thumbnail

Festive period merupakan istilah bagi periode sibuk yang dihadapi klub Premier League. Dari sisi penonton, melewatkan liburan akhir tahun dengan tontonan berkelas jelas menyenangkan. Potensi pasar dari banyaknya penonton dimanfaatkan oleh media untuk meraih laba. Tetapi dari sisi pemain, hal tersebut mungkin bertentangan dengan hakikat mereka sebagai manusia.

Akhir tahun merupakan saatnya liburan, melepaskan kepenatan. Tetapi bagi para pesepakbola yang berkiprah di Premier League, akhir tahun merupakan masa-masa yang sangat sibuk. Para pemain harus menjalani laga dalam waktu yang sangat berdekatan. Laga di Boxing Day, kemudian rangkaian festive period, merupakan tuntutan profesional bagi mereka.

Boxing Day merupakan bagian dari Festive Period, yakni rangkaian jadwal padat yang harus dilakoni para kontestan Premier League di pengujung dan awal tahun, di mana tim dihadapkan pada jadwal pertandingan yang sangat ketat. Agenda tersebut makin padat bila ditambahkan dengan babak lanjutan Piala FA di pekan-pekan awal Januari. Padahal di musim dingin, potensi cedera pemain semakin besar. Pemulihan cedera pun juga akan semakin lama.

Apa respons pemain? Kondisi tersebut memang membuat pemain menjadi korban, meski mereka tidak pernah benar-benar kecewa. Tetapi untuk pemain yang berkiprah di kompetisi lain setelah sebelumnya bermain di Premier League, bisa lain ceritanya. Joey Barton –memperkuat Marseille tahun 2012-2013– misalnya, melalui tulisan berjudul “Should The Premier League Be Granted A Christmas Break” mengaku dirinya bersyukur dia sempat bisa kembali merayakan Natal –meski di bagian lain tulisannya dia juga mengaku “kangen” dengan suasana laga di Hari Natal:

For fans, the Christmas footie fixture list is as traditional as Christmas pud itself. Yet for those involved with the game it can leave you with mixed feelings; I’ve enviously watched my family indulge endless amounts of turkey and wine year after year, whilst I snub all these treats in preparation for a forthcoming game. Not this year, though. Thanks to the French league I get to properly enjoy Christmas this year, too.”

Kepentingan Media, Pemain Menjadi Komoditas

Apabila dari pemain mengaku tidak ada masalah dengan Boxing Day, pendapat beragam muncul dari para manajer. Juru taktik yang telah lama berkiprah di Premier League mengaku tidak masalah. Tetapi bagi pendatang baru, Louis Van Gaal misalnya, masih terlihat “bingung” ketika harus bekerja di hari Natal.

Manajer Manchester United itu kemudian memutuskan untuk meliburkan pemain menjelang laga Boxing Day. Sementara Gustavo Poyet –manajer Sunderland yang juga memiliki pengalaman sebagai pemain di Premier League– menawarkan sebuah solusi untuk festive period.

Seperti dikutip Guardian, Poyet menyarankan Premier League memadatkan jadwal pada bulan Agustus dengan memainkan pertandingan pada hari Sabtu dan Rabu. Dia beralasan, kondisi fisik pemain saat itu sedang bugar-bugarnya dan cuaca sedang hangat-hangatnya. Dengan memadatkan jadwal pada Agustus, para pemain pun bisa mendapatkan libur pada bulan Desember.

Penilaian yang beragam tersebut mengindikasikan sebenarnya memang ada “masalah” di balik ingar bingar Boxing Day –dan Festive Period— tersebut.

Apa yang membuat tim-tim Premier League harus melakoni jadwal sangat padat di akhir tahun? Marissa Payne dalam kolomnya di Washington Post menilai ada kepentingan media di balik padatnya jadwal di Boxing Day.

Payne menyatakan, penjualan hak siar televisi punya kontribusi besar terhadap pendapatan Premier League. Meskipun belum ada data spesifik tentang pendapatan khusus di Boxing Day, namun Payne mengasumsikan bahwa periode libur akhir tahun merupakan alasan yang sangat kuat untuk mempertahankan tradisi itu.

Joey Barton lewat tulisan “Should The Premier League Be Granted A Christmas Break” menyatakan pendapatan dari hak siar televisi selama periode Natal diberikan kepada klub. Dari uang tersebut klub dapat membeli pemain-pemain berkualitas untuk menyajikan hiburan bagi fans.

Menurut Garry Whannel, televisi telah menjadi pemain sentral dalam perkembangan olahraga. Televisi menjadi sumber pendapatan signifikan untuk olahraga. Lebih penting lagi, seperti dituliskan dalam Bola-bola Global: Hak Siar Sepak Bola dan Spasialiasi Media di Indonesia –yang ditulis oleh Lukas Deni Setiawan, Fajar Junaedi dkk.– televisi telah membuka jalan bagi olahraga untuk memperoleh keuntungan lebih melalui sponsor.

Seperti dikutip dari Telegraph, total perolehan seluruh kontestan Premier League musim 2013/14 dari hak siar televisi adalah 1,56 miliar poundsterling. Angka tersebut naik 60 persen dibanding musim sebelumnya, yakni 972 juta poundsterling.

Televisi telah menjadikan Premier League –dan olahraga-olahraga komersial lainnya– sebagai komoditas. Proses mengubah sebuah benda menjadi komoditas adalah komodifikasi. Menurut Vincent Mosco (seperti dituliskan oleh Rory O’Brien dalam paper The Political Economy of Communications and the Commerzialitzation of the Internet), komodifikasi adalah proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar dari produk yang semula nilai-nilainya ditentukan oleh kemampuan produk itu untuk memenuhi kebutuhan individu dan sosial, menjadi produk yang nilainya bisa diukur sesuai dengan standar pasar.

Perolehan keuntungan bergantung kepada beberapa faktor misalkan tenaga kerja, konsumen, dan modal bisa dikontrol. Komodifikasi tenaga kerja hadir melalui pertambahan jam kerja dengan bayaran yang sama, dan peningkatan produktivitas pekerja melalui pengukuran kinerja dan sistem pemantauan. Komodifikasi konsumen melalui monopoli pasar, penggunaan iklan, dan diversifikasi produk. Komodifikasi modal adalah melalui penggantian tenaga kerja dengan mesin dan perluasan (ekspansi) dari bentuk komoditas.

Dalam Festive Period, para pemain mengalami komodifikasi tenaga kerja. Jam kerja dan beban kerja mereka bertambah. Para pemain dipaksa untuk menampilkan yang terbaik tak hanya demi meraih kemenangan bagi tim, tetapi juga menghibur para penggemar yang telah membayar. Di era modern ini, penonton tidak lagi mereka yang membayar tiket dan hadir langsung menyaksikan di stadion, tetapi juga mereka yang telah membayar saluran televisi berlangganan untuk menyaksikan aksi para pemain pujaan.

Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Bio-Psiko-Sosial-Spiritual

Manusia sebagai makhluk holistik mengandung pengertian, manusia makhluk yang terdiri dari unsur biologis, psikologis, sosial dan spritual, atau sering disebut juga sebagai makhluk bio,psiko,sosial,spritual. Seperti dituliskan Kezia Larasati dalam Manusia dan Kebutuhan Dasarnya, keempat unsur itu tidak dapat terpisahkan, gangguan terhadap salah satu aspek merupakan ancaman terhadap aspek atau unsur yang lain.

Masing-masing unsur tersebut memiliki kebutuhan. Sebagai makhluk biologis, manusia butuh makan, minum, menghirup udara, kebutuhan untuk istirahat, menghindari rasa sakit, dan kebutuhan biologis lainnya. Setelah kebutuhan biologis terpenuhi, manusia memerlukan kebutuhan psikologis seperti rasa aman, harga diri, mendapatkan pengakuan, mengembangkan diri. Selanjutnya manusia manusia memerlukan kebutuhan sosial seperti sosialisasi dengan sesama, berorganisasi, berkumpul, memperoleh cinta dan kasih sayang. Sementara sebagai makhluk spiritual, manusia butuh memiliki pandangan, nilai-nilai yang dianut, serta motivasi.

Festive period telah mengganggu hakikat para pemain Premier League sebagai makhluk biologis. Para pemain dipaksa untuk menampilkan yang terbaik dalam kurun waktu yang begitu singkat. Hal tersebut pun sebenarnya melanggar aturan FIFA.

Gangguan pada salah satu unsur manusia akan membuat kehidupan menjadi kacau. Festive period telah membuat pemain kehilangan hak untuk beristirahat. Pada musim 2013/14, klub Premier League menghabiskan hampir 195 juta poundsterling untuk penyembuhan pemainnya yang tengah cedera.

Arsenal menjadi tim yang paling sering ditinggal pemainnya akibat cedera (1.716 hari), sementara Stoke City menjadi yang paling jarang (555 hari). Memang masih belum ada data spesifik tentang risiko cedera akibat jadwal yang kelewat padat di akhir tahun. Tetapi, kejadian cedera di musim 2013/14 itu tentunya tidak terjadi secara tiba-tiba.

Dalam sebuah tulisan berjudul “Should English football have a winter break? A physio’s view” di Summit Physio, cedera disebutkan sebagai gangguan terhadap fisik. Aspek psikologis pemain juga dapat menjadi kacau akibat minimnya waktu istirahat. Hal tersebut membuat pemain menjadi tidak disiplin. Para pemain harus tampil di banyak pertandingan, di sisi lain olahraga telah berkembang dan pemain di era modern dituntut untuk selalu tampil sempurna. Di waktu lalu Anda jarang mendengar ada pemain profesional yang merokok atau minum-miunm semalam sebelum pertandingan, dan saat ini hal tersebut menjadi hal yang sering terjadi.

Kebutuhan istirahat yang cukup tidak hanya melulu untuk memulihkan fisik, tetapi juga mental. Pemain timnas Jerman, Thomas Mueller, menilai bahwa para pemain Inggris sering tampil di bawah form di turnamen internasional, karena mereka tidak beristirahat selama musim dingin. Mueller berpendapat bahwa jeda antara akhir kompetisi liga-liga di Eropa dengan turnamen internasional di pertengahan tahun sebenarnya cukup untuk memulihkan fisik, tetapi masih kurang untuk memulihkan mental.

Penutup

Boxing Day –juga festive period— merupakan hari yang menyenangkan. Kegembiraan Boxing Day adalah milik penonton. Bagi para penonton, pesepakbola yang dibayar sangat tinggi tersebut harus mau bermain ketika mereka diminta.

Penonton adalah “penguasa” dalam sepakbola, karena mereka telah membayar. Seperti kata eks manajer Glasgow Celtic dan Skotlandia, Jock Stein: “Without fans who pay at the turnstile, football is nothing.”

Kesenangan itu berimbas pada media terutama televisi yang menyiarkan pertandingan-pertandingan tersebut. Kegembiraan penonton mereka manfaatkan sebagai sebuah mesin uang. Penonton, tidak hanya mereka yang hadir langsung membayar tiket masuk stadion –seperti kata Jock Stein, tetapi juga mereka yang berada di wilayah lain, di kawasan lain di muka bumi ini, yang rela merogoh koceknya untuk membayar saluran televisi berlangganan untuk menyaksikan Premier League.

Sementara para pemain –termasuk mereka yang menyandang status bintang—posisinya adalah pekerja. Mereka mengalami komodifikasi akibat kepentingan modal, kepentingan uang. Jam kerja mereka bertambah, kewajiban untuk tampil sempurna terus tetap ada, namun hal tersebut menjauhkan mereka dari hakikat mereka sebagai manusia. Apa pun itu, ini merupakan akibat logis dari perkembangan industri media dan industri olahraga.