Anda bisa mengecek, hampir di semua liga-liga di Eropa, ada saja pemain-pemain dari Skandinavia. Sebagian dari mereka populer, sebagian lain cukup populer, sebagian lain tentu saja tidak populer.

Pernahkah anda bertanya mengapa begitu banyak pemain negara-negara Skandinavia (secara kasar Denmark, Swedia, Norwegia, Islandia, dan Finlandia) bertebaran di liga Eropa, dan sepertinya bisa begitu mudah menyesuaikan diri dengan sistem permainan maupun kehidupan di negara-negara tuan rumah

Pertanyaan lanjutannya adalah, pernahkah juga anda bertanya kenapa bintang-bintang asal negara-negara ini tidak pernah terdengar berperilaku layaknya primadona?

Dimulai dari tahun 1950-an oleh Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm, trio Swedia yang terkenal dengan sebutan “Grenoli” ketika bermain di AC Milan. Setelah mereka kita pun kemudian mendapat kesempatan untuk mengenal begitu banyak bakat bagus.

Untuk menyebut beberapa di antaranya dari zaman yang belum lama berlalu: Soren Lerby, Preben Elkjaer, Jari Litmanen, Morten Olssen, Michael dan Brian Laudrup, Jan Molby, Tomas Brolin, Ole Gunnar Solksjaer, Tore Andre Flo, Henrik Larsson, Thomas Helveg, Dennis Rommedahl, Sami Hyypia, Fredrik Ljungberg, Jon Dahl Tomasson, dan Peter Schmeichel.

Beberapa yang tersebut bisa jadi bintang dan meraih sukses besar di klub-klub Eropa tetapi tidak pernah mereka menjadi sumber gejolak. Paling jauhnya mereka artikulatif, tetapi jauh dari sikap egois dan primadona.

Ya, pemain sepakbola Skandinavia memang terkenal khas: santun, rendah hati, tekun, dan pekerja keras serta tidak punya kompleks inferior maupun superior. Mengalir. Ada yang menyebut mereka dingin. Saya lebih senang menyebut mereka tenang tanpa gejolak. (Zlatan Ibrahimovic adalah kasus anomali dan anda tentu mengerti bahwa ia keturunan imigran dari Balkan yang karenanya berperangai berbeda.)

Sampai sekarang pun DNA perangai yang demikian, ataupun cetak biru mentalitas kolektif yang semacam itu, masih saja terjaga. Pemain-pemain asal Skandinavia masih saja sama. Kalau anda penggemar sepakbola Inggris, yang menjadi negara paling banyak menerima pemain asal Skandinavia, anda akan bisa mengamatinya dengan mudah.

Tetapi kalau diperhatikan bukan hanya di sepakbola mentalitas serupa itu muncul. Di cabang olahraga individual yang semestinya wajar kalau ada sedikit cuatan keangkuhan ego (keakuan), banyak contoh yang justru menampilkan sebaliknya. Nama-nama tenar seperti Bjorn Borg, Stefan Edberg, Mats Wilander pernah suatu ketika menjadi raja lapangan tenis. Atau Ari Vatanen sang penakluk (reli) Paris-Dakkar, dan juga Kimi Raikkonen di arena Formula 1. Kesemuanya, terutama Borg dan Raikkonen, adalah gunung es keseharian. Tak hendak cair oleh situasi apapun.

Kalau anda penggemar bulutangkis maka anda akan teringatkan bintang segala bintang untuk Eropa, Morten Frost Hansen yang berasal dari Denmark. Saking bersahajanya di samping lengkap dengan atribut mentalitas khas Skandinavianya, ia mendapat julukan kehormatan “Mr. Gentleman” dari rekan seprofesinya di seluruh dunia. Sebuah pengakuan yang tidak main-main.

 

 

Bahkan di dunia pesohor yang terkenal dengan kasus-kasus tonjolan ego yang melebihi kadar dan kelayakan akal sehat, guratan mentalitas khas Skandinavia itu sangat kuat untuk mereka yang berasal dari kawasan ini. Kita ingat ABBA, AHA, Roxette sebagai band-band terbesar yang muncul dari kawasan ini. Mereka ini di masa jayanya jarang sekali menunai atau menimbulkan kontroversi. Semuanya mendapat julukan yang hampir sama, “reluctant stars”, bintang –bintang yang enggan.

Julukan bintang yang enggan juga dikenakan untuk salah satu maha bintang pemeran film Holywood, Greta Garbo. Aktris asal Swedia dikenal sangat tidak suka publisitas dan memilih hidup menyendiri setelah mundur dari dunia akting di usia yang terhitung muda hingga ajalnya.

Jadi dari mana asal mental dan perangai kebersahajaan kolektif khas Skandinavia ini?

Saya berasumsi awalnya pastilah kearifan lokal untuk menghadapi kehidupan khas kawasan itu yang secara pelan dan turun temurun diwariskan dan kemudian terumuskan menjadi nilai. Tetapi saya baru mengerti perumusannya ketika seorang teman baik asal Swedia merekomendasi sebuah novel psikologi, A Fugitive Crosses His Tracks karangan seorang penulis campuran Denmark-Norwegia, Aksel Sandemose terbitan tahun 1936.

Novel itu disebut awal perumusan mental kolektif bangsa Skandinavia yang kemudian dikenal dengan sebutan Janteloven atau Hukum Jante. Sandemose dianggap dengan sangat tepat melukiskan nilai kehidupan (psyche) yang sudah bernyawa di masyarakat Skandinavia selama berabad-abad tetapi belum memiliki nama.

Novelnya sendiri sebuah jalinan cerita nan rumit-rumit, dengan si tokoh utama melakukan pembunuhan terhadap orang yang ia kagumi sekaligus benci, karena yang bersangkutan mencintai perempuan yang sama. 17 tahun setelah pembunuhan, sang tokoh yang didera rasa bersalah yang tak kunjung padam mencoba mencari ketenangan jiwa dengan mencari pembenaran kenap pembunuhan harus terjadi.

Ia kemudian menelusuri pengalaman psikologis di masa kecilnya di sebuah kota (imajiner) bernama Jante di Denmark, untuk menemukan jawabannya. Dalam perjalanan kenangan itu ia menemukan akar eksistensi kemanusiaannya (eksistensi kemanusiaan manusia Skandinavia).

Intinya, semua kenangan masa kecilnya selalu membenturkan dirinya dengan prinsip egaliterianisme yang ekstrim untuk menjaga harmoni: jangan pernah berpikir kita ini spesial atau lebih baik dari yang lain; jangan pernah berpikir kita lebih pintar dari orang lain, lebih penting dari orang lain; jangan menggurui orang lain, mentertawakan orang lain. Kota Jante menggariskan bahwa eksistensi keakuan itu tidak ada, sementara harmoni sosial dan konformitas adalah segalanya.

Menyadari bahwa ia dibesarkan oleh prinsip-prinsip kehidupan seperti itu, sang tokoh utama kemudian membuat kesimpulan allegoris (kiasan). Sederhananya ia kemudian memaknai pembunuhan terjadi karena suratan nasib, sebuah simbol akan keharusan sikap egalitarian (dirinya) untuk menghapus sebuah keegoisan (orang yang dibunuh).

Ia juga memaknai bahwa pembunuhan itu secara tidak langsung adalah kehendak masyarakat yang dengan “semena-mena” mensosialisasikan nilai-nilai tertentu kepada dirinya. Sang tokoh berkesimpulan, ia tak lebih sebuah keanoniman dalam sebuah kolektivitas. Seperti juga semua orang adalah produk dari masyarakat yang ada di sekitarnya.

 

Setelah membaca novel itu, saya bukan hanya kemudian lebih memahami mengapa ada sikap kebersahajaan kolektif yang kuat dari penduduk Skandinavia, tetapi jadi lebih mengerti mengapa semua negara Skandinavia di zaman modern ini menganut sistem welfare state (negara kesejahteraan), dan paling sukses menerapkannya di dunia. Itu karena ketika welfare state mensyaratkan prinsip sama rasa sama rata, hal itu telah menjadi insting hidup bagi kawasan ini.

Ketika saya berterima kasih kepada teman asal Swedia yang telah merekomendasikan novel itu, ia hanya mengatakan, “it’s a good book (buku bagus)” tanpa kemudian mengelaborasikan, menanyakan pendapat saya atau (apalagi) menceramahi saya tentang kultur Skandinavia.

Justru ketika kemudian saya bercerita dengan rasa kekaguman dan keirian setelah membaca buku itu, ia membalas tanpa mengesankan ironi. “Mungkin benar demikianlah kami orang Skandinavia ini. Tetapi juga membuat kami terpenjara bahwa seolah-olah kami harus bersikap seperti yang terumuskan dalam buku itu.”

Saya sulit memaknai pernyataan teman saya itu, apakah sebuah kebersahajaan sikap, keluhan atau sekadar memaparkan fakta akan perasaan orang Skandinavia pada umumnya. Karena jawaban serupa juga saya dapatkan dari rekan-rekan saya lainnya yang berasal dari kawasan itu setiap kali mencoba membahas tentang Janteloven ini.

Saya jadi teringat sebuah program dokumenter sebuah televisi di Inggris yang dibuat oleh seorang juru masak (chef) yang melakukan perjalanan kuliner ke Skandinavia. Setelah mengunjungi negara-negara Skandinavia, mencoba masakannya, menyelami kehidupan sosial politiknya, memahami kebudayaannya, dan tentu saja membahas tentang Janteloven, sang juru masak itu menyampaikan kesimpulannya. Salah satunya: “Skandinavians are famous for not being famous (Orang Skandinavia terkenal dengan keengganannya untuk menjadi terkenal).” Sebuah pernyataan yang mewakili kekayaan spektrum kebersahajaan.

Tak heran kalau Allan Simonsen, satu-satunya pemain Skandinavia yang pernah menyabet penghargaan pesepakbola terbaik Eropa (1977), yang pernah berjaya raya di Bundesliga, memenangi Piala Eropa bersama Borussia Moenchengladbach serta Piala Winners bersama Barcelona, tak banyak diingat bahkan oleh pendukung kedua klub itu, apalagi oleh penggemar bola lainnya. Ia enggan dikenang dan dikenal seperti warga Skandinavia pada umumnya.

Advertisements