Matahari bersinar cerah saat kami tiba di Stadion Anfield yang menjadi markas Liverpool FC. Siang itu kami memasuki area stadion yang dibangun pada tahun 1884 lewat sisi tribune kop di Jalan Walton Breck.

Begitu memasuki gerbang pagar stadion, kami langsung disambut patung manajer legendaris Liverpool periode 1959-1974, Bill Shankly. Walaupun tak ada sorak-sorai penonton saat memasuki area stadion yang resmi menjadi markas Liverpool pada 1892, tur keliling Anfield tetap menarik.

Di bawah sisi tribune kop (posisi duduk para fans Liverpool di belakang gawang yang tepat berada di Jalan Walton Breck), kita tetap bisa menikmati pesona Anfield. Pengunjung cukup merogoh kocek 16 poundsterling (Rp 240.000) per orang, sudah bisa mengikuti tur keliling stadion, mengunjungi museum Liverpool FC, dan menikmati makanan di The Boot Room Sports Cafe.

Tur keliling Anfield ini dimulai tepat di bawah patung sang manajer legendaris, Bill Shankly. Di titik ini, pemandu tur menjelaskan siapa itu Shankly, yang memulai penggunaan boot room (ruang gudang sepatu pemain) sebagai ruang pertemuan tim pelatih sebelum pertandingan. Di bawah besutan manajer legendaris ini klub berjuluk ”The Reds” meraih 31 dari 63 piala yang diperebutkan.

Pengunjung diajak berkeliling stadion hingga ke ruang ganti pemain. Di ruangan ini, pemandu menunjukkan bagaimana Steven Gerrard, Jamie Carragher, dan Luis Suarez mempersiapkan diri sebelum bertanding. Pengunjung bisa melihat deretan kostum pemain yang ditata sesuai tempat duduk pemain. Kaus-kaus itu tergantung rapi di tiga sisi dinding ruangan yang didominasi warna merah.

Puas berfoto, kami digiring pemandu ke lorong menuju lapangan hijau. Tepat sebelum memasuki area lapangan, sebuah plakat bergambar lambang Liverpool FC dan bertuliskan ”This Is Anfield” tertempel di dinding. Plakat itu memberi peringatan kepada pemain lawan bahwa mereka bermain di kandang ”Si Merah”.

Museum Liverpool

Apabila ingin tahu lebih dalam bagaimana perjalanan panjang Liverpool FC, tak ada salahnya untuk mengunjungi museum di lantai dua sisi luar Tribun Kop. Menaiki tangga menuju museum, kita langsung disambut dengan mozaik peringatan tragedi Hillsborough, yang mengakibatkan 96 suporter Liverpool tewas terjepit di antara penonton saat menyaksikan semifinal Piala FA. Tragedi pada 15 April 1989 itu, terjadi saat Liverpool menghadapi Nottingham Forest.

Sedangkan monumen peringatan peristiwa itu didirikan di sisi lain stadion. Monumen ini selalu didatangi suporter yang menciumnya sesaat sebelum mereka memasuki tribune untuk menonton laga kandang.

Museum ini juga dilengkapi dengan ruang audio visual yang menampilkan film pendek berdurasi sekitar 10 menit tentang klub sepak bola berlogo burung Liver itu. Apabila sudah di museum ini, jangan lupa melihat piala Liga Champions ke-5, yang diraih oleh Liverpool melalui perjuangan dramatis mengalahkan AC Milan lewat adu penalti dengan skor 6-5, setelah tertinggal 0-3 di partai final yang dilangsungkan di Istanbul, Turki.

Sebelum meninggalkan museum, jangan lupa membeli berbagai pernik suvenir. Semua produk ini hampir tak ada di Indonesia, jadi jika sudah berbelanja jangan sampai lupa diri.

Kafe gudang sepatu

Seusai berkeliling, jangan lupa mampir di The Boot Room Sports Cafe. Kafe ini terinspirasi dari ruang penyimpanan sepatu pemain yang juga dijadikan ruang rapat informal sebelum pertandingan. Sejumlah sepatu juga digantung untuk memperkuat keterangan yang ditampilkan. Sepatu-sepatu itu dipasang di sekitar tempat duduk pengunjung kafe. Puluhan televisi juga dipasang di dinding di samping sekumpulan kursi.

Jangan berharap televisi tersebut memutar film, karena yang ada hanya siaran sepak bola sepanjang hari. Fasilitas inilah yang membuat kafe selalu penuh pengunjung saat di Anfield digelar laga kandang Liverpool FC sambil menikmati sajian.

Pilihan menu pun sangat beragam. Pengelola memberi nama menu-menu itu dengan pre-match, first half, second half, dan extra time. Pengunjung juga bisa menikmati makanan pembuka seperti nachos, roti bawang hingga steik daging sapi, burger, piza, dan pasta.

Pengelola membanderol harga makanan dari mulai 2,5 poundsterling untuk secangkir teh hingga 24,95 poundsterling untuk steik daging sapi seberat 8 ons. Disediakan juga menu khusus bagi anak-anak dengan harga lebih murah.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa makan nasi, Boot Room kebab merupakan satu-satunya pilihan. Kebab yang dibanderol 15,95 poundsterling untuk daging sapi dan 14,95 poundsterling untuk daging ayam. Tak ada salahnya mencoba kebab ini karena rasanya berbeda dengan kebab di Jakarta.

Kebab di kafe ini bukan seperti roti, tetapi di Indonesia dikenal seperti sate atau saslik di daerah Eropa Timur. Tusukan sate itu bukan kayu, melainkan besi dan disajikan bersama nasi gurih serta potongan sayuran.

Sebelum memesan, ada baiknya bertanya soal porsi karena ukuran tiap porsi terlalu besar atau terlalu banyak buat ukuran perut orang Indonesia. Salah satu contohnya adalah spageti carbonara. Spageti yang dimasak dengan daging, telur, krim, dan keju permesan itu dihidangkan dalam porsi yang cukup. Porsi itu untuk ukuran orang Indonesia bisa dimakan berdua.

Mangkuk saji yang digunakan pun sangat besar dengan diameter bagian atas mencapai sekitar 30 sentimeter. Mblenger juga melihatnya. Begitu juga dengan sejumlah makanan lainnya, seperti burger, sandwich, ataupun makanan pembuka seperti nachos.

Jauh berbeda

Menikmati stadion di negara yang sudah menjadikan sepak bola sebagai industri sungguh jauh berbeda dengan stadion di Indonesia. Di sana segala macam usaha dilakukan untuk mencari pemasukan sehingga klub mendapatkan pendanaan yang cukup.

Di satu sisi klub mendapatkan dana, di sisi lain suporter dari segala penjuru dunia dapat datang dan menikmati suasana stadion walaupun tidak digelar pertandingan.

Di Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno dengan kapasitas tempat duduk yang berlipat ganda dibandingkan dengan Anfield pun hanya bisa dinikmati dengan cara berolahraga. Namun di sisi ekonomis, stadion termegah di Indonesia itu masih kalah jauh dari Anfield.

Suporter Indonesia belum seluruhnya bisa menghargai sportivitas, menjaga kebersihan dan keindahan stadion. Meskipun prestasi sepak bola kita masih jauh dari dunia, paling tidak kecerdasan manajemen membuat Anfield dengan segudang nilai tambah perlu ditiru.

Hari mulai sore saat kami meninggalkan Jalan Walton Breck, tetapi suasana magis Si Merah masih terasa di sekitar kami. Kuat melekat kata-kata di plakat yang tertancap di dinding ”Ingat…! Ini Anfield Bro…”.

Advertisements