Konsep Panca Yadnya kalau dielaborasi — digarap secara tekun dan cermat — menggunakan metode empiris, bisa menjadi pengetahuan atau falsafah hidup yang mengajarkan hakikat keseimbangan. Harmonisasi dalam kehidupan ini akan terjadi jika manusia tidak saja memperhatikan dan mengutamakan diri sendiri tetapi juga yang berada di luar dirinya, yakni dewa, rsi, pitra, manusa, dan butha.

Perhatian dan pengutamaan itu dapat dilakukan dengan yadnya, yang diterjemahkan menjadi kurban suci. Namun kurban yang paling suci bukanlah mantram, melainkan filosofi nilai dan cita-cita yang terkandung di dalamnya. Bukan pula beraneka hewan persembahan, melainkan penghancuran sifat-sifat kebinatangan yang inheren pada diri setiap orang. Kurban suci yang terbaik adalah trikaya parisudha, sedangkan sesajen dengan segala renik-reniknya hanya sarana yang melekat padanya.

Akan tetapi dalam tradisi Bali, Panca Yadnya dimaknai bukan sebagai kurban suci melainkan persembahan sesaji melalui suatu upacara atas kelima unsur tersebut. Mereka berhenti sampai di situ, seolah-olah hanya dengan melangsungkan upacara persoalan kehidupan ini bisa dituntaskan begitu saja. Padahal upacara tanpa upakara tidak akan ada artinya, sama halnya dengan menghambur-hamburkan uang tanpa tujuan yang pasti.

Apacara dan upakara adalah saudara kandung, yang bagaikan dua sisi pada suatu mata uang, tak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya berasal dari bahasa Sansekerta. Upacara punya konotasi bukan hanya sebagai upacara, tetapi juga perhiasan atau tanda-tanda kebesaran kerajaan, dapat pula diartikan sebagai hadiah. Sedangkan upakara bermakna kedermawanan, bantuan, amal baik, perbuatan baik, dan sebagainya yang serba baik.

Dengan demikian upacara tanpa upakara akan menyebabkan segala sesuatu yang dipersembahkan kepada subsimtem Panca Yadnya itu tidak bermakna, menimbulkan upadrawa, kecelakaan dan penderitaan dan berakhir dengan upakrosa, penyesalan dan celaan. Contoh terbaik untuk menerangkan hal itu adalah konflik bahkan pertikaian yang terjadi pada saat piodalan baik di tingkat keluarga, banjar, desa adat, dan kahyangan jagat menunjukkan minimnya kesadaran umat Hindu melakukan upakriya, kewajiban berbuat baik, padahal inilah yang merupakan inti panca yadnya, sedangkan barang-barang persembahan hanyalah upakarana, perlengkapan belaka.

Berbuat baik kepada para dewa, Dewa Yadnya, tidak mesti harus diukur dari besar-kecil sarana upacara dan megah atau sederhananya pura, melainkan apakah yang bersangkutan mampu mengedepankan sikap para dewa, objektif, bebas dari kepentingan pribadi. Rsi Yadnya bukan pula hanya daksina, upah atau hadiah kepada para pendeta, tetapi penghargaan kepada dunia ilmu pengetahuan. Pitra Yadnya, bukan pula penghormatan kepada roh leluhur melalui upacara pengabenan, tetapi kesadaran akan pentingnya masa lampau untuk melangkah di masa kini. Manusa Yadnya, juga tidak semata-mata upacara siklus kehidupan — lahir-hidup-mati — tetapi juga upakara kemanusiaan, perikemanusiaan. Demikian dengan Bhuta Yadnya, bukan berarti hanya untuk bhuta kala melainkan mahluk hidup, segala yang berwujud dan berupa.

Bagaimana pun konsep panca yadnya hanyalah acuan yang wajib digunakan oleh umat untuk menjabarkan intisari ajaran Hindu yakni Panca Sradha, yang sudah tentu tak bisa diterapkan secara mutlak, mengingat di dalamnya ada relativitas sesuai dengan hukum rwabhineda: hitam putih, baik buruk, dan sebagainya. Agar kejahatan tidak mengalahkan kebaikkan, maka diperlukan tata tertib dan aturan, namun semua itu tak akan ada gunanya jika masih tetap mengutamakan upacara dengan mengabaikan upakara.

Ketidakseimbangan antara upacara dan upakara telah menjadi sebab dari berbagai akibat dan punya kecenderungan menghancurkan peradaban Bali. Selama ini upacara makiyis yang dilaksanakan setahun sekali terbukti tidak mampu membersihkan pikiran. Terbukti masih banyak orang oportunis mencuri kesempatan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara. Upacara tumpek bubuh tidak mampu menyelamatkan lingkungan. Upacara Pagerwesi, tak secara otomatis melindungi Bali dari para teroris.

Oleh karena itu, demi masa kini dan masa depan, konsep Panca Yadnya harus dielaborasi dengan terlebih dahulu melekatkan unsur upakara di dalamnya. Hal ini sangat penting, sebab Bali masa kini bukanlah Bali masa lampau yang homogen dan monoreligi. Bali sekarang sungguh kompleks. Begitu banyak permasalahan tumpang-tindih di dalamnya, yang bisa disebut sebagai dampak industrialisasi pariwisata dan modernisasi.

Di satu sisi dia telah melahirkan struktur masyarakat baru. Adanya sekelompok orang dengan tingkat keterampilan dan pendidikan yang lebih tinggi, yang dibarengi dengan munculnya peningkatkan kebutuhan dalam berbagai hal: kesadaran politik, harapan-harapan hidup, dan interaksi dengan dunia luar. Proses perubahan itu luput dari perhatian pemerintah, karena mereka lebih banyak disibukkan oleh kepentingan-kepentingan memerintah, bukan sebagai yang diperintah oleh asas-asas perikemanusiaan.

Keluputan itu tak boleh dibiarkan berkepanjangan, karena peningkatan laju industrialisasi dan modernisasi telah terbukti menimbulkan destabilisasi, yang dapat dilihat dari adanya disparitas pendapatan dan sosial di masyarakat. Mereka yang tersentuh langsung dengan industrialisasi cenderung lebih banyak menikmati hasil daripada yang tak langsung, sehingga terjadi ketimpangan sektor pertanian mensubsidi perindustrian dalam skala luas.

Terjadi ketidakseimbangan antara kota (pusat-pusat pariwisata) dengan daerah luar kota, daerah dengan daerah, antara sektor-sektor modern dan tradisional, sektor-sektor asing dan domestik. Hal itu sudah mengancam keseimbangan-keseimbangan sosial, yakni terjadinya urbanisasi dan mobilitas secara besar-besaran, sehingga isolasi tradisional yang sebelumnya begitu kuat mengingat Bali terlepas karena tak kuat menghadapi laju transportasi dan media massa. Dengan demikian, muncullah kelompok yang berada pada kedudukan yang lebih baik untuk memanfaatkan kemajuan industrialisasi dan yang berada pada kedudukan lebih buruk. Ketidakseimbangan ini padanya akhirnya akan mengakibatkan keterasingan dan sejumlah masalah sosial.

Hal seperti itu mungkin dapat dicegah paling tidak dikurangi eksesnya dengan melakukan yadnya yang telah dimodifikasi pengertiannya. Orang-orang yang kebetulan berada pada kedudukan yang lebih baik harus mampu dan bersedia membantu pemerintah dalam hal penjabaran Panca Yadnya: menciptakan ruang dan kesempatan sebanyak mungkin untuk melakukan yoga, semadi, dan meditasi; membantu dalam hal pendidikan dan penelitian dalam berbagai bidang sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Mensosialisasikan nilai, cita-cita dan simbol ekspresif masa lampau yang dianggap relevan untuk masa kini; menjaga memupuk sebaik mungkin sumber kehihupan manusia, terutama dengan terus-menerus meningkatkan sumber daya; dan menjaga serta melestarikan alam lingkungan hidup.

Pemerintah melalui kewenangannya tentu hanya menunggu bantuan tetapi wajib juga melaksanakan semua itu, pertama-tama dalam lingkungannnya sendiri, karena hanya dari pejabat yang punya kesadaran perikemanusiaan yang mampu memimpin negeri ini menjadi lebih baik. Hindu yang berdasarkan pengalaman terutama yang dari penemuan dan pengamatan terhadap realitas sosial.