Bayangkan jalan raya yang lengang di siang hari. Sebuah truk seberat 30 ton melintas dan supirnya sedikit mengantuk karena jalur yang monoton. Tanpa disadari, seorang anak menyeberangi jalan. Pengemudi tidak sempat bereaksi, namun roda truk menghentikan putarannya dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari anak itu.

Walau skenario di atas terjadi di pusat pengujian truk AstaZero di Boras, Swedia, namun peristiwa serupa sangat  mungkin terjadi di setiap jalan raya. Jalanan yang monoton, ditambah rasa kantuk, sangat memungkinkan seorang pengemudi tidak menyadari apa yang ada di depannya. Oleh karenanya, untuk menghindari kecelakaan serupa, Volvo Trucks menciptakan sistem anti-tabrakan yang disebut “collision warning with emergency brake.”

Menggunakan radar dan kamera, sistem ini bisa mendeteksi banda-benda yang ada di depan truk. Bila sistem merasa truk akan menabrak sesuatu, ia akan memberitahu pengemudi lewat bunyi alarm dan lampu peringatan. Bila pengemudi tetap tidak bereaksi, maka truk akan mengerem perlahan, lalu mengerem penuh dan menghentikan lajunya beberapa sentimeter dari obyek yang ada di depannya.

Tidak seperti sistem keamanan pasif seperti saetbelt atau airbag yang baru berfungsi setelah terjadi tabrakan, sistem ini berusaha mencegah sebelum kecelakaan terjadi. “Kecelakaan seringkali terjadi karena pengemudi kurang waspada. Sembilan dari sepuluh kecelakaan terjadi karena faktor manusia ini , sehingga kita memerlukan sistem yang aktif yang memberi peringatan sebelum truk menabrak sesuatu,” kata Carl Johan Almqvist dalam bincang-bincang di kantor Volvo Trucks di Gothenburg.

Selain sistem anti-tabrakan, sistem aktif lain yang dikembangkan Volvo adalah Drive Alert Support, teknologi yang bisa mengenali perilaku pengemudi . Sistem ini akan bereaksi bila perilaku pengemudi berbeda dari kondisi normalnya, misalnya terlihat mengantuk atau kurang waspada. Jika menemukan perilaku berbeda, sistem akan memberi sinyal dan pesan agar pengemudi beristirahat.

Sistem lain juga dikembangkan Volvo  untuk menjaga truk tetap berada di jalurnya, yakni Lane Keeping Support dan Lane Changing Support. Sistem yang dilengkapi radar dan kamera ini akan memberi tahu pengemudi bila kendaraannya keluar dari jalur. Sistem-sistem aktif ini masih dalam pengembangan dan memerlukan beberapa uji coba lagi sebelum bisa diterapkan pada truk Volvo. Menurut Almqvist, teknologi ini baru akan diterapkan pada November 2015.

“Walau begitu, harus diingat bahwa teknologi ini bukanlah jawaban menyeluruh terhadap keamanan berkendara.  Keamanan lalu lintas bukan soal teknologi semata, namun juga soal manusianya,” kata Almqvist. “Yang bisa dilakukan teknologi adalah membantu pengemudi menghindari kecelakaan.”

Almqvist berharap, dengan berbagai macam sistem keamanan, truk-truk Volvo akan terhindar dari kecelakaan. “Tidak satu pun truk Volvo yang boleh terlibat dalam kecelakaan. Ini adalah tujuan utama kami. Orang boleh mentertawakan  dan menganggap ini hal yang mustahil, namun zero accident adalah satu-satunya target yang bisa diterima dan kami akan terus berusaha mencapainya,” ujarnya.