Sebuah Innova melesat mulus menyalip mobil saya di tikungan Gitgit dalam perjalanan ke Denpasar dari Singaraja. Sopir saya mendecak tanda geram, karena cara mendahului seperti itu melangar peraturan lalu lintas.

Sambil menggerutu ia bertanya: “Ratu, yen kekenten napi dados tangkep pulisi?” (Bapak, kalau begitu apa boleh ditangkap polisi?).

“Yen di Jawa, mingkine di Madiun, ditu pulisine galak-galak, lamun sube ngenjekin goete putih ene, jog semprite suba, kene tilang” (Kalau di Jawa, apalagi di daerah Madiun, di situ polisinya galak/ tegas, kalau sudah melanggar garis putih seperti ini, langsung kena sempritan, di tilang) jawab saya.

“Di Bali pulisine polos-polos, buine tusing ade ane mejaga di bengang-bengange kekene” (Di Bali polisinya jujur/ kalem, dan lagi tak ada yang jaga di tempat sepi seperti ini).

“Kewala Bhagawan sing kerambang baan tulisan di Innova-ne ento, ape ye artinne Bahasa Inggris-e adi tawah gati, tusing taen nepukin keketo” (Tetapi Bhagawan tidak mengerti pada tulisan di Innova, apa artinya Bahasa Inggris itu, kok aneh sekali, belum pernah menemukannya) saya bertanya pada I Kadek, sopir saya sambil menunjuk pada tulisan di kaca belakang Innova: “The canthy paid bankung”.

“Ooo nike, nenten tulisan bahasa Inggris, yakti atugel-atugel cara bahasa Inggris, sakewanten jatinne bahasa Bali-Beleleng” (Oh itu, bukan tulisan bahasa Inggris, benar sepotong-sepotong seperti bahasa Inggris, tetapi sebenarnya bahasa Bali – Buleleng). “Kenken nto Dek?” (Bagaimana itu Dek?) .

“Indayang wacen punika, sekadi bahasa Beleleng: de kanti paid bangkung” (Coba baca itu, seperti bahasa Buleleng: jangan sampai diseret bangkung = induk babi). “Beh, mare Bhagawan ngerti, dong adi duweg-duweg gati cerik-cerike jani ngeragrag keketo” (Wah, baru Bhagawan mengerti, kok pintar-pintarnya anak muda sekarang mengarang seperti itu).

Paid bangkung, memang kata-kata sindiran di kalangan perjaka Buleleng, setengah nasihat, kalau mencari calon istri, jangan sampai nanti dalam rumah tangga si istri yang “berkuasa” dalam artian mengendalikan suaminya semisal mengambil alih kendali rumah tangga, bahkan tak jarang terjadi karena si istri berasal dari keluarga kaya, sedang si suami dari keluarga miskin, maka si istri merasa dirinya super lalu memandang rendah suaminya.

Tetapi saya agak merinding kalau kaum wanita di-cap sebagai “bangkung” atau induknya babi. Itu kata-kata yang kasar dan kurang baik.

Namun begitulah istilah populer di masyarakat Buleleng, bagi wanita yang mempunyai sifat-sifat lobha, sok kuasa, galak, egois, sombong, dan lain-lain, sementara si suami pendiam, pemalu, penakut, tak bisa memimpin rumah tangga, atau bahasanya di Badung (Denpasar) disebut “koh ngomong” (enggan berbicara).

“Sujatinne kene Dek” (Sebenarnya begini Dek), saya mulai menasihati sopir saya yang masih bujangan ini: Slogan itu, walaupun agak kasar, tetapi benar juga, dan penting untuk diperhatikan agar rumah tangga perkawinan berjalan dengan harmonis.

Kedua pihak, baik istri maupun suami agar mengetahui apa kewajiban masing-masing dalam rumah tangga. Tradisi beragama Hindu di Bali menyatakan bahwa pihak wanita disebut sebagai pradana, sedangkan pihak lelaki disebut sebagai purusha.

Lebih jauh, sang pradana diibaratkan sebagai tangan kanan atau penengen/ dharma, sedangkan sang purusha diibaratkan sebagai tangan kiri atau pengiwa/ shakti.

Kombinasi antara dharma dan shakti mewujudkan kreativitas kehidupan yang aktif menuju kebahagiaan rumah tangga.

Contoh-contoh dharma bagi seorang wanita misalnya tugas kewajiban seorang istri: melayani suami, memelihara anak sejak bayi sampai dewasa, mengurus mertua, menyiapkan sesajen sehari-hari, menjaga hubungan sosial atau bermasyarakat, mengatur belanja sehari-hari, dan lain-lain.

Contoh-contoh shakti bagi seorang lelaki misalnya tugas kewajiban seorang suami yang secara singkat dapat dikatakan: menggunakan kemampuan otak/ pikiran dan tenaga fisik untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Sebenarnya istri mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupan rumah tangga. Di Bali, masyarakat sangat menghargai dan menghormati wanita, oleh karena itu sering disebut sebagai “Ibu”.

Ini sebagai wujud ketaatan pada ajaran yang dituangkan dalam Kitab Manawa Dharmasastra Tritiyo dhyayah (Buku ke-tiga) pasal 55:

PTRBHIR BHRATRBHIS, CAITAH PATIBHIR DEWARAISTATHA, PUJYA BHUSAYITA WYASCA, BAHU KALYANMIPSUBHIH

(Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suami dan iparnya, yang menghendaki kesejahteraan bagi dirinya).

Selanjutnya pasal 56:

YATRA NARYASTU PUJYANTE, RAMANTE TATRA DEWATAH, YATRAITASTU NA PUJYANTE SARWASTATRAPHALAH KRIYAH

(Di mana wanita dihormati, di sanalah para Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala).

Selama mendengarkan, sopir saya I Kadek manggut-manggut mengerti, namun tiba-tiba dia nyeletuk: “Yen wenten anak muani gemes teken kurnan ipune, sapunapi nike, wenten pisagan titiange ojog sesai ngelempagin kurnan dogen gaenne?” (Kalau ada suami yang ganas sama istrinya, bagaimana itu, ada tetangga saya kok setiap hari memukuli istri saja kerjanya).

Pertanyaan sopir yang polos ini perlu direnungkan, kenapa ada kasus seperti itu. Istri yang mestinya dihormati dan disayangi, kok malah dipukul atau diperlakukan kasar.

Tentu sumber masalah bisa datang dari salah satu atau kedua pihak. Kalau tidak karena si suami yang mempunyai perilaku yang memang buruk, bisa jadi karena si istri juga melalaikan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Meresapkan kalimat-kalimat di Manawa Dharmasastra seperti di atas, hendaknya disadari, bahwa jika sang istri ingin mendapat kehormatan dan kasih sayang, maka ia harus menunjukkan perilaku yang mulia, agar menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan lingkungannya.

Jangan malah sebaliknya berbuat sesuka hati karena didorong oleh keinginan-keinginan amoral.

“Nike sampun mawinan titiang keweh ngerereh kurnan, arang wenten luh-luh sane becik sekadi penikan I Ratu” (Itu sebabnya maka saya sulit mencari pasangan/ istri, karena jarang ada wanita yang baik seperti nasihat Bapak) sopir saya menjawab sambil menarik nafas panjang.

“Sing je keto Dek, jatinne liu ade luh-luh ane melah, kewale ban Kadek konden nepukin. (Tidak begitu Dek, sebenarnya banyak gadis yang baik, tetapi Kadek belum menemukannya).

Saya mengakhiri percakapan itu: “Kadek sing perlu takut teken unduke ento, yen Bhagawan cara pejalanne jani mare takut pesan” (Kadek tak perlu takut pada masalah itu, kalau Bhagawan seperti perjalanan sekarang ini, baru benar-benar merasa takut).

“Dados kenten Ratu?” (Kenapa begitu Bapak?), tanya I Kadek keheranan.

“Anak uling ipidan Bhagawan takut mejalan uli Beleleng ke Badung, kije kone ambahin, men yen liwat kauh, Bhagawan takut me-cekik, yen liwat kaje, takut me-gigit, yen liwat kangin takut me-culik, yen liwat Kintamani, ojog resem gati dingeh kernet motore: baangli, baangli, peh adenan suba ngoyong dogen di Geria”

(Dari dahulu Bhagawan takut dalam perjalanan dari Buleleng ke Denpasar, ke manakah jalannya, karena kalau lewat barat, Bhagawan takut di-Cekik, kalau lewat selatan takut di-Gitgit, kalau lewat timur takut di-Culik, kalau lewat Kintamani, kok rusuh sekali terdengar teriakan kernet-kernet angkot: Bangli, Bangli, wah lebih baik tinggal saja di rumah).

I Kadek mulanya tak mengerti dengan “joke” gaya Buleleng itu, tetapi beberapa saat kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal, “I Ratu wenten kemanten” (Bapak ada-ada saja). Hahaha …

Advertisements