“Bangun, bangun, suba tengai, dong adi leplep gati je pulesne I Gde, ibisanje sube orain, de megadang; Beli, dundun je panake tunden nguling, nyanan sube rauh Ida Bhagawan tonden masi lebeng gulinge, lek atine, oo!”

(Bangun, bangun, sudah siang, wah kok nyenyak sekali tidurnya I Gde, semalam sudah diingatkan, jangan melek; Kak, bangunin anakmu itu suruh membuat babi guling, nanti sudah datang Ida Bhagawan belum juga matang babi gulingnya, kan malu lho!).

Tanpa dibangunkan dua kali Gde Renes melompat dari bale, segera mengambil peralatan. Ia menyesal bangun kesiangan gara-gara meladeni tamu semalam, teman-teman karibnya, asyik mengobrol ke sana-kemari tak terasa sampai lewat jam satu.

Hari ini Gde Renes melaksanakan upacara tiga bulanan anaknya yang pertama. Upacara ini akan dipuput (dipimpin/ diselesaikan) oleh Ida Bhagawan Dwija jam sepuluh, dan sekarang sudah jam enam.

“Ngidaang je lebeng telung jam pa?” (Bisakah matang/ selesai dalam tiga jam pak?) Tanya Gde Renes kepada ayahnya, Pan Renes, sambil mengambil kucit dari bawah kolong gelebeg (lumbung padi).

“Ngidaang, nyen Bapa ngajain cai nguling apang luwung” (Bisa, nanti aku mengajari kamu membuat babi guling agar bagus/ enak), jawab Pan Renes seraya menghidupkan api dengan membakar kayu yang sudah disiapkan.

Gde Renes dibantu saudara-saudara misan (sepupu) – nya sibuk menyembelih dan membersihkan babi, memasukkan kayu pengulingan (batang kayu sepanjang tiga meter) mulai dari pantat babi terus sampai keluar ke moncongnya.

Isi perut dan jeroan babi sudah dikeluarkan, lalu diganti dengan bumbu-bumbu dengan aroma khas bumbu Bali yang disebut base-gede.

“Jangin batu bulitan tetelu, mare jait basangne!” (Diisi batu tiga buah, barulah jahit perutnya!). Perintah Pan Renes kepada kemenakan-kemenakannya. “Pang ken-ken pa” (Supaya kenapa, pak?) Tanya para remaja itu kepada pamannya.

“Apang enggal lebeng nganteg ketengah basangne, nyanan yen dadang, batune kebus, nto ane ngelebengang di tengah!” (Supaya cepat matang sampai ke dalam perut, nanti kalau babi gulingnya dibakar, batunya panas, itulah yang membuat bagian perut/ dalam babi menjadi matang).

“Beh duweg gati I Bapa, icang mare jani ningeh” (Wah pintar sekali Si Bapak, aku baru sekarang mendengar hal ini). “I maluan, yen dadi anak muani, tusing bisa megae cara kene, dije ye ade luh-luh nolih! (Zaman dahulu jika lelaki tidak bisa kerja seperti ini, mana ada gadis yang naksir!) .

Jawab Pan Renes spontan, sambil meneruskan kalimatnya: “Len cara jani, teruna-terunane, konden bisa megae ape, asal sube geroang-geroeng ngaba Honda, kerang-kering ngabe HP, jog suba bani ngerek-ngerekin luane” (Lain seperti sekarang, para pemuda, belum bisa kerja apa-apa, asal sudah mengendarai sepeda motor, bawa-bawa hand-phone, sudah berani menggoda gadisnya).

“Kene suba dadinne, nyen bantas nguling tre bisa, beh lek atine” (Beginilah jadinya, hanya membuat babi guling tidak bisa, wah malu dong). Nasihat dan sindiran Pan Renes membuat kemenakan-kemenakannya bengong merenung.

“Saja nto pa, icang jengah dadi anak Bali, sing bisa nguling, sing bisa ngelawar, ajahin icang pa” (Benar itu pak, aku malu jadi orang Bali, tidak bisa membuat babi guling, tidak bisa membuat lawar , tolong ajarin aku pak).

Cetusan kata-kata Made Gelgel yang jujur dan tulus membuat hati Pan Renes lunak. “Nah yen suba keto pengidian caine, lan bareng-bareng melajah, Bapa sayage lakar ngajain cai” (Nah kalau sudah begitu permintaanmu, mari sama-sama belajar, Bapak siap akan mengajari kamu).

Tak terasa dua setengah jam telah berlalu, dan babi gulingpun siap, matang dengan sempurna. Warna kulitnya menjadi coklat tua merata, dan kayu pengulingan terasa longgar ketika diputar, sebagai tanda bahwa bagian dalam/ perut babi juga sudah matang. Pan Renes telah mengajari anak dan kemenakannya bekerja dengan baik, mulai dari memilih babi sampai membuat lawar getih.

“Kucite de bes gede, alih ane dawanne telung langkat dogen, nto ane ade di bacakan bantene” (Babinya jangan yang terlalu besar, cari yang panjangnya hanya tiga lengkat/ jarak rentangan dari ujung ibu jari sampai ujung jari tengah, itulah yang disebutkan dalam petunjuk/ lontar tentang sesajen).

“Yen sube lebeng, mai abe, jang di banten pemapage!” (Kalau sudah matang, bawa kemari, taruh di sesajen pemapag, yaitu sesajen yang dihaturkan kepada Bhatara Guru).

Perintah Men Renes yang tegas, segera dituruti oleh anak dan kemenakannya. “Mo enggalang cai kayeh, mesalin, pendak Ida Bhagawan di jaba, aturang canang teken segehan!” (Ke sana, cepat kalian mandi dan berganti pakaian, jemput Ida Bhagawan di luar rumah, haturkan banten penyambutan!).

Men Renes yang memimpin persiapan upacara merasa waktunya sudah mendesak.

“Nyai, de bengong dogen, tingalin bantene, suba genep; nto reregeke suba mepayas, pitik colonge suba ade, lesung batune suba melingeb? (Kamu/ anak-anak gadis, jangan diam saja, lihat sesajennya apa sudah lengkap; itu simbol Nyama Bajang/ reregek sudah dihias, anak ayam/ colong sudah ada, lesung batunya sudah dibalik?).

“Adi melingeb me? (Kenapa dibalik bu?), tanya Luh Sundari, kemenakan Men Renes. “Yen panak muani, melingeb lesunge, nto sibul purusha, yen panak luh nungkayak, nto simbul pradana” (Kalau anak yang diupacarai lelaki, lesungnya telungkup sebagai symbol maskulin, sedang bila anak yang diupacarai perempuan, lesungnya tengadah, sebagai simbol feminin).

“Om Swastyastu” sambutan penyapa beramai-ramai dari para keluarga yang sudah memenuhi halaman rumah Pan Renes, dijawab dengan hangat oleh Ida Bhagawan: “Om Swastyastu, semeton, men kenken, pade seger mekejang?” (Selamat saudaraku, lalu bagaimana khabarnya, apakah sehat-sehat semua?) “Inggih titiang rahajeng Ratu nak lingsir” (Ia, kami sehat-sehat, Pendeta).

Upacara segera dimulai selama kurang lebih dua jam, dilanjutkan dengan persembahyangan dan diakhiri dengan dharma wacana dari Ida Bhagawan.

Ketika tiba saat dharmatula (bertanya-jawab soal Agama dan ritual) Pan Renes memulai dengan pertanyaan yang sudah lama tersimpan di pikirannya: “Nawegang titiang nak lingsir, napi punika suksman upacara me-bajang colong sekadi mangkin” (Maaf Pendeta, apakah makna upacara bajang-colong seperti sekarang ini).

“Nah ento petakon ane anti-antiang Bhagawan, yen sube bisa metakon nto artinne anak duweg, tur nyak nelektekang (Nah itulah pertanyaan yang Bhagawan tunggu, karena bila mau bertanya itu artinya orang pandai dan memperhatikan).

Ida Bhagawan kemudian menjawab panjang lebar, bahwa istilah bajang-colong berasal dari dua perkataan, yaitu: “bajang” dan “colong”.

Bajang adalah bagian dari istilah “Nyama-Bajang”, yaitu sebutan bagi 108 kekuatan-kekuatan Sanghyang Widhi yang “bertugas” memelihara bayi dalam kandungan, khusus untuk menguatkan kedudukan roh pada badan, sejak embrio sampai cukup umur bagi kelahiran.

Selain Nyama Bajang, ada kelompok kekuatan Sanghyang Widhi lainnya bernama “Kanda-Pat”, yaitu empat “saudara” si bayi: ari-ari/ plasenta, getih/ darah, lamas/ lendir, dan yeh-nyom/ air ketuban. Kanda-pat ini memelihara dan membesarkan tubuh bayi secara phisik.

Ketika bayi lahir dengan selamat, maka tugas Nyama Bajang sudah selesai, sedangkan tugas Kanda-Pat terus berlanjut secara tidak nyata, mengikuti perjalanan hidup manusia bahkan sampai meninggal dunia, dengan turut mengantarkan roh manusia ke nirwana.

Oleh karena itu di saat bayi berusia tiga bulan atau 105 hari. Diadakanlah upacara tiga bulananan sebagai ucapan terima kasih kepada dua kelompok kekuatan Sanghyang Widhi tadi.

Di beberapa daerah di Bali, ada yang melaksanakan upacara Bajang Colong di saat bayi berusia 42 hari, tetapi di Buleleng, umumnya upacara Bajang Colong dilakukan sekaligus di saat bayi berusia 105 hari.

Secara lebih khusus, Bajang Colong adalah nama dari salah satu Nyama Bajang yang 108 itu. Ada nama-nama lain misalnya: Bajang Dedari, Bajang Yeh, Bajang Bukal, Bajang Kamumu, Bajang Ehe, dan lain-lain.

Bajang Colong diperlakukan khusus dengan memberikan banten lelaban (upah) dengan maksud agar si anak yang diupacarai terbebas dari sifat-sifat atau naluri mencuri.

Colong atau Nyolong artinya mencuri. Salah satu sifat dasar manusia adalah naluri untuk mencuri. Tidak ada manusia yang sama sekali terbebas dari naluri “jahat” seperti ini, yang bersumber dari “Sad-Ripu” (enam musuh di dalam diri manusia) yakni: kama (nafsu), lobha (serakah), kroda (marah), mada (mabuk), moha (sombong), dan matsarya (cemburu, dengki, iri hati).

Dari kama, lobha, dan matsarya terbentuklah naluri mencuri. Sad-Ripu jika tidak dikendalikan dengan waspada dan bijaksana, akan menyuburkan sifat-sifat keraksasaan atau yang dikenal dengan istilah Asuri-Sampad. Sedangkan asuri-sampad dapat mencelakakan manusia dalam artian diri pribadi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya.

Yang perlu ditegakkan dalam kehidupan dharma adalah sifat-sifat kedewataan atau Daiwi-Sampad. Jadi upacara Bajang-Colong adalah upacara yang bertujuan pula untuk membina agar anak-anak kita jauh dari asuri-sampad.

“Beh yen kenten, Ratu Bhagawan, menawi Bapak-Bapake sane korupsi ten kaupacarain Bajang-Colong ritatkala alit, mawinan ipun lagas pisan ngemaling druwen rakyate” (Wah, kalau demikian, Pendeta, Bapak-Bapak yang korupsi barangkali tidak diupacarai Bajang-Colong ketika bayi, sebab mereka tanpa ragu-ragu mencuri milik rakyat) celetuk Pan Renes.