Pernahkah kamu merasa tidak pernah cukup baik dan selalu menginginkan sesuatu berjalan lebih dari sempurna? Kamu selalu ingin optimal dan rela menderita demi memenuhi standar yang tinggi? Jika demikian, bisa saja kamu berada dalam penganut paham kesempurnaan atau perfeksionisme.

Perfeksionisme sendiri merupakan suatu sikap yang mengharapkan kesempurnaan dalam segala hal, baik di sekitar maupun dalam kepribadian diri seseorang. Sebagai contoh nyata perfeksionis adalah :

Saya harus selalu melakukan hal-hal dengan benar. Jika tidak, maka saya gagal.
Saya harus sempurna dan kompeten. Saya harus selalu melakukan semuanya 100 persen. Dengan demikian baru saya dapat menerima diri saya sendiri. Jika tidak, saya hanyalah seorang pecundang.

Hanya jika saya sempurna, baru saya berhak mendapatkan pengakuan dan cinta.
Sebagai perfeksionis, perhatian kita diarahkan pada kesalahan dan kelemahan serta selalu merasa tidak puas atas keberhasilan sendiri. Perfeksionis biasanya jarang bahagia dan cenderung jatuh karena sikapnya sendiri. Dampak yang dapat diamati dari seorang perfeksionis adalah :

Pada Tubuh : Pencarian kita untuk kesempurnaan mengarah kepada ketegangan fisik dan kegelisahan. Pada dasarnya, kita menempatkan diri dalam keadaan stres dan semua gejala yang mengarahkan diri pada stres.

Pada Emosi : Ketika kita takut membuat kesalahan, takut gagal, takut penolakan dan rasa takut akan kesuksesan maka kita akan selalu berhadapan dengan rasa frustasi atau depresi ketika kita mencapai tujuan kita atau merasa tidak optimal. Kita tidak puas dengan apa yang kita capai. Kita menjadi marah tak terkira atas kesalahan dan ketidaksempurnaan.

Pada Perilaku : Perfeksionis sulit untuk berhenti bekerja karena dalam pandangan mereka, mereka tidak bisa menjadi sempurna. Mereka tidak berani mengambil tugas baru, karena mereka takut untuk meminta sesuatu yang bodoh atau dapat berbuat kesalahan. Mereka bersembunyi dari orang lain ketika mereka mengejar tujuan tertentu. Jika mereka tidak bisa mencapai, maka setidaknya tidak ada yang tahu.

Apa yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk sempurna (perfeksionis)?
Pada beberapa titik dalam hidup kita (biasanya pada saat masih kecil), kita sering menuntut perhatian dan pengakuan. Lalu kita berpikir bahwa jika kita sempurna, memenuhi standar tertentu dan memenuhi harapan orang lain maka kita akan diakui. Jadi sebenarnya ketika kita meminta kesempurnaan dalam diri kita, kita ditakdirkan untuk gagal. Kita mudah terluka. Bila kita sudah mendapatkan perhatian yang diinginkan dari orang lain, kita belum merasa puas karena kesempurnaan sering menyebabkan kecemburuan yang lebih banyak.