Bekerja dengan menerima upah atau gaji, baik di kalangan swasta maupun pemerintahan, belum menjamin kesejahteraan. Tidak sedikit pekerja, karyawan, ataupun pegawai negeri sipil yang mempertimbangkan untuk berwirausaha. Mencari penghasilan yang lebih baik.

Wirausaha kian dilirik seiring semakin mengemukanya ketidakpuasan pada penetapan upah minimum. Tahun ini, rata-rata upah minimum di 33 provinsi di Indonesia hanya Rp 1,15 juta per bulan. Dengan jumlah itu, setiap anggota keluarga dari seorang pekerja dengan satu istri dan dua anak hanya akan mendapatkan rata-rata Rp 290.000 untuk hidup selama sebulan. Angka ini hanya sedikit di atas garis kemiskinan tahun 2011, yakni Rp 233.740 per orang. Kenaikan upah minimum pun terkadang tak dapat mengimbangi inflasi.

Satu dari lima responden yang saat ini berstatus sebagai pekerja mengaku tidak puas dengan penghasilan mereka. Selain itu, sekitar sepertiga dari total responden yang tersebar di 12 kota besar ini mengaku tertarik berwirausaha karena berharap penghasilan yang lebih tinggi. Adapun responden yang tidak tertarik beralih menjadi wirausaha mengaku sudah mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan.

Para calon wiraswasta ini tertarik memulai usaha yang mudah dijalankan, berisiko rendah, tetapi menjanjikan dari sisi penghasilan. Usaha di bidang makanan menjadi pilihan 25 persen responden yang saat ini masih berstatus sebagai pekerja. Usaha di bidang fashion, terutama pakaian dan alas kaki, juga banyak diminati.

Usaha yang diminati umumnya yang memerlukan modal relatif kecil mengingat lebih dari separuh responden memilih menggunakan dana pribadi atau patungan dengan kerabat ketimbang meminjam modal usaha ke bank. Prosedur peminjaman yang memakan waktu dan keterbatasan aset yang bisa dijaminkan menyebabkan mereka menjauhi perbankan. Belum lagi jika usaha tidak berjalan mulus, dana dari perbankan akan menjadi beban karena harus dikembalikan beserta bunganya.

Selain ketidakpuasan terhadap pendapatan, keterbatasan lapangan kerja juga memperkuat berkembangnya minat wirausaha. Tidak sedikit lulusan pendidikan tinggi yang menganggur karena sulit mendapatkan pekerjaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (Februari, 2011), ada 612.000 orang berpendidikan sarjana di antara 8,12 juta penganggur.

Jumlah penganggur berpendidikan tinggi ini belum termasuk tamatan universitas yang terpaksa harus bekerja seadanya. Tidak sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Tak kurang dari 20 persen responden berpendidikan tinggi (sarjana dan pascasarjana) mengaku tak puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Sebanyak 35,8 persen responden yang tertarik berwiraswasta juga dari kalangan berpendidikan tinggi.

Kian banyak lulusan universitas yang membuat usaha sendiri menjanjikan masa depan cerah bagi perekonomian. Bakal ada penciptaan lapangan kerja. Para wirausaha yang berlatar belakang pendidikan tinggi punya peluang menciptakan lebih banyak inovasi produk dan lebih kreatif mengatasi masalah pendanaan dan pemasaran. Aktor ekonomi berkualitas seperti ini tak hanya mampu menciptakan kesejahteraan, tetapi juga bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk pengembangan usaha.