Berhamburannya bintang di televisi dengan segala keunikannya memberikan pilihan untuk mengusir penat dari rutinitas harian. Keunikan ini tak jarang membuat sebagian orang terus menanti kehadiran sang bintang. Bila menonton aksinya tak cukup memuaskan rasa suka, berbagai pernak-pernik terkait bintang pun kemudian dibeli sebagai koleksi. Mengagumi lantas berubah menjadi mengidolakan.

Idola tak hanya milik remaja, orang dewasa pun bisa punya idola dengan segala kriteria yang dimilikinya. “Tapi bentuk pengidolaan remaja dan dewasa berbeda, sesuai perkembangan karakter yang dimiliki keduanya,” kata psikolog dari LPT-UI, Indri Savitri, saat dihubungi Kompas Health.
Remaja, kata Indri, cenderung mengidolakan tokoh berdasarkan kelebihan fisiknya. Mereka tidak terlalu peduli pada konten yang dibawakan idola. Selama idola terlihat cantik, ganteng, atau keren, para remaja akan mengidolakannya. Karena itu, idola remaja bisa lebih dari satu.
Sesuai perkembangan psikologisnya, penampilan fisik sangat penting bagi remaja. Penampilan tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari meliputi cara berpakaian, model busana, hingga hal detail seperti aksesori atau model rambut. Tak menjadi soal bila aplikasi tersebut kurang cocok digunakan sehari-hari. Hal ini, kata Indri, sesuai sifat remaja yang belum bisa berpikir panjang.
Sedangkan untuk dewasa, penampilan fisik tak menjadi soal. “Dewasa lebih menyukai konten yang dibawakan idola. Kalau untuk penyanyi jelas meyukai isi dan cara menyanyikan, untuk atlet jelas menyukai teknik dan metodenya di lapangan. Penampilan fisik biasanya tidak menjadi pertimbangan,” kata Indri.
Fungsi idola juga berbeda bagi remaja dan dewasa. Bagi remaja, idola bisa menjadi panutan atau contoh, sedangkan bagi dewasa idola merupakan penyalur hiburan atau rekreasi. Dengan kelebihannya, idola menyediakan hiburan setelah melakukan kegiatan sehari-hari.
Batas wajar
Memiliki idola tentunya adalah sesuatu yang wajar karena pada dasarnya idola adalah perwujudan harapan bagi orang di sekitarnya. Kelebihan yang dimiliki idola merupakan keinginan atau impian bagi para fans yang kagum terhadap dirinya. Namun, kekaguman ini bisa berubah menjadi berlebihan, baik untuk remaja maupun dewasa.
“Hal ini ditandai keseharian yang mulai terganggu. Untuk remaja bahkan bisa menjadi copycat, yaitu berusaha menjadi idola hingga perlahan mematikan karakternya sendiri. Hal ini tentu berbahaya karena remaja akan kehilangan jati dirinya,” kata Indri.

Remaja yang tidak memiliki jati diri cenderung mudah dipengaruhi dari lingkungan sekitarnya. Sedangkan kekagumana berlebihan pada orang dewasa mungkin merupakan indikasi belum matangnya kepribadian yang dimiliki. Indri mengatakan, hal tersebut mungkin terkait dengan pengalaman atau harapan masa kecil yang belum terpenuhi.

Pada remaja, untuk mencegah pengidolaan berlebihan, orangtua harus ikut aktif mengetahui siapa idola tersebut. Selanjutnya orangtua bisa mengawal sejauh mana anaknya mengidolakan bintang tersebut.

“Kalau untuk dewasa mungkin lebih kepada diri sendiri karena bisa saja terkait masa lalunya. Namun, hal ini tentu tidak bisa berlaku sama,” kata Indri.