Stereotip pria dewasa yang tangguh dan kuat secara fisik tak selamanya menguntungkan. Kadang sikap tangguh dan kuat ini tak mampu mengelola stress, depresi dan kesehatan mental dengan baik.

Carlos Santos, seorang profesor dari Arizona State University pernah melakukan penelitian soal perkembangan dan kesehatan emosi anak lelaki. Ketika anak lelaki tumbuh menjadi remaja dan dewasa, sebagian besar dari mereka ingin memiliki kualitas stereotip lelaki seperti memiliki ketangguhan emosi dan fisik, dibandingkan punya kualitas feminin seperti keterbukaan dan kemampuan mengomunikasikan emosi. Ternyata hal ini punya korelasi langsung dengan stres dan depresi serta perburukan kesehatan mental.

Penelitian itu juga menemukan anak lelaki yang tetap dekat dengan ibunya, tidak bertindak tangguh dan lebih terbuka ternyata secara emosi lebih sehat. Kedekatan dengan ayah ternyata tidak berdampak sama dibandingkan dekat dengan ibu. Mungkin hal ini disebabkan oleh pencitraan dari ayah soal stereotip cara pria berelasi.

Niobe Way, penulis buku Deep Secret: Boys, Friendship and the Crisis of Connection menemukan hal yang sama ketika mewawancarai ratusan pria di masa remaja. Ia menemukan bahwa di masa anak-anak dan remaja, lelaki memiliki hubungan dekat dengan anak lelaki lain. Namun ketika dia dewasa, mereka merasa harus jadi “lelaki sejati” dengan menjadi seorang pria yang tangguh dan independen serta tidak dekat dengan teman sebaya.

Way melihat hal ini sebagai hal yang bukan kebetulan. Ketika pria mencapai usia di mana ia merasa terdapat tekanan besar menjadi tabah dan mandiri, tingkat bunuh diri di kalangan lelaki di AS meningkat empat kali lipat dibandingkan wanita.

Ada kemungkinan tekanan menjadi pria yang hipermaskulin ada hubungannya dengan bullying yang terjadi di antara pria. Tingkat bullying di antara pria itu bisa berkurang jika cinta, koneksi, intimasi dan kasih sayang dibiarkan tumbuh dalam relasi antara pria seperti ketika mereka masih kecil.

“Kita sudah telanjur memandang sifat-sifat fundamental manusia seperti empati, ketrampilan emosi dan keinginan memiliki hubungan intim itu hanya milik perempuan atau kaum gay,” kata Way.

Padahal sifat-sifat itu bukan hanya ketrampilan perempuan atau pun kaum gay, melainkan sifat dan pengalaman yang diperlukan pria dari segala usia.

Semakin sering lelaki dibiarkan merasakan empati, menggunakan ketrampilan emosi dan mengekspresikan keinginan untuk hubungan dekat, mereka akan semakin sehat dan bahagia luar dalam.