Sejak bom-Bali pertama harapan anak-anak muda pedesaan yang putus sekolah untuk mencari kerja di Denpasar sudah pupus. Banyak karyawan hotel dan pekerja sektor pariwisata terpaksa di-PHK-kan karena pasaran lesu, turis sedikit karena takut datang ke Bali.

Bom-Bali kedua menambah situasi ekonomi Bali lebih morat-marit, pengangguran makin menjadi-jadi, lalu banyak muda-mudi terpaksa gigit jari pulang kembali ke kampungnya, tak tahan lagi hidup di Denpasar dengan biaya tinggi.

“Uli pidan suba orain, jumah ngoyong, tulungin Bapa metekap; cai ane bengkung tusing nuutang munyin nak tua” (dari dahulu sudah dikasi tahu, tinggal saja di rumah menolong Bapak kerja di sawah; kamu yang bandel tidak menuruti nasihat orang tua). Demikian kata-kata Pan Kardi kepada anak lelakinya yang tertua bernama I Wayan Kardi di suatu pagi yang cerah.

Sejak beberapa hari sepulang dari Denpasar Wayan Kardi terbiasa bangun pagi-pagi buta seperti kebiasaan ayahnya menyiapkan diri ke sawah. Ia jarang keluar rumah untuk keperluan lain karena merasa tidak enak pada teman-teman se Desa yang selalu bertanya: “ O jani suud di Badung megae, men ngengken Wayan jumah?” (O sekarang tidak kerja di Denpasar lagi, lalu apa kegiatanmu di rumah?).

Di mana saja pertanyaan serupa tetap berulang, ya di pasar, di sungai, di Bale Banjar, bahkan di Pura. Nada pertanyaannya ada yang memang tulus hanya ingin tahu, tetapi tidak sedikit yang nadanya mengejek. Dulu ketika masih menjadi room-boy di Hotel berbintang lima, setiap libur pulang kampung Wayan Kardi menjadi buah bibir penduduk Desa, karena penampilannya cukup “wah” menurut ukuran di Desa.

Mengemudi mobil Kijang, pakaian mode terakhir, bau parfum yang merangsang, dan penyumbang terbesar di Desa dalam kegiatan amal. Istrinya tak kalah hebat. Sebelum kawin dengan Wayan, ia hanya buruh pemetik buah anggur, tetapi setelah beberapa tahun menetap di Denpasar, penampilannya sudah beda.

Rias wajah yang memikat, pakaian seksi, hiasan gelang emas yang tak pernah lepas dari tangannya yang halus mulus. Mereka juga sudah mempunyai rumah BTN, kecil mungil tempat keluarga anak-beranak itu tinggal, yang letaknya dekat tempat kerja Wayan Kardi.

Semua itu kini hanya tinggal kenangan. Mala petaka telah menimpa keluarga itu dengan datangnya hantu PHK (pemutusan hubungan kerja) ketika kontrak kerja yang jatuh tempo bulan Desember tidak lagi diperpanjang oleh General Manager.

“Sorry Wayan, kami terpaksa harus mengambil langkah ini, karena seperti kamu lihat, sejak dua tahun lalu hotel kita sudah tidak bisa bertahan dengan tingkat akupasi hanya 20%, saya sendiri juga pasti akan terkena PHK kalau keadaan ini tidak membaik beberapa bulan ke depan” kata GM yang mencoba menghibur Wayan Kardi.

Dia mendapat pesangon gaji tiga bulan dan sebuah surat ucapan terima kasih atas pengabdiannya di hotel itu selama lima tahun. Pulang ke rumah Kardi merasa matahari semakin terik, bumi bergoyang dan kepalanya pusing. Istrinya menyambut dengan wajah pucat. Kardi tidak berkata panjang, karena beberapa hari sebelumnya sudah tersiar berita akan ada PHK dan kemungkinan dia akan terkena.

Sekarang kenyataan sudah tiba. Kardi langsung menuju kamar tidur, rebah dan merasa tak sanggup berdiri karena lututnya goyah dan debaran jantungnya semakin kencang. Istrinya menyusul ke kamar, mengerti tentang krisis yang menimpa keluarganya.

Dengan sabar ia membuka sepatu suaminya dan duduk di sebelah pembaringan. “Gaenang tiang teh nggih Beli” (kubuatkan teh ya kak), tanpa menunggu jawaban ia segera ke dapur membuatkan teh suaminya.

Sambil menuju kamar tidur diliriknya si anak yang baru berusia dua tahun sedang tidur pulas di kamar sebelah. Ia menaruh teh di meja dekat tempat tidur, lalu ikut rebah di sebelah suaminya yang sedang menutup mata dan meletakkan tangan di atas dahi.

Kardi mulai bicara perlahan: “Jani kenkenang mayah hutang, umah nu nyicil, motor tonden lunas, dija alihang pipis” (sekarang bagaimana caranya membayar hutang-hutang, rumah masih mencicil, mobil belum lunas, di mana kita mencari uang).

Kardi membuka mata dan memindahkan lengan kanan ke bawah kepala istrinya sebagai bantal. Posisi seperti ini selalu dilakukan bila dia ingin menyatakan cintanya dan sekaligus ingin mendapat simpati. Istrinya mengerti pada kebiasaan Kardi, lalu ia mengimbangi dengan memiringkan badan sambil mengusap-usap dada suaminya.

“Sampunang nika anggene sebet kayun, beli!” (Jangan itu terlalu disedihkan, kak ) , yen patut tetimbangan tiange, ngiring budal ke Beleleng, umah lan motore serahang kemanten. (kalau benar pendapat saya, mari kita pulang ke Buleleng, rumah dan mobil diserahkan saja).

Kata-kata istrinya bagaikan embun pegunungan, menyejukkan dan menambah semangat. “Tiang nenten lek malih dadi buruh ngalap anggur, asal iraga ngidaang idup lan I Gede ngidaang masekolah” (saya tidak malu kembali menjadi buruh pemetik anggur, asal kita bisa hidup dan I Gede anak kita bisa bersekolah).

Mendengar kata-kata istrinya, Kardi tak tahan membendung air mata karena tidak membayangkan malapetaka seperti ini akan menimpa keluarganya. Namun di balik itu ia mulai bersemangat karena didorong oleh cinta dan kesetiaan istrinya.

“Beneh nto Dek, asanange iraga nu masi ngelah bekel. Yen umah lan motore serahang, barang-barange lenan adep, tur Beli maan pesangon, mekejang sawetara ada molas juta” (benar itu dik, kira-kira kita masih punya uang. Kalau rumah dan mobil diserahkan, barang-barang lainnya dijual, dan kakak juga mendapat pesangon, jadi jumlahnya semua sekitar Rp.15 juta).

“Sing je nganti Kadek maburuh anggur buin, jalan cobak dadi pedagang anggur, pipise ento anggon modal” (tak sampailah Kadek menjadi buruh pemetik anggur lagi, mari coba menjadi pedagang anggur, uang itu gunakan sebagai modal).

Suami- istri itu berpelukan, gembira karena mendapat jalan keluar dari pemikiran bersama. Esoknya keluarga kecil itu sibuk berbenah, dan dalam waktu seminggu mereka sudah boyongan pulang kampung, ke Buleleng.

Hari-hari pertama niat Kardi untuk menjadi pedagang anggur ditangguhkan karena dia bersama istrinya masih perlu mempelajari seluk beluk perdagangan anggur.

Dari pengamatannya, para pedagang selalu membeli buah anggur ketika masih hijau, menunggu satu sampai dua bulan sebelum panen. Bahkan ada yang sudah memberikan persekot ketika pohon anggur baru memunculkan tunas baru setelah pengguntingan dahan.

Jadi selain harga buah, para pedagang juga harus menanggung biaya pupuk, obat-obatan dan biaya panen atau upah petik. Jika jarak waktu antara pertumbuhan tunas sampai panen sekitar empat bulan, maka Kardi harus pandai menghitung harga pokok penjualan dan tafsiran harga pasar/ penjualan yang akan datang.

Ia harus berhati-hati agar modalnya yang lima belas juta bisa berkembang, karena itulah satu-satunya milik mereka setelah di phk.

Pan Kardi menyambut baik rencana anaknya menjadi pedagang anggur. Tetapi dia mengusulkan pengembangan dengan basis yang lebih kuat. “Petani anggure jani suba dueg-dueg, dikengkene pedagang anggure bisa kalahange” (para petani anggur sekarang sudah pintar-pintar, kadang-kadang para pedagang anggur sampai kalah atau merugi) penegasan ayahnya membuat Kardi bingung.

“Ngraris sapunapi pikayunan bapane mangkin, tiang during uning” (lalu bagaimana pendapat ayah sekarang, saya kok bingung), Kardi mohon petunjuk ayahnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan diputuskanlah agar Kardi selain berdagang anggur, juga menanam sendiri kebun anggur di tanah sawah ayahnya ditambah beberapa are tanah dari menyewa.

Keluarga itu sekarang benar-benar menjadi petani anggur dan langsung memasarkan sendiri hasil panennya. Sistim ini menghasilkan buah anggur yang berkualitas tinggi, butirnya besar, warnanya hitam pekat dan manis, karena dipelihara dengan baik dan dipetik pada waktu yang tepat, yaitu menunggu buah anggur matang sempurna di pohon.

Pemasaran mereka tidak hanya di kota Singaraja, tetapi lebih banyak ke Denpasar, Surabaya dan Jakarta, di hotel-hotel dan restoran-restoran terkenal. Packing buah anggur mereka dengan peti yang halus dan ada lebel indah dan tercetak rapi: “The real harvest of Kardi”

Kiprah Kardi telah mendorong semangat anak-anak muda menekuni sektor agraris. Ada yang memelihara itik dengan tekhnologi modern, mulai dari penetasan sampai penggemukan.

Coba-coba makan di restoran cina Surabaya, pesan bebek panggang ala Peking, gurih, empuk dan dagingnya tebal. Itu hasil para petani peternak kita. Makan salak gula pasir, manggis, durian, wani, mangga, rambutan, siapa pula yang memproduksi? ya para petani kita.

Dalam Reg Veda profesi petani sangat diagungkan. Simaklah Mandala I, Bab ke-5, Sukta 187. 5:

TAVA TYE PITO DADATAS, TAVA SVADISTHA TE PITO, PRA SVADMANO RASANAM, TUVIGRIVA IVERATE.

Artinya: Wahai makanan yang lezat pemberi kehidupan, mereka yang mulia tidak hanya menikmatimu, tetapi juga memproduksi dan membagikannya kepada orang lain; sebaliknya mereka yang hanya menikmati cita rasa makanan saja, adalah orang-orang yang sombong.

Keluarga Kardi seolah-olah mendapat perintah Hyang Widhi untuk kembali menekuni pertanian. Bom Bali memang membawa petaka, tetapi ada juga hikmahnya, seperti nasib Kardi sekeluarga sekarang. Ia memacul (menjadi petani), tetapi petani yang kaya raya, inovatif, dan taat beragama serta suka medana punia.

Advertisements