thumbnail

Fernando Torres pulang ke Atletico Madrid. Datang dengan anggapan ‘sudah habis’ sebagai seorang penyerang, bisakah Torres kembali ke level terbaik di Vicente Calderon? Atau ada rencana lain dari Diego Simeone?

Torres resmi kembali ke Atletico setelah sempat hijrah ke Liverpool, Chelsea, dan AC Milan. Penyerang 30 tahun itu pulang ke kota kelahiran sekaligus tim masa kecilnya dengan status pinjaman sampai 2016 mendatang.

Tak sedikit yang mempertanyakan keputusan Atletico memulangkan Torres. Terlepas dari fakta bahwa sang pemain merupakan legenda hidup tim, secara performa mantan kapten Los Colchoneros itu dianggap sudah menurun jauh. Tengoklah statistiknya.

Torres dahulu dikenal sebagai seorang penyerang nomor sembilan sejati, punya penyelesaian akhir yang jitu. Tapi seiring waktu berjalan ketajamannya menurun drastis hingga dicap habis. Semasa awal karier profesionalnya di Atletico, Torres tercatat oleh Transfermarkt membukukan 59 gol dari 140 penampilan semua ajang. Secara rata-rata, peluangnya untuk mencetak gol per laga adalah 0,42.

Dianggap punya bakat istimewa, Liverpool memboyongnya ke Inggris di usia 23 tahun. Torres makin menunjukkan ketajamannya di tim ini. Total 81 gol dicetak dari 142 laga, atau dengan kata lain rata-rata 0,57 gol per laga. Setelah empat musim, Torres kemudian hengkang ke Chelsea.

Namun dana 50 juta poundsterling yang disebut-sebut haru digelontorkan Chelsea tak berbuah cukup manis. Performa Torres menurun jauh selama empat musim di London. Total ada 172 laga dilaluinya dan hanya mencetak 45 gol, hampir separuh dari catatan golnya selama di Liverpool. Rata-rata gol per laganya hanya 0,24.

Chelsea kemudian meminjamkan Torres ke AC Milan, yang butuh penyerang setelah ditinggalkan Mario Balotelli. Di Italia, performanya tak membaik. Baru tampil 10 kali sampai paruh musim, Torres cuma mencetak satu gol.

Penurunan ketajaman ini yang kemudian membuat keputusan Atletico dipertanyakan. Andai ingin meningkatkan produktivitas tim, Torres bukanlah sebuah pilihan bagus melainkan hanya sebuah perjudian yang amat besar. Seperti diketahui, Atletico memang tak cukup ganas di lini depan, baru menciptakan 31 gol dari 16 laga. Mereka tertinggal 10 gol dari Barcelona dan 24 gol dari Real Madrid yang jadi tim tertajam sejauh ini.

Tapi apakah Torres memang dimaksudkan untuk diandalkan sebagai pencetak gol? Faktanya Atletico masih punya sejumlah pemain lain yang lebih baik dalam urusan menjebol gawang lawan. Mario Mandzukic sudah mencetak enam gol dari 13 laga Liga Spanyol, Antoine Griezmann terbukti oke saat digeser jadi penyerang sentral dengan enam gol dari 16 pertandingan, sementara Raul Jimenez punya satu gol dari sembilan laga.


(sumber: Squawka)

Tak hanya itu, gelandang-gelandang Atletico juga terbukti bisa memecah kebuntuan. Raul Garcia sudah mengantongi tiga gol dari 14 laga, Tiago Mendes tiga gol dari 11 penampilan, Saul Niguez punya dua gol dari sembilan partai, Arda Turan mencetak dua gol dari 14 kali merumput, dan Koke serta Mario Suarez masing-masing satu gol dari 15 dan sembilan laga secara berurutan.

Statistik ini menunjukkan bahwa Atletico adalah sebuah tim yang sangat kolektif. Saat penyerang buntu, gelandang siap mencetak gol. Bahkan andai dua sektor tersebut mentok, bek mereka bisa diandalkan lewat bola mati. Diego Godin sudah membuat dua gol dari 16 pertandingan, sedangkan Joao Miranda bikin tiga gol dari 11 laga. Kehilangan Diego Costa yang jadi mesin gol musim lalu –mencetak 27 gol dari 35 pekan– ditutupi dengan penampilan kompak.

Simeone sendiri memang membangun Atletico bukan sebagai one man team. Meski musim lalu Costa terbukti diandalkan lewat gol-golnya, secara permainan Los Rojiblancos tampil sebagai satu kesatuan yang kukuh. Menyerang dilakukan bersama-sama dan bertahan bersama-sama pula dengan gaya main yang rigid, tak segan main kasar, dan menusuk dengan serangan-serangan cepat.

Secara filosofi, Atletico juga tidak bisa disebut tim menyerang atau suka berlama-lama dengan bola, karena kerap kali mereka tampil bertahan dan mengandalkan serangan balik. Statistik sejauh ini menunjukkan bahwa tim besutan Simeone cuma menempati urutan delapan dalam hal penguasaan bola (51,2%), demikian halnya soal percobaan per laga di mana hanya menempati posisi tujuh (11,9/pertandingan).

Oleh karena itu, tak terlalu jadi soal buat mereka kalah produktif dari Madrid dan Barca. Toh, sejak musim lalu mereka juga memang sudah kalah produktif dari keduanya (membuat 77 gol, sedang Barca 100 gol dan Madrid 104 gol) dan berhasil juara liga juga mencapai final Liga Champions.

Artinya, Torres tak bakal perlu terlalu khawatir soal tuntutan mencetak gol di Atletico, seperti selama ini dibebankan kepadanya di Chelsea dan Milan. Satu hal yang pasti, si pemain sudah mengenal filosofi bermain tim ini dan akan mendapatkan dukungan serta kepercayaan penuh dari rekan, pelatih, dan suporter. Dia cuma perlu bekerja keras dan menyatu secapatnya dengan tim.

Dari sisi Simeone, kedatangan Torres bisa jadi dimaksudkan untuk memberikan kecepatan yang dibutuhkan di depan. Sejauh ini hanya Griezmann yang bisa memberikan kecepatan di lini serang, sementara Garcia dan Mandzukic memberikan keunggulan di duel-duel udara. Fakta bahwa Griezmann yang sempat dicoba sebagai ujung tombak sukses memberikan opsi serangan, barangkali jadi sebuah alasan yang cukup bagi Simeone untuk coba mereplikasi hal tersebut. Griezmann bisa kembali ke posisi aslinya di sayap, sementara Torres di depan.


(sumber: WhoScored)

Meski sudah berusia 30 tahun, Torres diakui masih punya kecepatan dan kemampuan dribel yang baik. Squawka mencatat bahwa dia berhasil mencatatkan rata-rata satu kali take on sukses (melewati lawan) per laga, jauh lebih baik dari tiga penyerang Atletico saat ini yakni Mandzukic, Jimenez, dan Griezmann.

Simeone kemungkinan besar tak akan menuntut Torres untuk mencetak banyak gol, sembari memulihkan kepercayaan diri si pemain setelah dianggap habis oleh sebagian besar orang. Yang jelas, pelatih asal Argentina itu pasti punya rencana-rencana untuk Torres. Singkatnya, Torres tak perlu membuktikan apapun. Dia cuma perlu menikmati bermain di rumah sendiri, di tengah keluarga yang tahu benar kemampuannya.

Welcome home, Torres!

Advertisements