Ilmuwan di Tel Aviv University menemukan, kafein memperpendek harapan hidup dan alkohol malah memperpanjang umur. Mereka menemukan alkohol memperpanjang telomeres atau bagian akhir DNA kromosom. Sementara kafein justru memperpendek.

Tercatat, menyerupai ujung tali sepatu dari plastik, telomere mencegah berjumbai, telomeres sanggup membuat kromosom stabil dan mencegah kerusakan saat sel-sel yang terkandung terbagi-bagi.

Sejauh ini, telomeres jadi lebih pendek saat usia bertambah dan saat telomere terlalu pendek maka akan mematikan sel. Telomeres pendek juga terkait kesehatan buruk dan risiko meninggal muda.

“Untuk pertama kalinya kami mengidentifikasi beberapa faktor lingkungan yang mengubah panjang telomer. Kami mencari tahu bagaimana hal tersebut terjadi,” ujar Profesor Martin Kupiec.

“Ini pasti di masa depan mampu berkontribusi mencegah dan mengobati berbagai penyakit yang menyerang manusia,” jelas Profesor Martin.

Ilmuwan sebelumnya berangkat menguji bagaimana faktor lingkungan berbeda mempengaruhi panjang telomer dalam sel ragi. Hasilnya, mereka mendapatkan suhu dan berubahnya kadar pH sama sekali tak berpengaruh. Tetapi, mereka menemukan panjang telomer berkurang karena kafeinnya rendah dan bertambah karena alkohol.

“Kafein mempengaruhi panjang telomer, semisal lima persen larutan etanol. Untuk memahaminya, ilmuwan mengamati 6.000 strain ragi, masing-masing gen berbeda dan nonaktif,” jelas Martin.

Ilmuwan juga menguji genetik strain dengan telomeres terpanjang dan terpendek. Mereka menemukan dua gen: Rap1 dan Rif1 mampu mengendalikan faktor lingkungan dan panjang telomer.

Total 400 gen berinteraksi menjaga panjang telomer dan jaringan penting dalam menjaga stabilitas genom. Mencoloknya, sebagian besar gen ragi ada di genom manusia.