Selebrasi Marco Tardelli, yang kemudian direplikasi dengan nyaris sempurna oleh Fabio Grosso di tahun 2006 adalah salah satu momen ikonik Piala Dunia 1982. Setelah menjebol gawang Toni Schumacher lewat tendangan kaki kiri menyilang dari luar kotak penalti, Tardelli berlari-lari bak kesurupan seraya berteriak-teriak. Bangku cadangan Italia pun menyambut dengan kegembiraan dan rasa lega yang tak terperi. Polisi Spanyol yang mengawal laga tersebut pun sampai turun tangan untuk menenangkan para pemain dan ofisial Italia.

Gol itu memang spesial. Ia adalah pelepas beban Italia di partai puncak setelah sebelumnya mereka selalu khawatir Jerman akan menyamakan kedudukan. Ketika itu, posisi Italia sudah unggul 1-0 lewat sundulan Paolo Rossi. Gol tambahan dari Tardelli di menit ke-69 ini membuat mental anak-anak Italia semakin kokoh dan sebaliknya, para pemain Jerman makin frustrasi karena terus-terusan gagal menembus pertahanan Italia. Selain perkara psikis itu, proses gol Tardelli itu juga terjadi dengan spesial dan sangat khas Italia: lewat serangan balik dan diinisiasi oleh sang libero, Gaetano Scirea.

Scirea yang memang diberi kebebasan (dan tentu saja kemampuan) untuk menginisiasi serangan dari belakang membawa bola sampai sebelum garis tengah. Di sebelah kanannnya ada Alessandro Altobelli, dan di kirinya ada Paolo Rossi. Scirea kemudian menyodorkan bola kepada Altobelli yang setelah itu memilih untuk menggiring bola ke tengah. Ketika menghadapi hadangan salah satu pemain bertahan Jerman, Altobelli melakukan Cruyff turn dan bola kemudian diambil alih oleh Bruno Conti yang datang membantu dari belakang.

Conti yang memberikan assist untuk Rossi di gol pertama kemudian membawa bola mendekati kotak penalti dan memberikannya kepada Scirea yang sudah berjaga-jaga di sisi kiri pertahanan Jerman. Setelah menerima bola dari Conti, Scirea melihat Giuseppe Bergomi datang membantu dan masuk kotak penalti. Scirea menyodorkan bola kepada Bergomi dan Bergomi langsung mengembalikannya kepada Scirea yang menunjukkan tanda-tanda akan bergerak ke bagian tengah kotak penalti.

Scirea kembali menguasai bola dan tak menggubris permintaan Bergomi yang meminta bola kembali. Scirea terus mendekat ke tengah dan menyaksikan Marco Tardelli berlari ke depan kotak penalti. Melihat posisi Tardelli yang memiliki ruang tembak lebih banyak, Scirea menyodorkan bola kepada Tardelli. Dengan satu sentuhan, Tardelli sedikit mengangkat bola dan kemudian menghujamkannya dengan telak ke sisi kiri gawang Schumacher.

Tardelli (kiri) (AFP Photos)

Dan sisanya adalah sejarah. Selebrasi Tardelli, Italia juara dunia, dan Gaetano Scirea menahbiskan dirinya menjadi salah satu pesepakbola terhebat sepanjang masa.

Scirea sudah memenangi segalanya, kecuali Kejuaraan Eropa. Di level klub, ia meraih semuanya bersama Juventus. Mulai dari gelar juara liga, trofi Piala Eropa (sekarang Liga Champions), sampai Piala Interkontinental. Ia adalah jaminan mutu di lini belakang dan juga bisa diandalkan untuk menginisiasi serangan. Triumvirat Gaetano Scirea, Claudio Gentile, dan Antonio Cabrini adalah simbol dari seni bertahan yang indah dan kokoh. Jika Gentile terkenal dengan permainan tanpa komprominya dan Cabrini dikenal dengan kecepatan dan kaki kirinya yang spesial, maka Scirea dikenal sebagai sosok defender yang cerdas dan elegan. Trio ini kemudian disama-samakan dengan trio Umberto Caligaris, Gianpiero Combi, dan Virginio Rosetta di era 1930-an.

Scirea adalah keturunan Sisilia yang lahir di Italia Utara. Ia bukan pemain didikan asli Juventus. Lahir di dekat Milan, 25 Mei 1953, ia memulai karir sepak bolanya bersama Atalanta yang memang dikenal memiliki akademi pemain muda jempolan. Selama dua tahun ia membela Atalanta, penampilan apiknya membuat Juventus kepincut. Jadilah pada 1974, Scirea didatangkan oleh Juventus. Ketika itu, Juventus sedang berada di bawah arahan Carlo Parola.

Scirea disiapkan untuk menjadi suksesor kapten Juventus sebelumnya, Sandro Salvadore yang pensiun di tahun yang sama. Scirea bisa dibilang merupakan salah satu pionir di tim Juventus yang merajalela di akhir 1970-an sampai dengan pertengahan 1980-an. Di musim pertamanya, Scirea langsung mampu membawa Juventus merengkuh scudetto. Dua tahun kemudian, Giovanni Trapattoni mengambilalih kursi manajerial Juventus dan selama satu dasawarsa, menjadi salah satu tim terbaik sepanjang masa.

Selama berkarir sebagai pemain di Juventus, ia mempersembahkan tujuh scudetti, dua Piala Italia, satu Piala UEFA (yang kala itu masih sangat bergensi karena hanya boleh diikuti oleh peringkat kedua liga), satu Piala Winners, satu Piala Champions, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Interkontinental. Empat belas gelar dalam 14 tahun tentunya merupakan catatan yang spesial bagi pemain mana pun. Belum lagi gelar Piala Dunia 1982 yang menjadi puncak pengukuhan nama Gaetano Scirea di buku sejarah sepak bola dunia.

Scirea memang tidak diberkahi fisik yang tinggi besar. Tingginya hanya 178 cm dan terhitung pendek untuk ukuran bek tengah Eropa. Akan tetapi, kekurangan fisik tersebut ia tutup dengan kemampuan teknik dan kecerdasan taktik yang nyaris tanpa tanding. Ketika kita membicarakan nama sweeper/libero terbaik sepanjang masa, selain Franz Beckenbauer, Franco Baresi, Daniel Passarela, dan Mathias Sammer, nama Gaetano Scirea sudah pasti ada bersama nama-nama tersebut.

Getty Images

Bagi penggemar sepak bola kekinian, posisi dan peran sweeper memang terdengar asing. Tak heran, karena posisi dan peran ini sudah ‘dinyatakan punah’ sejak akhir 1990-an. Sweeper terakhir yang benar-benar saya ingat adalah Lothar Matthaeus di tim nasional Jerman dan FC Bayern. Setelah itu, posisi dan peran ini seperti mengilang begitu saja mengikuti tren sepak bola modern yang lebih mengakomodasi pola empat pemain bertahan.

Akan tetapi, di era sebelumnya, posisi dan peran sebagai sweeper/libero adalah posisi dan peran yang prestisius. Hanya pemain-pemain bertahan dengan kemampuan spesial saja yang mampu bermain sebagai sweeper/libero. Sebelum berlanjut, saya akan sedikit menjelaskan mengenai perbedaan antara posisi dan peran, serta sweeper dan libero.

Posisi adalah tempat di mana seorang pemain bermain di lapangan hijau. Seorang sweeper akan bermain di belakang pemain bertahan lainnya sebagai orang terakhir sebelum penjaga gawang. Sementara itu, peran adalah tugas yang dijalankan seorang pemain. Pemain yang berposisi seperti ini, biasanya memiliki peran ganda baik sebagai sweeper maupun libero. Peran sweeper biasanya diasosiasikan sebagai peran bertahan, sementara libero lebih diasosiasikan dengan peran menyerang.

Ketika tim berada dalam situasi bertahan, sweeper akan berada di belakang para pemain bertahan lain untuk berjaga-jaga seandainya bola dan/atau pemain lolos dari hadangan. Kemudian, dalam situasi menyerang, pemain yang sama akan beralih fungsi menjadi libero dan berkontribusi dalam serangan. Ia bisa menjadi inisiator serangan dengan membawa bola ke depan dan mendistribusikannya atau ia bisa juga bergerak tanpa bola ke depan untuk menambah jumlah pemain yang melakukan serangan.

Gaetano Scirea adalah salah satu dari sedikit pemain spesial yang bisa memainkan peran sweeper maupun libero nyaris tanpa cela. Ketika bertahan, ia mampu menjadi tembok elegan yang entah bagaimana hampir selalu berhasil mencuri bola tanpa perlu bermain kotor seperti Claudio Gentile. Ia seperti beberapa langkah lebih maju dari lawan-lawannya dan nyaris selalu mampu menebak pergerakan lawan dan narasi pertandingan. Kecerdasan bersepakbolanya serta ketenangan bermainnya memang di atas rata-rata. Sebagai seorang sweeper yang biasanya menjadi pemimpin lini belakang, ini merupakan syarat mutlak.

Lalu ketika menyerang, seperti dalam deskripsi gol Marco Tardelli di atas, ia juga mampu menunjukkan teknik tinggi dalam mengolah bola, memberi umpan, dan mencari posisi di area pertahanan lawan. Tingginya kualitas football brain Scirea membuatnya mampu untuk menginisiasi serangan sebaik regista di zaman sekarang. Malah, Scirea mampu melakukannya dengan lebih bertenaga dan dengan tempo yang sedikit lebih cepat.

Selain kemampuan bersepakbola yang nyaris tak tertandingi tersebut, Scirea juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang memimpin tak hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan tindakan. Selama 16 tahun karir profesionalnya, tak sekalipun ia pernah menerima kartu merah. Ia juga dikenal sebagai sosok yang hanya bicara seperlunya saja, akan tetapi, ketika ia sudah bicara, semua pasti akan mendengarkan dan mematuhi apa yang ia minta.

Pada final Piala Champions tahun 1985 di Stadion Heysel, Brussels, di mana 39 suporter Juventus meninggal dunia karena terinjak-injak dan tembok runtuh, Scirea mengambilalih mikrofon stadion dan meminta semua suporter Juventus, khususnya para ultra, untuk tenang dan tidak melakukan aksi balasan. Ia tak hanya sosok kapten di dalam, melainkan juga di luar sepak bola. Di Tragedi Heysel tersebut, ia menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang bagus dalam menghadapi krisis. Bayangkan saja, puluhan ribu orang mampu ia tenangkan dari balik mikrofon. Hanya mendengar suara Scirea aja, suporter Juventus bisa tenang dan pada akhirnya laga bisa diselesaikan hingga menit akhir.

Getty Images/David Cannon

Kehebatan sosok Scirea sebagai pemimpin dan pesepakbola membuat namanya abadi di kalangan suporter Juventus. Curva pendukung Juventus di Stadion Communale (sekarang Stadion Olimpico Turin) diberi nama Curva Scirea. Bahkan sekarang, semua pendukung Juventus di berbagai belahan dunia memiliki Curva Scirea mereka masing-masing, termasuk di Indonesia. Scirea memang sosok larger than life. Ia adalah sosok agung di dunia persepakbolaan dan barangkali takkan ada lagi sosok macam Scirea di lapangan hijau.

Selepas menggantung sepatu di musim 1988-89, Scirea tetap mengabdi untuk Juventus. Di musim tersebut, ia memulai babak baru di Juventus sebagai scout. Sebagai sosok dengan kecerdasan taktikal tinggi, ia ditugaskan untuk mengintai calon-calon lawan Juventus. Tugas ini pula yang akhirnya merenggut nyawanya. Dalam perjalanan mengintai Górnik Zabrze untuk pertandingan putaran pertama leg pertama Piala UEFA musim 1989-90, Scirea mengalami kecelakaan mobil yang akhirnya merenggut nyawanya.

3 September 1989, sembilan hari jelang kemenangan 1-0 Juventus atas Górnik Zabrze di Zabrze, Scirea menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang baru menginjak 36 tahun.

Kepergian mendadak Scirea ini ditangisi tak hanya oleh para penggemar Juventus, melainkan semua pelaku sepak bola yang selama ini mengagumi dirinya. Baik kawan maupun lawan di lapangan, semua merasa terpukul oleh kehilangan Sang Bandiera. Meskipun bermain di klub paling dibenci di Italia, sulit rasanya bagi siapa pun untuk membenci Scirea. Ia adalah gentleman sepak bola sejati yang nyaris tiada banding.

Hari ini, lebih dari setengah abad sudah Scirea berpulang. Meski begitu, memori akan dirinya takkan pernah hilang. Ia memang pergi terlalu cepat, tetapi ia sudah memberikan segalanya untuk dunia sepak bola. Semua contoh sudah ia berikan baik di dalam maupun di luar lapangan. Kerinduan dunia sepak bola akan sosok seperti Gaetano Scirea memang takkan pernah terobati, tetapi setidaknya, dunia sepak bola sudah pernah mendapat kehormatan dengan menyaksikan Scirea berlaga.

Advertisements