Kain poleng sudah menjadi bagian dari kehidupan religius umat Hindu di Bali. Kain itu digunakan untuk keperluan sakral dan profan. Di pura, kain poleng digunakan untuk tedung (payung), umbul-umbul, untuk menghias palinggih, patung, dan kul-kul. Tidak hanya benda sakral, pohon di pura pun banyak dililit kain poleng.
Demikian pula dalam kesenian Bali, baik itu seni drama, dramatari, maupun pedalangan. Dalam drama gong, yang sering memakai kain pleng adalah penakawannya. Sedangkan dalam wayang kulit, tokoh yang memakai hiasan poleng, selain penakawan Tualen dan Merdah, juga tokoh penting seperti Hanoman, Bima.
Apa sebenarnya makna kain poleng itu? Apa pula perannya dalam kehidupan umat Hindu? Bagaimana pula nilai-nilai filosofisnya? I Ketut Rupawan mencoba mencari jawabannya dengan melakukan penelitian ilmiah. Hasil penelitiannnya itu ternyata mendapat “pengakuan” dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, sehingga peneliti yang sehari-harinya guru ini, berhak menyandang gelar Magister Agama Hindu (M.Ag). Tesis itu kemudian diedit sedemikian rupa menjadi sebuah buku dan kini beredar lebih luas dalam masyarakat.
Menurut penelitian Rupawan, bentuk saput poleng ternyata beranekaragam. Misalnya dari segi warna, ukurannya, hiasannya, hiasan tepinya, bahan kainnya, dan ukuran kotak-kotaknya. Berdasarkan warnanya, ada kain poleng yang disebut rwabhineda (hitam dan putih), sudhamala (putih, abu-abu, hitam), dan tridatu (putih, hitam, merah).
Sejak kapan kain poleng ini muncul dan digunakan umat Hindu dalam kehidupan religius? Rupawan sendiri tidak mendapatkan sumber tertulis. Namun berdasarkan hasil wawancaranya dengan berbagai informan, kain poleng sudah digunakan sejak dahulu (tidak disebutkan secara pasti). Diperkirakan, kain poleng yang pertama ada dan digunakan umat Hindu adalah kain poleng rwabhineda. Setelah itu barulah muncul kain poleng sudhamala dan tri datu. Berdasarkan perkiraan, perkembangan warna ini juga mencerminkan tingkat pemikiran manusia, yakni dari tingkat sederhana menuju perkembangan yang lebih sempurna.
Makna filosofis saput poleng rwabhineda, menurut Rupawan adalah mewujudkan rwabhienda itu sendiri. Menurut faham Hindu, rwabhineda itu adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, utara-selatan, panjang-pendek, tinggi-rendah, dan sebagainya.
Jika dikaitkan dengan Dewa Tri Murti, menurut Rupawan, warna merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, warna hitam lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan warna putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Dewa Tri Murti ini terkait dengan kehidupan lahir, hidup dan mati.