“Pep Guardiola, manajer Barcelona, dengan jas abu-abu dan ekspresi wajah yang memancarkan kekesalan, menghampiriku. Ia terlihat tidak senang. Tadinya aku berpikir ia adalah orang yang baik. Tidak sehebat Mourinho atau Capello, tapi seorang okay guy……”

Bagaimana cara terbaik untuk mengawali sebuah otobiografi? Zlatan Ibrahimovic memilih untuk membuat Guardiola, manajer terhebat Barcelona di abad 21, terlihat seperti orang tolol. Zlatan memendam ketidaksukaan yang besar terhadap Guardiola dan mendedikasikan bab pembuka untuk memproklamirkan kepada dunia betapa parahnya hubungan antara kedua pria tersebut.

Zlatan tidak mengerti ketika Guardiola datang kepadanya dan mengatakan bahwa semua orang di Barcelona rendah hati dan arogansi bukanlah karakter orang-orang yang berada di klub tersebut. Guardiola lebih lanjut mengatakan bahwa tidak ada pemain Barcelona yang datang ke tempat latihan dengan mengendarai Ferrari atau Porsche.

Barcelona baru saja membeli Zlatan dari Inter Milan pada musim panas itu dan sebagai seorang anak baru yang diberitahu bagaimana adat istiadat di tempat yang baru, seyogianya si anak baru tersebut akan mengangguk setuju.

Tapi tidak demikian dengan Zlatan yang hobinya memacu Porsche di jalan raya sampai kecepatan 325 Km/jam hingga tidak terkejar oleh polisi. Zlatan kesal sekali dan mengumpat dalam hati soal kenapa sampai kendaraan pribadinya harus diatur-atur segala oleh pelatih. Ia hampir terlihat jijik ketika terpaksa mengendarai Audi, mobil yang diberikan Barcelona kepada setiap pemain, ke kamp latihan.

Terbiasa sebagai seorang primadona, Zlatan tidak mengerti dengan kondisi yang ditemuinya di Barcelona.

“Barcelona terlihat seperti sebuah sekolah, seperti sebuah institusi pendidikan. Sejujurnya, tidak ada satu pun pemain yang bertingkah seperti seorang superstar dan itu sangat aneh. Messi, Xavi, Iniesta, semuanya terlihat seperti anak sekolah. Para pemain sepakbola terbaik di dunia berada di sana dan semua kepala mereka tertunduk. Aku sama sekali tidak mengerti. Menggelikan.

“Jika para pelatih di Italia berteriak ‘lompat!’ kepada para pemain bintangnya, para bintang tersebut akan menengok ke arah pelatih dan mempertanyakan mengapa mereka harus melompat? Di sini (Barcelona) semua orang melakukan apa yang disuruh. Ini sama sekali tidak cocok dengan karakterku. Perlahan aku beradaptasi dan bisa menyatu. Tapi semua terlalu teratur untukku. Aku jadi gila.”

Ia semakin frustrasi ketika ia harus dipinggirkan untuk memberi ruang yang lebih kepada Messi sebagai bintang utama Barcelona. Zlatan tidak mengerti kenapa Barcelona harus mahal-mahal membelinya jika ia tidak dipergunakan dengan maksimal.

Lalu Zlatan menghampiri Guardiola dan mengatakan, “Ini seperti anda telah membeli Ferrari, tapi mengemudikannya seperti sebuah Fiat”, sebuah ungkapan menohok yang diakui Zlatan ia dapatkan dari seorang temannya usai menyaksikan permainan striker asal Swedia tersebut dalam baju Barcelona.

***

Banyak otobiografi pemain sepakbola yang dipublikasikan seiring meningkatnya reputasi para gladiator lapangan hijau, bukan hanya sebagai seorang atlet tapi juga selebritis. Tapi I Am Zlatan, otobiografi yang dikerjakan bersama penulis Swedia, David Lagercrantz, rasanya berada di level yang tidak bisa disamai oleh buku pesepakbola manapun.

Di tengah serbuan biografi pesepakbola yang begitu banyak, buku-buku yang menonjol biasanya buku yang jujur dalam bertutur mengenai kehidupan pemain sepakbola tersebut. Buku Zlatan ini tentu bukan buku pertama yang jujur dan bercerita apa adanya. Dua otobiografi pemain Manchester United, Roy Keane dan Gary Neville, mendapat banyak pujian karena dianggap jauh dari kepura-puraan.

Tapi apa yang membuat buku Zlatan ini sensasional dibandingkan biografi-biografi bagus para sepakbola lainnya adalah kemampuan yang dimiliki oleh sang pemain itu sendiri. Sejujurnya, Keane adalah seorang gelandang bertahan dan Neville adalah seorang bek kanan. Tak ada yang terlalu menghibur dari permainan mereka. Saat seorang pemain dengan skill luar biasa yang bahkan bisa membuat daftar spesifik 10 gol terbaik yang ia ciptakan dengan backheel seperti Zlatan menceritakan kisah perjalanan hidupnya, tentu ini jauh lebih menarik.

Paruh pertama biografi Zlatan menceritakan bagaimana ia dibesarkan sebagai anak imigran asal Balkan di Malmo, Swedia. Zlatan tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia besar di jalanan dan bakat terbesarnya ketika kecil adalah mencuri sepeda, sebuah keahlian yang berguna baginya karena ia berasal dari keluarga miskin yang tinggal di daerah Rosengrad yang memang adalah sebuah perkampungan imigran.

Penulis sepakbola termashyur, Simon Kuper, sangat terkesan kisah Zlatan soal masa kecilnya, ia bahkan menganggap apa yang ditulis oleh Zlatan lebih mirip kisah hidup imigran di Eropa dibandingkan dengan narasi glamor pemain sepakbola biasa. Kuper menyamakan buku Zlatan dengan buku Portnoy’s Complaint yang ditulis Phillip Roth pada tahun 1969 tentang kehidupan diaspora Yahudi di New Jersey.

Latar belakang keluarga Zlatan yang bukan dari strata sosial tinggi menjadi humor tersendiri ketika ia bercerita bagaimana terjadi gegar budaya (culture shock) ketika ia membawa mereka untuk sedikit mengecap buah kesuksesannya sebagai pemain sepakbola.

Pada saat Piala Dunia 2006 di Jerman, misalnya, Zlatan tidak hanya memberi tiket pertandingan kepada keluarganya, bahkan harus mengurus hal-hal remeh seperti mengatur penyewaan kendaraan dan akomodasi, sesuatu yang menurut Zlatan sangat menyita perhatiannya dan membuat tidak fokus di lapangan.

Suatu ketika Zlatan terbang dengan keluarganya di kelas bisnis dan saat salah satu saudara tirinya meminta whiskey jam 6 pagi, ibu Zlatan langsung murka dan melempar sepatu ke arahnya. Lalu terjadilah keributan 35.000 kaki di atas permukaan laut yang dipicu oleh pertengkaran keluarga imigran Bosnia ini.

Perjalanan Zlatan menuju kebintangan memang perjalanan melawan suara-suara miring yang menjelaskan mengapa ia bisa begitu belagu di kemudian hari. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang tidak menginginkannya, bahkan ketika masih bermain di level junior. Zlatan dituding terlalu asyik sendiri dalam mengolah bola dan tidak bisa bermain secara kolektif dalam tim. Dalam usia belia, para orang tua rekan setimnya membuat petisi yang menginginkan agar Zlatan dikeluarkan dari tim.

Tak heran jika Zlatan mengatakan bahwa banyak orang yang ciut berada dalam tekanan, tapi tidak bagi dirinya. Semakin tinggi tekanan kepada Zlatan, semakin hebat ia akan bermain untuk membungkam kritik kepadanya. Di awal kariernya, Zlatan mungkin pemain yang paling banyak dicemooh oleh suporternya sendiri. Selain karena sikapnya yang peduli setan, ini juga karena gaya permainannya yang sering terlihat malas-malasan dan tidak terlibat banyak dengan permainan tim saat tidak memegang bola. Zlatan mengakui hal tersebut dan mengatakan bahwa sebagai seorang penyerang, ia menyimpan tenaganya untuk mencetak gol.

Tingkat kejujuran yang begitu tinggi dari Zlatan, ditambah dengan arogansi khasnya, membuat buku I Am Zlatan hampir-hampir terlihat seperti buku komedi dengan one-liner punchline di sana-sini. Seperti yang ia tuliskan ketika ia masih bermain di Ajax dan ingin pindah ke negara lain, tapi satu-satunya klub yang tertarik padanya hanya Southampton.

What the f*ck? Southampton? Apakah saya hanya selevel Southampton? Southampton!”

Demikian juga ketika media Italia mewawancarainya usai mencetak gol dengan kaki kiri yang dianggap sebagai kaki terlemahnya.

“Zlatan tidak punya kaki yang lemah,” begitu ucap Zlatan.

Gaya bicaranya yang memakai nama sebagai kata ganti orang pertama inilah yang melambung arogansi Zlatan ke level yang tak bisa disamai oleh para pesepakbola lain. Zlatan tentu saja bukan satu-satunya pesepakbola belagu di luar sana, tapi bahkan pesolek seperti Cristiano Ronaldo tidak cukup tinggi hati untuk mengganti kata “saya” dengan “CR7”.

Ketika ditanya apa hadiah yang akan diberikan kepada tunangannya menjelang pernikahan, Zlatan menjawab, “Ia tidak perlu apa-apa lagi, ia sudah punya Zlatan”.

Zlatan juga tidak ragu-ragu untuk menunjuk hidung orang-orang yang tidak ia sukai. Orang yang paling ia benci (selain Pep Guardiola) adalah Rafael van der Vaart yang pernah menjadi rekan setimnya di Ajax Amsterdam. Menurutnya, Van der Vaart terlalu mencoba untuk terlihat hebat.

“Van der Vaart, seseorang yang arogan, hampir seperti semua pemain kulit putih di tim, walau sebenarnya ia bukanlah seseorang yang keren. Ia mengklaim dirinya hebat – dan mungkin saja demikian, tapi ia selalu ingin menjadi sosok yang ditakuti, seorang pemimpin.”

Zlatan mengatakan bahwa Van der Vaart irinya dengan penampilannya di Ajax yang menutupi kegemilangan pemain Belanda tersebut. Sebagai pemain lokal, tentu Van der Vaart lebih disayangi oleh media dan fans. Tapi menengok bagaimana perjalanan karir kedua pemain tersebut, rasanya sekarang Zlatan bisa melirik ke Van der Vaart dan tersenyum sarkas.

Biografi pesepakbola selalu menarik ketika mengisahkan cerita-cerita di luar lapangan dan semua cerita pertengkaran Zlatan di sesi latihan dengan rekan-rekan setimnya selalu menghibur.

Di AC Milan, Zlatan baku hantam dengan Oguchi Onyewu, bek asal Amerika Serikat, di sesi latihan. Onyewu memprovokasi Zlatan sepanjang latihan dan Zlatan membalasnya dengan melakukan tackle 2 kaki, tekel yang ilegal, terhadap Onyewu meski meleset. Zlatan yang ban hitam taekwondo lebih dominan dalam perkelahian dan Onyewu menangis usai adu pukul tersebut.

Di Juventus, Zlatan ditanduk oleh Jonathan Zebina dan Zlatan membalasnya dengan memukul pemain Prancis tersebut hingga terjatuh. Lilian Thuram, yang senegara dengan Zebina, berusaha menunjukkan solidaritas dengan menghampiri Zlatan, namun pelatih Juventus kala itu, Fabio Capello, berteriak, “Thuram! Tutup mulutmu dan pergi dari sana!”.

Capello adalah satu dari sedikit orang yang disegani oleh Zlatan. Ketegasan Capello bahkan membuat Zlatan yang tak pernah tunduk pada siapa pun bergidik ketika berhadapan dengan Don Fabio. Zlatan mengatakan bagaimana nyalinya ciut ketika dipanggil meeting satu lawan satu dengan Capello karena biasanya hal tersebut berarti ada sesuatu yang salah dari permainannya. Belakangan Zlatan baru tahu bahwa Capello menginginkan agar gaya permainannya diubah dari “gaya main Belanda yang omong kosong” menjadi gaya Italia yang lebih pragmatis.

Usai sebuah pertandingan di mana Thuram mengambil inisiatif menjaga pemain lawan yang berbeda dengan yang ditugaskan Capello dan berbuah gol ke gawang Juventus, Capello mencecar Thuram dengan pertanyaan “Siapa yang menyuruhmu menjaga pemain itu?” yang hanya bisa dijawab Thuram dengan “saya pikir lebih baik begitu”. Capello murka lalu menendang meja pijat sampai berputar-putar dan pada momen seperti itu, menurut Zlatan, Fabio Cannavaro, Gigi Buffon, dan David Trezequet hanya mampu untuk menatap kosong ke lantai, tidak berani menatap wajah Capello.

Sosok lain yang dihormati oleh Zlatan adalah Jose Mourinho yang menurutnya adalah “seseorang yang aku rela mati untuknya”. Berbeda dengan Capello yang enggan untuk terlalu dekat kepada pemain secara emosional, Mourinho selalu menjalin hubungan persona dengan para pemainnya dan menjadikannya sebagai sosok bapak yang selalu melindungi anaknya.

Kemampuan Mourinho untuk memotivasi para pemainnya juga menjadi salah satu hal yang disukai Zlatan. Bahkan ketika dirinya dikritik Mourinho karena gagal berbuat sesuatu yang signifikan di lapangan, Zlatan tidak bisa membantahnya.

Dalam sebuah pertandingan sehari sebelum Zlatan menerima penghargaan sebagai pemain asing terbaik di Serie A, Inter bermain dan tertinggal 0-2 saat istirahat. Mourinho datang menghampir Zlatan dan mengatakan “Kamu akan dapat penghargaan besok? Kamu harusnya malu karena tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik kamu memberikan penghargaan tersebut kepada ibumu atau siapapun yang lebih pantas mendapatkannya.”

Maka ketika Zlatan dipastikan hengkang ke Barcelona, dirinya merasa sedih untuk meninggalkan Mourinho. Mereka berjumpa sejenak sebelum Zlatan meninggalkan kota Milan.

“Zlatan, kamu tak boleh pergi!”
“Tapi saya tak bisa melewatkan kesempatan ini.”
“Jika kamu pergi, maka saya akan pergi juga.”

Kalimat tersebut membuat hati Zlatan terenyuh karena menyiratkan betapa berharganya Zlatan bagi Mourinho.

Tapi tentu saja bukan Mourinho namanya jika tidak piawai meledek orang.

“Hey, Ibra! Kamu pindah ke Barcelona untuk memenangkan Champions League?”
“Ya!”
“Tapi jangan lupa, kita (Inter) yang akan membawa piala itu pulang musim ini. Jangan lupa!”

Musim itu usai kepindahan Zlatan, Mourinho membawa Inter memenangi quadruple termasuk trofi Liga Champions.

Namun tidak ada yang lebih dipercaya Zlatan daripada agennya, Mino Raiola, yang merupakan sosok penting di balik menjulangnya Zlatan salah satu pesepakbola termahal di dunia. Zlatan dikenalkan ke Mino melalui Maxwell, sahabatnya sejak di Ajax, yang juga memakai jasa agen super asal Italia tersebut.

Bagaimana hebatnya Mino dalam mengurus karir Zlatan tergambar dalam negosiasi yang aalot ketika hendak pindah ke Juventus. Ketika pihak Ajax mengulur waktu dengan tidak mengirim pengacara ke Italia untuk bernegosiasi, Mino menyuruh beberapa orang untuk pura-pura menjadi pengacara agar meyakinkan Luciano Moggi, mahaguru transfer Juventus yang tersohor itu.

Luciano Moggi bukanlah seseorang yang bisa didikte di meja perundingan tapi Mino sukses melakukan itu ketika meminta Ferrari Enzo, sebuah mobil sport supermahal, sebagai syarat terakhir bergabungnya Zlatan ke Juventus. Masalahnya Ferrari Enzo hanya diproduksi 399 buah dan hanya tersisa 3 buah di seluruh dunia dengan berbagai miliarder yang masuk ke dalam waiting list untuk memiliki. Mino memaksa Moggi untuk menelepon Luca di Montemozolo, presiden Ferrari, yang akhirnya setuju untuk memberikan Ferrari tersebut asal Zlatan berjanji tidak akan pernah menjualnya.

Beberapa pekan lalu John Guidetti, penyerang muda asal Swedia yang dipinjamkan ke Stoke dari Manchester City menjawab kritik yang dialamatkan kepadanya karena dirinya dirasa terlalu besar kepala. Guidetti membalas dengan mengatakan bahwa di Swedia biasanya orang dikecam jika membanggakan dirinya sendiri.

“Zlatan? Baru belakangan ini saja orang-orang mengapresiasinya. Sebelumnya tidak ada yang menyukai Zlatan,” begitu ujar Guidetti soal idolanya tersebut.

Sulit untuk memungkiri bahwa Zlatan dianugerahi dengan bakat yang luar biasa, tapi tentu saja bakat tanpa kerja keras akan sia-sia. Zlatan adalah produk dari sebuah kerja keras untuk melawan suara-suara negatif hanya karena ia memilih untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang berbeda.

Tendangan sederhana ke gawang? Zlatan memilih tendangan voli.

Posisi membelakangi gawang? Zlatan memilih tendangan backheel.

Mendapat bola lambung di Wembley dengan posisi di sisi lapangan 30 meter dari gawang? Zlatan bilang, bagaimana kalau tendangan overhead?

Tidak akan ada Zlatan Ibrahimovic jika hanya mengikuti cara konvensional. Bukan kebetulan di halaman pertama, Zlatan mendedikasikan bukunya kepada anak-anak yang berbeda dengan yang lainnya, yang kerap disalahkan hanya karena tidak menurut norma. Ia menegaskan, bukanlah kesalahan untuk menjadi tidak sama dengan orang lain.

Rasanya masih lama sampai ada otobiografi pesepakbola yang sejujur dan semenghibur I Am Zlatan. Ini adalah sebuah lukisan kata-kata yang memiliki nilai puitis yang sama dengan tendangan-tendangan ajaibnya di lapangan.

Saat bab pertama sebuah buku diakhiri dengan makian kepada Guardiola — “You haven’t got any balls. You’re shitting yourself in front of Mourinho. You can go to hell!” — anda tahu bahwa anda sedang memegang buku yang luar biasa.