Penempatan stopperspill di lini belakang sebenarnya untuk memanfaatkan aturan offside yang mengalami perubahan.

Sebelum 1926, offside terjadi bila bola dioper ke seorang striker yang berdiri di depan tiga pemain lawan [dua bek + kiper].

Pada 1926, aturan tersebut diubah. Bola dinyatakan offside bila seorang striker menerima umpan di depan lini belakang lawan yang menyisakan satu bek + kiper. Apabila lini belakang menyisakan dua bek maka bola berlaku onside.

Aturan offside yang baru ini memicu munculnya formasi WM ala Herbert Chapman. Ia salah seorang pelatih yang berhasil memanfaatkan stopperspill di lini belakang dan sukses bersama Arsenal pada era dekade 1920-an.

Itu sebabnya aplikasi taktik tiga bek sejajar pada formasi WM akan cenderung mendorong bek sayap naik lebih tinggi guna mengantisipasi perubahan aturan offside yang baru. Tim hanya menyisakan stopperspill di belakang untuk menjebak offside penyerang lawan.

Cikal bakal Libero dan Sweeper

Seiring perjalanan waktu, peran stopperspill dalam formasi WM tak semata menjaga penyerang tengah lawan. Sesekali, dia diizinkan naik ke depan menjadi gelandang dan membantu serangan. Tapi syaratnya, dia tak boleh terlambat kembali mengawal penyerang tengah lawan saat terjadi serangan balik.

Syarat yang wajib dimiliki pemain stopperspill adalah ketenangan, postur tegap, dan sundulan yang baik untuk mengantisipasi postur penyerang tengah yang tinggi ideal. Itulah syarat yang diajukan oleh pelatih timnas Indonesia era 50-70-an, Endang Witarsa.

Namun yang istimewa dari para pemain stopperspill adalah kemampuan kaki kiri-kanan yang hidup. Syarat ini mutlak mesti dipenuhi, karena stoperspill berperan memberi umpan panjang ke lini depan, khusunya penyerang sayap. Siapa sangka serangan dimulai dari seorang stopperspill.

Sekilas peran mereka mirip seperti libero, sweeper dan deep-lying miedlfider bukan? Ya begitulah sepakbola yang sebenarnya tak ada sesuatu yang murni baru. Evolusi selalu terkait dengan taktik sebelumnya.