thumbnail

Tim nasional Inggris hanya untuk orang (bangsa) Inggris, kata Jack Wilshere, pemain Arsenal dan tim nasional Inggris, belum lama lalu. Ia jengkel dengan spekulasi seputar kemungkinan Adnan Januzaj, pemain Manchester United kelahiran Belgia berorangtua Albania tetapi sudah lebih empat tahun bermukim di Inggris, memilih Inggris sebagai negara untuk ia adopsi.

Sekilas pernyataan yang wajar. Toh siapa yang bisa mewakili Inggris kalau bukan orang Inggris sendiri.

Tetapi, A True Born Englishman’s a contradiction! In speech, an irony! In fact, a fiction! (Seorang Inggris tulen adalah sebuah kontradiksi! Sebagai pernyataan, sebuah ironi! Sebagai fakta, sebuah khayal!) Itu pernyataan penulis novel Robinson Crusoe yang terkenal itu, Daniel Defoe dalam puisinya The True Born Englishman tahun 1701.

Mengapa demikian? Karena para pakar sejarah hampir semua bersepakat bangsa Inggris adalah hasil dari sebuah melting pot (bejana pelumeran) dari sekian bangsa yang berebut sepetak tanah yang sekarang bernama Inggris ini. Nenek moyang bangsa Inggris datang dari berbagai wilayah Eropa. Hampir tidak ada yang namanya penduduk asli.

Ketika orang Romawi menduduki Inggris hampir 2000 tahun yang lalu dan berkuasa selama 400 tahun, hanya ada segelintir manusia yang mapan di pesisir selatan Inggris. Orang Romawi yang membangun kota-kota dan pemukiman mapan di Inggris. Sebutan Mancunian untuk orang-orang Manchester adalah tinggalan mereka yang saya yakin paling diingat oleh penggemar bola saat ini.

Gelombang berikutnya adalah mereka yang datang dari perbatasan Jerman dan Denmark (Anglo-Saxon). Pembagian wilayah di Inggris Selatan sekarang ini dan penamaannya adalah tinggalan jaman itu. East Saxon menjadi Essex, Middle Saxon menjadi Middlesex, South Saxon menjadi Sussex dan seterusnya.

Pada saat yang bersamaan di utara dari sisi pantai timur masuk orang-orang Viking dari Skandinavia. Kalau ada kota atau desa dengan berakhiran -thorpe atau -by, maka itulah tinggalan mereka.

Infiltrasi dari mereka orang-orang Gaelic dari utara dan barat juga terus terjadi sepanjang waktu.

Ini kita belum bicara tentang banyaknya orang Prancis yang masuk ke Inggris ketika negeri ini menjadi bagian dari kerajaan Prancis atau pelarian Huguenot dari jaman pergolakan Protestan melawan Katolik.

Di zaman modern, bejana pelumeran itu terus terjadi. Berbeda dengan jaman dulu sekarang yang masuk lebih banyak dari Asia, Afrika dan bekas negara jajahan dengan alasan yang beraneka rupa. Juga belakangan dari Eropa Timur. Sedemikian derasnya, kita kemudian tahu Birmingham yang merupakan kota kedua terbesar di Inggris mayoritas penduduknya adalah keturunan anak benua Asia.

Jadi, kembali ke pernyataan Jack Wilshere, siapa yang dimaksud orang Inggris? Ras, bangsa, atau warga negara? Bagaimana mendudukkan John Barnes atau Danny Welbeck sebagai misal. Inggriskah mereka? Atau yang sesama kulit putih, Owen Hargreaves sebagai misal lain. Inggriskah dia? Atau mungkin pertanyaan seharusnya adalah mengapa yang disebut belakangan ini tidak menjadi masalah sementara Adnan Januzaj menimbulkan pertanyaan? Di mana letak perbedaannya?

Sebenarnya dalam sejarah, penyerapan atau asimilasi pemain sepakbola jamak terjadi sejak lama. Dan negara-negara Eropa, termasuk Inggris, adalah yang paling getol melakukannya.

Eusebio adalah pemain paling hebat Portugal sepanjang masa. Tetapi semua orang tahu ia berasal dari Mozambik dan baru datang ke Portugal setelah melewati masa remajanya.

Begitupun Alfredo di Stefano yang malang melintang di Real Madrid dan Spanyol. Ia orang Argentina keturunan Italia. Ia bahkan sudah membela Argentina dan kemudian Kolombia sebelum bermain untuk Spanyol.

Ferenc Puskas datang sebagai striker Hungaria dengan reputasi hebat dan kemudian membelot ke Spanyol, bahu membahu dengan di Stefano membela Spanyol.

Tim Prancis yang mempersembahkan Piala Dunia dan Piala Eropa penuh dengan orang keturunan generasi pertama ataupun imigran yang lahir di luar Prancis. Bahkan salah satunya, David Trezeguet, konon tidak begitu fasih berbahasa Prancis. Mereka ini kalau saja tidak membela Prancis, berhak membela negara-negara asal mereka.

Tim Belanda mulai era 1980an begitu juga. Jerman yang biasanya menurunkan pemain “murni” Jerman, kini tidak bisa lagi mengatakan demikian.

Di Asia, Jepang adalah salah satu pelopornya. Negara ini banyak menyerap pesepakbola asal Brasil dan dalam sejarahnya memiliki sedikitnya lima pemain nasional yang berasal dari Brasil.

Asimilasi itu bisa didapat karena berbagai faktor. Ada yang karena keterkaitan sejarah seperti bekas negara jajahan, perkawinan campur, garis keturunan, hak menetap karena sudah memenuhi syarat waktu untuk menjadi warga negara dan banyak lainnya.

Benar bahwa berbagai faktor ini administratif sifatnya. Alasan yang lebih mendasar untuk asimilasi sebenarnya hanyalah satu, yang bersangkutan dianggap bisa memberi kontribusi untuk mengangkat gengsi persepakbolaan negara di tingkat internasional.

Tetapi alasan administratif itu sangat penting untuk mengabsahkan bahwa yang bersangkutan telah menjadi bagian dari “kita” dan bukan “mereka” Selama kaidah nilai ke-“kita”-an itu belum terpuaskan akan sangat susah menerima pemain sebagus apapun menjadi bagian “psyche” satu kelompok.

Kalau di tingkat klub persoalan ini mudah terpecahkan. Kontrak yang ditandatangani pemain yang bersangkutan terukur lewat imbalan finansial.

Di tingkat negara ikatan kontraknya berbeda. Harus ada rasa bersama memperjuangkan sebuah tatanan ide, nilai, mungkin (kebangsaan) nasionalisme, seabstrak apapun itu. Jadi ketika pemain turun ke lapangan mewakili sebuah negara ia bukan semata-mata hanya bermain bola demi uang.

Kalau pemain tidak bisa berdamai dengan tatanan nilai yang ia wakili maka akan sulit mengharapkan yang terbaik darinya. Begitupun kelompok yang diwakili oleh pemain yang bersangkutan akan sangat sulit menerima pemain itu.

Itulah pentingnya dipenuhinya persyaratan administratif tersebut. Karenanyalah prosesnya disebut asimilasi: sebuah tindakan untuk menerima, merangkul, penyatuan, dan internalisasi nilai.

Namun demikian negara atau kelompok yang menyerap pemain tadi tidak boleh berperilaku egois. Harus ada kelenturan, kesadaran, untuk membiarkan para pemain serapan itu menjalankan kehidupan yang sudah mereka miliki sebelumnya. Melakukan kontrak politik untuk menjadi bagian dari sekumpulan nilai baru bukan berarti harus membuang segala nilai yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Bagaimanapun para pemain itu mempunyai sejarah, kehidupan dan tatanan yang sudah mereka jalani sebelumnya. Adalah mustahil untuk meminta mereka memutus segalanya dan bertotalitas layaknya warga “asli”.

Berkaca pada negara-negara Eropa yang melakukan penyerapan pemain, itulah yang mereka lakukan.

Pemerintah Prancis ataupun warga negara Prancis tidak pernah mencak-mencak hanya karena Zinedine Zidane mengatakan kecintaannya pada Aljazair dan berpaspor ganda misalnya. Atau orang Belanda tidak merasa terhina ketika kapten tim mereka, Giovani Van Bronckhorst, dengan bangga mengatakan orang tuanya berasal dari Indonesia. Bahkan ketika Ferenc Puskas memutuskan untuk pulang ke Hongaria, tidak ada orang Spanyol ataupun pemerintah Spanyol mengutuknya sebagai pengkhianat.

Di dunia dengan batas semakin lebur, pergerakan manusia semakin lintas bahasa dan budaya, dan manusia semakin menjadi warga dunia memang dibutuhkan kelenturan dan keterbukaan hati. Sepakbola banyak mengajarkan itu.