Banyak pengusaha sukses dan kaya raya Indonesia yang berasal dari luar Indonesia dan berkewarganeraan lain yang kemudian berhasil memperluas jaringan bisnis dan usahanya sampai menjadi sebuah perusahaan internasional yang dikenal dunia, dan lebih memilih untuk kembali ke negaranya saat sudah berhasil serta mempertahankan kewarganegaraan asli mereka. Namun ada salah seorang pengusaha yang termasuk dalam 10 orang terkaya di Indonesia yang berasal dari India, namun seiring perjalanan kesuksesan bisnisnya di Indonesia akhirnya ia lebih memilih untuk menjadi warga negara Indonesia. Dan Dia adalah Sri Prakash Lohia. Lahir di Kolkata, India pada tanggal 11 Agustus 1952 dari pasangan Kanchan Devi Lohia dan ML. Lohia. Seorang pengusaha keturunan India yang menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia dan menjadi salah satu calon orang terkaya di dunia yang memilih menjadi warga negara Indonesia di tahun 1983.

Perjalanan Bisnis Sang Raja Polyester Terkaya Indonesia Menaklukkan Dunia

Perjalanan bisnis diawali oleh M.L. Lohia yang merupakan ayah dari Sri Prakash Lohia yang pindah dari India, dan kemudian mendirikan sebuah pabrik benang sederhana di Purwokerto pada tahun 1975 yang memproduksi benang untuk tekstil. Di mana pabrik ini berkembang pesat dengan jumlah karyawan mencapai 2000 orang. Dengan investasi awal hanya sekitar US $ 10 juta, namun berhasil memberikan keuntungan bagi pemiliknya sebesar US $ 7 billion, setelah itu Sri Prakash Lohia mencoba masuk dan mengembangkan sayap bisnisnya di bidang Polyester pada tahun 1992 dengan mendirikan perusahaan Indorama Ventures, kemudian melebarkan kepakan sayap bisnisnya ke Polyethylene yang merupakan bahan baku botol plastik, seperti produk Aqua, Pepsi, dan Coca-Cola. Tak puas dengan hal tersebut Pengusaha keturunan India ini mengembangkan usahanya ke dalam bisnis packaging. Dan bisnis ini sekarang sudah tersebar di 20 negara dengan jumlah karyawan sebanyak 25 ribu orang.

Grup Indorama berubah dari sebuah perusahaan yang multi nasional yang terbagi menjadi Indorama Shebin, Indorama IPLIK, dan ISIN Lanka. Dengan produksi polyester, PET resin, Polyethylene, Polypropylene, kain, sampai sarung tangan medis yang diserahkan pengelolannya ke perusahaan bernama Medisa Technologies dan pada tahun 1995 Indorama mengembangkan usahanya di bidang perumahan dan real estate di bawah pengelolaan Indorama Real Estate.

Salah satu rahasia sukses bisnis yang dimiliki dan dikelolanya menurut SP Lohia adalah “dengan melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan akal sehat, namun tidak ada yang mampu meniru kreativitasnya.” dalam menjalankan kerajaan bisnis miliknya. SP Lohia juga merupakan satu-satunya pengusaha Indonesia yang benar-benar global karena memiliki perusahaan yang terdaftar di bursa efek Thailand melalui ekspansi perusahaan Indorama Ventura PCL yang menjadi sebuah perusahaan polyester yang terintegrasi dan merupakan yang terbesar di dunia, dan berkantor pusat di Jakarta dan London.

Mengembangkan Kepak Bisnis Sampai ke Afrika dan Timur Tengah

Pada tahun 2012, SP Lohia selaku pemilik Indorama Group melakukan tindakan beresiko dengan membeli Old World Industries Inc., sebuah divisi kimia AS yang terletak di Nigeria, dan merupakan perusahaan yang hampir bangkrut dan dijual melalui proses pelelangan. Namun ternyata dengan sentuhan tangan dingin sang Maestro usaha yang hampir keok ini dirombak secara besar-besaran yang kemudian menjadi sebuah bisnis yang paling menguntungkan dan penyumbang kekayaan terbesar bagi SP Lohia.

Untuk pengelolaan perusahaannya SP Lohia mempercayakan anaknya yang bernama Amit, untuk mengelola bisnisnya yang berada di Afrika dan Indonesia dari Singapura, dan adiknya Aloke menjadi CEO untuk perusahaan yang berada di Negeri Gajah Putih. Sri Prakash Lohia mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Afrika benar-benar menjadi pusat perhatiannya. Bahkan saat dua Insinyur yang bekerja di Petrokimia Eleme miliknya disandera pada tahun 2007, SP Lohia secara langsung terlibat dalam proses negosiasi pembebasan di Nigeria.

SP Lohia memulai bisnisnya di Benua Afrika saat ia menghadiri Afrika-Asia Summit pada tahun 2005, di mana dia berhasil mengadakan pendekatan dengan Presiden Nigeria Olusegun Obasanjo. Saat itu ia berhasil membeli sebuah pabrik yang dilelang oleh pemerintah dengan harga US $ 225 juta pada tahun 2006. Saat diakuisisi, kondisi dan situasi pabrik sangat tidak layak dan menyedihkan. Pabrik ini hanya beroperasi dalam jumlah produk yang sangat kecil bila dibandingkan dengan kapasitas seharusnya. Namun dengan tekad bulat disertai dengan kerja keras, SP Lohia mengadakan perbaikan, pemeriksaan, dan pemeliharaan. Dan tepat pada bulan September tahun 2006 perusahaan ini aktif dan beroperasi kembali dengan berhasil menghasilkan 350.000 poliolefin/tahun, sesuai dengan kapasitas sebenarnya. Hasil produksinya pun tidak hanya dijual di Afrika, namun juga diekspor.

Kisah inspiratifnya yang berhasil melakukan privatisasi terhadap sebuah pabrik yang hampir bangkrut ini sering dikutip dan menjadi sebuah studi kasus untuk privatisasi oleh lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia. Bahkan menurut SP Lohia, Petrokimia Eleme miliknya telah berhasil menyelamatkan uang pemerintah Nigeria sebesar US $ 1 miliar. Dan menjadi salah satu wajib pajak di sebuah perusahaan besar di Nigeria, dengan berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi 11.000 karyawan tetap maupun karyawan lepas yang merupakan masyarakat sekitar. Untuk mengawasi bisnisnya di Nigeria SP Lohia mengunjunginya setiap 3 bulan sekali.

Meskipun pabrik yang berada di Nigeria merupakan salah satu bisnis yang menyumbang pendapatan terbesar dengan pendapatan mencapai US $ 7 milyar/ tahun. Namun Indorama Group atau Indorama Corporation sebenarnya telah memiliki 39 pabrik yang tersebar di 19 negara. Dan untuk mengelola dan mengawasi kerajaan bisnisnya ini Sri Prakash Lohia lebih banyak menghabiskan waktunya di London untuk mengawasi bisnisnya yang berada di Afrika, dan di Singapura untuk mengelola bisnisnya yang berada di Indonesia dan Asia Tenggara.

Untuk langkah selanjutnya Sri Prakash Lohia lebih berfokus untuk membidik peluang yang diperhitungkan akan berpeluang terbuka di lima sampai 10 tahun ke depan. SP Lohia saat ini sedang mengerjakan megaproyek di Nigeria, Timur Tengah dan Uzbekistan, yang bernilai sekitar US $ 5 milyar. Dan proyek-proyek ini termasuk sebuah bisnis yang membutuhkan waktu yang lama untuk beroperasi.

Kunci sukses seorang Sri Prakash Lohia adalah dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan bisnis yang akan ia jalani sampai mencapai kesuksesan. Pertimbangan yang dimaksud adalah:

* Memilih lokasi yang tepat dan memiliki prospek yang baik untuk berinvestasi
* Mencari sumber bahan baku
* Menjaga ketersediaan bahan baku
* Memberikan harga wajar namun tetap menguntungkan
* Memberikan diskon dan potongan harga kepada pelanggan namun tetap kompetitif

Selain hal di atas faktor terpenting dalam mengembangkan sebuah bisnis besar adalah dengan mempertahankan pembiayaan yang memanfaatkan kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan internasional seperti Bank swasta dan Internasional Finance Corporation, dan selalu berkomitmen untuk membayar tepat waktu. Dan salah satu yang menjadikan SP Lohia dapat mengatur karyawannya yang berjumlah 19 ribu di seluruh dunia adalah dengan memilih dan mendidik Manajer yang tepat dalam menjalankan perusahaan dan bisnisnya. “Kami melatih karyawan menjadi rajin, terampil, dan jujur.”, ungkap Sri Prakas Lohia. Hal ini dilakukan untuk membuat bisnisnya terus berkembang pesat dan menjadi salah satu kerajaan bisnis dunia yang paling berpengaruh di dunia.