Posisinya selalu dipinggir lapangan, namanya jarang disebut, dan perannya hanya disebut sebagai seorang asisten. Namun mengambil keputusan yang tepat adalah suatu kewajiban mutlak.

Sayangnya tidak ada pilihan phone a friend, atau juga pilihan ask the audience. Yang ada hanya 50:50. Ya, atau tidak. Ketika berhasil memutuskan dengan tepat, tidak ada orang yang mengingat prestasinya. Tapi saat gagal, tak jarang seluruh dunia mengutuknya.

Ya, dia adalah sang asisten wasit atau lazim dikenal dengan nama hakim garis. Sebagai seorang asisten, ia memang tidak memiliki tanggung jawab penuh pada pertandingan. Tugasnya pun hanya untuk melihat bagian-bagian tertentu yang tidak dapat dilihat oleh wasit.

Tapi bukankah tugas itu sangat krusial? Coba lihat saja pertandingan antara Manchester City versus Liverpool pekan lalu. Seusai laga, banyak sekali pendukung Liverpool yang mencak-mencak karena dianulirnya gol Raheem Sterling. Pemain muda ini dianggap offside ketika menerima umpan Luis Suarez. Dan keputusan itu terbukti krusial, karena Liverpool akhirnya kalah selisih satu gol dari City.


[Raheem Sterling yang Dinyatakan Offside oleh Wasit]

Masalah selanjutnya timbul ketika keputusan-keputusan kontroversial jadi lebih banyak diingat ketimbang penilaian tepat seorang wasit.

Misalnya saja, banyak orang yang mengingat dianulirnya gol Frank Lampard ketika Inggris bertemu Jerman di Piala Dunia 2010. Sementara itu, kejelian hakim garis melihat sundulan Andy Carroll ke gawang Petr Cech, yang hanya menyisakan beberapa centimeter bagian bola sehingga belum sah jadi gol, di laga final Piala FA 2012 antara Liverpool dan Chelsea, sering dilupakan.

Ribuan keputusan sulit yang berhasil diselesaikan dengan tepat menjadi tidak berarti akibat satu dua kali kesalahan keputusan. Akibatnya makin muncul tuntutan akan teknologi tingkat tinggi untuk menjamin keakuratan 100%.

Saat ini, praktis hanya ada dua tugas utama yang dibebankan pada hakim garis: menentukan offside atau onside, dan menentukan apakah bola sudah keluar lapangan atau belum.

Dari kedua beban hakim garis tersebut, tugas untuk memutuskan offside atau onside merupakan tugas yang sering mendatangkan kontroversi. Tidak jarang asisten wasit mengatakan offside pada pemain yang tidak offside (flag error). Atau sebaliknya, ia mengatakan onside pada pemain yang offside (no flag error).

Munculnya kontroversi-kontroversi ini lalu melahirkan perdebatan akan adanya teknologi pendeteksi offside. Dari situ, mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai anak cucu kita tidak lagi mengenal wasit dalam permainan sepakbola, melainkan robot pengawas pertandingan.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari kasus ini adalah, apakah sebenarnya mata manusia mampu untuk menangkap kejadian offside? Dan apakah manusia memang mampu untuk memutuskan satu pemain dalam posisi offside atau onside?

Kehebatan Mata Manusia

Para peneliti di bidang sains olahraga telah melakukan berbagai penelitian mengenai hal ini. Misalnya saja penelitian yang dilakukan oleh Fransisco Belda Maruenda, peneliti Spanyol dari University of Murcia. Ia menjelaskan setidaknya terdapat lima hal yang harus dilihat, dalam satu waktu, oleh seorang asisten wasit untuk dapat memutuskan offside atau onside: posisi dua pemain menyerang yang akan mengoper dan menerima bola, posisi dua pemain bertahan paling akhir, dan posisi bola.

Asisten wasit harus mengetahui posisi kelima “faktor” tersebut dan timing pemain ketika melakukan operan. Barulah sang hakim garis memutuskan dengan cepat apakah pemain yang dioper berada dalam posisi offside/onside.

Menurut Maruenda, secara fisiologis mata manusia memang memiliki beberapa kemampuan yang memungkinkan untuk melihat sebuah kejadian, meski berlangsung secara singkat. Ini karena mata manusia dapat bergerak dengan cepat, dan tiba-tiba, untuk berpindah dari satu titik ke titik lain dalam waktu singkat. Pergerakan ini disebut dengan saccadic movement.

Ditambah lagi, mata manusia juga dapat melihat satu benda yang sedang bergerak, atau yang dikenal dengan smooth pursuit movement. Selain itu, mata manusia juga memiliki kemampuan vestibular movement, atau kemampuan mata untuk tetap fokus pada satu titik meski kepala digerakkan.

Faktor terakhir, mata memiliki kemampuan untuk melihat secara luas kemudian berubah menjadi fokus pada satu titik (konvergen), atau sebaliknya (divergen). Kemampuan mata seperti ini disebut dengan vergence movement.


[Perhitungan Matematis Melihat Offside]

Secara matematis, waktu yang dibutuhkan oleh mata hakim garis melakukan gerakan saccadic dan menangkap salah seorang pemain adalah 130 milli detik/milli second/ms. Kemudian, untuk dapat melihat pemain kedua, ketiga dan keempat dengan kembali melakukan gerakan saccadic berurutan, waktu total yang dibutuhkan adalah sekitar 160 ms.

Jika salah satu pemain berada pada jarak lebih dari enam meter dari asisten wasit, maka dibutuhkan waktu tambahan untuk mata melakukan akomodasi agar dapat fokus melihat kedua objek pada jarak berjauhan. Waktu yang dibutuhkan mata untuk berakomodasi ini adalah sekitar 360 ms.

Jika keempat pemain tersebar di sepanjang pandangan asisten wasit, maka mata harus melakukan vergence movement. Pergerakan mata ini membutuhkan waktu sekitar 640 ms.

Lalu apakah waktu tersebut cukup untuk dapat menangkap kejadian offside atau onside? Jika kita asumsikan kecepatan lari pemain sepakbola adalah 7,14 m/s (setara dengan lari 100 m dengan waktu tempuh 14 detik), maka dalam 100 ms si pemain akan berpindah 71 cm.

Dalam kata lain, dalam 160 ms (waktu hakim garis untuk melakukan gerakan saccadic berurutan) pemain sudah berpindah sejauh 1,13 meter.

Nah, jika asisten wasit juga harus melakukan vergence movement selama 640 ms, maka pemain sudah berpindah sejauh 4,5 m. Perpindahan ini sudah sangat cukup untuk membuat asisten wasit melakukan kesalahan pengambilan keputusan.

Lalu apakah hal ini berarti mata manusia memang tidak sanggup menangkap kejadian offside atau onside? Tidak bisa juga dikatakan demikian.

Berbeda dengan robot, manusia dapat dilatih untuk dapat menyesuaikan keadaan sehingga dapat mengatasi kekurangan. Artinya, seorang asisten wasit tidak perlu melihat secara rinci setiap detail kejadian sebelum bola dioper, ketika bola dioper, dan setelah bola dioper.

Asisten wasit hanya perlu mengetahui posisi setiap pemain yang terlibat, tepat ketika bola ditendang. Dengan menggabungkan kemampuan yang sudah dimiliki mata, dan insting yang sudah terbentuk dari hasil pelatihan, tugas ini seharusnya sangat mungkin untuk diselesaikan dengan baik oleh asisten wasit.

Dari Mana Muncul Kontroversi

Kemampuan dan insting manusia itu tak berarti keputusan-keputusan yang diambil hakim garis selalu tepat. Lalu apa yang menyebabkan sering terjadinya kesalahan ketika asisten wasit mengambil keputusan?

Dari hasil penelitian, muncul dua hipotesis yang menjelaskan penyebab paling banyak timbulnya kontroversi onside/offside. Hipotesis pertama dikemukakan oleh Raoul D. Oudejans, yang bernama optical error hypothesis. Menurut Raoul, kesalahan akan terjadi ketika asisten wasit tidak berada pada posisi yang seharusnya, ketika kejadian offside terjadi.

Seorang asisten wasit seharusnya memang tetap berada satu garis dengan posisi pemain bertahan kedua terakhir. Posisi inilah yang akan membuat asisten wasit mudah untuk mengamati offside/onside.

Ketika asisten wasit tidak berada pada posisi yang tepat, ketika itulah kesalahan sering terjadi. Pemain yang tidak berada dalam posisi offside akan terlihat dalam posisi offside. Begitu juga sebaliknya. Pemain yang berada dalam posisi offside akan terlihat dalam posisi onside.

Misalnya saja pada gambar di bawah. Terlihat posisi hakim garis yang tidak berada tempat yang tepat, sehingga pemain menyerang yang berada dekat dengan hakim garis (kanan) akan terlihat tidak offside (No Flag Error), sementara pemain menyerang yang berada lebih jauh akan terlihat offside (Flag Error).

Hipotesis kedua bernama Flash lag hypothesis yang dikemukakan oleh M. Baldo. Flash lag adalah sebuah ilusi yang sering dilihat oleh mata manusia ketika melihat pada satu objek yang bergerak. Ilusi mata ini akan menyebabkan mata manusia salah dalam menggambarkan posisi suatu benda.

Di lapangan, ilusi ini timbul karena mayoritas pemain yang menerima operan akan berlari. Hal inilah yang kemudian menyebabkan wasit mengalami ilusi sehingga salah dalam menentukan posisi pemain offside atau onside.

Hingga saat ini, kedua hipotesis inilah yang dianggap menjadi penyebab terjadinya kesalahan pengambilan keputusan bagi hakim garis. Namun lagi-lagi, manusia memiliki kelebihan untuk dilatih sehingga memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

Asisten wasit dilatih agar memiliki kemampuan fisik yang prima sehingga dapat mengikuti pergerakan pemain belakang terakhir. Daya konsentrasi asisten wasit pun ditingkatkan sehingga mampu untuk tidak melihat ilusi-ilusi yang menyebabkan kesalahan persepsi mata. Dengan begitu. kesalahan-kesalahan pengambilan keputusan akan dapat diminimalisir.

Manusia memang merupakan alat ukur paling buruk. Penggunaan alat-alat bantu yang bisa menutupi kekurangan memang sudah sewajarnya diterapkan agar setiap aktivitas manusia dapat berjalan lancar. Hanya saja, tujuan dikembangkannya teknologi adalah untuk membantu setiap kegiatan manusia, bukan untuk membuat manusia menjadi terlihat tidak berguna.

Menentukan offside atau onside memang sebuah pekerjaan yang tidak mudah diselesaikan oleh manusia. Mata manusia tidak cukup cepat untuk menangkap banyak kejadian dalam waktu sangat singkat tersebut. Namun, tentu manusia juga memiliki akal untuk mensiasati hal tersebut.

Jadi, apakah manusia sanggup untuk menentukan offside atau onside? Jawabannya adalah “bisa”. Namun, jika pertanyaannya adalah apakah manusia dapat mengambil keputusan offside atau onside dengan akurasi 100% tepat? Jujur saja, jawabannya adalah “tidak”.

Yang dapat dilakukan manusia hanyalah membuat kesalahannya menjadi seminimal mungkin. Apakah hal ini dapat ditolerir? Silakan diperdebatkan. Namun satu hal yang pasti, permainan terindah ini tidak akan hilang keindahannya akibat kesalahan seperti apapun.

Advertisements