Sudah bukan rahasia lagi jika tim-tim Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina bermain bola dengan mengandalkan skill-skill individu yang luar biasa. “Penggocek ulung” atau “flamboyant footballer” sangat identik dengan pesepakbola-pesepakbola latin.

Lain dengan Amerika latin, pesepakbola-pesepakbola di Eropa lebih menitikberatkan kepada hal teknis dan taktis. Frank De Boer mengaku, seumur hidupnya sebagai pemain, ia tidak pernah berlatih trik-trik sepakbola tertentu. Ia tidak menyukainya, dan menganggap seorang pemain sepakbola hanya perlu menguasai teknik-teknik dasar saja, seperti mengoper, menerima bola, dan menendang, untuk dapat bermain dengan taktis dan efisien.

Taktikal di atas lapangan inilah yang menciptakan sepakbola era modern seperti sekarang. Gaya bermain operan pendek dari kaki ke kaki telah terbukti menjadi gaya main “yang teramat benar” untuk saat ini, jika dihubungkan dampaknya terhadap ball possession dan kemenangan. Tentu saja ada pula pihak-pihak yang menganut anti -total football, salah satunya adalah Michele Dalai, seorang jurnalis yang menulis buku berjudul “Against Tiki Taka”. Mungkin Dalai tidak menyadari bahwa sesungguhnya statistik menunjukkan bahwa mayoritas juara di sepakbola menganut salah satu paham prinsipil dari total football, yaitu kuasai bola dengan sebanyak-banyaknya. Menguasai bola yang paling efektif saat ini adalah dengan menjadikan operan pendek menyusur tanah sebagai “gaya” yang dominan.

Uniknya, gaya main sepakbola modern yang sangat identik dengan total football ini diprakarsai oleh seorang pelatih Inggris pertama di Ajax Amsterdam, Vic Buckingham. “Bermain dengan umpan-umpan panjang terlalu berisiko”, ujarnya. Sayangnya, prinsip bermain seperti ini tidak diadopsi oleh pelatih-pelatih di Inggris, dan justru semakin berkembang di tanah Belanda.

Di tanah Britania, terjadi transformasi gaya bermain yang cukup stagnan. Orang-orang Inggris terkenal dengan egonya yang cukup tinggi. Sebagai negara yang sangat maju, mereka merasa selalu benar. Dan ini pun terjadi di sepakbola. Harry Redknapp pernah berkomentar di BBC menanggapi performa timnas Inggris: “Kami (Inggris) tidak tahu bagaimana cara bermain sepakbola. Perubahan harus dilakukan secara menyeluruh dari level atas ke bawah. Di sepakbola level internasional, anda tidak bisa hanya melakukan shooting sekencang-kencangnya dan sebanyak-banyaknya. It’s all about possession, retaining the ball, controlling the game. Permasalahannya adalah Inggris tidak memiliki pola bermain yang jelas. Kami tidak memiliki pemain-pemain yang bermain dengan gaya yang sama, gaya yang ‘benar’, dan itu semua harus dilatih dari sejak usia yang sangat muda.”

Kick ‘n Rush setidaknya mereka anggap sebagai gaya bermain “yang benar” sampai dengan tahun 2008, yaitu ketika FA menelurkan sebuah kurikulum baru di sepakbola, yang bertajuk “The Future Game”. Program ini diluncurkan oleh FA untuk membentuk keseragaman “gaya bermain” di seluruh tanah sepakbola Inggris, dengan sasaran utama para pemain muda dari level grassroot sampai dengan profesional. Seperti yang telah dilakukan Belgia (menciptakan standarisasi “gaya bermain”), Inggris pun berharap dapat melakukan transformasi paham bermain di atas lapangan secara menyeluruh, dan menggapai prestasi yang diinginkan.

Panduan modul The Future Game ala Inggris tersebut menurut penulis sangat betul-betul berbau “Belanda”. Semua aspek yang terkandung di dalam modul tersebut adalah pemahaman-pehamaman yang telah dilakukan oleh Belanda sejak dahulu melalui total football-nya dan beberapa negara lain yang dimulai sedari tahun 90-an. Melihat nilai-nilai historis dan betapa megahnya industri sepakbola mereka, bisa dibilang Inggris dinilai “telat” dalam menyadari pentingnya program “standarisasi gaya bermain sepakbola” tersebut.

Di lain negara, seperti di Spanyol, transformasi sepakbola di negara Matador tidak lepas dari peranan figur-figur seperti Johan Cruyff dan Rinus Michels. Cruyff adalah pribadi yang terkenal rebellious, namun sangat cerdas. Dikisahkan, di manapun ia berada, pasti ia akan menciptakan konflik yang bertensi tinggi. Di tahun 1988, presiden Ajax Amsterdam, Ton Harmsen memutuskan untuk memberhentikan Cruyff, yang menjabat sebagai pelatih kepala ketika itu, karena konflik yang berkepanjangan di antara mereka. Setelah pemutusan hubungan kerja tersebut, Cruyff pun langsung dipinang FC Barcelona sebagai pelatih kepala. Sebagai konsekuensi dari tindakan Ton Harmsen tersebut adalah, bila ditarik garis regresi, itulah penyebab Belanda gagal memenangi Piala Dunia 2010, lantaran dikalahkan Spanyol di final dengan skor 1-0.

Cruyff adalah orang yang menanamkan filosofi bermain Barca (menyempurnakan Rinus Michels), membangun fondasi Barcelona melalui La Masia, dan mengajari Pep Guardiola semua ilmu yang dia miliki. Ketika di tahun 2008-2010 Guardiola membuat Barcelona menjadi tim yang sangat tangguh, secara tidak langsung hal itu mempengaruhi skuat Spanyol di Piala Dunia 2010 dan “mempermudah” pekerjaan Vicente Del Bosque. Hampir seluruh pemain Spanyol ketika melawan Belanda di final Piala Dunia 2010 adalah pemain Barcelona. Kekuatan pengaruh “Belandanisasi” di Barcelona sangatlah kuat, yang dibuktikan dengan tradisi formasi 4-3-3 khas ala Belanda yang tidak pernah sedikit pun berubah. Ketika “murid’ mengalahkan guru”, itulah yang terjadi secara tidak langsung (regresi) ketika Spanyol mengalahkan Belanda di final Piala Dunia 2010.

Joe Jackson, seorang pelatih berlisensi UEFA B yang bernaung di Birmingham County FA, menganalisis mengapa tim seperti Spanyol dan Barcelona jarang melakukan tackling-tackling keras dan bertenaga layaknya pemain-pemain Inggris. Ia berpendapat bahwa pemain-pemain Spanyol paham bagaimana bermain sepakbola yang benar. Mereka tahu harus bergerak ke mana setelah melakukan operan; tahu harus bersikap seperti apa ketika lawan menguasai bola; dan pergerakan posisi mereka selalu benar dan tepat waktu. Keterlambatan dan kesalahan dalam melakukan pergerakanlah yang membuat pemain mau tidak mau harus melakukan tackling. Dan semua itu berbanding lurus dengan apa yang pernah dikatakan oleh Johan Cruyff: “when you are not late, you don’t have to chase the ball more”.

Di tanah Italia, terjadi pengaruh “Belandanisasi” yang pun begitu kental. Italia terkenal dengan sepakbola pragmatisnya. Catenaccio dianggap sebagai paham suci yang harus dilestarikan. Hal itu bertahan terus-menerus sampai kemunculan seorang Arrigo Sacchi di AC Milan. Sebelum menjadi pelatih sepakbola, Sacchi hanyalah seorang pedagang sepatu, membantu bisnis keluarganya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Sacchi selalu merasa sepakbola adalah passion yang sesungguhnya. Sacchi tidak pernah menjadi pemain sepakbola profesional, dan inilah yang menstimuli quote terkenal yang keluar dari Sacchi ketika beberapa orang mempertanyakan kompetensinya sebagai pelatih: “I never realised that in order to become a jockey you have to have been a horse first… There’s no rule. The most important thing is having the desire to keep improving”.

Bermulai dari melatih klub lokal di Italia, Sacchi pun berlabuh ke Parma. Silvio Berlusconi merekrut orang ini untuk melatih AC Milan karena Parma asuhan Sacchi dua kali mengalahkan Milan ketika itu. Belakangan diketahui bahwa ternyata Sacchi adalah pengagum berat gaya sepakbola Belanda. Ketika membantu Ayahnya berbisnis sepatu menghadiri berbagai trade fairs di Belanda, Sacchi sering ‘mencuri-curi’ kesempatan untuk menonton training session dan pertandingan-pertandingan Ajax Amsterdam. Selanjutnya, AC Milan langsung melakukan pembelian trio asal Belanda atas dasar permintaan dari Sacchi, dan Berlusconi pun mendatangkan Frank Riijkard, Van Basten, dan Ruud Gullit sekaligus. Seketika, AC Milan memenangi berbagai kompetisi dan menjadi pembicaraan publik Italia.

Sepakbola Italia pun mulai mengalami transformasi sejak kedatangan Sacchi. Dari sepakbola yang dominan pragmatis, menjadi bercampur dengan gaya sepakbola ‘indah’ penuh dengan suguhan umpan-umpan pendek dan taktik-taktik menyerang yang ‘enak ditonton’. Mario Sconcerti berpendapat bahwa Sacchi telah berhasil menginspirasi pelatih-pelatih Italia dan mengubah gaya dan pola bermain tim-tim di Italia hingga saat ini. Permainan zone marking yang sangat identik dengan Belanda berhasil diadopsi oleh Sacchi ke AC Milan, dan membawa hasil-hasil yang gemilang.

Tidak lama, setelah era Sacchi dan AC Milan, sang tetangga, Inter Milan berusaha untuk melakukan benchmark atas saudaranya tersebut. Inter Milan membeli trio Belanda Dennis Bergkamp, Aaron Winter, dan Wim Jonk guna meraih pencapaian yang sama dengan yang diraih AC Milan. Namun, ternyata hasilnya adalah nihil bagi Inter Milan. Pelatih-pelatih Inter di era tersebut gagal mengoptimalkan “Belandanisasi” ke dalam klub.

Setelah dianalisis lebih dalam, ternyata pelatih-pelatih Inter di masa tersebut bukanlah seorang Belanda atau bukanlah seorang yang paham atas sepakbola Belanda. Alhasil, pembelian trio Belanda ini pun menjadi mubazir. Inter melakukan investasi yang sia-sia dengan mengandalkan pemain-pemain Belanda tapi lupa dengan signifikansi peranan sang pelatih.

Baru-baru ini terjadi fenomena yang sangat unik terkait dengan “Belandanisasi” di Italia. AC Milan terlihat sedang “menapaki arah jalan yang sama” dengan ketika mereka berjaya di era Sacchi dulu. Clarence Seedorf resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala yang baru. Uniknya, Seedorf belum memiliki lisensi kepelatihan UEFA Pro yang merupakan syarat untuk menukangi klub-klub level teratas di Eropa. Namun, FIGC (PSSI-nya Italia) memberikan dispensasi kepada Milan untuk memberi jangka waktu agar Seedorf dapat menyelesaikan pendidikan UEFA Pro Licence sambil menukangi timnya.

Di pertandingan tmelawan Hellas Verona, Seedorf membuat sebuah skema Belanda yang sangat brilian. Permainan yang indah, Kaka yang hidup kembali, optimalisasi Nigel De Jong, dan high defensive-line pressure ala Belanda menjadi topik suguhan yang menarik. Sistem double-pivot yang selalu sejajar antara Montolivo dan De Jong membuat Verona bermain di daerah permainannya sendiri. Alhasil, Milan pun menang dengan skor 1-0. Memang belum saatnya untuk memuja-muja Seedorf, namun dari representasi pertandingan tersebut, penulis menilai bahwa Seedorf memiliki tactical intelligence yang cukup baik. Para Milanisti tentu akan antusias menunggu bagaimana kiprah sang legenda dalam melakoni peran barunya tersebut.

Sepakbola Belanda sangat dikagumi dan banyak diadopsi oleh dunia sepakbola internasional. Kegemilangan reputasi La Masia sebagai contoh pembinaan usia muda yang ideal ternyata adalah hasil dari benchmarking terhadap Ajax Amsterdam melalui median Johan Cruyff. Sistem tata kelola pemain-pemain di level muda yang diterapkan oleh Ajax dan Barcelona kemudian menjamur di tanah-tanah Inggris dipelopori oleh Arsenal dan Manchester United, dan saat ini sudah mulai diterapkan secara intensif oleh tim-tim sugar daddy seperti Manchester City dan Chelsea. Bahkan seorang Thierry Henry pun mengaku bahwa dirinya dan semua pemain di timnas Prancis, termasuk Zidane, sangat nervous menunggu hasil semifinal Brasil vs Belanda di semifinal Piala Dunia 1998. Pemain dan ofisial di timnas Prancis ketika itu lebih memilih bertemu Brasil “ketimbang” Belanda. Henry berpendapat bahwa Belanda merupakan tim yang sangat mengerikan, berisikan pemain-pemain yang kuat, cepat, dan paham bagaimana memainkan sepakbola.”Siapapun pasti takut bertemu Belanda di atas lapangan sepakbola,” ucapnya.

Kejadian serupa terulang ketika Prancis lagi-lagi “bersyukur” untuk tidak bertemu Belanda di final Euro 2000. Henry masih tidak percaya sampai dengan saat ini mengapa Belanda belum pernah memenangi major trophy di level senior, kecuali Piala Eropa 1988, mengingat betapa superiornya performa mereka di atas lapangan. Belanda memang belum pernah menjuarai Piala Dunia, tetapi sistem dan gaya bermain mereka telah diadopsi oleh para juara di sepakbola.