Bagi yang kreatif, tantangan adalah peluang. Filosofi tersebut diamalkan betul oleh perusahaan pemasok komponen mesin. Salah satunya adalah CPT (Controlled Power Technology) dari Inggris.

Perusahaan ini mengantisipasi regulasi yang harus dijalankan negara-negara Eropa pada 2012, yaitu tentang emisi gas buang yang makin ketat. Di samping itu, juga memenuhi keinginan konsumen mobil secara umum di seluruh dunia, yaitu kendaraan yang irit konsumsi bahan bakar, sekaligus ramah lingkungan.

Caranya, dengan menawarkan supercharger listrik (electric supercharger). Tujuannya, agar mesin bekerja makin efisien.

Supercharger atau turbocharger listrik bukalahn temuan baru. Di Indonesia alat sudah dipasarkan sejak awal 1990-an. Namun CPT membuat supercharger listrik yang disesuaikan dengan teknologi mesin masa kini. Target perusahaan ini adalah produsen mobil yang makin kelimpungan dengan regulasi emisi yang makin ketat.

Lebih Murah
Supercharger listrik buatan CPT ini diberi nama VTES (Variable Torque Enhancement System). Menurut perusahaan tersebut, supercharger ini biayanya lebih murah dibandingkan dengan versi mekanis atau yang diputar oleh mesin (drive belt). Pemasangannya pun dinilai lebih gampang karena tak banyak lagi modifikasi.

Hebatnya lagi, supercharger ini ditarget untuk mesin yang menggunakan turbocharger dan berkapasitas kecil. Pasalnya, supercharger ini tidak mempengaruhi langsung kinerja mesin. Bisa bekerja pada seluruh kondisi kerja mesin tidak.

Di lain hal, supercharger konvensional, untuk memutarnya, dibutuhkan tenaga langsung dari mesin. Tepatnya, untuk memutarnya, turbocharger mengkonsumsi sebagian kecil tenaga yang dihasilkan mesin.

10 Kali
Supercharger listrik tetap mengkonsumsi energi, namun diambil dari batere. Kemampuannya menghasilkan tenaga, 10 kali lipat dai energi yang dibutuhkan. Menurut CPT, untuk menambah tenaga mesin 20 kW, tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan supercharger ini hanya 2 kW.

Target lain dari CPT dengan superchargernya ini adalah mesin yang sudah menggunakan turbocharger, baik mesin maupun diesel. Dengan mengkoalisikan supercharger dengan turbocharger, kinerja mesin jauh lebih efisien. Hal itu telah dibutkikan Volkswagen pada mesin TSI-nya.

Dengan kapasitas 1.4 liter, mesin TSI Volkswagen mampu menghasilkan tenaga 170 PS (136kW), sama dengan mesin 2.0 liter dilengkapi turbocharger. Bahkan CPT lebih dramatis lagi, dengan superchargernya, mesin 1,2 liter kemampuan bisa menyamai mesin 2,0 liter tanpa sistem pemasukan paksa (turbo atau supercharger).

Kelebihan supecharger listrik CPT ini, baling-baling kompresornya dibuat dari materi yang sangat ringan. Hasilnya, akselerasi kompresor dari diam sampai putaran maksimum 70.000 rpm, hanya 350 detik, sama dengan kedipan mata.

Aspek lain yang juga tak kalah menarik, CPT merancang supercharger ini disandingkan dengan turbocharger. Di samping itu, juga mencegah menggunakan turbocharger ganda (twin turbocharger). Pasalnya, mesin dengan turbocharger ganda tetap punya kelemahan pada putaran rendah. Di samping itu, konstruksinya makin rumit.

Putaran Rendah
Argumen ahli CPT bisa dipahami. Turbocharger yang digerakkan oleh gas buang – energi diperoleh secara gratis – hanya lancar bekerja pada putaran sedang dan tinggi (di atas 2.500 rpm). Pada putaran rendah, dengan tekanan gas buang yang masih lemah, terjadi gejala yang disebut “turbo lag”. Akibatnya, mesin kurang rensposif pada putaran rendah.

Dengan supercharger, apalagi digerakkan oleh listrik (mengambil tenaga dari bateri mobil 12 volt), sejak awal mesin bekerja udaratambahan sudah bisa dipasok ke dalam mesin. Dengan ini, tenaga atau torsi bisa diperoleh pada putaran lebih rendah. Hasilnya, selain irit bahan bakar, jmembuat mobil enak dan nyaman dikendarai di jalanan yang makin macet.

Bila berkoalisi dengan turbocharger, pada putaran sedang dan tinggi, supercharger ini dihentikan. Putaran kompresor supercharger bisa diturunkan sesuai dengan makin besarnya peran turbocharger. Caranya dengan mengurangi aliran listrik ke motor supercharger. Jadi pemakaienergi pada supercharger seperti ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan kerjanya atau berlakukan secara progresif.

Setelah putaran mesin mantap untuk memutar turbocharger, supercharger bisa istirahat atau tak ada lagi energi yang dikonsumsinya. Dengan kondisi kerja seperti ini, apalagi bila berkoalisi lagi dengan sistem lain, misalnya KERS (kinetic energy recovery system) yang lagi populer saat ini, hasil akan lebih mantap lagi.

Ditambahkan oleh CPT, bila alatnya ini digunakan pada mesin diesel yang dilengkapi turbocharger, akan bisa mengurangi asap. Pasalnya, masa transisi terjadi secara progresif.

Pada mesin diesel dengan turbocharger, ketika gas digeber, waktu penyemprotan bahan bakar tidak sama dengan udara yang sampai ke dalam mesin. Akibatnya, campuran menjadi kaya dan muncul asap yang lebih banyak. Padahal, untuk mengurangi asap tersebut, mesin diesel masa kini harus menggunakan saringan khusus, yaitu DPF (diesel particulate filter).

Diharapkan pula, dengan supercharger ini, penggunaan mesin ber-cc lebih kecil makin berkembang. Hal ini tidak hanya menguntungkan pemakai mobil dari konsumsi bahan bakar, harga juga bisa ditekan karena pajaknya lebih murah