Bhishma Parva terdiri atas: Jamvu-khanda Nirmana, Bhumi, Bhagawat-gita. Dalam kurun waktu antara Treta dan Dwapara Yuga, Parasurama (putra Jamadagni) terkenal di antara para pengguna senjata. Atas dorongan ketidaksabaran yang keliru, Parasurama berulang-ulang membantai para kshatriya yang mulia. Emosi yang berapi-api ini muncul dari keberaniannya sendiri. Dia menghancurkan dan juga membunuh seluruh golongan kshatriya. Parasurama membuat lima danau darah di Samanta-panchaka. Diceritakan bahwa alasan atas kemarahan yang berlebihan ini karena tugas suci yang hendak dipersembahkan kepada leluhurnya. Rama menawarkan persembahan darah kepada arwah nenek moyangnya. Leluhurnya berderu dengan riang gembiranya di tengah-tengah air danau tersebut. Kemudian muncullah pertama kali Richika. Kakeknya ini berkata kepada Parasurama. ”O Rama, O Rama yang terberkati. O keturunan Bhrigu. Kami telah puas atas penghormatan dan juga persembahan yang ananda telah perlihatkan untuk para leluhur dan mempertaruhkan segenap keberanianmu ini, O ananda yang kuat. Restu kami kepadamu O ananda yang termasyhur. Mintalah anugerah yang ananda inginkan.” Demikian kata Richika.

Rama meminta ”Apabila, O para ayah, paduka dengan murah hati memberikan kepada hamba hadiah berupa anugerah. Hamba meminta bisa membebaskan akibat dosa-dosa membunuh para kshatriya dalam kemarahan yang tak terkendali. Di samping itu danau-danau yang telah hamba buat menjadi terkenal di dunia sebagai tempat suci dan keramat kelak,” pinta Parasurama. Para Pitri kemudian berkata, ”Akan terjadilah demikian. Tenteramkanlah hatimu.” Lanjut para Pitri. Pesan niskala yang didengar dari leluhurnya itu membuat Rama menjadi tenang.

Di daerah di sekitar danau yang penuh darah itu, sejak saat itu disebut dengan nama Samanta-panchaka yang suci. Orang-orang bijaksana telah mengatakan bahwa setiap daerah harus dibedakan berdasarkan nama yang terkait dengan keadaan lingkungannya yang mungkin membuatnya terkenal.

Sementara pada kurun waktu antara Dwapara dan Kali Yuga di Samanta-panchaka terjadi pertempuran antara pasukan keluarga Kaurava dan keluarga Pandava. Di tempat suci tersebut, yang sangat rata sama sekali, berkumpul delapan belas Akshauhini alias lima juta prajurit yang sangat berhasrat untuk berperang.

Sebanyak delapan belas Akshauhini prajurit/pasukan datang bersamaan untuk berperang. Pertempuran yang terjadi sangat mengerikan. Perang Barathayuda itu selesai dalam jangka waktu delapan belas hari. Dia yang paham akan keempat Veda dengan semua Anga dan Upanishadnya, tetapi tidak tahu sejarah ini (Bharata), tidak bisa dikatakan bijaksana. Vyasa yang luar biasa cerdas, telah mengatakan bahwa Mahabharata adalah uraian/penjelasan dari Artha, Dharma dan Kama. Mereka yang telah mendengarkan sejarahnya tidak akan pernah tahan mendengar cerita lainnya. Sungguh, seseorang yang telah mendengar suara yang merdu dari lelaki yang bernama Kokila tidak akan pernah mau mendengarkan suara sumbang dari gaoknya burung gagak. Seperti pembentukan ketiga dunia yang dimulai dari lima unsur, demikian juga inspirasi/ilham dari para penyair dimulai dari susunan cerita yang bagus ini. Seperti empat jenis makhluk (viviparous, oviparous, lahir dari uap panas dan sayur-sayuran) adalah tergantung dari lingkungannya berada. Demikian juga kitab Purana tergantung dari sejarah alias itihasa ini. Seperti semua rasa tergantung latihan mereka kepada bermacam-macam perubahan dari pikiran. Hal yang sama pada perilaku seremonial dan kualitas moral tergantung dari uraian ini. Tidak ada cerita yang ada di bumi ini yang tidak tergantung kepada sejarah ini. Bahkan seperti badan atas makanan yang dimasukkannya. Semua penyair menghargai Bharata bahkan seperti pelayan yang menginginkan sesuatu yang lebih, yang selalu ingin ikut majikan yang berasal dari keluarga keturunan yang baik. Demikianlah, tidak ada seorang penyair pun yang mampu melebihi syair-syair atau sloka ini.

Advertisements