Apa yang dibawa oleh klub-klub asing saat berkunjung ke Indonesia? Beberapa tahun ke belakang jawabannya mungkin hanya sebatas para pemain bintang dan promosi untuk Indonesia. Namun, pada periode 1960-an, para klub asing membawa satu hal penting: taktik!

Misalnya saja Stade De Reims, G.A.K Graz, Lokomotif Moskow, dan banyak tim lainnya saat singgah ke Indonesia di dekade 50-an. Kedatangan mereka tak hanya semata berlibur atau mencari seteguk keuntungan di Indonesia.

Sering di sela-sela kunjungan, mereka mengadakan kelas-kelas taktikal kepada pelatih-pelatih lokal Indonesia. Alhasil taktik-taktik baru yang sedang populer di luar sana mulai diserap oleh pelatih-pelatih muda kita. Tak heran jika pada dekade itu variasi taktik yang dipakai teramat banyak macamnya.

Dalam tulisan ini, melalui tulisan Endang Witarsa, saya akan sedikit bercerita tentang taktik yang sering dipakai pada masa itu.
Sistem Eropa Tengah

Witarsa mengatakan, sistem ini populer di Austria, Swiss dan Hongaria. Sistem ini masuk ke Indonesia saat timnas menggelar ujicoba pertama kali melawan klub Eropa. Tepatnya dari Austria yaitu G.A.K. Graz pada tahun 1953.

Kala itu timnas dibantai 5-0. Tapi Graz tak hanya berujicoba dengan timnas. Persebaya, Persija, PSMS Medan pernah mencicipi mereka. Saat itulah, sistem ini mulai mewarnai persepakbolaan klub-klub Indonesia.

Lalu apa sebenarnya sistem Eropa Tengah itu? Witarsa bercerita bahwa sistem ini mirip seperti 2-3-5 tapi dengan beberapa modifikasi.

Peran poros halang didorong lebih agak naik. Ia ditugasi sebagai penyerang keenam sekaligus playmaker di lini tengah. Dalam sistem ini, lini depan tak membentuk huruf W, tapi membentuk garis yang sejajar, dengan salah satu pemain kanan/kiri dalam turun ke tengah membantu poros halang.

Sistem ini memiliki kelemahan yaitu rapuh di tengah. Karenanya, saat bertahan, gelandang akan merapat ke tengah untuk menutup pergerakan inner lawan. Sedangkan dua bek di belakang akan melebar menjaga penyerang luar lawan.

Sistem ini akan tak efektif jika menghadapi permainan cepat yang mengandalkan lewat umpan-umpan panjang kepada centervoor lawan.

Sistem Grendel Pertama di Indonesia

Di Eropa sana sistem ini dikenal dengan sistem Verrou, tapi di Indonesia lazim disebut sebagai sistem grendel. Eits, ini bukan sistem grendel Catenaccio ala Helennio Hererra yang tenar di Italia tahun 1960-an. Sistem grendel sudah hadir 30 tahun sebelumnya. Yang jelas, Hererra terinspirasi untuk menciptakan catenaccio dari sistem verrou.


[Sistem Gerendel di Indonesia]

Sistem verrou sendiri populer sejak tahun 1930-1940-an. Sistem ini ditemukan oleh pelatih Swiss, Karl Rappan.

Menurut Witarsa, ketika diserang lawan, pada hakikatnya sistem ini akan melakukan man to man marking. Dua penyerang dalam akan ditarik mundur ke belakang (lihat grafis) dan diberi tugas untuk menjaga penyerang dalam lawan, satu lawan satu. Sementara itu, dua gelandang akan diplot untuk mengawal dua penyerang sayap lawan.

Sedangkan dua bek di belakang akan berperan secara bergantian. Jika salah satu mengawal centervoor, maka satunya lagi naik ke depan menutup pergerakan inner lawan di area tengah.

Saat menyerang, sistem ini akan melakukan serangan balik lewat sayap melalui umpan-umpan panjang. Witarsa berujar, untuk membongkar sistem grendel, pelatih biasanya menukar posisi pemain. Pemain sayap, yang biasa melebar, dipasang di dalam. Sementara inner justru bergerak ke sayap.

Sistem Slingerback

Dalam sistem catenaccio kita mengenal istilah sweeper. Pemain ini biasanya berada sendirian di belakang. Jika lini belakang gagal menahan lawan, maka dia akan menjadi penyapu terakhir sebelum lawan bertemu kiper. Sistem ini amat rawan jika bek terakhir bersikap gegabah dalam melakukan clearence.

Tapi siapa sangka, bahwa sistem sweeper yang dimodifikasi pernah begitu populer di Indonesia. Sistem ini dikenal dengan sebutan slingerback (lihat grafis).


[Sistem Slingerback]

Sistem ini diperkenalkan oleh pelatih Austria, Ricard Kohn, yang memodifikasi sistem Eropa Tengah seperti yang sudah dibahas tadi. Di lini belakang, 2 bek berdiri sejajar secara vertikal di belakang 3 pemain yang membentuk garis awal pertahanan (2 gelandang 1 poros halang).

Peran gelandang adalah mematikan penyerang luar. Menurut Witarsa, peran itu mutlak harus berhasil dijalankan. Jika tidak, maka posisi penyerang luar akan tinggal berhadapan satu lawan satu dengan seorang sweeper.

Dua bek yang berdiri vertikal sendiri memiliki peran yang berbeda. Bek pertama dtugasi untuk menjaga centervoor lawan, sedangkan bek di belakangnya memiliki peran sebagai sweeper dengan area yang amat luas. Witarsa melanjutkan, bahwa untuk menghambat laju inner lawan, maka mau tak mau inner kita pun mesti mundur untuk mengikuti pergerakan lawan, bahkan sampai ke area pertahanan sendiri.

Kelemahan dari sistem ini menurut Witarsa adalah saat pelatih lawan memajukan centervoor amat tinggi. Akibatnya slingerback (dua bek yang sejajar vertikal) menjadi tak vertikal lagi dan malah sejajar horizontal.

Dengan Sistem MM Indonesia Menahan Uni Soviet

Dalam sistem MM, posisi centervoor ditarik ke dalam. Ini menyebabkan dua inner jadi berposisi paling tinggi. Dengan dua ujung tombak maka stopperspil akan kebingungan dalam melakukan penjagaan.

Tugas terberat dalam skema ini dibebankan kepada centervoor. Mau tak mau dia harus menguasai lapangan tengah sembari menyalurkan bola dari belakang ke depan. Untuk mematikan skema ini, menurut Witarsa, lawan tinggal menumpuk banyak pemain di lini tengah.

Tapi Indonesia mempunyai cerita manis dengan formasi 3-3-4 ini. Saat menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956, pelatih Toni Pogacnik menggunakan skema ini. Pertandingan itu amat legendaris, sebuah forklore yang didendangkan tak henti-henti.

Kadir Jusuf dalam buku berjudul “Sepakbola Indonesia” sedikit bercerita mengenai taktik yang dilakukan Pogacnik di laga tersebut. Menurut buku itu, Toni menerapkan sedikit modifikasi 3-3-4 itu dengan menarik Ramlan ke tengah. Alhasil didapatlah 3-3-1-3 (lihat grafis).

Dalam skema ini, pada mulanya Toni menempatkan Sian Liong sebagai centervoor, sementara Ramlan di posisi gelandang kanan. Namun karena sebagai pemain sayap Ramlah harus mengawal sayap kiri Uni Soviet yang berbadan tinggi dan berbahaya, maka posisi Ramlan ditukar dengan Sian Liong.

Toni mengakui bahwa dirinya yakin Uni Soviet akan kesulitan jika pertahanan Indonesia dilakukan dengan tujuh pemain (enam pemain di tengah dan belakang bermain sangat dalam dan menjaga kerapatan dengan kiper).

Tapi Toni enggan memberi kesan buruk di mata dunia bahwa orang Indonesia hanya bisa bertahan. Karenanya Toni mengintruksikan 3 pemain di depan untuk melakukan terobosan-terobosan dengan terus menerus bergerak dan bertukar tempat.

Di belakang tiga striker itu, ada Ramlan yang ditugasi sebagai metronom untuk menentukan ke arah mana serangan akan dialirkan.

Dalam bertahan, Kiat Seek jadi tumpuan terakhir untuk memblok serangan lawan. Toni sendiri memiliki tiga pemain tengah Liong Houw, Him Tjiang, dan Sian Liong yang memiliki fisik kokoh dan daya jelajah besar. Mereka bertugas sebagai penghalang pertama serangan lawan.

Dalam mengatur pertahanan, Toni Pogacnik membentuk garis imajiner 20 meter di depan gawang. Dari enam pemain yang bertugas bertahan, hanya Tanoto dan Sian Liong yang boleh keluar dari garis khayal tersebut.

Itu pun dengan syarat mereka berdua tak boleh melakukan tekel. Keduanya boleh membayangi lawan tetapi harus sambil bergerak mundur. Istilah ini dulu dikenal sebagai retreat. Setelah berada dalam area yang dibatasi garis imajiner (area berwarna kuning pada grafis di bawah), barulah Tanoto dan Sian Liong diperbolehkan melakukan tekel.

Dalam skema ini, Toni tak meminta tiga pemain depan (Aang Witarsa – Danu – Raman) turun ke belakang membantu pertahanan. Ramang dan Aang Witarsa hanya turun sampai garis tengah.

Sementara itu, Danu mendapat tugas ekstra. Ia harus mengambil posisi sedemikian rupa di tengah agar gelandang lawan yang agresif bisa terkontrol nafsu menyerangnya, karena harus memperhatikan Danu.

Seperti yang sudah di jelaskan di awal, saat bola sukses direbut maka bola akan langsung diberikan kepada Ramlan. Pada zaman itu, pola ini dikenal dengan istilah stepping-stone alias batu loncatan dalam menyerang.

Tugas Ramlan adalah mengumpan bola ke arah Ramang dan Witarsa di sayap. Menghadapi kondisi ini, centerback Uni Soviet bergerak keluar menghadapi salah satu dari mereka. Untuk menutup kekosongan, dua bek sayap Soviet lalu bergerak ke tengah untuk memotong Danu.

Untuk mengatasinya, Pogacnik meminta Ramang-Witarsa untuk menarik centerback Soviet selebar mungkin hingga ada jarak yang cukup jauh di antara para pemain Uni Soviet. Saat Ramang melebar, maka Witarsa akan menusuk ke dalam. Begitupun sebaliknya.

Tugas mereka berdua adalah one by one melawan centerback Soviet. Andaikan mereka bisa lolos dari pengawalan, maka Ramang-Witarsa boleh melepas tembakan ke arah gawang. Jika tidak, mereka melepaskan umpan silang ke depan gawang. Terkadang Ramlan pun diintruksikan untuk lari dari belakang. Dengan skema di atas, Indonesia dapat melakukan serangan kepada Soviet.

Tetapi sayang, kekurangan dalam kecepatan gerak, pertukaran posisi, dan teknik membawa bola, membuat serangan itu tidak benar-benar berbahaya. Alhasil timnas mendapatkan hasil imbang 0-0. Tapi, bagi Indonesia itu jadi sesuatu yang wah.

Advertisements