Rishi Vyasa : (Baratha) setara dengan veda. Ini adalah suci dan agung. Baratha menganugrahi kekayaan dan kemakmuran. Oleh karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.

RISHI Ruru langsung menjawab, ‘’O utusan surga! Apa yang telah ditetapkan oleh para dewa itu? Ceritakanlah secara rinci sehingga dengan mendengarnya, hamba dapat memenuhinya,’’ tanya Ruru. ‘’Sudah sepantasnya paduka menyampaikannya untuk menghilangkan kesedihan hamba,’’ tambahnya. Dan utusan itu mengatakan kepada Ruru, ‘’Serahkan separuh hidupmu kepada calon pengantinmu dan kemudian, O Ruru dari keluarga Bhrigu, Pramadvaramu akan bangkit dari tanah.’’

Kata Ruru, ‘’O utusan surga yang paling baik, hamba sangat ingin menawarkan separuh hidupku untuk membantu pengantinku. Kemudian izinkan yang kucintai ini bangkit sekali lagi dengan pakaian dan penampilannya yang anggun,’’ ujar Ruru memohon.

Kemudian raja Gandharva, ayahandanya Pramadvara dan utusan surga itu, keduanya orang baik-baik, pergi menghadap Dewa Dharma dan berkata,

‘’Apabila paduka berkenan, O Dharmaraja, izinkanlah Pramadvara yang ramah dan sopan ini, calon istrinya Ruru, hidup lagi dengan tukaran separuh dari hidupnya Rishi Ruru,’’ katanya.

Dan Dharmaraja berkenan. Kemudian gadis yang berkulit indah Pramadvara dihadiahi dengan separuh hidupnya Ruru itu bangkit dari tidurnya. Penyerahan separuh dari jangka waktu hidupnya Ruru menyadarkan calon pengantinnya, seperti akan terlihat kemudian, membimbingnya menuju pengurangan hidupnya Ruru.

Pada hari yang baik, para orang tua mereka dengan gembira menikahkan Ruru dengan Pramadvara melalui upacara homa jadnya sepantasnya. Dan pasangan itu menjalani hari-hari mereka, dengan saling setia dan penuh cinta kasih satu sama lain. Ruru setelah mendapatkan istri yang sempurna, cantik dan cemerlang ini seperti layaknya serabut bunga lotus, membuat sumpah untuk menumpas semua bangsa ular. Ketika dia melihat seekor ular dia menjadi sangat marah dan selalu membunuhnya dengan sebuah senjata.

Pada suatu hari, Ruru masuk ke hutan yang luas. Di sana dia melihat Dundubha, seekor naga yang tua, berbaring memanjang di tanah. Ruru kemudian mengangkat tongkatnya dengan marah, layaknya seperti tongkat pencabut kematian. Ruru bermaksud membunuhnya. Kemudian Dundubha menyapa Ruru. ‘’Aku tidak melakukan kejahatan apapun kepadamu, O Brahmana! Kemudian mengapa engkau akan membantaiku dengan kemarahan,’’ ujar Dundubha.

Mendengar kata-kata itu Ruru menjawab, ‘‘Istri hamba, sayang kepada hamba seperti hidupnya. Dia digigit oleh seekor ular. Atas dasar itu hamba mengambil sumpah yang mengerikan yaitu bahwa hamba akan membunuh setiap ular yang melintas di hadapan hamba. Karena itu hamba akan memukul paduka dan paduka akan kehilangan nyawa,’’ ujar Ruru.

Dundubha menjawab, ‘’O Brahmana, ular-ular yang menggigit orang jenisnya berbeda-beda. Tidak sepantasnya paduka membantai Dundubha yang hanya namanya saja ular,’’ katanya. Kewajiban seperti ular lainnya untuk mengalami bencana yang sama, tetapi tidak kebagian nasib baik mereka. Dalam kesengsaraan yang sama tetapi dalam kesenangan berbeda. Dundubha seharusnya tidak dibantai olehmu atas dasar pengertian dan konsep yang keliru.’’

Rishi Ruru mendengar kata-kata dari ular tersebut dan melihat bahwa ada rasa kebingungan karena takut, meskipun Dundubha itu termasuk jenis ular. Naga tua itu tidak jadi dibunuhnya. Ruru, pemilik enam tanda. Dia menenangkan ular itu seraya berkata, “Ceritakanlah secara lengkap, O paduka ular. Siapakah paduka ini yang berubah bentuk jadi ular,’’tanya Ruru. Dundubha menjawab, ‘’O Ruru! Hamba dulu adalah seorang Rishi, nama hamba Sahasrapat. Karena dikutuk seorang Brahmana hamba berubah bentuk menjadi ular. Dan Ruru bertanya, ‘’O paduka ular yang paling baik, atas sebab apa Brahmana yang penuh amarah itu mengutuk paduka? Berapa lama bentuk ular itu akan berlangsung,’’

Dundubha kemudian berkata, ’Dahulu kala, hamba mempunyai seorang teman yang bernama Khagama. Ia cepat dalam berbicara dan mempunyai kekuatan spiritual yang didapat melalui kekerasan dan ketaatannya akan kebajikan. Pada suatu hari ketika ia sedang melaksanakan Agni-hotra –upacara korban persembahan Api. Ular-ularan alias ular tiruan dari daun rumput dan dengan main-main ingin menakutinya. Karena ia takut ular, segera ia jatuh pingsan. Setelah sadar kembali, pertapa yang selalu berkata benar dan taat pada sumpah ini, terbakar oleh amarah. Dia berseru, ‘Karena kamu telah membuat ular-ularan yang tidak berdaya untuk menakut-nakutiku. Kamu akan berubah menjadi seekor ular yang tanpa bisa sebagai kutukanku.’’ (bersambung)