Pura Sada sering disebut Pususadha, berlokasi di Banjar Pemebetan Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Menurut beberapa sumber, nama pura yang merupakan salah satu pura kahyangan jagat ini kemungkinan diambil dari palinggih prasada yang terdapat di utamaning mandala.
Palinggih tersebut berbentuk pejal bertingkat-tingkat seperti limas berundak dengan ketinggian sekitar 16 meter. Di pura ini distanakan arca Dewata Nawa Sanga. Candi bentar pura ini memiliki kemiripan dengan gaya bangunan candi di Jawa Timur.
Banyak versi yang menyebutkan tahun berdirinya Pura Sada. Namun sebagai tempat pemujaan Siwa Guru, oleh penekun lontar di desa setempat, pura ini diperkirakan dibangun tahun 830 Masehi.
Pura Sada merupakan salah satu situs cagar budaya yang dilindungi. Pura ini dibangun oleh Raja Mengwi sekitar abad ke-18 untuk menghormati leluhur keluarga kerajaan yakni Prabu Jayengrat. Pura ini sempat hancur saat gempa bumi tahun 1917, namun di tahun 1949, pura tersebut dibangun kembali.
Rehab Pura Sada juga dikatakan sempat beberapa kali dilakukan jauh sebelum periode tersebut. Pada tahun 1260 Isaka, pura ini direhab pada masa pemerintahan Dalem Bali Mula dengan rajanya bergelar Asta Sura Ratna Bumi Banten. Konon, ketika itu, diutuslah Kebo Wayu Pawarangan atau Kebo Taruna untuk datang ke Kapal guna memperbaiki pura tersebut. Di akhir tugasnya merehab Pura Sada, Kebo Iwa (Karang Buncing) sempat membuat tempat pemujaan atau dharma pengastulan di sebelah tenggara Pura Sada. Dharma pengastulan ini sebagai tempat pemujaan warih atau pertisentana Karang Buncing sebelah barat Tukad Yeh Ayung. Selain itu, Pura Sada juga direhab tahun 1400 Masehi pada zaman Kerajaan Pangeran Kapal-Beringkit. Rehab berikutnya berlangsung pada tahun 1600-an.
Piodalan di Pura Sada dilaksanakan tiap enam bulan sekali setiap Tumpek Kuningan. Pura Sada terdiri dari Tri Mandala yaitu utamaning mandala (jeroan), madyaning utama (halaman tengah) dan nistaning mandala (jaba sisi). Di antara halaman tengah dan halaman utama terdapat candi kurung, sedangkan antara halaman tengah dengan jaba sisi terdapat candi bentar.
Di utamaning mandala terdapat pelinggih Padmasana, Pesimpangan Batara Gunung Batur, Pesimpangan Gunung Agung, Pesimpangan Batukaru, Pelinggih Batara Manik Galih, Pelinggih Batara di Pura Sakenan, pelinggih atau candi Prasada, bale penyimpenan, bale pesambyangan, pawedan, bale piyasan, pelinggih Tri Murti, pesimpangan I Gusti Ngurah Celuk, Ratu Made, Ratu Made Sakti Blambangan, Ratu Ngurah Panji Sakti, bale piyasan, Pura Teratai Bang dan sebagainya.
Pelinggih yang khas di pura ini adalah Prasada. Prasada itu merupakan pelinggih Ida Batara Pasupati atau Siwa Guru atau Sang Hyang Lingga Buwana atau Sang Hyang Druwaresi.
Sementara di madyaning mandala terdapat gedong pererepan, bale sumanggen, bale gong. Biasanya sesuhunan di Pura Natar Sari Apuan-Tabanan, Pura Pucak Kembar Pacung Baturiti dan Pura Pucak Padangdawa Desa Bangli-Baturiti Tabanan tatkala lunga ke jaba jero serangkaian pujawali, marerepan di pura ini dan kalinggihang di sebuah pelinggih di madyaning mandala. Sementara di jaba sisi terdapat pelinggih Ratu Made Sedahan.