Lebih dari 40 tahun Indonesia bermain hanya dengan 2-3 bek. Ini sebenarnya berkesesuaian dengan perkembangan taktik dunia kala itu. Piramida sepakbola memang baru benar-benar terbalik pasca periode 1980-an.

Lalu bagaimana caranya Indonesia mulai mengubah formasi 3 bek menjadi 4 bek sejajar?

Boleh dikatakan, Endang Witarsa adalah bapak formasi backfour di Indonesia. Dia juga kerap diidentikkan sebagai pelatih yang mempopulerkan formasi 4-2-4. Hampir 10 tahun lamanya ia bereksperimen dengan formasi 4-2-4 itu.

Mula-mula Witarsa mengujicobakan taktik itu di klub internal Persija, UMS, pada tahun 1955. Dan puncaknya adalah saat ia membawa Persija juara nasional pada 1964. Saat itulah 4-2-4 mulai populer mewarnai taktik di negeri ini.

Formasi 4-2-4 sendiri sebenarnya dibawa ke Indonesia oleh klub Hongkong Nan Hwa pada tahun 1952. Kala itu, Nan Hwa berujicoba dengan banyak klub, mulai dari timnas, Persib, Persija, Persis Solo, PSIM Yogyakarta dan masih banyak tim lainnya. Sebagaimana kami tuliskan pada seri tulisan sebelumnya, dari pertandingan persahabatan dengan tim luarlah taktik-taktik baru di Indonesia muncul.

Namun, sebenarnya waktu itu kita belum tertarik dengan sistem ini. Banyak pihak lebih senang dengan sistem yang dibawa oleh klub-klub Eropa macam sistem slingerback, MM dan Verrou. Lantas 4-2-4 pun tak dilirik dengan hanya Endang Witarsa yang konsisten mengadopsi formasi ini.

Ini berbeda dengan dunia internasional. Ketika Brasil menjuarai Piala Dunia tahun 1958, sistem 4-2-4 banyak dilirik oleh negara-negara lain. Saat itulah wabah 4-2-4 mulai menyebar ke mana-mana.

4-2-4 Sebagai Antisipasi Lawan Tim Rusia

Tak ada sistem yang benar-benar sempurna dan jadi nomor satu, termasuk juga pola 4-2-4. Inggris sempat mencobanya dan mendapatkan kegagalan, sementara kala Hongaria memakainya menghasilkan kesuksesan.

Indonesia juga sempat mencobanya pada era Toni Pogacnik. Kala itu, pada 1960, Timnas bertanding dalam laga persahabatan dengan klub Central Army Moskow di Lapangan Ikada. Hasilnya? Indonesia dibantai lima gol tanpa balas.

Pada laga itu Toni memodifikasi formasi 3-2-2-5 menjadi 4-2-4. Ini dilakukan untuk mengantisipasi tim lawan yang memakai dua ujung tombak dengan menggeser inner agak lebih depan. Toni lalu meminta Rukma Sudjana untuk turun dari tengah dan membantu Sunarto sebagai centerback.

Sunarto dan Rukma, bersama dengan dua bek sayap Ishak Udin dan Santja, membuat Indonesia seakan-akan bermain dengan empat bek.

Di lini tengah Idris (PSMS Medan) beralih ke kanan, ke posisi yang ditinggalkan Rukma. Hal ini terjadi karena gelandang Soviet maju naik menjadi inner. Maka, untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Idris, inner kiri Indonesia, LH Tanoto, mundur ke belakang.

Di kubu Soviet, jika salah satu gelandang naik, maka yang satunya lagi bermain lebih dalam untuk menjaga keseimbangan di tengah. Ini membuat poros ganda mereka jadi timpang, hingga Hengky Timisela mendapat ruang untuk naik. Terlebih lagi naiknya gelandang soviet membuat poros ganda mereka menjadi timpang hingga Hengky Timisela mendapat ruang untuk naik menyerang. Alhasil di lini depan, Indonesia terlihat menggunakan empat striker.

Lantas, apakah sistem ini bekerja dengan baik? Tidak, jika dilihat dari skor akhir yang memalukan itu.

Endang Witarsa yang waktu itu melatih klub UMS mengkritisi apa yang dilakukan Toni Pogacnik. Witarsa mengatakan, bahwa klubnya yang sudah lama berlatih menggunakan 4-2-4 saja selalu sulit menguasai sistem tersebut dan sukar mendapatkan kemenangan dalam kompetisi biasa.

“Tapi kenapa Toni berani menerapkan 4-2-4 itu pada pemainnya yang justru belum terbiasa?” keluh Witarsa kepada media.

Sebagaimana dikatakan Witarsa, memang tidak mudah menyempurnakan sistem 4-2-4 itu. Pelatih Brasil, Vicente Feola, bahkan perlu waktu 2 tahun untuk menerapkan skema itu. Feola juga sempat mengujicobakan 4-2-4 saat Brasil menjalani tur ke Eropa pada 1956 dengan hasil yang tidak mengenakkan. Brasil ditekuk Italia 3-0 dan kalah dari Inggris 4-2.

Tak salah jika ada pameo bahwa taktik tak dapat dipaksakan kepada pemain, tetapi sebaliknya taktik harus disesuaikan dengan pemain.

Dalam sepakbola, formasi 4-2-4 adalah cikal bakal formasi modern. Pola inilah yang memulai sistem empat bek sejajar di lini pertahanan.

Endang Witarsa mengatakan bahwa dua bek di belakang diberi beban untuk naik ke area tengah untuk membantu kekuatan dua gelandang. Hal ini dilakukan karena dua gelandang itu memiliki peran yang amat berat, harus menguasai area tengah yang amat luas sekali. Kedua gelandang dalam 4-2-4 juga harus naik dan mundur membantu pertahanan.

Mari kita baca beberapa paragraf sebuah tulisan dari sebuah kliping majalah Aneka tahun 1961 mengenai peran gelandang pada formasi 4-2-4.

“Dua orang pemain, yakni pemain depan yang ditarik ke belakang dan gelandang kanan, bertugas sebagai penghubung bola-bola, baik bola itu berasal dari serangan lawan yang terpatah-patah maupun berupa kelanjutan serangan sendiri. Kemampuan mereka harus lebih tinggi dari rata-rata pemain lain.

Betapa tidak? Kedua pemain itulah yang sering memegang bola selama permainan berlangsung, mereka pula lah yang menerima operan dari segenap penjuru untuk selanjutnya diolah sesuai dengan suasana dan posisi kesebelasan seluruhnya.

“Pendek kata, mereka lah pengatur serta penyiasat permainan dan serangan. Kegagalan mereka akan merupakan kegagalan hampir total, sebaliknya hasil gemilang mereka akan mendatangkan serba kebaikan pada seluruh kesebelasan.”

Witarsa mengatakan bahwa skema 4-2-4 biasanya bergantung pada satu orang di tengah (lihat grafis di atas). Ini karena peran pembagi biasanya bertumpu pada satu orang. Dan dari si pemain itu kita dapat menebak kemana serangan akan dilakukan, sayap kanan atau sayap kiri.

Dari grafis juga terlihat bahwa gelandang kanan tak akan memberi umpan ke pemain sayap kiri, begitupun sebaliknya.

Titik kelemahan dari sistem ini adalah di area tengah. Maka, saat menghadapi formasi yang menumpuk pemain di tengah dan depan, seperti sistem 3-3-4 atau 3-2-5, pola 4-2-4 tak akan berkutik. Karena itu banyak tim yang kesulitan memakai formasi ini.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, tim-tim mulai terbiasa memakai 4-2-4 untuk menghambat laju lawan saat diserang. Maka, muncullah modifikasi baru yaitu formasi 4-3-3.

Sama seperti sistem WM, sistem 4-2-4 pun telat populer di Indoesia. Klub-klub dan timnas kita baru mulai memperagakan 4-2-4 di penghujung dasawarsa 60-an. Padahal, negara-negara lain sudah cukup apik memainkannya di awal dekade itu. Pada zaman dulu, dalam segi taktik sepakbola kita memang selalu tertinggal. Tapi itu tidak jadi alasan untuk tidak mencetak prestasi di kancah Asia pada masa 50-60-an.