Pembawaannya terlalu bersahaja untuk kami perhatikan. Ketika melewati ruangan terbuka tempat kami semua bekerja, ia seperti agak canggung, menganggukkan kepala ke kami semua dengan senyum yang bersahabat. Tidak ada kesan kharismatik, istimewa atau semacamnya.

Kami juga kebetulan sedang sangat sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing ketika ia datang di markas Manchester City. Kalau biasanya kami agak berisik dengan kedatangan pemain baru –biasanya mereka yang sedang dalam proses dibeli atau hendak menandatangani kontrak– kami agak abai dengan kedatangan bapak tua itu. Toh tak mungkin juga ia seorang pemain.

Kecanggungannya menunjukkan ia mungkin pegawai baru – dan sesungguhnya memang demikian. Datang ke kantor dan segera masuk ke ruangan Direktur Sepakbola (Director of Football) Txiki Begiristain yang terletak di pojok sebelah ruangan terbuka tempat kami bekerja. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka tampak sangat akrab.

Hanya saja saya merasa terganggu dengan wajah bapak tua itu. Merasa pernah berulang kali melihatnya tetapi tak yakin, entah di mana. Tiba-tiba saya ingat, “Kapan Manuel Pellegrini mau ke kantor?” tanya saya ke rekan kerja di meja sebelah untuk meyakinkan diri saya sendiri.

“Siang ini,” jawab rekan kerja saya sambil lalu.

Kami berdua dan kemudian diikuti rekan-rekan yang lain saling berpandangan dan tersadarkan oleh jawaban teman tadi, yang baru lewat dan masuk ke ruangan Begiristain tak lain dan tak bukan adalah Manuel Pellegrini, manajer baru City.

“Pantas wajahnya sepertinya sangat akrab,” kata saya.

Tak lama kemudian ia keluar bersama dengan Begiristrain dan diperkenalkan kepada satu per satu semua pegawai City yang ada di kantor. Terlebih dulu ke petinggi-petinggi di ruangan masing-masing, baru kemudian dengan staf-staf yang lain. Tetapi entah mengapa justru di tempat staf “biasa” ia kemudian berdiam agak lama. Mungkin karena kami yang paling banyak bertanya dan di tempat terbuka ia merasa lebih nyaman.

Ia menyalami kami semua satu per satu dan sedikit berbasa-basi bercakap – dalam bahasa Inggris yang sangat baik. Kesan saya orangnya sangat bersahaja, memilih kata dengan sangat hati-hati, dan sangat santun. Ada kesan sosoknya lebih cocok menjadi seorang ilmuwan ketimbang manajer sepakbola.

“Doakan saya beruntung. Saya dan tim perlu bekerja keras di Liga Primer,” ujarnya pelan ketika ditanya tentang kesannya ditunjuk menjadi manajer tim ini dan peluang untuk memenangi Premiership.

Saya tidak cukup beruntung untuk bisa bertemu seperti di pertemuan pertama. Beberapa kali saya mengikuti konferensi persnya baik menjelang atau sesudah pertandingan. Atau melihatnya melatih tim utama ketika hendak bertanding. Atau dihari pertandingan. Tetapi tentu saja tidak ada interaksi.

Sekali saja saya sempat berinteraksi kembali, ketika ada pertemuan semua pegawai kantor Man City di Stadion Etihad. Ia sedang berbincang-bincang serius dengan Patrick Vieira ketika melihat saya dan sempat tersenyum lalu bersalaman. Obrolan yang tak panjang, sekadar bertukar sapa. Tapi itu cukup menyenangkan hati saya, karena dia memang orang sangat penting di tempat saya bekerja ini.

Selebihnya saya hanya bisa mendengar cerita dari beberapa kolega di kantor yang punya akses langsung ke dirinya dan hampir selalu mengikuti ke manapun tim bermain. Juga dari wawancara dengan para pemain Man City.

Semua pemain menyebut bahwa Pellegrini menebar aura ketenangan dan kegembiraan kedalam skuad Man City. Pellegrini mampu menciptakan harmoni sekaligus kompetisi yang sehat untuk para pemain berebut posisi. Hubungan antara manajer dan pemain juga sangat bagus bahkan ketika mereka harus melewati masa-masa sulit di kompetisi, saat kemenangan sepertinya sulit mereka raih.

Pellegrini tidak punya kesulitan dan kompleks kejiwaan untuk berbicara satu per satu dengan para pemain, memuji tanpa membuat pemain lain merasa terpinggirkan dan mengritik tanpa yang bersangkutan terpojok seperti harus menanggung beban sendirian. Bagi para pemain ini sangat berbeda dengan manajer sebelumnya, Roberto Mancini yang dikenal flamboyan, dinilai arogan, dikenal sinis dengan pemain bintang, dan konon suka merendahkan pemain yang dalam penilainnya tidak cukup berbakat.

Dalam sebuah wawancara dengan kami internal media Man City usai untuk pertama kalinya berlatih di bawah Pellegrini, Yaya Toure mewakili rekan-rekannya memuji setinggi langit pelatih asal Chile itu.

“Ia luar biasa. Sangat cerdas. Penjelasannya sangat jelas akan gaya permainan yang ia inginkan, sangat rinci akan apa yang harus kami lakukan sebagai pemain, dan semuanya masuk akal buat kami para pemain,” ujar Toure dengan berbinar-binar. “Ia akan membuat tim ini mesin yang luar biasa.”

Kesan itu memang tidak meleset jauh. Sang Insinyur – julukan yang menempel pada dirinya, salah satunya karena latar belakangnya sebagai Insinyur Sipil – terkenal sebagai manajer yang konon gemar membangun tim layaknya mesin, pemain disikapi layaknya onderdil (suku cadang) –bisa dipasang dan dicopot—tanpa mempengaruhi irama permainan yang ia rancang. Ia percaya keterampilan individu sangat penting, tetapi lebih penting lagi ketrampilan itu sekadar pelumas (mesin) permainan.

Tetapi saya juga terkesan dan menambahi makna julukan Sang Insinyur secara berbeda. Saya ingat, walau tentu saja tidak terlibat, bagaimana Begiristain dibantu orang kantor sibuk mencoba mendatangkan Fernandinho, Alvaro Negredo, Jesus Navas dan Stevan Jovetic.

Rupanya Pellegrini meminta/mensyaratkan/mengharuskan/mengajukan kedatangan empat pemain itu sebagai prasyarat kedatangannya. Martin Demichelis, yang di awal sempat dicemooh tetapi belakangan menjadi pemain kunci, ia beli sesudah resmi menjadi manajer Man City.

Jadi jauh sebelum ia resmi datang, Pellegrini sudah melakukan perekayasaan, mempunyai bayangan persis akan pola permainan, struktur tim dan sudah melakukan pemanduan. Ia sudah tahu dan berhitung dengan pemain yang ada di City, kekuatan maupun kelemahannya serta apa yang perlu ditambahi untuk memainkan pola yang ia inginkan.

Pellegrini harus diakui kaku dalam pilihan gaya permainan. Ia hanya tahu permainan menyerang, “Saya hanya tertarik dengan gaya permainan yang ditampilkan tim saya. Dan itu menyerang dan mencetak gol sebanyak mungkin. Apa yang dilakukan tim lawan terserah mereka.”

Ciri khas kesebelasan asuhan Pellegrini memang adalah mencetak gol yang banyak. Tak peduli apakah ia sedang memegang klub kecil atau besar. Gaya yang telah membawa sukses di Amerika Latin, walau gagal di Spanyol (kalau ukurannya meraih piala – ia nirgelar bersama Villarreal, Real Madrid maupun Malaga).

Di Inggris bersama Man City inilah mungkin keberuntungannya mulai berubah. Di musim pertamanya, gaya permainan menyerang yang begitu ia puja membawa City menjadi juara Piala Liga dan Liga Primer.

Sayang saya tak lagi bekerja di Man City untuk ikut merayakannya. Tetapi setidaknya saya ikut bergembira untuk orang tua yang di hari pertamanya masuk ke kantor akan selalu saya ingat. Orang tua santun yang pembawaan dirinya, walau hanya sesaat saya bersinggungan, membekas di hati.

Seorang bekas kolega di Man City mengatakan bahwa Pellegrini telah jatuh cinta dengan pedesaan-pedesaan Inggris. Ia kini dikatakan sangat suka melakukan perjalanan ke desa-desa Inggris yang terkenal sepi dan permai. Ia sangat menyukai bentangan alam Inggris yang indah ketika langit cerah dan sendu ketika langit kelabu. Semoga sukses di Man City akan memberinya lebih banyak waktu untuk melakukan hobi barunya itu.