Sepakbola modern saat ini identik dengan possesion football. Untuk menyebut sebuah nama, Johan Cruyff pernah berkata: “Tim yang memiliki probabilitas menang lebih tinggi adalah tim yang paling banyak memegang kendali permainan”. Dengan kata lain, prosentase ball possesion adalah sama dengan prosentase menang atau kalahnya sebuah tim. Mengapa possesion football ini sangat spesial? Karena Anda boleh lihat rata-rata tim jawara di dunia saat ini, mereka adalah para penganut paham possesion football. Lalu, apa yang membuat possesion football ini lebih spesial lagi? Tidak akan berjalan sistem ini, tanpa kehadiran “playmaker”.

Playmaker sering didefinisikan sebagai pemain yang memiliki daya magis dan kreativitas tinggi. Beberapa pengamat sepakbola menyebutkan playmaker adalah pemain yang berposisi di sentral lapangan tengah. Teori ini benar karena memang rata-rata playmaker adalah seorang gelandang. Namun, saya memiliki paham yang agak sedikit berbeda dan lebih spesifik mengenai playmaker. Bagi saya, playmaker adalah pemain yang paling banyak menyentuh bola (hold ball) dan yang paling sering menuntaskan operan (pass completed). Secara statistik, kedua variabel itu biasanya “dikuasai” oleh si playmaker. Dan oleh karenanya pula, atas dasar variabel hold ball, playmaker biasanya adalah pemain-pemain yang menonjol secara skill individu. Anda tidak akan bisa menahan bola lama-lama, jika tidak punya skill individu yang mumpuni.

Atas dasar kedua variabel di atas, berarti ada kemungkinan si playmaker tidak hanya beroperasi di lini tengah. Gaizka Mendieta, misalnya, eks kapten Valencia dan Lazio, adalah tipikal playmaker yang “ada di mana-mana”. Mendieta adalah tipikal pemain yang sangat mobil kala itu. Ia menjelajah hampir seluruh sudut lapangan demi menjalankan sistem operas” timnya.

Francesco Totti adalah contoh playmaker lain yang bukan seorang gelandang tengah. Ia bahkan sering dimainkan sebagai striker. Ada pula nama-nama lain yang sering diperhitungkan sebagai playmaker di masanya dan memiliki posisi bukan gelandang tengah sentral, seperti Franz Beckenbauer (libero/sweeper 3-5-2), Matthias Sammer (sweeper 3-5-2), Johan Cruyff (free role ‘total footballer’ 4-3-3), Pele (second striker 4-2-4), David Beckham (right wing midfielder 4-4-2), Luis Figo (right wing forward/midfielder), dan Rui Costa (free role attacking midfielder 4-3-1-2).

Ada satu fenomena yang tak terlupakan, saya ingat sekali, pertandingan antara Belanda vs Portugal di penentuan kualifikasi Piala Dunia 2002, di mana ketika itu dua kreator utama permainan Portugal, Luis Figo dan Rui Costa, justru bermain aktif di kedua sayap, yang akhirnya sukses membuat Belanda gagal lolos ke Korea-Jepang. Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa playmaker bukanlah posisi, melainkan karakter.

Secara filosofis-analitis, seorang playmaker harus fasih dalam menahan bola (hold ball) dan mengoper bola (pass completed). Oleh karenanya, dari segi variabel hold ball, seorang playmaker harus pandai “bergoyang” dan pintar dalam mengubah arah bola. Mereka umumnya tidak kesulitan ketika ditekan 1 atau 2 pemain sekaligus. Pemain-pemain seperti ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi playmaker yang handal.

Selanjutnya, untuk urusan kuantitas pass completed, sebenarnya, tingginya nilai variabel ini berbanding lurus dengan salah satu atribut mental, yaitu teamwork, atau less ego. Semakin tinggi concern si pemain terhadap teamwork, akan semakin sering dia melakukan operan. Bagan Average Pass Completion di bawah ini menunjukkan bahwa pass completed adalah salah satu variabel yang memiliki tingkat signifikansi yang sangat tinggi terhadap prestasi.

(Sumber: 5addedminutes.com)

Mengambil contoh kasus Chelsea, tabel di bawah ini menunjukkan bahwa Chelsea memiliki dua playmaker yang paling dominan, yaitu Obi Mikel dan Juan Mata, dengan kuantitas pass completed tertinggi:

Pada kenyataanya, menemukan pemain yang komplet dalam kedua hal tersebut (“bergoyang” dan rajin mengoper), adalah hal yang sulit. Umumnya, hanya ditemukan satu karakter saja yang menonjol di antara dua variabel itu. Ronaldinho memiliki kemampuan hold ball yang luar biasa, tapi ia termasuk pemain yang kurang rajin dalam mengoper bola. Frank Lampard pemain yang saya kagumi dalam hal distribusi umpan, tetapi dia kurang lihai dalam “bergoyang”.

Jikapun ada pemain bertipikal playmaker yang sangat serasi dengan persyaratan versi tulisan ini (pemain yang sama kuat dalam hal kuantitas operan-akurat maupun hold ball), saya menganggap Zinedine Zidane dan Andrea Pirlo adalah yang terbaik.

Sistem permainan sepakbola modern umumnya memperankan dua playmaker dalam satu tim: offensive playmaker dan defensive playmaker. Offensive playmaker adalah pemain kreatif dan pengoper yang berada di depan (final third). Playmaker jenis ini sering juga disebut dengan incisive playmaker, karena visinya yang tajam dalam memberikan assist. Di Italia, playmaker jenis ini sering disebut trequartista. Sedangkan defensive playmaker, sering juga disebut dengan deep-lying playmaker, adalah sang distributor umpan yang posisinya berada tepat di depan para bek. Peran deep-lying playmaker ini sering diibaratkan sebagai metronome dalam dunia musik, dan stabilizer dalam dunia elektronik, karena kemampuannya dalam mengatur tempo melalui kuantitas pass completed yang tinggi. Adapun sang trequartista umumnya memiliki jumlah assist yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemain lain. Jikapun ada yang menandingi (assist), pemain tersebut pasti si deep-lying playmaker.

Adalah Carlo Ancelotti (Milan 2003-2007) yang kembali mempopulerkan penggabungan offensive playmaker dan defensive playmaker dalam satu sistem permainan. Ketika itu dia mentransformasi posisi Pirlo menjadi seorang deep-lying playmaker. Dan di depan Pirlo ada seorang Rui Costa yang berperan sebagai trequartista. Ancelotti sangat dipuja-puja ketika itu, atas penemuan posisi baru bagi Pirlo, serta keberhasilannya dalam “mengakurkan” Rui Costa dengan Pirlo. Deep lying playmaker memang bukanlah penemuan Ancelotti, karena sebenarnya Franz Beckenbauer bisa jadi adalah deep-lying playmaker pertama dalam sepakbola. Walaupun bermain sebagai pemain bertahan, Beckenbauer adalah otak permainan bagi timnya ketika itu, yaitu timnas Jerman dan Bayern Munich. Sebagian dari kita mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana seorang pemain belakang berperan sebagai playmaker, namun fenomena ini memang pernah terjadi di dunia sepakbola era dahulu.

Pentingnya peran playmaker membuat sebuah tim “wajib” memiliki minimal satu playmaker yang ideal, yaitu yang rajin mengoper dan pandai “bergoyang”. Juan Roman Riquelme adalah contoh mengapa peran/karakter playmaker menjadi sangat dibutuhkan. Riquelme adalah pemain yang malas, dan secara fisik pun dia termasuk lemah. Jarang sekali seorang Riquelme mau melakukan track-ball ketika bola sedang dikuasai lawan. Pergerakan off the ball-nya pun sangat minimal. Dengan kemalasannya itu seharusnya Riquelme tidak akan pernah diperhitungkan oleh pelatih manapun, namun kenyataannya Riquelme memang memiliki 3 atribut yang sangat spesial: umpan yang akurat, hold ball yang baik, dan rajin mengoper bola. Itulah mengapa, di Indonesia pun pernah terjadi fenomena seperti ini pada diri Carlos De Mello, yang ketika sudah tambun pun dia masih bermain di kasta liga tertinggi di Indonesia, kala itu.

Tim nasional Inggris akhir-akhir ini sulit sekali berjaya di kancah eropa maupun dunia, karena (menurut analisis saya) memang mereka jarang sekali memiliki playmaker yang ideal. Umumnya, pemain Inggris selalu memenuhi syarat pertama, yaitu rajin mengoper, tetapi tidak lolos syarat kedua, yaitu fleksibel dan pandai “bergoyang”. Setelah terakhir sempat berjaya di era Paul Gascoigne, Inggris kerap kesulitan menemukan tipe pemain yang sama seperti Gazza. Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Michael Carrick memang pemain yang bagus dalam mendistribusikan bola, tetapi mereka kurang pandai dalam “bergoyang”. Jack Wilshere digadang-gadang sebagai penerus Gazza di timnas Inggris, dan diyakini akan menjadi pengaruh yang besar bagi Inggris. Kita lihat saja.

Sulit bagi sebuah tim bila tidak memiliki seorangpun playmaker yang ideal di lapangan. Peran mereka begitu nyata bagi kejayaan sebuah tim. Manchester City juara dengan kontribusi signifikan dari seorang David Silva dan Yaya Toure; Manchester United dengan Michael Carrick; Swansea dengan Leon Britton; Barcelona dengan Xavi – Andres Iniesta; timnas Perancis dengan Zidane; Real Madrid dengan Xabo Alonso – Mesut Oezil; dan Juventus serta timnas Italia dengan seorang Pirlo.

Tentang nama terakhir, saya ingat sekali bagaimana kiprah timnas Italia dengan dan tanpa Pirlo. Mereka begitu timpang tanpa kehadiran sang playmaker. Piala Dunia 2006 dan 2010 adalah bukti nyata yang memperkuat dugaan tersebut. Saya juga teringat akan pertanyaan seorang teman sebelum malam final Piala Eropa 2012. “Italia lawan Spanyol menang mana?” Saya jawab: “Italia memang punya seorang Pirlo, tapi Spanyol memiliki 5 Pirlo.”