Arsenal membuka 2014 dengan catatan manis: berada di puncak klasemen sementara Liga Primer Inggris. Ini jadi suatu catatan yang tak lazim, karena di lima musim berturut-turut sebelumnya, Arsenal paling tinggi hanya menduduki peringkat tiga pada pekan ke-20 (di musim 2009/2010 dan 2010/2011).

Tak dapat dipungkiri, bahwa Arsenal yang di awal musim digadang-gadang hanya akan bersaing untuk dapat tiket ke Liga Champions, kini telah berganti status menjadi tim dengan kandidat peraih titel juara.

Kemauan manajemen Arsenal dan Arsene Wenger untuk belanja pemain selama dua musim terakhir tentu jadi salah satu faktornya. Nama-nama seperti Santi Cazorla, Olivier Giroud, Lukas Podolski, dan Mesut Oezil mulai bisa menggantikan Cesc Fabregas dan Robin van Persie dalam mendongkrak prestasi tim dan mulai mendapatkan tempat di hati para Gooners.

Dari keempat pemain di atas, ada peran penting Mesut Oezil dalam mendorong Arsenal hingga ke puncak klasemen. Pria kelahiran Gelsenkirchen ini mampu menyumbangkan 7 assist dari total 15 laga yang telah dilakoninya. Dalam urusan assist di liga Inggris ini, Oezil hanya kalah dari Rooney. Sungguh sebuah catatan yang cukup baik bagi pemain debutan.

Membawa Arsenal ke puncak klasemen setidaknya bisa jadi pembenaran keputusan Wenger dalam mengeluarkan mahar sangat mahal ketika meminang Oezil, yaitu sebesar 42,5 juta poundsterling. Apalagi memboyong orang Jerman itu dari Madrid juga jadi pemecahan rekor pembelian termahal dalam sejarah klub tersebut.

Namun, hasilnya tidak tanggung-tanggung. Oezil pun seolah memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap keberadaannya di tim.

Rasa keraguan akan sukses atau tidaknya Oezil ketika memilih berkarier di Inggris sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Apalagi jika dilihat dari catatan kariernya pada beberapa musim terakhir.

Itu karena kemampuan Oezil sebenarnya terekam dalam catatan kinerjanya. Semenjak musim 2009-2010, ia dapat dikatakan pemain paling kreatif yang bermain di 5 liga terbesar di Eropa. Pemain berdarah Turki ini mampu menghasilkan total 60 assist pada periode musim 2009-2010 hingga musim 2012-2013.

Masih pada periode tersebut, Oezil juga mampu menghasilkan 417 peluang. Jika ditambahkan dengan catatan di semua ajang, baik pada liga domestik maupun laga internasional, Oezil mampu mencatatkan total 112 asisst. Atas catatan tersebut maka tak berlebihan apabila ia didaulat sebagai seorang raja assist.

Selain itu, catatan istimewa lainnya adalah Oezil mampu tampil konsisten meski telah berganti klub yang gaya mainnya berbeda. Real Madrid di bawah asuhan Mourinho yang bermain dengan tempo cepat dengan mengandalkan serangan balik, ataupun Arsenal yang bermain teratur dengan membangun serangan secara bertahap. Semua mampu dilakukan olehnya dengan baik.

Tiga Fungsi di Area Final Third Real Madrid

Gaya permainan Madrid, yang kala itu bermain dengan pola sangat efektif dengan mengandalkan serangan balik cepat, mampu diikuti dengan baik oleh Oezil. Di Madrid yang mengandalkan dua inverted winger yaitu Angel Di Maria dan Cristiano Ronaldo sebagai tumpuan serangan, Oezil mampu menjalani tiga fungsi pada tim itu.

Ia bisa berperan baik sebagai playmaker yang bermain melebar, deep playmaker, ataupun playmaker yang siap untuk menyantap umpan dan berada pada kotak penalti.

Fungsi sebagai wide playmaker diperankan tatkala ketika Ronaldo-Di Maria melakukan gerakan menusuk ke dalam kotak penalti. Pada saat itu, Oezil akan berada pada ruang antara bek tengah dan full-back untuk melakukan umpan balik kepada kedua pemain tersebut.

Fungsi sebagai deep playmaker diperankan tatkala Madrid hendak melakukan serangan balik. Ketika bola sedang dikuasai Oezil, maka ia akan langsung mengirimkan umpan kepada dua inverted winger tersebut.

Fungsi sebagai playmaker di area kotak penalti pun mampu ia perankan baik-baik dengan cara selalu bergerak pada celah-celah di lini pertahanan lawan. Baik celah antara bek dan gelandang bertahanan, ataupun celah antara bek tengah dan bek sayapnya. Kecerdasannya dalam menempatkan posisi ini lah yang setidaknya sulit disamai oleh orang lain.

Kecerdasan Oezil dalam bergerak baik dengan maupun tanpa bola pada akhirnya membuat banyak orang teringat pada legenda El Real, Zinedine Zidane. Tak heran, karena Zidane sendiri memang merupakan idola Oezil. Lantas, menjadi wajar apabila Oezil pun melakukan trik ataupun gaya permainan yang sama dengan Zidane.

Pindah ke Inggris dan Tetap Berjaya di Final Third

Lain di Real Madrid, lain pula di Arsenal. Pada klub asal London Utara ini, Oezil pun mampu mengikuti pola permainan Wenger yang bermain teratur dan membangun serangan secara bertahap. Namun Oezil masih mampu mempertahankan ciri khasnya, yaitu bergerak dan mencari ruang meski dalam area gerak yang sempit.

Terbukti, hingga saat ini Oezil masih memimpin tabel passing di area sepertiga lapangan akhir di Inggris. Total 412 passing yang mampu ia lakukan dalam 15 pertandingan. Bandingkan dengan Eden Hazard (urutan kedua tertinggi) yang melakukan 400 passing dari 20 pertandingan, dan Samir Nasri (peringkat tiga) dengan 340 passing dari 20 pertandingan.

Bukankah angka-angka itu bisa menjadi indikasi awal kemampuannya dalam menguasai permainan di area pertahanan lawan?

Dapat dikatakan, pembelian Oezil merupakan suatu jawaban atas apa yang dibutuhkan Arsenal. Arsenal tidak hanya butuh Cazorla yang mampu melakukan dribbling baik dengan melewati beberapa pemain bertahan. Tetapi, Arsenal juga membutuhkan pemain yang mampu mendistribusikan bola di area yang benar-benar krusial, yaitu area pertahanan lawan.

Di tengah pola permainan Arsenal yang memperagakan serangan dan bertahanan secara bersama-sama, Oezil juga menjadi sosok sentral sebagai seorang pengatur tempo. Terlebih lagi pada saat membangun serangan.

Bersama Aaron Ramsey, Oezil acap bergerak mengikuti arah aliran bola. Ketika bola diarahkan ke sayap, maka keduanya akan berusaha untuk mendekatinya (baca mengenai mikro taktik Arsenal saat pertandingan di sini). Sementara ketika bola ada di lini pertahanan, mereka pun akan turun ke area tersebut. Ketika bola di lini depan, maka Oezil juga akan berada di lini depan.

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Oezil yang berbeda dari Ramsey adalah ciri khas dan wewenang yang ditugaskan kepadanya. Ketika Ramsey menguasai bola, ia akan cenderung melakukan passing-passing pendek. Akan tetapi ketika Oezil menguasai bola, maka ia berhak untuk mengarahkan bola hendak diserangkan melalui mana, bahkan hingga mengubah arah serangan.

Faktor yang terpenting adalah tujuannya mengumpan yang mampu memanfaatkan ruang kosong. Pergerakan bebasnya yang tidak hanya terpaku pada suatu posisi pun turut mempersulit bek lawan untuk melakukan penjagaan. Dengan kondisi tersebut, maka tak salah Oezil menjadi salah satu pemain Arsenal yang sangat berpengaruh dalam pencapaian Arsenal sejauh ini.

Namun, vitalnya kontribusi Oezil bagi Arsenal ini perlu dilihat dari dua sisi. Di satu pihak, Arsenal sangat mampu dimanjakan dengan segala kreativitasnya. Namun, di sisi lainnya, cukup mudah bagi tim lain dalam mematahkan alur serangan Arsenal, yaitu dengan cara mematikan Oezil.

Bahkan, kekhawatiran tersebut pun kini perlahan sudah mulai terbukti. Pertandingan kala melawan Manchester City misalnya, kala Arsenal digasak 3-6. City mampu menutup aliran bola menuju Oezil dengan sempurna. Dan kala itu, strategi ini jadi suatu taktik yang cukup jitu dan efektif.

Akan tetapi, melihat perkembangan Arsenal, bukan tidak mungkin hal tersebut mampu diatasi oleh Arsene Wenger. Aplagi Liga Inggris masih menyisakan perjalanan panjang hingga pekan ke-38.

Apabila melihat pada kondisi sekarang, setidaknya Oezil masih berada pada jalur yang benar. Dengan segala perkembangan taktik dan sepak terjang Arsenal pada musim ini, maka akan tidak mengherankan apabila Oezil kembali mendapatkan predikat sebagai pemain yang paling kreatif di 5 besar Liga Eropa.