Sepakbola masuk ke Indonesia di akhir abad 19. Tapi mulai populer serta dimainkan oleh penduduk kolonial maupun pribumi di awal abad 20. Pada masa-masa itulah rule of the game sepakbola modern, yang diadopsi Inggris, diterapkan di Indonesia sepenuhnya.

Sepakbola yang semula dimainkan hanya untuk bersenang-senang, mulai mengalami penyeragaman. Jumlah pemain, ukuran lapangan, peraturan, dan lain sebagainya mulai dibakukan.

Salah satu bagian yang ikut dalam infiltrasi tersebut adalah taktik.

Ada sebuah kliping menarik dalam majalah Aneka yang berisi mengenai evolusi taktik sepakbola di Indonesia dari tahun 1920-an hingga tahun 1960-an. Dari tulisan itu, terlihat bahwa taktik yang populer dimainkan di Indonesia pada masa itu pada hakikatnya sama dengan di belahan dunia lainnya.

Maka, untuk mempelajari bagaimana sepakbola dimainkan di tanah air, sebenarnya banyak sumber sejarah taktik di luar sana yang bisa kita pakai sebagai referensi. Tapi dalam tulisan ini saya akan coba mengambil banyak bahan dari tulisan Endang Witarsa di majalah Aneka yang terbit pada November 1965.

Menyoal taktik ini, kita pun tak perlu ragu akan kemampuan Endang Witarsa. Ia adalah seorang pelatih ternama yang mempopulerkan formasi 4-2-4 di Indonesia. Berkat itu, dia mampu membuat Persija Jakarta menjuarai Kejuaraan Nasional tahun 1964.

Di tangannya juga lahir bintang-bintang kenamaan, mulai dari Yudo Hadianto, Tio Him Tjiang, Djamiat Dahlar, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Ronny Paslah, Widodo C Putro dan masih banyak lagi.

Salah satu yang menarik dari kliping ini adalah kita seolah dapat bertualang ke zaman itu dan mempelajari apa yang terjadi di taktik sepakbola Indonesia. Ini karena artikel-artikel itu dibuat langsung oleh penulis yang hidup di zaman itu. Kita dapat membaca apa-apa yang lumrah terjadi, kecenderungan taktik, serta apa saja yang biasanya diinstruksikan pelatih kepada pemain untuk mengoptimalkan taktik.

Hal lainnya adalah soal bahasa. Setidaknya kita akan sedikit menelaah dan mengenal istilah sepakbola yang mungkin cukup asing didengar untuk generasi saat ini.

Dalam tulisan kali saya ingin menyampaikan apa yang ingin di sampaikan Endang Witarsa. Apalagi bisa dikatakan ia menuliskan kliping tersebut pada saat berada di puncak karier kepelatihannya.

Mengenal Sistem Ortodoks di Indonesia

Belum lama ini Jose Mourinho menggerutu dan menyebut bahwa taktik bertahan total West Ham United sebagai permainan sepakbola ala abad 19. Sebagai sebuah permainan yang kolot. Namun seorang profesor sejarah, Matt Taylor, justru menanggapi ucapan Mou sebagai sebuah lawakan.

Bagaimana tidak. Sepakbola di awal abad 19 memainkan pola yang amat menyerang. Bahkan, tim-tim di masa itu menggunakan 5 striker sekaligus!

Di Indonesia, langgam taktik yang sama pun digunakan. Taktik ini dikenal dengan sistem ortodoks dengan formasi 2-3-5. Dengan pola yang populer di Indonesia hingga tahun 1940-an itu, pelatih menempatkan lima pemain sebagai penyerang dan hanya dua untuk bertahan (lihat gambar di bawah). Tentu jauh dari kata bertahan seperti yang dituduhkan oleh Mourinho.

Dengan sistem ortodoks ini, pada hakikatnya dua bek akan sejajar di belakang dan bertugas saling melapisi untuk menutup umpan terobosan pada penyerang tengah lawan. Tak jarang mereka pun akan bergeser ke sayap untuk menghalangi penyerang luar lawan.

Sekilas, hal ini mirip dengan peran bek modern di zaman ini bukan? Pada saat fullback naik ke depan, dua center back pun biasanya melebar ke sayap.

Untuk menjalankan perannya tersebut ada tiga hal yang mesti dimiliki oleh dua bek tengah pada 2-3-5: kecepatan berlari, kecerdikan melihat pergerakan lawan, dan memiliki tendangan longball yang cukup baik. Belum lahir bek-bek stylish yang mampu menggiring bola, atau membangun serangan dari bawah.

Sekarang mari bergeser ke lini tengah. Di area ini terdapat 3 pemain yang terdiri atas seorang poros halang dan dua gelandang.

Peran gelandang mirip seperti fullback dewasa ini. Selain untuk mengawal penyerang luar lawan, gelandang ini juga sesekali ditugasi untuk membantu penyerang kanan dan kiri luar.

Mengingat ia menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu bertahan dan menyerang, maka salah satu syarat gelandang yang baik adalah memiliki stamina yang baik. Terdengar mirip dengan syarat gelandang-gelandang masa ini, namun sebenarnya mereka memiliki tugas yang lebih berat lagi. Nah, kenapa bisa begitu?

Witarsa menjelaskan, bahwa dalam sistem ortodoks kelima penyerang di depan tak akan pernah ikut turun ke belakang saat bertahan. Mereka akan menunggu di depan karena area aksi mereka terbatas pada setengah area pertahanan lawan. Paling banter saat bertahan kelimanya akan berkutat banyak di lini tengah. Namun dengan sifat yang pasif.

Hal serupa juga terjadi di lini belakang. Mereka tak akan naik ke depan jika tak dibutuh-butuhkan amat.

Lantas, sebenarnya siapa yang memainkan peran sebagai pengatur di tengah? Jawabnya adalah poros halang.

Mengenal Peran Awal Poros Halang di Indonesia

Banyak orang yang bingung mendefinisikan peran ini. Ada yang bilang poros halang adalah gelandang bertahan, adapula yang menyebut sebagai bek yang perannya mirip seperti Libero.

Jawaban itu semua betul. Tapi tugas poros halang sendiri tergantung bagaimana formasi itu bekerja. Bahkan dalam formasi klasik selanjutnya, W-M, W-W, M-M ataupun slingerback (formasi ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya) posisi poros halang kadang berubah-rubah.

Tapi, secara sederhananya, dalam sistem ortodoks pemain yang menempati posisi poros halan ini akan mirip fungsinya seperti seorang deep-lying midfielder di zaman ini. Mereka akan mengkreasi serangan dari lini belakang, namun dengan gerak yang terbatas. Ini karena pergerakan mereka hanya sampai garis tengah lapangan. Selain mengatur serangan, sang poros halang pun harus baik dalam bertahan.


[Batas Area aksi pemain]

Tetapi, Witarsa menuliskan bahwa seorang poros halang tak diwajibkan untuk mundur ke belakang sejajar dengan bek saat timnya diserang. Ia hanya ditugasi untuk man to man marking kepada salah satu penyerang dalam lawan.

Karena itu, pemain ideal yang cocok untuk jadi poros halang adalah pemain yang besar, tegap, dan memiliki stamina yang kuat. Ini karena ia harus menghentikan sekaligus dua orang penyerang dalam lawan.

Salah satu poros halang terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia sendiri datang dari tanah Solo. Menurut Witarsa, pada tahun 1920-an, Persis Solo memiliki pemain bertipikal seperti ini. Orang lebih mengenalnya Marjo “si Kingkong”.

Berbeda dengan sepakbola dewasa ini, yang jarak antar lininya semakin rapat dan passing-passing pendek jadi dominan, sepakbola masa dulu bertumpu pada umpan jauh. Bahkan, ada sebuah aturan tak tertulis bahwa jarak minimal antara poros halang dan penyerang adalah sejauh 15 meter!

Maka tak heran jika seorang poros halang mesti memiliki tendangan jauh yang akurat, selain juga dituntut untuk prima secara fisik. Biasanya, umpan-umpan jauh ini akan dialirkan ke area sayap kepada penyerang luar, atau langsung ke depan kotak penalti kepada penyerang tengah.

Bagaimana Striker Zaman Dulu Bekerja?

Barisan depan lazim memakai 5 penyerang yang membentuk huruf W dan dibagi menjadi tiga posisi: penyerang tengah, penyerang luar, dan penyerang dalam.

Generasi 40-an lazim menyebut penyerang dalam dengan sebutan “inner”. Tugas posisi ini adalah merebut bola dan mengatur serangan setelah bola dialirkan dari lini belakang. Area gerak inner sendiri dimulai dari garis tengah lapang hingga depan gawang lawan.

Tugas inner lebih rumit jika dibandingkan dengan penyerang sayap. Tugas mereka terbatas hanya memberikan voorzet atau umpan silang. Mereka dilarang masuk bergerak ke tengah kotak penalti untuk menghindarkan berkumpulnya terlalu banyak pemain di depan gawang.

Bola-bola yang didapat penyerang luar sendiri biasanya didapat dari bola-bola panjang yang diberikan gelandang atau poros halang (lihat gambar di atas).

Meski memiliki lima penyerang, Witarsa menjelaskan bahwa sistem ortodoks ini akan bergantung pada penyerang tengah. Maka, jika penjagaan lawan kepada penyerang tengah diperketat, maka tim akan sulit mencetak gol.

Selain mematikan penyerang tengah, salah satu sistem yang bisa mematikan sistem ortdoks ini adalah sistem grendel dengan penempatan empat pemain di belakang dan sistem stopperspil. Ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Sistem klasik 2-3-5 akan dikenang dalam sejarah sepakbola Indonesia. Sistem ini dipakai dari awal abad 19 hingga tahun 1950-an. Sistem ini baru berubah setelah Choo Seng Que membawa satu formasi baru ke Indonesia: sistem WM.

Dari titik inilah Indonesia seolah tertinggal dari sepakbola luar. Jika Indonesia menggunakan 2-3-5 pada periode waktu yang sama dengan negara-negara Eropa, perubahan jadi sistem WM terasa terlambat.

Di Eropa sendiri, sistem klasik memang sudah jarang dipakai sejak adanya aturan offside baru pada tahun 1926. Saat kita masih asyik memakai sistem klasik, sepakbola Eropa sudah berkembang satu langkah lebih depan.