Mesin bensin tanpa busi, bagian sebagian orang masih baru. Biasanya, mesin tanpa busi adalah diesel.Dalam beberapa dekade terakhir, para insinyur mesin (motor bakar ataucombustion engine) terus berusaha mengadopsi cara kerja mesin diesel yang efisien ke bensin dan ternyata bisa.

Saat ini yang sudah banyak digunakan adalah sistem injeksi, langsung dan tidak langsung. Berikutnya, tidak lagi menggunakan busi atau disebut gasoline direct compression ignition (GDCI). Pembakaran bensin yang dikabutlkan ke ruang bakar dipicu oleh sisa gas buang yang dimasukkan dan dikompres di ruang bakar, mirip kerja mesin diesel.

 

Irit 25 Persen

 

Mesin GDCI sebenarnya dikembangkan oleh para insinyur  dari Universitas Wisconsin, Mark C. Sellnau, James Sinnamon, Kevin Hoyer, Junghwan Kim, Marilou Cavotta and Harry Husted  yang disponsori oleh Delphi. Pada 2011, mesin ini dipresentasikan pada kongres Society of Automotive Engineering (SAE) pada 2011. Ternyata, mesin ini sangat menarik bagi Hyundai untuk dijadikan sebagai salah daya tarik bagi produk-produk mereka yang dipasarkan di Amerika Serikat. Jadi, kini Hyundai mengembangkan bersama dengan Delphi dan Universitas Wisconsin.

 

Hyundai sudah cuap-cuap, mesin baru ini bekerja seperti diesel dengan konsumsi bahan bakar lebih irit 25 persen. Nantinya diproduksi untuk unit mesin bensin berkapasitas 1,8 liter dengan tenaga 180 PS dan dites pada Sonata tahun depan.

 

Daya tarik mesin ini bagi Hyundai untuk mengadopsinya karena di Amerika Serikat, harga bensin lebih murah 60 sen per galon atau sekitar Rp 1.800/liter dibandingkan dengan diesel. Di samping itu, konstruksi mesin baru ini tidak serumit diesel. Dengan demikian harga atau ongkos produksinya lebih murah. Bagi konsumen, hgal tersebut, tidak hanya menguntungkan dari harga, juga biaya operasional plus emisi karbondioksida yang rendah.

 

Mesin ini sudah diperlihatkan Hyundai kepada wartawan Jumat  lalu di pusat pengembangannya di Ann Arbor, (di luar Detroit), Michigan, Amerika Serikat. “Kami masih dalam pengembangan tahap awal, namun sangat baik dan menjanjikan,” jelas Nayan Engineer, Manager Desain dan Tes Mesin Hyundai.

 

“Teknologinya sangat menjanjikan, kami percaya mesin ini nantinya akan menjadi ‘game-changer’,” kata John Juriga, Direktur Rekayasa Mesin dan Teknik Hyundai di Ann Arbor. “Kalau dulu kami pengikut yang cepat, kini berada di depan,” bangganya.

 

Supercharger & Turbocharger

 

Mesin GDCI, memanfaatkan supercharger atau turbocharger dengan kerja katup buang membuka dua kali di setiap siklus. Pembukaan kedua bertujuan untuk menarik gas buang yang panas ke dalam mesin (ruang bakar). Selanjutnya dikompres bersama udara baru dan dimanfaatkan untuk membakar bensin yang disemprotkan ke ruang bakar.

 

Diklaim, mesin GDCI 1.8 liter, efisiensinya dengan mesin diesel 2,0 liter (tenaga yang dihasilkan sama). “Bensin adalah bahan bakar terbaik untuk mesin diesel. Target kami, mengalahkan mesin diesel berupa harga yang lebih murah bagi  konsumen ,” lanjut John Juriga

 

Cara Kerja

 

Pada tahap awal, supercharger digunakan untuk “suhu gas buang rendah” dan turbocharger untuk “tenaga pada putaran tinggi”. Sedangkan perbandingan kompresi, 14,8 : 1 dengan menggunakan bensin beroktan 91 (di AS disebut regular). Katup yang digunakan juga bisa berubah waktuk buka-tutupnya alias VVT.

 

Pembakaran awal berlangsung dengan memampatkan (kompres) udara dan campuran sangat miskin, kondisinya sama dengan saat mesin bensin konvensional segera menyelesaikan pembakarannya. Dengan cara ini, mesin bekerja efisien dari putaran rendah sampai tingi dan berlangsung pada suhu relatif rendah dengan menggunakan konsep multi-late injection (MLI). Hal tersebut bisa dilakukan karena bensin lebih mudah dikabutkan dibandingkan dengan diesel yang memerlukan tekanan yang sangat tinggi.

 

Kelebihan mesin baru ini, selain biaya produksinya lebih murah, bisa bekerja pada putaran maksimum rendah seperti diesel, yaitu 4.500 rpm (garis merah). Suara yang ditimbulkan juga tidak terlalu berisik. Begitu juga getarannya.

 

Injektor dipasang di tengah atau simetris terhadap celung di puncak piston. Untuk mengatur putaran, tidak menggunakan katup gas (gas throttle) atau seperti mesin diesel. Klaim lain, tidak menimbulkan detonasi dan pembakaran dini (pre-ignition). Dengan cara ini, ukuran mesin bisa diperkecil atau tidak perlu menggunakan material yang berat dan mahal.