Apakah jerawat dapat menjadi pertanda seseorang terkena Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)? Seorang psikiater Kanada dalam studinya menunjukkan bahwa orang dengan jerawat secara substansial lebih cenderung memiliki ADHD dibandingkan orang dengan masalah kulit lainnya.

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ada dua aspek utama dalam ADHD, yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian dan kebiasaan hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam) – impulsif (kesulitan untuk menunda respon atau tidak sabar)

“Jerawat pasien harus diteliti lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya tanda-tanda ADHD. Hal ini tentu didukung ketika anak mengeluh tentang sulit berkonsentrasi dan impusif,” kata Madhulika A. Gupta, MD, dari University of Western Ontario di London, sekaligus peneliti American Academy of Dermatology.

“Para anak atau remaja dengan jerawat yang menderita ADHD memang tidak akan terlihat berbeda dari anak atau remaja dengan jerawat yang tidak menderita ADHD. Namun jika ditanyai apakah mereka memiliki kesulitan berkonsentrasi di sekolah, jawabannya akan menjadi pasti ya,” tambahnya.

Jerawat dan ADHD

Gupta juga menyatakan, sudah ada penelitian sebelumnya yang mengaitkan jerawat dengan sejumlah masalah kejiwaan, termasuk depresi dan gangguan makan. Namun belum ada yang telah memeriksa kemungkinan hubungan antara jerawat dan ADHD.

Sehingga Gupta dan rekan-rekannya meneliti data pada hampir 950 juta kunjungan dokter untuk kondisi kulit antara 1995 dan 2008, untuk melihat apakah ada kunjungan yang berhubungan dengan ADHD. Dari total data kunjungan, ternyata ada lebih dari 100 juta kunjungan yang melibatkan diagnosis jerawat dan hampir 175 juta kunjungan yang melibatkan eksim atopik, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan merah, kulit gatal, kering.

Gupta mengatakan, penyakit kulit lain yaitu eksim atopik dipilih sebagai pembanding karena keduanya biasanya dimulai pada masa kanak-kanak. Rata-rata usia pasien dengan ADHD dan jerawat dipelajari adalah 15 tahun, dan usia rata-rata pasien dengan ADHD dan eksim atopik adalah 11 tahun.

Hasil kajian menunjukkan, kunjungan ADHD yang melibatkan diagnosis jerawat 6,3 kali lebih banyak daripada diagnosis penyakit kulit lainnya. Sedangkan untuk eksim atopik adalah sebanyak 5,6 kali lebih banyak.

Hanya kebetulan?

Namun peneliti lain mengatakan temuan ini mungkin hanya kebetulan.

“Jerawat adalah problem umum yang dialami remaja. Sedangkan ADHD juga terjadi di kalangan remaja. Sehingga bisa saja ini hanyalah kebetulan,” ujar Zoe D. Draelos, MD, profesor dermatologi di konsultasi Duke University School of Medicine di Durham, NC

Advertisements