Saat matahari telah tenggelam dan keadaan di bumi menjadi gelap, hanya bulan dan bintang yang bercahaya di langit, tetapi sebuah fenomena aneh terjadi, yaitu munculnya awan yang bercahaya di ketinggian

Noctilucent cloud berasal dari 3 kata yaitu nocturn (malam) lucent (bercahaya) dan cloud (awan) yang berarti awan bercahaya pada malam hari. Fenomena noctilucent cloud ini terjadi bukanlah dalam bentuk awan titik titik air, tetapi lebih ke kristal es dan partikel debu seperti kristal. Kristal kristal ini berada di ketinggian 76 – 85 kilometer yang berkumpul dalam jumlah sangat banyak, dimana kristal es di ketinggian ini sudah cukup untuk menerima dan membiaskan cahaya dari matahari yang telah berada di bawah horizon.

Meskipun dari catatan sejarah menunjukkan manusia telah mengetahui fenomena noctilucent cloud ini dari tahun 1885, tetapi penjelasan secara pasti dari fenomena awan bercahaya ini baru dipastikan pada tahun 2001, tepatnya setelah adanya dokumentasi HALOE instrument dari Upper Atmosphere Research Satellite milik NASA. Studi lanjutan fenomena ini dilanjutkan oleh satelit Swedia Odin dan AIM Satellite yang masing masing diluncurkan pada 2001 dan 2007.

Noctilucent cloud mendapatkan kristal kristalnya dari kristal es awan di lapisan bawahnya yang terbawa ke ketinggian, juga kristal pasir yang berasal dari debu aktifitas vulkanik, komet atau meteor yang melintas. Jejak asap roket atau bahkan kristal kristal es yang terjadi di gurun saat malam (nb: udara di gurun dapat sangat dingin di malam hari.

Noctilucent Cloud jarang terjadi di daerah tropis dan subtropis. Tetapi biasa terjadi di daerah beriklim sedang dan dingin mendekati kutub. Karena suhu di langit daerah itu cukup dingin untuk menjaga kristal kristal es ini dalam bentuk dan kesatuannya dari panas sinar matahari yang dibiaskannya.