Inggris. Lagi-lagi Inggris. Tidak hanya membawa sepakbola ke berbagai belahan dunia lewat kolonialisasi, Inggris pun harus diakui mempengaruhi formasi dan taktik yang digunakan pada awal mula sepakbola modern.

Ini dicatatkan oleh Jonathan Wilson melalui bukunya “Inverting The Pyramid”. Mulai dari taktik di Eropa Daratan hingga Amerika Selatan dipengaruhi oleh englishman yang jadi pelatih di negara lain.

Secara tidak langsung, perkembangan evolusi taktik yang terjadi di bumi Indonesia pun dipengaruhi oleh Inggris. Setelah formasi 2-3-5 digunakan selama kurang lebih 30 tahun, pelatih timnas pertama, yaitu Choo Seng Que, mulai mempopulerkan formasi WM pada 1950-an.

Pelatih yang akrab dipanggil Uncle Choo itu memang bukan orang Inggris. Namun, ia dibesarkan oleh sebuah kultur sepakbola Inggris di tanah jajahan Singapura. Dalam karier kepelatihannya, Choo sempat menimba ilmu di Hong Kong sebelum akhirnya ketua PSSI, Maladi, menunjuknya sebagai pelatih untuk timnas yang baru saja terbentuk di 1950. Saat itulah WM mulai sering digunakan.

Di peta persepakbolaan dunia, WM lahir sebagai respons akan adanya aturan baru. Kala itu, sistem klasik tak berkutik saat muncul aturan baru tentang offside pada 1925. Adalah seorang pelatih legenda Arsenal, Herbert Chapman, yang menyempurnakan pola 3-2-2-3 itu.

Selama mengubek-ngubek kliping-kliping tentang pertandingan sepakbola pada dekade 30-an, saya belum menemukan tim yang memakai formasi 3-2-2-5. Hal ini sebenarnya tidak aneh karena formasi WM baru dibawa ke Indonesia pada 1940-an oleh Karel Fatter, pelatih klub UMS Jakarta. Lalu, Uncle Choo bersama timnas mempopulerkannya.

Modifikasi WM dengan Gelandang yang Bertahan

Endang Witarsa menjelaskan bahwa WM berkembang menjadi banyak variasi di Indonesia. Salah satu varian yang sering dipakai adalah dengan memodifikasi peran gelandang. Di Indonesia, modifikasi itu lazim terbagi jadi dua. Memodifikasi gelandang yang bertahan (WM Defensive) dan gelandang yang menyerang (WM Offensive).


[WM dengan Gelandang yang Bertahan]

Biasanya kedua bek sayap bermain melebar. Namun, dalam WM defensive/bertahan, pelatih akan menginstruksikan keduanya untuk merapat pada poros halang di depan gawang. Kedua bek ini berperan untuk menutup inner lawan. Tak hanya itu mereka pun ditugasi untuk melapisi area tengah saat poros halang maju menyerang.

Sekarang mari membahas poros halang. Saat bertahan, posisi poros halang yang berada di depan kiper disebut stopperspil (bek ketiga). Hal ini karena posisi poros halang bukanlah seorang bek murni. Ia berhak meninggalkan posisinya untuk naik ke depan.

Tugas utama poros halang pada skema ini adalah melakukan man to man marking kepada centervoor lawan. Syarat-syarat untuk menjadi poros halang yang baik menurut Witarsa adalah memiliki ketenangan, badan yang tegap, memiliki sundulan yang baik mengingat ia harus mengawal centervoor, dan kedua kaki kiri-kanan yang hidup. Syarat terakhir ini ada karena poros halang wajib memberi umpan-umpan panjang ke penyerang sayap.

Witarsa mengatakan bahwa poros halang diperbolehkan membantu serangan jika centervoor lawan tidak begitu berbahaya. Pada masa itu, striker yang lebih berbahaya dan banyak cetak gol biasanya adalah penyerang luar bukan centervoor.

Tugas menjaga pemain luar lalu diberikan kepada gelandang. Hal ini sebenarnya mirip dengan pola 3-5-2. Ada posisi yang memiliki peran sama tapi dengan nama berbeda. Jika dulu dikenal dengan istilah gelandang, pada formasi WM dikenal sebagai bek sayap. Saat bertahan bek sayap ini harus turun ke belakang mengawal pemain sayap lawan.

Perbedaan WM dengan 3-5-2 sekarang adalah pada masa itu centerback yang disebut sebagai poros halang diizinkan naik menjadi gelandang.

Inti serangan dari sistem WM sendiri terletak pada inner. Adalah tugas seorang inner untuk mengambil bola ke tengah dan mengarahkan serangan, apakah bola diberikan ke centervoor atau penyerang sayap.

Dalam skema ini, centervoor dan penyerang sayap harus berada di depan tak boleh ikut mundur. Saat menyerang, inner tak boleh terlalu depan. Area aksinya hanya sampai depan kotak penalti. Karena itu, seorang inner mutlak harus memiliki kemampuan tembakan jarak jauh yang akurat.

Modifikasi WM dengan Gelandang yang Menyerang

Pernahkah anda mendengar kata “spil”? Bagi yang sering mengamati taktik, kata itu tak asing terdengar bukan?

Banyak orang mengira spil adalah posisi dan diidentikan dengan bek. Tapi itu salah. Spil adalah kata kerja, bukan kata benda. Peran spil sama seperti libero pada 3-5-2 dan mereka akan berposisi di depan kiper sendirian. Pada formasi WM menyerang, spil akan diperankan oleh pemain yang berposisi sebagai poros halang (lihat grafis di bawah).


[WM dengan Gelandang yang Menyerang]

Spil memiliki area gerak yang lebih luas karena ia harus meng-cover final third pertahanan sendiri (lihat grafik di atas). Dalam skema WM menyerang, spil juga merangkap sebagai libero dan stopper. Spil pun wajib menjaga centervoor lawan.

Pada sistem WM bertahan, bek akan bergerak lebih ke tengah untuk menjaga penyerang dalam. Sementara di sistem WM menyerang, bek melebar ke sayap. Peran mereka bertukar dengan dua gelandang yang bergeser ke tengah. Coba bandingkan posisinya pada grafik WM dengan Gelandang yang Menyerang dan WM dengan Gelandang yang bertahan.

Witarsa mengatakan, peran gelandang dalam WM offensive mirip seperti pada poros halang dalam sistem ortodoks – mereka bertugas menyerang dan bertahan. Sekilas ini terdengar mirip dengan poros ganda di formasi 4-2-3-1 bukan?

Perbedaan lainnya pada WM defensive dan WM offensive adalah pada sistem serangan baliknya. WM bertahan akan mengandalkan serangan balik lewat inner, sementara pada sistem WM menyerang inti serangan terletak pada penyerang luar.

Dalam taktik ini kedua penyerang sayap diinstruksikan untuk tak memberi banyak voorzet (crossing) ke depan gawang. Tugas mereka justru untuk melakukan cutting inside ke dalam kotak penalti, baik dengan bola ataupun tanpa bola.

Mungkin dari pola pegerakan inilah kecenderungan menyerang dari sayap di Indonesia dimulai. Pada dekade 50-an, nama-nama seperti Ramang, Jusron dan Aang Witarsa adalah pemain tipe flank yang banyak cetak gol karena cutting inside-nya.

Sistem WM dan Umpan-Umpan Pendek

Umpan-umpan pendek selalu diidentikkan dengan tim yang stylish. Tak terbayangkan jika gaya bermain ini pernah berakar kuat di Indonesia. Tapi itulah yang terjadi pada 1950-an.

Memang tak jelas kapan kombinasi umpan pendek ini masuk di Indonesia. Hanya saja tercatat bahwa short passing mulai membumi saat WM mulai digalakkan.Tahun 1950-an ada sosok Fatah Hidajat sebagai salah satu master short passing di Indonesia. Kemudian muncul nama-nama seperti Dirhamsjah, Bob Hippy, Tjoa Siang Sui, Sun Bie, Soetjipto Soentoro dan lain-lain.

Di Indonesia corak short passing biasanya digunakan berbarengan dengan kombinasi segitiga. Adalah Choo Seng Quee yang mempopulerkannya saat timnas berlaga di Asian Games tahun 1951. Dan formasi yang dia gunakan untuk memaksimalkan corak ini adalah dengan menggunakan WM.

Apa yang dilakukan Uncle Choo dengan segitiga kombinasi pun sebenarnya sedikit melanggar aturan dari WM yang sebenarnya. Pasalnya banyak pemain yang keluar dari zona yang telah ditetapkan.

Pada posisi poros halang misalnya. Saat menyerang, poros halang dari belakang akan bergerak naik ke depan sejalan dengan arus serangan (lihat grafis).

Jonathan Wilson dalam buku The Inverting Pyramid menjelaskan bahwa kelemahan dari formasi WM adalah terpakunya pemain pada zona-zona yang dipatok. Penyakit ini tentu saja bawaan dari sistem ortodoks. Namun, lambat laun, penerapan zonal marking dalam WM mulai ditinggalkan.

Kemudian muncullah pola-pola modifikasi baru seperti sistem MM, WW,Verrou sistem, Magical Magyars hingga 4-2-4.