Jejak Hindu masih banyak ditemui di bumi Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Salah satunya, Situs Siwa Lingga Gumuk Payung di Lereng Gunung Raung, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Situs berbentuk lingga yoni ini diyakini peninggalan Rsi Markendya sebelum menyebarkan Hindu ke Bali, sekitar abad VIII. Selain situs, di lokasi itu pernah ditemukan sejumlah arca dan genta kuno. Seperti apa kondisinya?

Situs Siwa Lingga Gumuk Payung berada di tengah hutan pinus dan berada di puncak bukit, tepatnya di RPH Sidomulyo, Desa Jambewangi, luasnya sekitar setengah hektar. Kawasan ini masuk Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Barat. Untuk mencapainya diperlukan perjuangan cukup berat. Jalan berliku dan berbatu. Dari perkampungan warga, jaraknya sekitar 5 kilometer ke arah hutan. Namun, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga ke lokasi.

Situs yang diduga bekas candi ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1980. Seorang buruh pemotong pinus menemukan gundukan batu di tengah hutan. Gundukan itu tersusun rapi, bahkan ada patung di tengahnya. Karena takut, buruh tersebut memagari tumpukan batu tersebut. Dia menduga, benda aneh itu adalah kuburan kuno.

Temuan ini akhirnya menyebar. Tak berselang lama, sejumlah pemburu barang antik membongkar gundukan tanah tersebut. Konon, para pemburu yang datang dari sejumlah daerah di Jawa ini menemukan emas batangan dan beberapa benda keramat lainnya. Sejak itulah, situs itu makin diincar para pemburu harta karun. Mereka terus menggali dan mengambil barang-barang yang ditemukan. Akibatnya, kondisi situs makin amburadul. Tumpukan batu yang semula tersusun rapi menjadi hancur dan berserekan. “Setelah menggali dan merusak situs, para pemburu meninggalkannya begitu saja,” kata Katijo, tokoh umat Hindu yang juga penanggung jawab situs Siwa Lingga Gumuk Payung, Selasa (16/5)lalu.

Pascadigali secara liar, situs itu menjadi bukit pinus yang tak terurus. Situs ini mulai dikenal lagi oleh warga tahun 2007 lalu. Ceritanya, penggembala kerbau asal desa setempat nekat membawa ternaknya ke hutan. Tanpa disengaja, dia menemukan tumpukan batu cadas yang berserakan dan lubang bekas galian liar. Ada juga benda mirip lesung (alat penumbuk padi-red) terbuat dari batu. Karena penasaran, penggembala ini berusaha merapikannya. Keanehan muncul. Sejurus kemudian, enam ternak kerbaunya mendadak menghilang di lokasi. Penggembala ini pun terkaget, lalu pulang dan menceritakan peristiwa mistis tersebut ke warga. Keesokan harinya, dia membawa sebungkus bunga dan menghidupkan dupa di lokasi. Keajaiban kembali muncul. Mendadak, enam ekor kerbau yang hilang tiba-tiba terlihat tiduran di dekat situs. Sejak itulah, lokasi ini disakralkan warga. “Berbekal cerita itu, kami akhirnya menelusurinya. Ternyata, tempat ini menyimpan banyak peninggalan kuno,” kata Katijo yang juga seorang pemangku.

Menurut Katijo, pihaknya bersama sejumlah warga sempat melakukan penggalian beberapa kali. Hasilnya, ditemukan batu mirip Siwa Lingga. Ada juga temuan sebuah genta, arca berlengan empat berbahan kuningan, serta sejumlah batu cadas yang diukir cukup rapi. Pria ini meyakini, batu ukiran tersebut adalah bekas ornamen bangunan candi. Pascapenggalian, tim purbakala dari Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur sempat turun dan melakukan penelitian. Dugaan awal, situs ini adalah kuil Hindu di zaman Kerajaan Kediri. “Namun karena tidak ada prasasti resmi, penelitian tidak dilanjutkan lagi,” kata Katijo. Dilihat dari bekas tumpukan batu cadas yang ditemukan, situs ini diduga pintu gerbang dari candi utama. Justru, candi yang asli masih tertimbun tanah dan menjadi bukit, lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari lokasi. Konon, warga kerap kali melihat cahaya terang dari lokasi situs ini.

Meski hanya tersisa tumpukan batu cadas, situs Siwa Lingga Gumuk Payung sangat disakralkan warga, terutama umat Hindu Jawa yang tersebar di empat desa di sekitar lokasi. Tahun 2007 silam, umat Hindu menggelar upacara prayascita di situas tersebut. Sejak itu, setiap hari Minggu Kliwon, bulan sembilan digelar upacara piodalan. “Kami juga menggelar persembahyangan rutin setiap kliwon di tempat ini,” katanya. Untuk mensakralkan lokasi, tumpukan batu situs disusun menjadi bentuk Siwa Lingga. Di sekilingnya ditanami berbagai jenis bunga. Untuk merawat lokasi ini, umat Hindu bekerja sama dengan pihak Perhutani selaku pemilik wilayah.

Menurut Katijo, situs ini tak hanya digunakan bersembahyang oleh umat Hindu. Warga dari luar daerah kerapkali datang dan menggelar ritual di lokasi situs. Rata-rata mereka datang untuk meminta berkah atau petunjuk lainnya.

Selain situs, tak jauh dari lokasi juga terdapat sumber mata air yang keluar dari batu. Mata air ini dikenal dengan sumber patirtan watu pecah. Di dekatnya juga ada situs keramat yang dikenal watu gedek. Bentuknya tebing batu yang cukup tinggi. Tempat ini diyakini sebagai pintu masuk menuju situs Siwa Lingga.