Dia adalah seorang pesepak bola, rockstar lapangan hijau, family man, legenda, dan “Tuhan”. Begitu besar dirinya hingga sulit untuk menghadirkan satu judul yang pas untuk mendeskripsikan siapa dirinya. Dan tak berlebihan jika kita menganggapnya sebagai salah satu maestro terbesar sepak bola dunia. Jika Pele tidak memiliki kepribadian yang lebih baik daripada Maradona, mungkin dirinya juga akan mengakui bahwa Maradona lah yang terbaik sepanjang masa.

Pesepak bola kelahiran Lanus, Buenos Aires, Argentina pada 30 Oktober 1960 ini tumbuh dari keluarga yang miskin. Wajar jika kemudian, masa kecilnya dihabiskan dalam kondisi yang memprihatinkan di Villa Fiorito. Masa-masa kecil yang sulit inilah yang sepertinya membentuknya menjadi pribadi yang keras dan terkesan sulit diatur. Bagaimanapun dia tetaplah pesepak bola yang teramat fenomenal. Kalau orang Jawa bilang, bocah nakal kuwi gowo pintere, anak nakal itu membawa akal kepintarannya. Dan ini memang terbukti pada Maradona.

El Diego, sudah menunjukkan bakat besarnya di sepak bola ketika ditemukan oleh pemandu bakat dari klub Argentinos Juniors. Saat itu usianya baru 10 tahun, masih sangat belia. Ketika berusia 12 tahun, dirinya sudah menjadi maskot Argentinos Juniors bernama Los Cebollitas (Bawang Kecil). Dia bukan menjadi badut yang kerap menari, melainkan dia bertugas untuk menghibur penonton dengan keterampilan sepak bolanya setiap jeda pertandingan Liga Argentina.

Awal Karir
Setelah menimba ilmu di akademi Argentinos Juniors, Maradona akhirnya dipromosikan ke tim utama pada tahun 1976. Debut profesionalnya saat dirinya masih berusia 16 tahun menghadapi Hongaria.  Karirnya terus melesat dan menjadi salah satu pemain penting bagi Argentinos.

Dua tahun kemudian, saat berusia 18 tahun, Maradona masuk skuat tim nasional Argentina U-20 yang berlaga di Piala Dunia Junior FIFA 1979 untuk pemain berusia di bawah 20 tahun. Maradona kemudian mampu menghantarkan Argentina menjadi juara di Jepang setelah mengalahkan Uni Soviet di Final. Perlu Anda ketahui, Argentina saat itu sempat bertemu Indonesia dan menang dengan skor 5-0 di mana Maradona mencetak dua gol di antaranya. Indonesia saat itu dilatih oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro.

Setelah kejuaraan itu, Maradona semakin moncer. Dia bermain dalam 167 pertandingan dan mencetak 115 gol dalam rentang waktu 1976-1981. Kegemilangannya ini sempat membuat Sheiffield United untuk membelinya. Sheiffield menawarkan harga 600 ribu poundsterling tetapi ditolah oleh Argentinos. Maradona akhirnya hijrah ke Boca Juniors setelah ditransfer dengan fee 1 juta poundsterling.

Di Boca Juniors karirnya tidak lama. Maradona “hanya” bermain di 40 pertandingan dan mencetak 28 gol. Tetapi penampilannya di klub besar Argentina ini amat fenomenal sehingga membuatnya dikenang sebagai salah satu legenda Boca Juniors. Pada tahun 1982, untuk pertama kalinya merasakan gelar juara Liga Argentina. Setelah ini, Maradona mulai berkelana ke Eropa.

Petualangan di Eropa
Dengan nilai transfer 5 juta poundsterling, Maradona hijrah ke Camp Nou. Di Barcelona ini, Maradona bertemu dengan salah satu pelatih paling tersohor Argentina, Cesare Luis Menotti, pelatih yang membawa Argentina untuk meraih gelar Piala Dunia pertamanya di tahun 1978.

Di Barcelona, Maradona langsung tampil bagus. Maradona mampu membantu Barcelona memenangi Copa del Rey dengan mengalahkan Real Madrid di final dan Piala Super Spanyol setelah mengalahkan Athletic Bilbao. Tranfernya yang mahal itu pun dirasa sepadan dengan kontribusi yang diberikan Maradona kepada klub.

Namun sayang, sebelum berkembang seutuhnya, Maradona mengalami masa-masa sulit dalam karirnya. Dia divonis mengidap hepatitis, kemudian mengalami cedera parah di engkel kakinya setelah ditekel kasar oleh Andoni Goikoextxea. Hal ini hampir saja menghancurkan karirnya sebagai pesepak bola profesional. Maradona dikabarkan juga bersitegang dengan presiden klub, Josep Lluis Nunez. Maradona pun mulai tidak betah dengan Spanyol.

Setelah melalui 36 pertandingan dan menyumbangkan 22 gol, akhirnya pada musim panas 1984, klub dan Maradona menyepakati kepindahannya ke SSC Napoli. Transfernya ketika itu menjadi rekor transfer pemain dunia, yakni 6,8 juta poundsterling atau setara dengan 10,48 juta dollar. Napoli tidak kecewa dengan uang besar yang telah digelontorkan. Transfer ini pun baik untuk Maradona, yang akhirnya memperoleh tempat ideal untuk mengembangkan karirnya dan benar saja, di Napoli inilah bisa dibilang sebagai puncak karir Maradona.

Maradona bermain bagus sepanjang karirnya di Napoli. Membawa klub ini meraih juara Serie A untuk pertama kalinya pada musim 1986/1987. Prestasi ini kemudian diulanginya pada 1989/1990. Hingga kini, sepeninggal Maradona, Napoli belum pernah sekali pun kembali menjadi yang terbaik di Italia. Selain scudetto, Maradona berhasil menjuarai Piala UEFA 1988/1989 setelah mengalahkan VfB Stuttgart, dan Piala Super Italia 1990. Pada musim 1987/1988, Maradona menjadi top skor sekaligus memperoleh penghargaan Guerin d’Oro sebagai pemain dengan rating terbaik menurut Guerin Sportivo, majalah olahraga Italia.

Dengan prestasi yang gemilang tersebut. Kostum nomor punggung 10 pun di kemudian hari dipensiunkan oleh Napoli, sebagai bentuk penghargaan kepada sang dewa warga Napoli ini. sayang, selain kisah manis, Napoli juga menjadi tempat di mana Maradona mulai akrab dengan kokain dan terlibat skandal dengan beberapa wanita. Karena kokain inilah Maradona sempat didenda 70 ribu dollar oleh klub lantaran tidak datang ke latihan dan pertandingan dengan alasan stres. Performa Maradona pun mulai menurun. Maradona pun akhirnya pergi dari Napoli setelah menuntaskan 188 pertandingan dan mencetak 81 gol.

Sevilla menjadi pelabuhan baru baginya. Tetapi, dia hanya bermain di musim 1992/1993 saja dengan bermain di 26 pertandingan dan mencetak lima gol. Bosan dengan kehidupan di Eropa, Maradona pun kembali ke kampung halamannya, Argentina dan bergabung dengan Newell’s Old Boys, klub dimana dia hanya bermain dalam lima pertandingan di musim 1993/1994.

Pemenang Piala Dunia
Tidak hanya gemilang ketika membela klubnya, Maradona bermain fantastis ketika membela Argentina di Piala Dunia. Piala Dunia pertamanya adalah di Spanyol 1982. Sayang ketika itu Argentina tidak menjadi jaura. Namun, Maradona bisa memperoleh pengalaman luar biasa ketika mencetak dua gol saat Argentina menang 4-1 atas Hongaria.

 

Advertisements