Diti adalah salah satu dari 13 istri Kasyapa, putri-putri Rishi Daksha yang menitis kembali. Mereka berkeinginan mempunyai dua orang putra kembar yang dilahirkan menjelang senja hari. Senja hari adalah waktu yang tidak baik untuk prosesi kelahiran karena pada momen itu para hantu dan makhluk jahat sedang berkeliaran. Hiranyaksa dan Hiranyakasipu pun lahir, setelah selama 100 tahun berada di rahim ibundanya. Keduanya adalah pasangan yang sakti. Sayangnya berwatak jahat. Ketika kelahirannya empat penjuru mata angin gelap gulita karena adanya badai debu. Baik bulan maupun matahari terkena imbasnya. Kedua planet itu tidak mampu mengeluarkan sinarnya sebagaimana mestinya. Bumi bergetar dan api berkobar di mana-mana. Hujan terjadi di langit, meteor dan halilintar menggelegar di mana-mana. Gelombang sangat besar terjadi di laut. Binatang-binatang meraung-raung dan menjerit ketakutan. Para Dewa pun menghadap Dewa Brahma, karena sangat terkejut akan adanya isyarat alam ini. Brahma menjelaskan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu itu adalah inkarnasi dari Jaya dan Vijaya. Keduanya merupakan penjaga gerbang di Vaikunthaloka, tempat di mana Maha Vishnu bersemayam.

Suatu hari para Rishi di zaman dulu, pergi ke Vaikunthaloka. Tempat Maha Vishnu bersemayam adalah tempat yang paling indah di antara loka-loka lainnya. Taman dan kebun yang indah ada di mana-mana. Banyak telaga penuh dengan bunga lotus. Di sini para Gandharva menyanyi dan menari. Para Rishi tersebut sangat senang menikmati keindahan Vaikuta yang tiada taranya.

Sebanyak enam gerbang dari tujuh gerbang telah terlewati karena pahala tapa brata para Rishi yang tak terukur atas kesetiaan mereka pada sumpahnya. Gerbang yang ketujuh, merupakan gerbang terakhir sebelum bisa bertemu dengan Mahavishnu sendiri. Jaya dan Wijaya menghadang ketika para Rishi hendak ke Vaikunta. Dengan senjata gada di tangan mereka, Jaya dan Wijaya mengusir para Rishi tersebut dan mengancam akan menyerangnya. Atas perlakuan kedua penjaga tersebut, para Rishi merasa terhina dan mengutuknya berinkarnasi ke dunia manusia. Kedua penjaga inilah yang menitis menjadi Hiranyaksa dan Hiranyakasipu.

Setelah dewasa, mereka mengganggu dan menekan ketiga dunia. Surga ditaklukkan. Dewa Indra dan dewa-dewa lainnya diusir dari kahyangan. Hiranyaksa lalu menyerang kerajaan laut di mana Dewa Varuna berkuasa. Varuna takluk dan bumi ditenggelamkan ke laut. Dewa Vishnu turun ke bumi dengan wujud Varaha (seekor babi hutan jantan raksasa) sebagai Avatara yang ketiga, Varaha bertarung dan akhirnya membantai Hiranyaksa serta mengembalikan bumi pada tempatnya semula.

Hiranyakasipu, sang adik, seperti yang dilakukan oleh kakaknya tetap sewenang-wenang. Dia menekan dan membuat kekacauan di ketiga dunia. Tetapi putra tertuanya, Prahlada, adalah pengikut Vishnu yang setia. Untuk menyelesaikan masalah ini Dewa Vishnu muncul sebagai Narasimha (setengah manusia setengah singa). Narasimha merupakan avatara yang keempat.

Narasimha atas doa Prahlada kepada Wisnu, turun ke bumi bertarung dengan Hiranyakasipu. Narasimha membantai di pangkuannya karena Daitya yang mahasakti ini tidak bisa dibunuh dewa-dewa, manusia, rakshasa, yaksha atau binatang apa pun. Juga tidak bisa dibunuh di darat, di air maupun di udara. Narasimha bisa membantainya karena beliau itu bukan manusia atau binatang tetapi setengah manusia dan setengah singa. Dibunuhnya Hiranyakasipu tidak di darat, tidak di air dan tidak di udara melainkan di pangkuan sang avatara Narasimha.

Setelah pasangan kembar ini tewas, roh Jaya dan Vijaya ini menitis kepada Ravana, sebagai raja Kerajaan Alengka dan adiknya, Kumbhakarna. Kedua bersaudara ini dibantai oleh Sri Rama dan Laksamana. Dan setelah itu, untuk terakhir kalinya, Jaya dan Vijaya berinkarnasi menjadi Sisupala dan Raja Kansa alias Dantavaktra. Sisupala sendiri adalah raja Kerajaan Chedi yang merupakan sepupu baik dari Sri Krishna maupun dari Pandava. Dia dibantai oleh Sri Krishna pada saat berlangsungnya upacara kurban-Rajasuya yang diselenggarakan Prabu Yudhishthira di Indraprastha. Sedangkan Raja Kansa alias Dantavaktra dikalahkan Sahadeva dalam pertarungan sebelum dilangsungkan upacara Rajasuya.

Advertisements