Sebagian besar olahraga mempertandingkan ketangkasan, kelincahan, dan kecepatan. Sepakbola adalah salah satu olahraga yang sangat bergantung kepada hal-hal tersebut. Semakin cepat, lincah, dan tangkas pemain-pemain di dalam sebuah tim, semakin besar kemungkinan tim tersebut untuk menang. Tapi, tahukah anda bahwa jika variabel-variabel tersebut diturunkan lagi, terdapat sebuah poin kritikal atau rahasia untuk mencapai level tertinggi di dalam sepakbola? Poin kritikal yang “rahasia” itu adalah respons (tanggapan).

Respons (tanggapan) gerakan dalam olahraga termasuk ke dalam sensory motor skills. Kemampuan seperti memanjat, berlari, berjalan, menulis, bahkan berbicara adalah termasuk ke dalam motor skills. Ketika berolahraga, manusia lebih banyak menggunakan kemampuan motoriknya dibanding kemampuan cognitive (mental; berpikir). Namun, bukan berarti seorang atlet tidak menggunakan otak-kirinya sama sekali ketika berolahraga. Fitts & Posner dalam bukunya yang berjudul Human Performance (1967), menjelaskan bahwa manusia/atlet mengalami 3 fase dalam mempelajari gerakan fisik, yaitu cognitive, associative, dan autonomous. Ketika dalam tahap kognitif, atlet menggunakan otak kirinya untuk mempelajari dan menganalisa sebuah taktik atau gerakan, namun seiring berjalannya waktu, si atlet akan melepaskan cognitive skill-nya menuju kepada autonomous phase, yaitu tahap di mana sang atlet tidak menyadari gerakan yang telah dilakukannya, dan bahkan semuanya serba otomatis. (Lihat tabel di bawah ini).

Ketika Dennis Bergkamp ditanya oleh seorang wartawan mengenai gol spektakulernya ke gawang Newcastle United pada Maret 2002, “did u mean that?”, lalu Bergkamp malah sentak balik bertanya “Which part do you think I didn’t mean?” Walau Bergkamp mengaku bahwa dia telah memikirkan untuk melakukan itu, tetapi sebenarnya aksi yang dia lakukan kala itu adalah hasil dari autonomous phase dari kemampuan motorik dia sendiri. Dia tanpa disadari melakukan hal tersebut, terjadi begitu cepat dan otomatis. Setelahnya, Bergkamp akhirnya mengaku bahwa sebelumnya dia sering melatih gerakan tersebut ketika latihan, dan sebenarnya Bergkamp ketika dalam proses berlatih tersebut sedang menjalani fase cognitive dan associate. Kebanyakan pemain-pemain sepakbola hebat menggunakan sensor motoriknya yang telah dalam tahap “otomatis” ketika beraksi di atas lapangan. Semakin matang, semakin si pemain tidak menyadari gerakan-gerakan fantastis yang mereka lakukan.

Sensor motorik (motor skills) umumnya bersifat innate, atau “terlahir dari sananya”. Itulah mengapa bakat hebat seorang pemain sepakbola sudah bisa dilihat sejak usia dini. Rata-rata klub-klub besar di Eropa bahkan sudah melakukan scouting untuk anak-anak yang baru berumur 8-10 tahun. Ajax Amsterdam adalah salah satu klub yang sangat mengagungkan innate skills yang satu ini ketika mereka melakukan pencarian bakat. Ajax sangat menilik variabel speed atau kecepatan sebagai hal yang utama ketika memilih pemain. Mereka menganggap bahwa kecepatan (yang termasuk dalam respons motorik) adalah hal yang tidak bisa diubah, alias merupakan bawaan sejak lahir. Melalui motto teknisnya TIPS (Technique Insight Personality Speed), Ajax menjadikan basis kecepatan sebagai bobot yang penting dalam memilih pemain. Hal yang masuk akal, teknik bisa dilatih, namun kecepatan dan respons motorik adalah sesuatu yang sulit diubah.

Respons di dalam sepakbola adalah merupakan atribut yang sangat penting. Pemain-pemain top level rata-rata memiliki respons yang sangat baik. Respons bukanlah seberapa cepat anda berlari, tapi seberapa cepat motorik anda “berpikir” dan mengambil keputusan. Per Mertesacker dan Xavi Hernandez adalah contoh bahwa pemain sepakbola tidak harus melulu cepat berlari, tetapi cepat dalam mengambil keputusan dan kemampuan respon motorik. Wesley Sneijder memiliki “frekuensi gelombang otak” di atas rata-rata. Ia memiliki respons yang sangat cepat ketika berada di atas lapangan. Dengan kelebihannya tersebut, ia bisa dengan cepat mengubah arah bola ketika ditekan lawan yang berbadan besar, walaupun badannya sangatlah kecil. Sergio Busquets memiliki body balance yang lemah, namun kecerdasan motoriknya membuat ia mudah sekali mengambil keputusan-keputusan yang membuat pelatih “memaafkan” kelemahannya. Ia tahu harus mengubah arah badan kemana, ia tahu kapan, dan ia tahu harus kemana bola dialirkan.

Sajian menarik sepakbola indah dengan tempo yang sangat tinggi sangat berkorelasi dengan respons. Johan Cruyff pernah berkata, bahwa seorang pemain yang bagus dilihat dari seberapa baik performanya ketika bermain pada permainan dengan intensitas (tempo) yang sangat tinggi. Ia menambahkan, “kebanyakan orang akan bermain baik ketika berada dalam tempo yang rendah atau sedang, tetapi pemain yang berada di top level akan tetap bermain baik pada game dengan tempo yang sangat tinggi. Sebaliknya, pemain yang off-form ketika bermain dalam intensitas tinggi, adalah pemain yang kurang bagus”.

Arsene Wenger selalu berkata kepada timnya untuk terus-menerus menaikkan level tempo permainan. Untuk mencapai misi tersebut tentu saja ia membutuhkan pemain-pemain yang memiliki respons di atas rata-rata.

Selanjutnya Johan Cruyff berkata (dikutip dalam Dennis Bergkamp: Stillness and Speed) “when you are not late, you won’t have to chase the ball more”. Dari frase ini, betapa Cruyff menggambarkan betapa pentingnya respons, antisipasi, dan timing ketika berada di atas lapangan. Semakin responsif si pemain, semakin cepat dia menanggapi situasi di atas lapangan, semakin cepat pula dia mengambil keputusan. Ketika setiap pemain tidak pernah “telat”, sebenarnya tim tersebut telah berhemat energi yang sangat banyak, sehingga menguntungkan bagi tim.

Berbicara mengenai ‘telat atau tidak telat’, tentu sangat lekat dengan pressing strategy. Apa itu pressing ala Belanda? Yaitu ketika secara kolektif (bersama-sama) anda melakukan pressing dengan timing (waktu) yang tepat. Sebenarnya ketika tim melakukan high-collective-pressing, anda tidak akan lelah. Jika anda lelah, berarti ada 1 atau lebih orang di dalam tim anda yang tidak melakukan pressing dengan timing dan respons yang baik, atau seperti kata Cruyff tadi: “dia terlambat”. Keterlambatan itulah yang merugikan tim anda, seperti yang telah diucapkan Cruyff. Sang legenda ketika menjabat sebagai pelatih selalu memuji-muji pemain-pemainnya yang memiliki respons yang luar biasa. Dennis bergkamp adalah salah satu pemain yang diucap Cruyff ‘tidak pernah terlambat’.

Respons dan timing adalah dua hal yang berkorelasi. Respons anda bagus, anda tidak akan pernah terlambat, timing anda selalu benar. Itulah rahasia strategi timnas Belanda dan FC Barcelona dalam strategi memenangkan bola dari lawan, high-collective-pressure.

Ada yang menarik dan menghentak diri saya ketika weekend kemarin. Yap, apalagi jika bukan timnas Indonesia U-19. Di dalam objektivitas saya, pemain-pemain yang berada dalam timnas U-19 tersebut memiliki respons motorik yang di atas rata-rata. Sungguh, ini bukanlah kalimat hiperbol. Pemain-pemain tersebut adalah contoh dari betapa berkualitasnya scouting system tim pelatih. Mereka memiliki bakat alami yang sangat berharga, dan harus dimaksimalkan oleh Indonesia. Mereka adalah modal berharga.

Satu hal lagi yang membuat diri ini excited, yaitu bagaimana mereka (timnas U-19) bersikap ketika kehilangan bola. Mereka seperti melakukan high-collective-pressure seperti yang dilakukan Barca era Guardiola, sebut saja hampir menyerupai. Namun, secara taktikal, pemain-pemain tersebut mengerti betul bagaimana cara bermain dengan baik dan benar, terutama ketika lawan memegang bola. Saya jarang melihat off-position yang biasanya terjadi pada pemain-pemain timnas Indonesia, mereka sungguh paham mengenai taktikal di atas lapangan. Kredit khusus kepada Indra Sjarif.

Akhir kata, terlepas dari kegirangan diri ini terhadap timnas Indonesia U-19 dan orang-orang di belakangnya, saya hanya ingin berpleonasme, respons tanpa kualitas teknik, taktik, dan fisik adalah sia-sia, namun, terkadang jika anda hanya memiliki respons yang baik, anda masih tetap bisa bermain sepakbola, walau hanya sebagai pemain belakang atau penjaga gawang.