Buaya dikenal sebagai reptil buas mematikan berukuran besar dengan gigi sangat kuat dan kulit yang kasar, keras juga tebal. Namun, di balik permukaan kulit yang keras dan penuh benjolan serta bintik hitam, ternyata buaya lebih sensitif terhadap sentuhan dibanding ujung jari manusia.

Bagian rahang atau mulut buaya ditengarai sebagai bagian yang paling sensitif. Hal tersebut diungkapkan oleh para ilmuwan dalam penelitian terbaru. Terdapat kurang lebih sembilan ribu bintik atau benjolan pada tubuh buaya. Empat ribu benjolan dan bintik hitam di antaranya terdapat di kepala yang tersebar pada sepanjang rahang, mulut, dan di antara gigi mereka.

Ahli biologi sebenarnya telah mengetahui mengenai benjolan-benjolan dan bintik hitam yang menutupi kulit buaya ini lebih dari satu abad yang lalu. Mereka menyebut benjolan ini sebagai organ sensorik, namun dalam waktu yang lama fungsi dari benjolan tersebut belum terungkap.

Beberapa ahli biologi tadinya beranggapan bahwa bagian tersebut berfungsi mendeteksi medan listrik yang dilepaskan oleh mangsa mereka. Ada juga yang beranggapan sebagai organ yang tahan air. Akan tetapi, studi mengenai buaya yang dilakukan pada tahun 2002 akhirnya memecahkan misteri tersebut. Bintik-bintik pada kulit buaya ternyata dapat mendeteksi tetesan air bahkan sebuah gerakan yang halus dari mangsanya.

Duncan Leitch, seorang mahasiswa dari Vanderbilt University, Amerika Serikat, berusaha memecahkan misteri tersebut dengan melakukan sebuah percobaan. Buaya-buaya kecil yang terdiri dari 18 buaya Amerika dan 4 buaya dari Sungai Nil dimasukkan ke dalam sebuah tempat. Lantas, Leitch menemukan bahwa bintik-bintik hitam tersebut mengandung respetor sentuhan terutama untuk mendeteksi tekanan dan getaran.

Benjolan dan bintik hitam ini rupanya tak terlalu responsif terhadap garam dan listrik. Namun, mereka dapat mendeteksi tekanan yang justru relatif kecil. Hal ini terlihat ketika dirangsang dengan sentuhan von frey filamen yang digunakan untuk mengkur tingkat sensasi, mereka menjadi sangat sensitif.

“Profesor dan saya mulanya tidak percaya mereka (buaya) dapat sereaktif itu. Kemudian kami menutup mata kita dan mencoba untuk menggelitik dan merasakan sistem filamen pada ujung jari kita, bahkan tak satupun dari kita yang dapat merasakannya,” kata Leitch.

Tentunya kulit buaya yang sangat super sensitif ini memiliki tujuan tertentu. Leitch menyimpulkan buaya memiliki kulit sensitif karena dia adalah hewan yang menggunakan mulutnya untuk merasakan dan mengambil dengan cepat makanan (mangsa) mereka.

Buaya juga menggunakan rahang mereka untuk membantu cikal bakal keturunan mereka keluar dari cangkang dan melindunginya di dalam mulut mereka. Hal ini tentunya membutuhkan sensitifitas yang tinggi. “Yang menarik buat saya adalah hewan bersisik tebal seperti lapis baja, bisa memiliki sensitifitas yang menyaingi, bahkan melampaui, kemampuan taktil kami (manusia),” kata Leitch.