 tahun.

Tak heran maka penduduk bingung mau memilih yang mana. Walaupun demikian dalam pandangan kebanyakan penduduk calon Made Suartana kelihatannya lebih banyak mendapat simpati dan dukungan. Dapat diduga sebabnya, karena ia salah seorang anggota Dadia (paguyuban keluarga) yang besar.

Lebih dari setengah penduduk Desa itu adalah keluarga Dadia Pak Kadek, demikian mereka menyebut nama populernya. Ternyata paguyuban keluarga atau soroh dapat pula dimanfaatkan untuk mendapat dukungan suara dalam pemilihan kepala desa atau yang lumrah disebut pilkades.

Strategi ini kemudian ditiru oleh kandidat-kandidat pimpinan yang lebih tinggi, misalnya kandidat-kandidat Bupati di Bali yang berusaha memantapkan dukungan dari paguyuban-paguyuban keluarga seperti itu untuk memenangkan pilkada (pemilihan kepala daerah).

Untuk sementara waktu kondisi persatuan dan kesatuan di Desa seperti terpecah dalam kelompok-kelompok pendukung kandidat kades. Yang satu selalu mengunggulkan idolanya dan yang lain berusaha mencari kelemahan-kelemahan.

Isu-isu mendekati fitnah tak jarang beredar bagaikan hantu di malam hari, terutama ramai oleh celotehan pemuda-pemuda. “Eh, cai nawang Pak Kadek nto paak gati ajak Bupatine” (Hai, kamu tahu nggak bahwa Pak Kadek itu akrab sekali dengan Bupati).

“Yen irage milih Pak Kadek tur ngidaang Pak Kadek dadi Kades, ape idihe ke Bupatine, ojog baange. Ne rurunge pecerongkak sing nganti abulan jog mulus, nagih penerangan jalan, ojog maan; nagih Puskesmas aluh!” (Kalau kita memilih Pak Kadek dan bisa dia menjadi Kades, apa yang diminta ke Bupati, pasti dikasi. Jalan berlubang ini, tidak sampai sebulan akan mulus, minta listrik penerangan jalan, pasti dapat; mau Puskesmas, gampang!).

Demikian kampanye tak resmi dari Wayan Kantra, yang di desa lebih populer dengan nama julukan I Kebut. Entah kenapa diberi julukan begitu. Ada yang bilang karena Kantra suka ngebut naik motor; tetapi Ibunya mengatakan lain. Ketika anak-anak, ubun-ubun I Kantra kelihatan berdenyut-denyut keras atau dalam bahasa Bali: kebut-kebut .

“Nyen ngoraang keto?” (Siapa yang bilang begitu?) sela Komang Artini yang juga dijuluki Ar-dakocan (dagang kopi cantik). “Yeeeeeh, ake nawang pedidi!” (Wah, aku tahu sendiri!). “Taen ngatoang Pak Kadek ke Kantor Bupati, ia ngidih pipis. Pesunne jog a bendel ngabe pis ratusan ribu” (Pernah mengantar Pak Kadek ke Kantor Bupati, dia minta uang.

Keluar dari ruangan Bupati tak dikira, membawa uang satu bendel lembaran Rp100.000,–) sergah I Kebut. “Ooooo, mula metimpal iye ajak Bupatine?” (Ooo, memang berteman dia dengan Bupati?) keheranan Ar-dakocan tak tertahankan sampai matanya membeliak dan mulutnya menganga.

Ketut Sutawan alias Boncel yang sedari tadi mendengar tutur I Kebut berpikir keras sambil menyedot rokoknya dalam-dalam. Setelah menghirup kopi dia ikut nimbrung: “Ape ye mekade Bupatine boh gati teken Pak Kadek” (Apa yang menyebabkan Bupati kok akrab sekali dengan pak Kadek).

“Ake ningeh orte, dugase pemilihan Bupati, Pak Kadek sube ane dadi Patih Agung, peteng-lemah ngintil kemo-mai” (Aku dengar khabar, ketika pemilihan Bupati, Pak Kadek-lah yang jadi tangan kanannya, siang – malam mengikuti ke sana-kemari), sahut I Butuan yang nama aslinya Ketut Sumerta.

“O pantes keto, jani sing Bupatine ngelah kewajiban mendukung Pak Kadek” (O ya pantas begitu, sekarang kan Bupati yang punya kewajiban mendukung Pak Kadek) sahut Boncel. “Neh pelih ake ngomong, cai de bingung, jog memeteng sube pilih Pak Kadek. Buine ye ngelah program-program membangun desan gelahe” (Nah, apa kubilang, kamu tak perlu bingung, langsung tutup mata pilih Pak Kadek. Lagian dia punya program-program memajukan desa kita) sahut I Kebut.

“Keto malu” (Begitulah dulu) sindir Ar-dakocan sambil mencuci cangkir kopi di pojok warung. “Suba dogen dadi Kades, ape sing ade” (Nanti kalau benar menjadi kepala desa, tidak ada apa-apa), Artini tidak percaya pada janji-janji Pak Kadek karena sering janji-janji seperti itu yang diobral saat kampanye, tidak pernah dilaksanakan oleh para pejabat ketika sudah terpilih.

Janji tinggal janji karena kepentingan pribadi menjadi nomor satu sedang kepentingan rakyat entah nomor berapa urutannya. “De nyampuak-nyampuak, nyai awak dakocan, selegang meseh ken medagang dogen!” (Jangan ikut-ikutan ngomong, kamu dakocan urus soal berhias dan berdagang saja!) cerocos dari mulut I Kebut, membuat suasana malam itu tegang.

“Japin icang luh, otek icange anak nu tegteg, sing cara cai, asal ade ngemaang pipis jog kedat matan caine” (Biar aku perempuan tetapi otak-ku masih waras, tidak seperti kamu asal ada yang nyogok, matamu jadi berbinar) sahut Ar-dakocan bagaikan singa betina luka.

Disemprot tak terduga seperti itu I Kebut diam memendam marah, sembari heran pada keberanian Artini menyerangnya begitu sengit. Melihat I Kebut diam, Ar-dakocan makin berani: “Bayah malu utang caine, pekatik jaran dogen ngidang mayah utang” (Bayar dulu hutangmu padaku, pemelihara kuda saja bisa membayar hutang).

I Kebut semakin loyo ketika Artini membeberkan rahasianya setiap ngopi selalu ngebon. I Butuan melerai “perang” itu: “De ketoange timpale, sakewale saje buka munyin I Ar, jaman jani keweh ngalih pemimpin jujur. Ngalih ane dueg dong liu ade, ngalih ane jujur tonden karoan maan. Jelemane jani liunan memua alu” (Jangan digituin temanmu, tetapi memang benar seperti kata Artini, jaman sekarang sulit mencari pemimpin yang jujur. Mencari yang pintar ada banyak, tetapi mencari yang jujur belum tentu dapat. Manusia sekarang kebanyakan bermuka biawak) .

“Ape artinne mua-alu?” (Apa artinya bermuka biawak?) Tanya I Boncel ingin penjelasan. “Sing taen nepukin alu? Coba telektekang, iye ngae-ngae medem, matanne kicer-kicer, yen ade amah-amahan ulung di sampingne, jog nyagrep! (Tidak pernah melihat biawak? Coba perhatikan, dia pura-pura tidur, matanya merem-melek, tetapi jika ada makanan jatuh di sampingnya, langsung disergap).

“Beh yen keto ake orange me mua-alu ituni” (Wah jika begitu aku dibilang bermuka biawak tadi) sembur I Kebut kepada Artini. “Tusing, icang nak ngoraang keto-malu, sing keto mualu” (tidak, aku hanya bilang “keto-malu” bukannya “keto-mua-alu”).

Jawaban Ar-dakocan membuat warung itu penuh tawa ria. Tak terasa malam semakin larut, anak-anak muda satu-persatu meninggalkan warung dakocan. Artini menutup warungnya tepat jam 21.00 Wita.

Advertisements