Makin ketatnya regulasi emisi karbondioksida memaksa produsen mobil harus memperkecil kapasitas mesin dan meningkatkan efisiensi kerjanya. Teknik yang umumnya dilakukan adalah mencangkokkan supercharger atau turbocharger, baik sendiri-sendiri atau sekaligus menggabungkannya.

Turbo Hibrida
Konsep penggabungan supercharger dan turbochager nantinya juga akan ditawarkan oleh Valeo, produsen komponen otomotif terbesar asal Perancis. Bedanya, untuk supercharger dipilih tipe listrik atau diputar oleh motor listrik. Karena itu pula, konsep ini disebut turbo atau supercharger hibrida.

Sebenarnya, e-supercharger ini bukan murni ciptaan Valeo, tetapi adalah karya sebuah perusahaan asal Inggris, Controlled Power Technologies (CPT). Namun Valeo melihat, nantinya e-supercharger menjadi produk yang berharga untuk dikomersialkan, khususnya buat mendongkrak kinerja mesin. Apalagi, nantinya makin banyak komponen mobil yang dielektrifikasi. Menurut SAE International, Valeo akan mulai memproduksi e-supercharger pada 2015-2016 secara besar-besaran.

Sebenarnya, teknologi e-supercharger bukan baru. Sudah dikembangkan sejak pertengahan 1980-an. Bahkan di Indonesia pada awal 1990-an sempat diperkenalkan turbocharger listrik oleh perusahaan yang memasarkan produk “after market”.

Rensponsif
Kinerja e-supercharger dinilai Valeo sangat rensponsif. Pasalnya dengan menggunakan switched reluctance motor (SRM), berbobot ringan, kontruksi sederhana, harga murah dan bisa bekerja pada suhu tinggi, dari diam sampai 70.000 rpm, hanya berlangsung 350 mikrodetik atau sepertiga detik.

Saat ini Valeo sedang mengevaluasi hasil tes yang telah dilakukan pada mobil mesin bensin dan diesel yang digunakan oleh berbagai merek. Tes dilakukan pada mesin 1,0 – 2.4 liter tanpa turbo dan mesin bensin dan diesel dari 1.0 – 4.0 liter dengan turbocharger.

E-Supercharger menggunakan motor listrik yang bekerja padategangan 12 volt, dapat dipasang pada mesin lama dan baru. Bekerja dari suhu -40 sampai 125 derajat Celcius, membutuhkan energi listrik 350 Ampere saat mobil berakselerasi, 220 Ampere jalan biasa dan 1,5 Ampere ketika diam.

Ketika dites pada mesin 1.6 liter bensin, torsi naik 40 persen (CO2). Akselerasi dari 0 -100 kpj menjadi 10,9 dari semula 13 detik atau naik 17 persen. Sedangkan pada mesin 1.4 liter, kemampuannya sama dengan 1.6 liter, konsumsi bahan bakar 16,4 km/liter

HyBoost
Valeo juga mencoba versi tekanan tinggi atau HyBoost. Mesin yang digunakan berasal dari Ford Focus 2009, kapasitas 2.0 Liter, 4-silinder, 145 PS. Mesin ini diganti kapasitas 1.0 Liter yang ternyata mampu menghasilkan tenaga,143 PS, 3-silinder atau mesin tipe EcoBoost.

Pada mesin ini, Valeo melakukan elektrifikasi dengan menambahkan StARS, (stop start system), sistem pemulihan tegangan listrik dengan ultrakapasitor, konverters DC/DC dan EGR yang didinginkan.

Hasilnya, efisiensi mesin naik di kisaran 41- 52 persen dibandingkan tanpa teknologi elektrifikasi. Bobot total e-superchager sendiri hanya 4 kg.
Valeo yakin, di masa mendatang teknologi ini akan berkembang secara dramatis. Pasalnya, penggunaan mesin 2 dan 3 silinder di Eropa akan melonjak dari 900.000 unit pada 2011 menjadi 5.000.000 pada 2019 dengan tenaga dari 47kW/liter sampai 63 kW/liter.

“Berarti, 60 persen dari mesin 2 dan 3 silinder pada 2019, akan dilengkapi dengan turbocharger atau supercharger di bandingkan hanya 20 persen pada 2011,” jelas Pierre-Emmanuel Strohl, Direktur Pemasaran “Power System” Valeo dalam sebuah briefing dengan media di Troy, Michigan, Amerika Serikat.