Bali terkenal akan industri pariwisatanya, dan dari sektor tersebut bali pada khususnya mendapat pemasukan materi yang melimpah dan memberikan devisa yang besar bagi Indonesia pada umumnya. Banyak masyarakat Bali yang bermata pencaharian di sektor tersebut. Selain sektor pariwisata, sebagian besar masyarakat bali juga bermata pencaharian sebagai petani, dan mungkin bisa dikatakan bahwa mata pencaharian asli masyarakat Bali adalah sebagai petani. Hasil panen dari petani Bali, kebanyakan untuk dikonsumsi sendri dan sangat jarang sekali para petani Bali menjual hasil panennya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dahulu, para petani Bali harus menunggu 6 bulan untuk bisa memanen padinya. Itu dikarenakan jenis padi yang ditanam pada masa itu adalah jenis padi Bali (padi Del) yang memang membutuhkan waktu 6 bulan lamanya untuk mencapai masa panen. Karena jarak panen yang lama itulah maka diperlukannya tempat penyimpanan padi untuk pemakaian jangka panjang. Di Bali sendiri tempat penyimpanan hasil panen padi tersebut di namakan Gelebeg.

Gelebeg merupakan tempat penyimpanan padi khas Bali. Desainnya telah dirancang sedemikian rupa, sehingga Gelebeg berbeda dari bangunan adat Bali lainnya. Biasanya berbentuk lonjong dengan pilar tinggi yang menopanya. Dahulu Gelebeg dibuat dengan kontruksi yang fleksibel, mudah dibongkar pasang dan tahan terhadap gempa (Archiventure, 2011). Tetapi semakin majunya perkembangan teknologi, ada pula yang membuat Gelebeg dengan kontruksi beton pemanen, dengan besi sebagai kekuatanya layaknya bangunan modern lainnya. Pada tempat tertentu, ada pula masyarakat yang mengklasifikasikan Gelebeg menurut jenis padi yang disimpan dan banyaknya tiang atau pilar yang menopang Gelebeg tersebut. Gelebeg menurut padi yang disimpan yaitu, yang pertama adalah Gelebeg yang khusus untuk menyimpan padi dan yang kedua adalah Gelebeg yang khusus untuk menyimpan padi ketan. Sedangkan Gelebeg menurut tiang penopangnya, biasanya digunakan untuk menyatakan status sosial suatu masyarakat. Yakni semakin banyak tiang yang menopang Gelebeg yang dia miliki, maka semakin tinggi pula status sosial yang dia sandang. Mungkin saat ini jarang sekali ditemukan pemandangan seperti itu di lapangan.
Gambar : Sketsa kontruksi Gelebeg yang fleksibel, mudah dibongkar pasang dan tahan gempa.
Disisi spiritual, masyarakat Bali menggunakan Gelebeg sebagai pelinggihan (stana) Bhatara Sri atau Dewi kesuburan bagi masyarakat Bali. Dan beliau diberikan persembahan berupa sesajen yang biasanya bertepatan pada upacara ngodalin di mrajan (pura pribadi) yang disebut dengan mantenin. Persembahan ini bertujuan untuk menyatakan rasa syukur atas hasil panen yang bagus yang diberkahi oleh beliau.
Seperti halnya fungsi lumbung secara umum, Gelebeg secara umum berfungsi sebagai penyimpanan hasil panen padi untuk pemakaian jangka panjang. Tetapi, bagi masyarakat Bali tidak hanya sampai disana kegunaan dari Gelebeg tersebut. Masih banyak falsapah yang terpendam dalam lumbung masyarakat Bali yang dinamakan Gelebeg itu.
KONTRIBUSI GELEBEG TERHADAP KELANGSUNGAN EKOLOGI, KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT BALI
Seperti yang diuraikan di atas, bahwa Gelebeg mempunyai banyak nilai-nilai filsapat yang terpendam di dalamnya. Nilai-nilai tersebut bisa berupa kontribusi Gelebeg terhadap kelangsungan hidup masyarakat maupun kelestarian akan suatu kekeayaan alam.
Berikut ini adalah beberapa kontribusi Gelebeg terhadap kelangsungan ekologi,  sosial serta perekonomian masyarakat Bali:
1.  Kontribusi Gelebeg Terhadap Kelangsungan Ekologi
Kontribusi suatu kearifan lokal terhadap ekologi, tidak harus berupa bagaimana kearifan lokal tersebut bisa memberikan manfaat langsung terhadap lingkungan (mengsilkan O2, konservasi air dsb.). Tetapi bisa juga berupa usaha jangka panjang untuk menjaga kelestarian suatu spesies agar kepunahan akan spesies tersebut bisa dicegah.
Misalnya Gelebeg, bisa juga dikatakan sebagai tempat penyimpanan plasma nutfah tradisional. Jika melihat kenyataan seperti sekarang ini, banyak sawah beralih fungsi menjadi hotel maupun bungalow, tidak bisa dipungkiri bahwa kemungkinan akan punahnya lahan persawahan di Bali bisa terjadi. Maka disinilah kesempatan kita untuk memanfaatkan Gelebeg sebagai penyimpanan bibit (plasma nutfah) padi jangka panjang, jika seandaenya terjadi perubahan ekosistem dan mengatasi lingkungan yang berbahaya sehingga kepunahan padi menyusul kepunahan lahan persawahan bisa di cegah.
Selain itu, di dalam Gelebeg biasanya tersimpan berbagai macam jenis padi dari hasil panen petani. Petani biasanya menanam lebih dari satu jenis padi pada lahan yang dia miliki, dan hasil panennya akan disimpan di Gelebeg. Artinya, Gelebeg juga berkontribusi terhadap penyimpanan keanekaragaman varietas bibit padi.
2. Kontribusi Gelebeg Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat di Bali
      Kehidupan sosial masyarakat Bali, tidak bisa terlepas dari keterikatannya dengan konsep agama dan aspek budaya. Kedua aspek ini sangat penting terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Masyarakat Bali menerapkan sebuah konsep agama yang dinamakan dengan konsep catur warna (catur = 4, warna = golongan/status sosial/profesi) (wikipedia, 2011) yang menyebabkan interaksi masyarakat Bali yang satu dengan yang lainnya menjadi sangat unik. Catur warna ini adalah penggolongan masyarakat tergantung pada apa pekerjaan yang sedang ditekuninya. Catur warna terbagi atas 4 penggolongan, yaitu; Brahmana (pemuka agama), ksatria (pejabat/bangsawan/pemerintah/raja), weisya (pedagang) dan sudra (pelayan). Keempatnya tersebut sudah menjadi ciri khas kehidupan sosial di Bali. Juga bisa dikatakan hal tersebut sudah menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari sosial masyarakat di Bali. Untuk mengenali golongan status sosial mayarakat Bali tersebut, bisa dilihat dari berbagai aspek. Mulai dari cara berbicara, cara berbusana, tempat tinggal maupun bentuk asitektur bangunanya. Salah bangunan penujuk status sosial masyarakat di Bali adalah Gelebeg. Dalam penunjukan strata sosial masyarakat, Gelebeg menonjolkan jumlah tiang atau pilar yang menopangnya. Semakin banyak tiang yang menopang suatu Gelebeg, maka semakin tinggi status sosial pemilik Gelebeg tersebut, dan semakain luas lahan sawah yang dimiliki. Yang terendah adalah Gelebeg bertiang empat yang biasanya dimiliki oleh rakyat biasa. Sedangkan dengan tiang 6 sampai 12 dimiliki oleh pejabat/golongan bangsawan, bahkan ada juga Gelebeg yang sampai memiliki seratus tiang yang merupakan milik raja. Jadi dengan melihat Gelebeg seseorang, kita bisa menerka status sosial masyarakat seseorang di dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.
3. Kontribusi Gelebeg Terhadap Perekonomian Masyarakat Bali
Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Bali sangat menghandalkan hasil panennya sebagai pemenuhan kehidupan sehari-hari, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual dalam pemenuhan kebutuhan lainnya. Pada zaman sebelum revolusi hijau, masyarakat Bali masih menanam jenis padi Bali (padi del) yang memerlukan waktu yang lama untuk mencapai masa panen. Tentunya kondisi ini menyebabkan kelangkaan beras di masyarakat akibat lamanya untuk mencapai masa panen. Tetapi untuk mengatasi musim paceklik yang lama, masyarakat tentunya harus menyimpan hasil panennya untuk pemakaian jangka panjang.
Di Bali sendiri padi disimpan di dalam tempat penyimpanan khusus yang dinamakan Gelebeg. Gelebeg dibuat sebagai tempat penyimpanan hasil panen padi untuk pemakaian jangka panjang pada musim paceklik. Pada musim panen petani akan menempatkan hasil panenya di tempat itu, kemudian digunakan sebagai cadangan makanan untuk menanti masa panen selanjutnya. Dengan demikian permasalaha lamanya masa panen padi bisa diatasi. Otomatis perekonomian masyarakat pun bisa dikontrol dengan cara menggunakan cadangan bahan makanan yang telah ditimbun dan biaya rumah tanggapun bisa ditekan, sehingga kelaparan akibat lamanya masa panen tidak akan terjadi.
Namun setelah revolusi hijau, masyarakat tidak perlu lagi menunggu lama untuk memanen hasil tanamnya. Sekarang petani bisa melakukan panen setiap 3 bulan sekali. Sehingga petani tidak perlu lagi untuk memikirkan pemakaian hasil panen untuk jangka panjang. Fungsi Gelebeg pun megalami perubahan. Secara umum Gelebeg tetap berfungsi sebagai penyimpanan padi, tetapi tidak sebagai pemenyimpanan padi untuk jangka pajang seperti dulu. Melainkan untuk penyimpanan padi sementara sebelum dijual oleh petani. Meskipun tidak berperan sepenting dulu, Gelebeg tetap berhubungan dengan perekonomian petani Bali.
Ketiga kontribusi Gelebeg dalam aspek-aspek di atas (ekologi, sosial dan ekonomi) menujukan kesalingterhubungan satu sama lain. Ketiga aspek tersebut terdapat dalam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Bali. Sehingga hal ini menunjukan bahwa kearifan lokal (Gelebeg) mampu menjaga kelangsungan ekologi, kehidupan sosial masyarakat dan perekonomian masyarakat Bali.
Berikut adalah bagan kesalingterhubungan antara kearifan lokal (Gelebeg) dengan aspek ekologi, sosial dan ekonomi :
Kearifan berperan dalam upaya menjaga ketiga aspek dari hubungan tersebut. Dalam hubungan dengan ekologi kontribusi Gelebeg menitikberatkan pada terjaganya kelestarian bibit padi sebagai plasma nutfah. Kontribusi pada aspek sosial  Gelebeg memberikan ciri khas pada setiap jejangan sosial masyarakat. Disamping itu kontribusi terhadap ekonomi Gelebeg berperan dalam pengontrolan perekonomian masyarakat sehingga penekanan biaya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari bisa dilakukan. Itu semua dapat ditopang dengan kearifan lokal.