Seorang pelatih sepakbola yang sedang stres menyusuri tepian pantai di daerah Tyrrhenian, Italia — lautan di tengah Roma, Napoli, Sardinia, dan Sisilia. Kepalanya tak berhenti berpikir mencari solusi agar timnya agar bisa menang dan bangkit dari keterpurukan. Ia pusing lantaran timnya jadi bulan-bulanan lawan saat menyerang dan tak terampil ketika memutuskan bertahan.

Matanya kemudian tertuju pada nelayan yang sedang menarik jaring berisi ikan-ikan yang terperangkap. Nelayan tersebut mengumpulkan hasil tangkapannya dan kembali ke daratan.

Sang pelatih tergugah. Tapi bukan soal jumlah ikan yang berhasil ditangkap sang nelayan. Bukan pula soal kinerja si nelayan. Dia tertarik pada jaring sang nelayan yang terdiri dari berbagai lapis. Ikan yang lolos dari lapis pertama tak akan selamat pada lapis kedua, ketiga, dan selanjutnya.

Layaknya seorang Archimedes yang melihat fenomena air tumpah dari bak mandi, sang pelatih pun menemukan momen “eureka-nya” sendiri saat melihat jaring nelayan tersebut. Ya, ketika seorang penyerang tidak bisa dihentikan oleh satu pemain bertahan, maka harus disiapkan pemain bertahan lapis kedua, ketiga, dan keempat untuk menghentikannya.

Pelatih tersebut adalah Gipo Viani, pelatih Salernitana yang sedang berkompetisi di Serie B musim 1946-1947. Dia kemudian menerapkan sepakbola bertahan di Salernitana dengan membuat beberapa lapis tembok pertahanan. Dengan cara ini Viani berhasil membawa Salernitana promosi ke Serie A sekaligus mendapat predikat tim dengan pertahanan terbaik di liga divisi 2.

Dalam perjalanan waktu, publik mengenal sistem permainan ini dengan sebutan Catenaccio. Sistem gerendel yang memainkan pertahanan berlapis. Kehadiran seorang sweeper menjadi kunci filosofi Catenaccio sebagai pelapis di belakang barisan pertahanan yang melakukan man marking.

Namun sebenarnya, Viani bukan orang pertama yang memperagakan sistem tersebut. Satu dekade sebelum Viani menerapkannya di Salernitana, seorang pelatih asal Swiss bernama Karl Rappan lebih dulu memperagakannya.

Dengan sistem permainan sejenis Catenaccio, Rappan membawa Swiss bangkit dari keterpurukan. Jurnalis Swiss menyebutnya sistem Verrou saat Rappan menerapkannya di tim nasional Swiss pada akhir tahun 30an. Pada dasarnya, Verrou dan Catenaccio memiliki arti relatif sama.

Sistem permainan pun relatif tidak berbeda. Verrou dan Catenaccio menitikberatkan pada pertahanan berlapis. Verrou juga memainkan seorang verrouller dengan fungsi serupa dengan sweeper pada Catenaccio. Satu-satunya perbedaan adalah basis formasi bermain. Catenaccio versi Viani menggunakan 3-4-3 dan Verrou versi Rappan berbasis 4-3-3. Namun nafasnya sama.

Catenaccio kemudian identik dengan klub-klub kecil yang ingin mencuri poin saat berhadapan dengan berbagai klub besar. Dengan membuat pertahanan berlapis, tim gurem menyulitkan tim besar menembus pertahanan. Dengan cara ini, tim kecil mengincar hasil imbang atau unggul satu gol lewat serangan balik.

Banyak orang beranggapan pertandingan akan menjadi lebih membosankan jika salah satu tim memperagakan Catenaccio. Tentu saja. Jumlah gol yang relatif sedikit, permainan yang tidak mengalir, serangan yang hanya sesekali berhasil, dan bola yang lebih sering berada di tengah lapangan ketimbang di kotak penalti.

Tapi Helenio Herrera tak akan setuju bila Catenaccio dinilai membosankan. Herrera merupakan pelatih yang berhasil membuktikan bahwa Catenaccio bukan sekadar permainan tim kecil untuk mencuri poin dari tim besar. Dengan catenaccio, Herrera dua kali membawa Inter Milan menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 1964 dan 1964.

Menurut Herrera, publik salah paham terhadap Catenaccio. Ini bukan filosofi bertahan total. Itu sebabnya, lanjut Herrera, sejumlah pelatih juga melakukan kesalahan ketika meniru gaya permainan Catenaccio.

Di Inter Milan, Herrera menempatkan Giacinto Facchetti di posisi fullback kiri. Faktanya, Facchetti adalah fullback paling produktif pada masa itu karena dia diperintahkan Herrera ikut membantu penyerangan.

Tapi berbeda ketika Facchetti bermain di tim nasional Italia. Ia menjalani 94 caps bersama tim nasional Italia dan hanya berhasil menyumbangkan tiga gol bagi Gli Azzurri. Padahal, posisi bermain Facchetti di tim nasional Italia dan Inter tak berbeda. Kedua tim juga memainkan Catenaccio.

Catenaccio banyak mendapatkan kritik karena mereka salah menggunakannya,” kata Herrera dalam wawancara dengan Simon Kuper yang ditulis pada buku Soccer Against the Enemy.

Herrera beranggapan Catenaccio, yang kemudian digunakan oleh banyak pelatih setelahnya, hanya menerapkan sistem pertahanannya saja. Tapi para pelatih ini tidak mengerti bagaimana Catenaccio sebenarnya digunakan untuk menyerang.

Facchetti menjadi bukti klaim Herrera. Ia tidak diberikan lisensi menyerang saat memperkuat tim nasional Italia, sehingga tak punya banyak kesempatan untuk mencetak gol. Keadaan yang sangat berbeda dengan masa Facchetti bersama Herrera di Inter.

Meski bukan yang pertama kali memainkannya, Herrera selalu ditunjuk sebagai orang pertama bila ada pembicaraan tentang Catenaccio. Herrera kebetulan mengklaim sebagai orang pertama yang menerapkannya.

Di Liga Prancis sekitar 1945, Herrera tampil sebagai bek kiri kala Putaeux (klub Herrera ketika itu) sedang unggul 1-0 dalam waktu 15 menit tersisa. Herrera kemudian meminta rekannya di sayap kiri untuk bermain sebagai bek kiri dan dia pindah ke belakang barisan pertahanan layaknya seorang sweeper. Dengan kiat ini, Putaeux berhasil mempertahankan kemenangan 1-0 hingga pertandingan berakhir.

Menurut Herrera yang orang Argentina itu, inilah pertandingan pertama yang memanggungkan Catenaccio sebelum berkembang dan mengalami banyak perubahan, terutama di Italia – yang akhirnya identik dengan gaya permainan ini. Tapi Herrera mengaku tidak menggunakan Catenaccio saat menangani Atletico Madrid pada tahun 1949-1952, serta Barcelona pada tahun 1958-1960. Dia menilai setiap negara memiliki karakteristik pemain yang berbeda.

Pertanyaannya, mengapa Catenaccio berhasil di Italia? Sejumlah ahli mengatakan faktor inferior fisik orang Italia dibandingkan orang Eropa pada umumnya menjadi pengaruh terkuat. Namun Herrera tak sependapat. Bahkan raut wajahnya berubah sinis ketika mendengar klaim di atas. Menurut Herrera, perbedaan karakteristik pemain di setiap negara sebenarnya tidak mempengaruhi gaya bermain negara terkait.

“Jika sistemnya berjalan dengan benar, maka di manapun akan sama,” kata Herrera. “Rahasianya adalah menempatkan pemain yang tepat di posisi yang tepat. Jika Pele ditempatkan di posisi yang salah, maka dia tidak akan bermain cemerlang,” tambahnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat Herrera tersebut, Catenaccio kini sudah identik dengan Italiaa. Layaknya Inggris yang identik dengan Kick and Rush dan Belanda dengan Total Football-nya. Jika alasannya lantaran orang Italia punya fisik yang lebih lemah, juga bukan menjadi aib ketika Italia berhasil mengubah kelemahannya tersebut menjadi keunggulan. Toh tiga dari empat trofi Piala Dunia yang mereka raih dilakukan dengan gaya Catenaccio.