Banyak yang berkata Andre Villas-Boas berhasil melakukan taktik one-man team dengan baik musim lalu. Caranya adalah dengan memindahkan Gareth Bale, yang awalnya berposisi sebagai bek kiri ke tengah, dan menjadikan Bale pusat permainan Spurs.

Jadi, bagaimana cara merancang one-man team secara taktik? “Tentunya hal ini tergantung dari pemain seperti apa yang kamu miliki,” ujar Dave Merrington, eks pelatih yang kini jadi komentator radio BBC. Pada kasus Villas-Boas, ia berhasil mempertahankan formasi favorit 4-2-3-1-nya Spurs dan menukar Bale dengan salah satu dari Clint Dempsey, Gylfi Sigurdsson, dan Lewis Holtby secara bergantian. Bale, yang merupakan pemain kidal, membuat posisi-posisi ini menjadi interchangeable.

Lain hal dengan Lionel Messi yang sering beroperasi dengan sistem 4-3-3 di Barcelona. Awalnya ia bermain sebagai penyerang kanan, kemudian melakukan cut inside dan memindahkan bola ke kaki kirinya. Sementara kini ia sudah bisa menjadi “false 9” dengan peran yang lebih mendapat kebebasan.

Tim Argentina pada Piala Dunia 1986 juga melakukannya. Tim ini berbasis solid 3-5-2 dengan kehadiran si jenius Diego Maradona yang dianugerahi kebebasan lebih.

Namun yang perlu diketahui juga, membangun tim di sekitar satu pemain istimewa membutuhkan waktu yang lama, berjam-jam, berhari-hari, dan berminggu-minggu pada sesi latihan. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang dimiliki manajer pada level negara/tim nasional. Itulah yang membuat banyak pemain jenius ini terlihat sedikit kesulitan pada level internasional, ya terkecuali pada tim Carlos Bilardo tentunya.

Bagaimana Cara Menghadapi One-Man Team?

“Jika saya adalah seorang manajer dan harus menghadapi tim dengan pemain yang luar biasa, maka saya harus memiliki marker yang bagus. Saya akan menjaganya bahkan sampai keluar lapangan sekalipun,” ujar Merrington.

Salah satu contoh terkenal kasus “10 vs 10” adalah pada Final Piala Liga tahun 1997, yang berakhir dengan pertandingan replay. Pada kedua pertandingan final itu, manajer Leicester City, Martin O’Neill, membuat Pontus Kaamark menempel playmaker Middlesbrough, Juninho, seperti lem tikus.

Kaamark menyebut taktik tersebut “tidak bermoral”. Namun, taktik itu terbukti ampuh. Pada akhirnya The Foxes pun berhasil memenangi pertandingan replay dengan skor 1-0. “Juninho adalah perancang, pencetak gol, dan ruh tim. Jadi hal itu memiliki dampak yang besar untuk pertandingan,” ujar eks gelandang Middlesbrough, Robbie Mustoe.

Dengan Fabrizio Ravanelli di depan, Boro sebenarnya bukanlah one-man team yang murni. Tapi, dengan matinya Juninho, berarti striker Italia itu tidak memiliki amunisi dan tidak ada yang melayaninya.

Jerman Barat juga melakukan hal yang sama ketika Berti Vogts menyuruh timnya untuk menempel ketat Johan Cruyff pada Final Piala Dunia 1974.

Jadi, Man-Mark Sajakah?

Lalu muncul pertanyaan selanjutnya mucul. Mengapa tidak semua tim menjaga saja pemain bintang pada taktik one-man team? Andaikan saja sesederhana itu.

Mari kembali pada Phil Brown, saat ia menjadi asisten manajer di Bolton. Ia pernah berkata bahwa David Ginola “membuat kami terlihat bodoh dengan mempermainkan pengawalnya. Ini karena sang man-marker, Chris Fairclough, bergerak-gerak tidak jelas menuju sisi-sisi lapangan yang tidak seharusnya.”


“Messi dan Bale (di Spurs) adalah pemain dengan tingkat kecerdasan yang tinggi untuk melakukan hal yang serupa,” tambah Mustoe .

“Jika saya me-man mark seseorang dan ia berdiri di dekat bek kanan saya, itu akan menciptakan situasi dua lawan satu. Itu bagusnya,” ujar Mustoe lagi. Namun, seorang man-marker yang bergerak mengikuti lawannya akan menciptakan lubang yang besar di tengah lapangan –atau di area pun– yang bisa dieksploitasi oleh pemain-pemain lawannya.

Kalau pun bisa menjaga si pemain ini tetap jinak sepanjang pertandingan, tanpa harus menciptakan kelemahan untuk dieksploitasi lawan, beberapa hal lain justru malah bisa terjadi.

Matt Le Tissier menjelaskan pada saat ia dijaga ketat oleh pertahanan Wimbledon. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa, namun sampailah pada 15 menit akhir pertandingan, kami mendapatkan sebuah tendangan bebas di zona yang menguntungkan. Mereka ‘kan tidak bisa mendekat sepanjang 10 meter dari saya, jadi saya tendang saja bola ke sudut atas gawang mereka, lalu kami pun menang 1-0,” ujar Le God.

Kembalinya bolongnya strategi man-marking juga terjadi ketika Phil Jones ditugaskan oleh Sir Alex Ferguson untuk menjadi bayangan Cristiano Ronaldo. Ini muncul pada pertandingan Liga Champion, ketika Manchester United menghadapi Real Madrid.

Jones sebenarnya berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Namun ia harus menelan pil pahit, ketika Ronaldo dengan lompatannya yang terkenal itu mampu menanduk bola dan mencetak gol penyeimbang Real Madrid.

Johan Cruyff juga bahkan berhasil memenangkan penalti pada menit-menit pertama final Piala Dunia 1974, sebelum akhirnya Berti Vogts berhasil menjinakkannya.

Itulah fakta yang terjadi pada pemain bintang one-man team: jika pesepakbola itu sebegitu istimewanya untuk jadi fokus permainan, mereka juga pasti akan sebegitu istimewanya untuk menyelamatkan diri dari sang man-marker.

Kabar Buruknya Adalah…

Baiklah, itu semua adalah teori di atas kertas dari permainan Messi, Ronaldo, Bale, sampai Luis Suarez. Semuanya mengarah pada kesimpulan bahwa tim-tim dengan taktik one-man team adalah mereka yang sedang menikmati “renaissance” sepakbola.

Tapi, apakah itu kesimpulan yang bijaksana? Faktanya mungkin berbicara sebaliknya, bahwa one-man team mungkin sebentar lagi akan mengalami kepunahan.

“Tim-tim top sekarang tidak lagi cuma memiliki satu atau dua pemain yang dianugerahi dengan teknik istimewa. Mereka sekarang punya setidaknya lima atau enam pemain,” seperti yang Phil Brown jelaskan. Lalu, Le Tissier menambahkan, “Kamu tidak bisa menjaga mereka semua tanpa merusak bentuk permainan timmu sendiri.”

Sampai tahun 1990-an, tim-tim Liga Primer Inggris memang punya Matt Le Tissier, Juninho, atau Paolo Di Canio: ikan yang besar di kolam yang kecil. Namun sekarang ini, bintang-bintang tersebut pasti ingin bermain bagi tim-tim besar lainnya, daripada tinggal di tim yang tidak top.

Seperti yang kita tahu, tim kaya semakin kaya dan sukses. Bahkan tim kecil mulai dibeli investor-investor tajir. Talenta-talenta top ini pasti akan tertarik oleh gravitasi dari tim-tim besar tersebut. Ditambah lagi, saat ini banyak faktor yang mempengaruhi keputusan seorang pemain untuk pindah. Selain waktu bermain dan peran di tim, ada uang, pajak, keluarga, makanan, cuaca, dan lain-lain.

Scott Sinclair mungkin memberikan kita contoh yang paling nyata. Sinclair adalah pemain kunci di Swansea City, namun ia rela pindah ke Manchester City hanya untuk menjadi penghangat bangku cadangan. Meskipun ia dapat kesempatan bermain, ia pasti tidak akan semenonjol pemain-pemain City lainnya. Padahal ia bisa jadi bintang utama di Swansea City.

Kembali ke Kesimpulan Kita…

Jadi, bagaimana cara untuk menghentikan pemain bintang lawan tanpa harus melepaskan perhatian kepada rekan-rekan timnya lainnya (yang sayangnya juga pemain bintang)?

Sebuah permainan kolektif yang modern mungkin memiliki jawabannya. Permainan kolektif dengan defensive line yang tinggi, sambil meminimalisir jarak antara pemain bertahan dan menyerang, sehingga tidak terdapat banyak ruang kosong di tengah untuk dimanfaatkan oleh lawan.

Cara ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh Jose Mourinho ketika ia berhasil membawa Real Madrid mengalahkan Barcelona. Meski demikian, Mourinho sendiri mengaku bahwa memang akan sulit untuk membuat Messi benar-benar jinak.

“Kamu dapat mengatur lini pertahanan untuk bermain rapi, dan membuat si pemain bintang tidak menggunakan kaki alaminya. Tapi, seperti yang biasa kita lihat pada pemain-pemain lawan yang istimewa, mereka sangat cepat. Bahkan, ketika kamu berhasil memancingnya menggunakan kakinya yang tidak alami, mereka akan menggiring bola melewatimu dan akhirnya berhasil menempatkan bola ke kaki alami mereka lagi. Atau bahkan yang lebih buruk lagi, mereka adalah pemain yang bisa menggunakan kedua kakinya sama baiknya,” ujar Le Tissier.

Tapi, itulah keindahan dari permainan pesepakbola-pesepakbola top dunia. Itulah mengapa mereka bisa merancang dan mencetak banyak gol dibandingkan pemain-pemain lainnya. Kita semua pasti berharap memilki pemain seperti itu pada level apapun kita bermain, melatih, maupun tim yang kita dukung.

Advertisements